LOGIN“It’s you,” he slides his hand down the nape of her neck. “Or nothing else,” he looked at her like she was the only star in the night sky and leaned close to her lips. “It took me so long to find you, yet, you came exactly when I needed you.” Saying this, she kissed him like he was the air keeping him alive. Love is a patient, soft and everlasting feeling, when you find such love, there will always be a part of your heart that would definitely change. Gavin Garrick was a man full of love, but everything turned black when he lost his parents and the love of his life abandoned him, being alone and facing such tragedy made him build a high wall around him, he became ruthless and cruel, but suddenly, Arielle Patton stumbled into his high walls. But what happens when she discovers the man was not who everyone thought he was? How does learning his secret change everything she pictured him to be? How can he tell if she wasn’t part of their plans to ruin him, when lies and betrayal clouded his worlds? Does she run away from the man who shared the same painful fate as her, or does she heal him? What can she do when she found herself surrounded in a world of wealth? Let’s read to find out!
View More"Cepat sembunyi! Jangan sampai mereka melihatmu berkeliaran di rumah ini!" bentak Anne—ibu mertua— dengan mata mendelik.
Feyana bergegas meletakkan alat-alat kebersihannya ke tempat semula dan lari ke belakang. Ia langsung menuju ruangan sepetak yang pengap di halaman belakang dan meringkuk sedih. Dirinya mencoba tidak menangis atas perlakuan keluarga suaminya yang selalu mengucilkan dan tak mau mengakuinya sebagai istri sah Randy.
Ini keputusan yang Feyana ambil untuk menikahi Randy, cinta di pandangan pertama. Ia melepaskan semuanya agar bisa menikah dengannya, termasuk melepaskan keluarganya sendiri dan mendapat perlakuan buruk dari keluarga suaminya. Ia harus bertahan atas apa yang dia pilih.
"Aduh, kenapa dengan perutku? Rasanya melilit dan sakit sekali. Aku tak tahan," keluh Feyana dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Dengan langkah terseok, dirinya keluar dari ruangan pengap itu dan menuju dapur. Ia bersyukur menemukan sepotong roti di atas meja pantry. Roti sisa yang pasti tidak akan dicari keberadaannya ketika hilang. Ia mengambilnya untuk dimakan di bawah meja agar tidak ada yang memergokinya.
Feyana tersenyum tipis ketika perutnya sudah tidak sakit lagi. Ia menyempatkan mengambil minum di kulkas dan menenggaknya begitu santai. Ketika menutup pintu kulkas, betapa terkejutnya Feyana sebab seseorang sudah berdiri di sebelahnya dengan tatapan mencelanya.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!?” Teriak orang itu, tepat ketika Feyana baru menelan roti tadi.
"AHH! KAMU MENGEJUTKANKU. AKU BUKAN MALING, SUNGGUH!" pekik Feyana panik ketika pria itu mencekal tangannya.
Karena teriakannya barusan, semua orang yang ada di ruang tamu menuju dapur. Tatapan mereka sangat mengintimidasi Feyana, seolah mengatakan bahwa dirinya itu mengganggu. Dengan wajah tertunduk, Feyana diam memilin ujung bajunya.
“Siapa perempuan berpenampilan kucel itu? Jangan-jangan dia istrinya Randy, ya?” tanya seorang pria paruh baya dengan wajah tak senang.
Ayah mertua Feyana langsung tertawa kikuk. “Tentu saja bukan. Dia hanyalah pembantu di rumah ini. Jangan hiraukan!” sanggahnya lalu mengode lewat lirikan matanya agar Feyana bergegas pergi.
Feyana yang merasa dirinya mulai lelah karena diperlakukan buruk oleh keluarga suaminya, hingga tak mengakuinya sebagai bagian dari keluarga bermaksud untuk buka suara. Ia ingin mengatakan pada mereka bahwa dirinya juga menantu di keluarga itu. Tetapi ketika Feyana ingin bicara, mulutnya dibekap oleh Randy.
Randy yang datang langsung bergerak cepat untuk menarik tangan Feyana menjauh. Ia berbisik memperingatkan Feyana yang bersikeras untuk buka suara. “Jika kamu katakan pada mereka, aku takkan segan menghajarmu!” ancamnya membuat Feyana bergidik ngeri.
Feyana berakhir membisu dan dengan kasar dirinya dihempaskan oleh Randy masuk ke dalam ruangan pengap itu lagi.
"Kamu sudah hilang akal? Bisa-bisanya menunjukkan diri di depan mereka, bahkan di depan calon keluarga Rena?!" sentaknya marah.
Feyana menggelengkan kepala. "Aku tidak berniat melakukannya. Aku tadi hanya—,"
"Hanya apa? Ingin mempermalukan keluargaku?" potong Randy lalu mendengus kesal. Ia melanjutkan, "Sebagai hukumannya kamu dikurung sampai malam di sini."
Feyana langsung menolak. Ia tidak suka dikurung di tempat gelap dan sempit ini. Namun Randy sama sekali tak peduli dan menguncinya dari luar sehingga Feyana hanya dapat meratapi nasibnya.
Tak terasa sudah beranjak malam dan Randy belum juga datang membukakan pintunya. Wajah Feyana mulai pucat dan ia ketakutan di kegelapan yang makin pekat. Ia berusaha menggedor pintu berulang kali, berharap orang di luar mendengarnya. Energinya mulai habis, terlebih ia belum makan dan punya riwayat maag. Matanya berpendar gelisah dan pingsan tak lama kemudian.
*****
“Apa yang terjadi?” gumam Feyana sembari mengerjapkan mata perlahan untuk membiasakan cahaya terang di ruangan serba putih. Ia duduk dari bangsalnya dan menatap sekeliling. Seorang wanita dengan pakaian dan rok putih datang padanya lalu tersenyum ramah.
"Syukurlah sudah sadar. Mbak pingsan karena maag akut, dan bisa dibilang Mbak juga kekurangan nutrisi. Jadi, tadi ambulans membawa Mbak kemari, tanpa ditemani wali. Orang di sana mengatakan kalau Mbak pembantu di rumah itu dan semua orang sedang sibuk sehingga tak punya waktu menemani Mbak.”
Penjelasan perawat itu membuat hati Feyana sakit. Dirinya tahu betul bahwa keluarga Randy tak mengindahkan keberadaannya. Namun ia tak menyangka bahkan ketika kondisinya seperti ini, mereka masih saja bersikap tak acuh.
"Kalau begitu, boleh saya pulang sekarang, Sus?" tanya Feyana mencoba mengenyahkan perasaan sakit hatinya.
Perawat itu mengangguk mantap. Melihat kondisi Feyana yang sudah pulih, tak ada salahnya jika memulangkannya segera. Dengan dibantu perawat melepas selang infus dan turun dari bangsal, Feyana berjalan tertatih ingin keluar dari Rumah Sakit.
"Maaf, tapi Mbak harus melunasi biaya rawatnya dahulu sebelum pergi," henti perawat itu agak kasihan melihat tatapan lugu Feyana.
Feyana menganga tak percaya. Ternyata selain bersikap dingin padanya, keluarga suaminya juga tak ada hati sampai melepas tangan membayarkan biaya rawatnya. Padahal jika dipikir-pikir, salah mereka juga dirinya pingsan.
Feyana tidak tahu uang darimana untuk membayarnya. Jangankan bayar biaya rawat, ia saja tidak memegang sepeserpun uang. Feyana lama terdiam di depan meja resepsionis hingga akhirnya memberanikan diri meminjam ponsel seorang perawat yang sedang berjaga di sana. Ia menunggu nada sambung hingga sebuah sahutan dari seberang terdengar.
“Mah, ini Feyana. Bisakah Mamah atau Randy mentransfer uang untuk biaya pengobatanku di rumah sakit sekarang juga? Aku sudah mendingan dan ingin pulang saja. Jauh lebih baik lagi jika Mamah katakan pada Randy untuk menjemputku.” Feyana langsung menyahut cepat sebelum sambungan diputus.
Namun terdengar tawa dari seberang yang berasal dari mertuanya. “Dengar, ya! Sekarang di rumah sedang sibuk membahas rencana pernikahan Rena dengan kolega bisnis ayahnya. Jadi tak ada waktu untuk mengurusimu. Mandirilah dan pulang sendiri! Nanti kamu lewat pintu samping agar jangan sampai ketika kamu pulang membuat gaduh seperti sebelumnya!”
Panggilan diputus setelahnya tanpa Feyana mendapat kejelasan soal biaya perawatan. Lalu, bagaimana dirinya bisa pulang jika uang saja ia tidak punya?
Dengan berat hati Feyana mengembalikan ponsel itu dan berterima kasih sudah diberi pinjam.
Dirinya menghela nafas panjang dan memikirkan apa yang harus dilakukannya. Tak ada cara lain, ia akan kembali ke bangsalnya dan menunggu suaminya itu datang. Semoga saja Randy benar-benar mau datang atau paling tidak menyempatkan diri untuk menjemputnya.
“Biar aku yang lunasi biayanya.” Ucap seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Feyana. Dia mengulurkan kartu debit dan meminta perawat itu mengurus administrasi Feyana segera.
Manik Feyana seketika membulat, sembari memperhatikan pria yang tak dikenal itu dari atas ke bawah.
Feyana tak pernah mengenal pria setampan itu sebelumnya. Jika Feyana mengenal pria dengan rambut hitam legam, alis yang tebal, serta rahang yang kuat seperti pria di hadapannya, jelas tak mungkin Feyana bisa melupakannya begitu saja.
Feyana langsung menarik sebelah lengan pria itu agar menghadap dirinya. “Kamu siapa? Dan maaf, kamu tak perlu membiayaiku, aku akan menunggu suamiku datang saja, pasti tidak lama,” tolaknya dengan halus.
Pria itu diam tak menyahut. Lalu menerima kartunya kembali ketika administrasi Feyana sudah selesai. Ia berjalan lebih dulu dan menoleh pada Feyana ketika wanita itu hanya memandangnya bingung.
“Tak perlu berpura-pura kuat, Nona. Nona tahu sendiri suami Nona tak akan datang. Ayo, biar saya antar pulang.”
It was just as Ariella had pictured it to be, lavish meals, feast, lots of wealthy people, glittering necklaces, shinning jewelries, it was lovely, she wished she could attend something like this, with a glowing dress just as theirs.However, who was she kidding? She was nothing compared to them, she was just dressed in black and white waitress outfit, serving drinks to high class ladies and gentleman.There was no way she could reach these high standards, and she was just a part time worker, fighting to get money to treat her ill father, perhaps, being here was a story to tell her best friend, he would be pleased to hear it all.She drew a sharp breath and continued serving drinks while admiring how they speak elegantly, how their dresses reached the floor touching their shining shoes, how their lips were bright red and how their smiles bloom.Money really makes one beautifulShe forced a smile and then she turned when she heard whispers from other female waitresses. “Mr. Gavin Garri
Gavin returned home in sweat, he had just gone for a run, one thing he does to clear his mind, but when he glanced up at the entrance of his mansion, he sees a lady pacing around the gate, and he tilts his head and tried to make out the lady’s back that was turned at him.Her brown hair looked familiar and the classy outfit too, he scoffed and walked close to her and stared at his mansion which she was staring at.“Is something wrong with the building?” He whispered close to her and she jumped.“Gosh! You startle me!” She hit his chest when she saw who was behind her, a frown on her face and Gavin chuckled softly.“Why are you here?” He asked staring at her wrinkled forehead, and her daggered eyes.“What so wrong with a sister coming to see her indifferent brother?” She asked him and quickly pointed at the building. “And why did you change your lock?”He scoffed at her. “I can do that whenever I wish since it’s my building,” He frowned at her. “Go home Kelly.” He turned to open the do
They both glanced at the file which he had placed at their front, then shared a knowing gaze of agreement between each other before turning to Gavin.“We would do as it says here, you can be rest assured.” One of the men spoke with a thin smile on his lips, but Gavin’s face was expressionless, he was indifferent to most people.“I will sent a different time and place for our official meeting.” He told them and was about to get up.“Mr. Gavin, there is something you need to know.” One of the men spoke and Gavin’s attention turned to him.“What is it?” He questioned.“Mr. Kim is meeting up people in secret, and I heard it from one of the men he met, one who is loyal to us in secret.” He spoke up and Gavin scoffed.“Mr. Kim is only a front man, he must be working for someone who chose to keep his identity hidden,” Gavin glanced at Raymond and his forehead creased. “I will look into it, just work on what that file says.” Gavin got to his feet and they also stood up.“Good evening, Mr. Gav
Ariella froze up and her eyes dilated when her lips touched the lips of this stranger. She had never wanted their lips to touch. That was not her intention.Her intention was to get mixed in the crowd of dancers. If she put her arms around him and pretended to be making out with him, then they wouldn’t notice her and would walk by, but she never thought that the moment she turned to hide her face she would kiss him.She quickly pressed her lips and tried to pull away, but then he grabbed her by the waist. Immediately, his eyes darted over her shoulder to see the men glancing at each person on the dance floor.Ariella was still shocked by the kiss, but she knew what was coming for her, and it seemed like this stranger understood. She took the gesture and leaned her face on his chest and just about then, he turned his back to the security.Ariella swallowed hard as she inhaled the fragrance his body let off. The cologne smelt expensive and it was intoxicating. She took this moment to gl












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.