LOGINJessica's life takes an unexpected turn when tragedy strikes, and she becomes responsible for her younger siblings. Putting her dreams of becoming a doctor aside, she takes up a job as an exotic dancer to make ends meet, but fate has something entirely different in store for her. Damon, a charismatic billionaire who owns the club, becomes captivated by Jessica. He begins secretly helping her financially, but Damon has secrets.... one in particular that Jessica may never be able to forgive.
View More"Pak, tolong berhenti!"
Vina mencoba melepaskan diri. Mendorong dada bidang Rangga dengan tangan mungilnya, meskipun usahanya berakhir sia-sia. Pria itu terlalu kuat baginya. Rangga semakin erat merapatkan tubuhnya.Rangga pun mulai menyapu leher Vina dengan kecupan-kecupan ganas. Sang CEO yang biasanya bersikap kaku, berubah drastis karena gairah yang membara."S-saya bisa membantu Anda, tapi ... tidak sampai seperti ini," lirih Vina sambil meronta-ronta.Rangga tak menggubris ucapannya dan mulai menanggalkan kemeja. Kesempatan Vina untuk pergi menjauh.Vina berlari ke arah pintu setelah berhasil menyambar ponselnya yang terjatuh. Tapi, Vina kalah cepat. Rangga dapat dengan mudah menangkap Vina lagi.Kali ini, Rangga menyeret tangan Vina dengan kasar. Kemudian, melemparkan Vina ke ranjang."Pak! Sadarlah!" pekik Vina.Rangga membungkam Vina dengan bibirnya. Vina spontan menampar wajah Rangga. Tak terima oleh tindakan atasannya itu."Cukup, Pak! Bapak sudah sangat keterlaluan!"Perbuatan dan ucapan Vina justru membuat Rangga murka. Dalam sekejap saja, Rangga telah berada di atas tubuh Vina. Menguncinya rapat-rapat. Vina pun tak dapat lagi mengelak.Butiran air bening mulai mengalir deras melalui ekor matanya. Tubuh Vina serasa hancur luluh lantak.Rasa sakit yang mendera tubuhnya tak sebanding dengan rasa nyeri di hati. Hilang sudah kesucian yang selama ini Vina lindungi.***Getaran ponsel membangunkan Vina. Tangannya meraba-raba nakas, sementara matanya masih terpejam erat."Vin, kenapa belum sampai kantor?" tanya pria di balik telepon."Ya? Ini siapa?" jawab Vina dengan suara parau."Kamu masih tidur? Astaga! Ini sudah jam berapa? Kamu tidak berangkat kerja? Bagaimana dengan Pak Rangga semalam? Dia baik-baik saja, bukan?"Rentetan pertanyaan Dion mengusik telinga Vina. Tetapi, hanya ada satu kalimat tanya yang Vina dengarkan."Vina!! Kenapa diam saja?"Kesadaran Vina mulai kembali. Vina lantas mematikan ponselnya begitu saja.Dadanya bergemuruh hebat seketika. Rasa sedih, marah, dan bersalah bercampur aduk menjadi satu.Mata nanarnya memandangi tubuh polos pria yang berbaring di sampingnya. Rangga masih tampak begitu tenang di alam mimpi.Wajah tampan Rangga terlihat tanpa dosa. Dan pemandangan itu berhasil membuat Vina semakin gusar.Vina tak menyangkal jika dia memiliki kekaguman besar pada Rangga. Dan wanita mana yang tidak tertarik oleh sosok pria berwibawa, CEO sukses nan tampan?Akan tetapi, semua perasaan itu hilang dalam semalam. Ketika pria yang telah lama dikaguminya menorehkan luka yang mendalam."Awww!" rintih Vina.Kedua kaki Vina gemetaran dan susah beranjak dari tempatnya. Vina mengayunkan langkah kaki sedikit memaksa. Menahan rasa sakit di tubuh bagian bawahnya.Vina tidak ingin Rangga melihatnya masih ada di kamar ketika bosnya itu terbangun. Diambilnya pakaian yang berserakan di beberapa tempat. Lalu, Vina masuk kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat.Di bawah pancuran air dingin, adegan-adegan panas menyakitkan dan berulang-ulang terus berputar layaknya video panjang. Vina menelusuri awal mula terjadinya kesalahan itu.Ingatan Vina kembali saat Dion, asisten pribadi Rangga tiba-tiba saja menghubungi dirinya saat hampir tengah malam. Dion memohon pada Vina agar mau menggantikannya untuk mendampingi Rangga bertemu dengan salah satu investor di sebuah bar.Sesampainya di bar, Rangga ternyata tidak sendiri. Bukan bersama investor yang disebutkan Dion, Rangga justru sedang bersama seorang wanita berpakaian mini.Wanita itu melingkarkan lengan Rangga ke bahunya. Lalu, menarik Rangga keluar dari bar. Vina lantas membuntuti mereka. Dalam elevator yang sama, Vina segera tahu jika wanita itu terus menggoda dan merayu.Rangga beberapa kali menolak bisikan manja si wanita. Tapi, wanita itu gigih memaksa dan berhasil menyeret Rangga masuk ke dalam kamar. Raut wajah Rangga pun terlihat aneh. Bukan seperti orang mabuk pada umumnya.Merasa ada kejanggalan, Vina bergegas menghentikan pintu yang hampir tertutup sempurna. Wanita itu tampak terkejut oleh kehadiran Vina.Setelah pertengkaran kecil, Vina berhasil mengusir wanita itu. Vina buru-buru merogoh ponsel untuk menghubungi dokter perusahaan. Namun, Rangga tiba-tiba menarik Vina ke dalam kamar sebelum Vina berhasil melakukannya. Dan terjadilah kesalahan besar yang tak semestinya Vina lakukan.'Mungkinkah Pak Rangga memang sengaja menyewa perempuan itu? Aku seharusnya membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau. Kalau tidak, aku seharusnya lebih gigih memanggilkan dokter malam tadi! Kenapa aku bodoh sekali?!'Vina memejamkan mata dan mendongak ke arah pancuran. Berharap dia dapat menghapus kenangan pahit itu seiring aliran air yang melewati tubuhnya.Vina menangis tanpa suara, menarik-narik rambutnya sendiri, dan terkadang memukuli dadanya yang sesak. Badannya terasa sangat kotor meskipun telah menggosoknya berulang kali.Hingga setengah jam berlalu, buku-buku jarinya sampai terasa membeku. Tapi, Vina justru memutar keran agar air semakin deras membasahinya.Dia tak peduli lagi jika hidupnya berakhir sekarang juga. Untuk apa terus bertahan jika kebanggaannya sebagai seorang wanita telah dirampas paksa oleh atasannya sendiri!Namun, Vina segera tersadar ketika wajah ibunya muncul dalam benak. Dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia bekerja keras selama ini karena menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa Vina, orang tuanya juga pasti kesulitan bertahan hidup.'Aku tidak boleh menyerah! Aku harus bangkit dan melupakan ini semua. Biarpun mungkin tidak akan ada lagi pria yang menerima perempuan kotor dan hina sepertiku.''Brak! Brak! Brak!'Terdengar suara pintu kamar mandi dipukul-pukul dengan kasar. Seseorang di balik pintu sepertinya tak bisa menahan sabar."Keluar!!"Vina menjerit dalam hati ketika mendengar teriakan kemarahan Rangga. Jantung Vina berpacu sangat cepat karena terlalu takut menghadapi pria itu.Vina menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan. Berulang kali Vina melakukannya sambil meyakinkan diri sendiri jika semua akan baik-baik saja.Gebrakan kedua pada pintu membuat Vina melompat ke belakang. Dia bergegas memakai pakaian dan mengeringkan rambut ala kadarnya.Langkah Vina tertahan di depan pintu. Sekali lagi, Vina menyemangati diri sendiri. Kemudian, Vina memutar kenop walaupun masih membawa rasa ragu."P-pak ..."Ketika Vina keluar dari kamar mandi, sedikit keberanian yang susah payah dikumpulkan bermenit-menit lalu menguap begitu saja. Sorot mata hitam pekat Rangga mengingatkan Vina akan kejadian semalam.Vina spontan menunduk untuk menghindari tatapan Rangga. Tubuh Vina bergetar hebat. Tanpa sadar, Vina perlahan memundurkan kaki.“Kenapa …” Ekspresi wajah Rangga mengeras. “kamu ada di sini?” Rangga menghampiri Vina dan memojokkan wanita itu ke tembok. "Apa yang kamu lakukan di sini?! Apa yang telah terjadi?!"EricI can’t believe it’s been five years since I have seen her, but as she opens the exam room door, my entire world is made right once again. She looks the same but even more beautiful- if that’s even possible.She wraps her arms around me and hugs me tight as she sobs into my shoulder, “I thought you were out tomorrow,” she whispers, her tears wetting my shoulder, and I smile, holding her tighter.“He let me go a day early,” I respond, looking back into her eyes.These last five years have been hard, but I knew they would be worth it once this moment came. It felt like the years went by too slowly, but now that this day has arrived, I know it was all worth it.Turning on Marcus was difficult. His goons even came after me, but they failed to kill me. Agent Latter agreed he would leave my family alone if I did this, but really, I knew he had no evidence to prosecute them. We always ensured we were careful where Marcus liked to throw his power around like a drunk emperor.Saying goodb
JessicaMy whole body shakes as I sit in an interrogation room; what the hell is happening? I was only able to hug Damo briefly before they put us in separate cars and took us here. Even after everything Marcus has told me, I still want to be with Damon.I want to hear his side; I want to know what truly happened.The door finally opens, and Agent Latter appears; he has a can of soda with him and a sandwich. I watch as he walks inside the room and places them down on the table in front of me, “Please, eat and have a drink. We have a lot to talk about.”I shake my head, my stomach still in knots, and he sighs before I speak, “You knew my parents?” I ask, and he nods, sitting up straighter.“Yes, I was in charge of them,” he states, now sitting back. “Your parents were in a lot of debt, and I had made a deal with them.”My eyebrows raise, “A deal?”“Yes, if they could gather info on Macrus Lovoto and testify against him in court, then your family would go into witness protection, and yo
JessicaTonight has been like a weird dream, but the kind you don’t want to wake up from. I am finally with Damon, and it feels right. The way he was so gentle with me when we made love. The way he knew it was a big deal to me but also didn’t push it or made sure it was truly what I wanted was everything.He is mine.My heart flutters at every glance he gives me as we clean up the club, and I can’t wait to go to breakfast with him; I can’t wait to see what this will become.End game.He said the words, not me. He means those words, and I agree. I know it seems quick, and I know it seems crazy, but our future is bright- I just know it.I grab the last trash bag and tie it, sneaking glances at Damon while my heart flutters with anticipation…. I have fallen in love with him. Everything has led me here…to him. I wave at Damon as I open the back door and walk outside toward the large dumpster with a smile on my face. After this, it will be just the two of us, and we can talk and begin to t
DamonHer hands wrap around my neck, and my heart instantly races. Things have been so weird between us since the funeral, but I am not giving up on us- not yet.She pulls back from me, her eyes meeting mine, and I can’t help but see just how beautiful she truly is. My hand goes to her cheek, and I touch her soft skin as she stares at me, my head coming closer to hers as my lips push against hers. I can feel her stiffen momentarily, but she doesn’t pull away. She returns the kiss, and my whole being shudders with pure delight- this has been what I have always wanted, but why did I try to deny it for so long?She pulls back away from me, her eyes showing fear. My fingers trace her soft lips, the essence of what she tastes like still on my tongue. She tries to get up, but I pull her back to me, “Jessica,” I say as I look deeply into her eyes, “This,” I pause, “This what was always meant to be,” I say softly, though I am pleading as I speak the truth.This has been a nonstop dance for b


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews