LOGINA desperate billionaire, a contract marriage, and a surprise condition: Jaime must give Louie an heir. As she weighs her options, Jaime must confront the true cost of her desires. Will she find a way to escape the contract, or will she succumb to the demands of her wealthy husband?
View More"Tuan, Nona Cia melarikan diri," lapor salah seorang bawahan kepada tuannya di tengah keramaian pesta.
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?" Mereka pun segera meninggalkan aula tempat pesta digelar dan melangkah menuju ballroom–ruang ganti pengantin.
"Tidak tahu, Tuan. Ketika kami memanggilnya, nona sudah tidak ada di dalam dan para periasnya pun pingsan."
"Bocah itu!" Pria tersebut melangkah dengan geram menyusuri hotel tempat acara pernikahan sang putri digelar.
Dialah Chiba, pengusaha Jepang yang memiliki seorang putri bernama Gracia Dandelion. Namun, istrinya telah meninggal sejak sang anak masih kecil, sehingga wanita tersebut tumbuh sebagai gadis pemberontak dan pembangkang yang selalu berbuat onar.
Oleh sebab itulah, Chiba memutuskan untuk menjodohkan putri semata wayangnya dengan rekan bisnisnya. Awalnya Gracia tidak menolak, tetapi juga tak menjawab iya. Jadi, dia hanya menyimpulkan jika sang anak bersedia menerima perjodohan ini. Namun, wanita itu malah kabur di saat pernikahan digelar.
Chiba membuka pintu dengan keras, dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang dan tidak menemukan putrinya. "Di mana Gracia?"
"Kami tidak tahu, Tuan," ujar seorang pengawal yang sedang membantu para penata rias agar bangun dari pingsan.
"Bodoh! Apa saja kerja kalian ini, hah? Menjaga satu wanita saja tidak becus." Chiba yang geram menendang salah satu pengawal di belakangnya. "Sekarang kalian pergi cari dia sampai dapat! Kalau perlu blokir semua bandara! Bocah tengik itu pasti melarikan diri ke luar negeri lagi."
"Baik, Tuan." Mereka pun bergegas melaksanakan perintah tuannya.
____________
Di sisi lain, seorang wanita tengah berlari mencari kamar mandi umum terdekat dengan memakai gaun pengantin yang menjuntai dan sebuah tas di tangannya.
"Merepotkan." Berulang kali Gracia menaikkan gaun putih yang membuat langkahnya sulit untuk berlari.
Dia tidak memedulikan seberapa banyak mata yang menatap heran ke arahnya. Lagi pula ini bukan urusannya, Gracia hanya ingin melarikan diri dari ayahnya, itu saja.
Meskipun selama ini Chiba berusaha memenuhi kebutuhan materinya, tetapi wanita tersebut tetap tidak mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan dari orang tua. Sehingga Gracia lebih memilih kembali memberontak dengan mempermalukan ayahnya di depan rekan-rekan bisnis dengan melarikan diri dari pernikahan tanpa melihat terlebih dahulu siapa calon suaminya.
"Dapat." Dia pun menemukan kamar mandi umum dan langsung mengganti pakaian serta membuang gaun putih mewah itu di tempat sampah.
Setelah selesai Gracia kembali menyusuri jalan, di kejauhan terlihat para pengawal mulai mencarinya ke sana kemari. Wanita tersebut lantas segera memasuki taksi yang berhenti di tepi trotoar.
"Jalan, Pak!"
"Mau ke mana, Nona?"
"Pelabuhan. Cepat sedikit ya, Pak!"
Ya, Gracia memilih jalur pelabuhan kali ini karena dia akan melarikan diri menggunakan identitas baru yang dibeli di pasar gelap. Wanita tersebut berencana kabur dengan membawa uang tunai cukup banyak dan meninggalkan semua fasilitas yang diberikan ayahnya.
Setibanya di pelabuhan, dia langsung bergegas bergerak menuju kapal pesiar yang sebelumnya sudah dipesan. Kali ini Gracia melarikan diri dengan cara berbeda dari biasanya. Dia tidak membawa ponsel, kartu kredit, ataupun alat komunikasi lainnya yang bisa membuat sang ayah mampu melacak kepergiannya. Oleh sebab itulah, Gracia memilih jalur laut dibandingkan udara untuk keluar dari negara ini.
"Akhirnya aku bisa bebas!" Gracia berteriak sekuat tenaga di tepian bagian atas dek kapal pesiar, sambil menikmati embusan angin laut yang menyapa.
Tak perlu waktu lama, kapal pun mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Gracia menghirup oksigen dengan perasaan lega. "Akhirnya semua berjalan lancar."
Ketika Gracia berbalik hendak pergi ke kamarnya, tiba-tiba saja tak sengaja gadis itu menabrak salah seorang wanita yang berpenampilan super glamour.
"Auw, kalau jalan pakai mata dong!" teriak wanita tersebut dengan wajah kesal.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja," ujar Gracia.
"Nyonya kau bilang? Apa kau tidak lihat usiaku yang masih muda begini!" Wanita tersebut melebarkan mata, berbicara seolah bersiap menelan Gracia hidup-hidup.
Dandanannya yang menor membuat Gracia hanya bisa membatin tingkahnya. Penampilan kuno seperti itu wajar saja dia mengira wanita tersebut sudah tua. Jelas terlihat jika orang di depannya ini terlalu menor dan berlebihan dalam merias diri.
Namun, suara bariton seorang pria dari arah lain menghentikan perdebatan mereka. "Ada apa ini?"
"Sayang, wanita itu berani mencari masalah denganku." Dia bergelayut manja di lengan pria tersebut, sedangkan Gracia yang merasa jengah melayani tingkah sepasang manusia aneh ini pun memilih untuk mengalah.
"Sejak awal aku sudah minta maaf, Nyonya. Permisi." Tanpa menunggu jawaban dia melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Yak! Aku belum selesai bicara." Gracia hanya melambaikan tangan tanpa membalikkan tubuh dan terus melangkah menjauh.
Sementara itu, sang pria di sampingnya melihat Gracia dengan tatapan aneh. Mengagumkan, batinnya.
____________
Berhari-hari sudah Gracia mengarungi lautan. Kini, akhirnya dia tiba di sebuah kota yang akan menjadi tempat persinggahan pertamanya. Dia melangkah menyusuri gang kecil untuk mencari penginapan murah karena suasana sudah mulai larut.
Tak sengaja penglihatannya menangkap seorang wanita yang terduduk seorang diri di pinggir jalanan sepi. Bahkan lampu penerangan terlihat hanya remang-remang.
"Apa yang dia lakukan?" Gracia melangkah mendekat dan melihat seorang ibu hamil yang tengah duduk kesakitan di sana hanya bersandar pada dinding bangunan di belakangnya. "Apa yang terjadi padamu?"
Wanita tersebut lantas mengedarkan pandangan, tempat ini terlalu sepi, sehingga tidak ada seorang pun yang melewatinya. Dia berusaha meraba tubuhnya sendiri.
"Ponselku."
Barulah Gracia menyadari jika dia tidak memiliki ponsel. "Ah sial, aku lupa! Tunggu di sini sebentar! Aku akan mencari bantuan."
Gracia hendak beranjak pergi, tetapi wanita tersebut menahannya. "Jangan pergi! Aku mohon." Dia mencoba untuk berbicara dengan menahan kesakitan di tubuhnya.
"Tapi, kau akan melahirkan. Bisa bahaya kalau tidak segera membawamu ke rumah sakit."
Darah segar sudah mulai mengalir di area jalan lahir, tetapi wanita tersebut tetap saja menahan tangan Gracia. "Kau saja bantu aku melahirkan bayiku!"
"Apa kau gila? Aku bukan dokter."
"Auw, aku sudah tidak tahan lagi." Wanita tersebut meringis kesakitan memegangi perutnya, membuat Gracia seketika mengalah.
"Yak, jangan melahirkan dulu! Aku tidak tahu harus berbuat apa?" Dia terlihat panik dengan situasi saat ini. Gracia sendiri belum pernah melahirkan apalagi pengalaman membantu bayi keluar dari zona nyaman.
"Auwh, sakit." Wanita tersebut terus berteriak, sambil memegang perutnya. Tulangnya seakan dipatahkan secara bersamaan tanpa ampun.
"Bagaimana ini? Aku harus berbuat apa?" Sebagai seorang wanita lajang berada di situasi menegangkan seperti ini untuk pertama kali tentu saja membuat Gracia merasa kebingungan.
Gracia menyibakkan gaun yang dikenakan wanita tersebut dengan tangan gemetar, terlihat sebuah benjolan yang membuatnya membelalakkan mata. "Apa ini?"
“Hon, just a minute.”Rohan said to his wife as she sipped hot coffee and sat in a coffee shop. He came out for a moment and he seemed to be talking to someone on the cellphone.“Here's your lemon cake, Ma'am.”The food server said once he laid it in front of Nadia. She was surprised by the young man because they hadn't ordered lemon cake before.“Enjoy your dessert, ma'am.”Baron smiled at her and he was currently pretending to be a food server at that coffee shop.“Did i say that,” she whispered and simply glanced at her husband from the glass window.“I know your memory is back.” Said of the young man.The day he was supposed to visit her at the hospital, she accidentally touched his arm.Baron was the man who's wearing a hat that day and Nadia held him by the arm that day. Although she did not remember anything, she felt the presence of the young man when they met.That same day, Nadia's memories returned but she still kept them a secret from her husband.“By the way, your boy has
When Rohan and Nadia entered, they were surprised by their employees at the restaurant along with Patrice. They put decorations inside their house like balloons, welcome sign and so on. Nadia was happy with what she saw and took the red balloon.“Welcome back, honey!” glad Rohan said to the wife, and he kissed her on the cheek.They all applauded except for Patrice who was frowning to one side.“Welcome back, Ma'am.” Greet of one of their employees.“Thank you for all your efforts and time. Let's eat!” Rohan invited them. They all went to the kitchen because he had prepared food for them all.“Hon, come on. Let's join them!” he grabbed Nadia's hand, but it just let go of him.“What's the problem, hon?” he inquired. She was looking from behind the curtain and she seemed terrified to hide behind her husband.“I'll take care of it, hon. You're just here.”Rohan slowly approached it and peered at the object she saw behind the curtain.“Ahhh!”He just should out in panic when a dead cat
Terrence has had temporary amnesia since he woke up in a nine-month coma.But eventually, his memory returned and he hurriedly left the mansion where he was staying. But he was shocked to find that they were in the middle of the island.“You can't just leave this place.” Karina said as she was tired of chasing Terrence.“Who are you? why did you bring me here? who ordered you to bring me here?” he shouted, and it looked at them furiously.“Come on, Terrence.”But the young man suddenly grabbed her with the collar but her men immediately pulled him away.“You! you made me believe your lies! i will kill you!” angrily, he said to her as the two men restrained him and held his arm.“Is that how you really thank the person who saved you?” she said, but the young man just smiled.“Rescue? Did i tell you to help me? did i ask you to save me?”“Yes, you're right! it's my fault because i saved a criminal like you!” she replied.In fact, she had deceived the young man when he can't remember abo
“Are you sure Philip really owns that car?”Versa was secretly talking to Linda outside the police station and it was referring to the CCTV footage they saw at the hospital where Nadia suddenly disappeared.“Yes, sir. I've been in his car a few times, so i'm familiar with the plate number he uses.” She clarified to him.“Then, i want you to keep it a secret you know and never try to tell it to anyone else.”“Yes?” confused, she says.“Don't ever tell anyone about it first. Because it might even hurt you.” He clarified.“Y-yes sir.” The girl replied.“Right now, i'm going to give you a personal task. I want you to find out everything about Philip. Be careful with your every move and don't reveal that you know anything about him. Do you understand?”“Yes sir.”Four days later, Linda met with Versa again to give him the information he was asking for.“I found out from his relatives that Philip Alvarez died on April 2015. And the cause of his death was tuberculosis.”The girl said to him,
I can hardly sleep well thinking about what I said to the gangster earlier. I roll over in bed, get up and then lie down again.Stupid, Jaime! Are you really desperate to marry that man who looks like who showered his hair with gel? Because I have no other choice but to sell myself to him. Wait a m
Thirty million dollars? Oh my gosh, where am I going to get that much money? Even if I work hard until I'm old, I won't be able to save that much.It's Zoren's fault. How long will he be a burden in my life? He didn't do anything but gamble and get drunk after he got to borrow that much money from
The sunrise has caught up with me, but among the many girls I've met, I still can't choose even one of them.I was even more stressed when I found out that a client of mine still hasn't paid the loan until now. He had spent almost all of his gambling debts after not winning anything. He always lose
“You are in the final stage of cancer.” The doctor told me, but I smirked and slapped hard on his table.I still continued to laugh as he stared at me in astonishment. “Are you alright, Mr. Quizon?” He asked as I stared at him and laughed even more.“Are you asking if I'm okay?” I said, but he just












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.