로그인Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah jendela pesawat yang sedikit terbuka, menyapu kabin First Class dengan rona jingga dan ungu yang lembut. Di bawah mereka, daratan Eropa mulai terlihat seperti maket arsitektur yang rumit di balik lapisan kabut tipis. Turbulensi hebat semalam telah berlalu, meninggalkan keheningan yang janggal namun sarat akan muatan emosi yang belum tuntas.
Elena telah berganti pakaian. Ia kini mengenakan blus sutra berwarna gading yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya, dipadukan dengan celana palazo yang memberikan kesan otoritas namun tetap feminin. Wajahnya telah dipoles dengan riasan tipis—cukup untuk menyembunyikan kelelahan dari malam yang penuh guncangan. Di dunia Elena, wajah adalah benteng pertahanan terakhir.
Aiden sudah duduk tegak di kursinya, tampak seolah-olah ia baru saja keluar dari sesi pemotretan majalah bisnis kelas atas, bukan dari penerbangan lintas benua selama belasan jam. Di hadapannya, meja lipat berbahan kayu mahoni telah disiapkan untuk layanan sarapan terakhir sebelum mendarat.
"Duduklah, Elena," suara Aiden terdengar lebih ramah daripada semalam, namun tetap membawa beban otoritas. "Omelet truffle dan kopi Blue Mountain adalah cara terbaik untuk menghadapi kenyataan di Paris nanti."
Elena duduk di kursi seberangnya. Ia memperhatikan bagaimana Aiden memotong rotinya dengan presisi seorang ahli bedah. Ruang privat ini terasa lebih kecil sekarang, bukan karena ukuran fisiknya, melainkan karena kehadiran Aiden yang seolah memenuhi setiap sudut udara.
"Anda sangat tenang untuk seseorang yang baru saja menculik seorang wanita secara intelektual di ketinggian empat puluh ribu kaki," sindir Elena sambil menyesap kopinya.
Aiden meletakkan pisaunya, matanya menatap Elena dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Saya tidak menculik, Elena. Saya menawarkan jalan keluar. Anda berada di pesawat ini untuk melarikan diri, namun Anda dan saya tahu bahwa tanpa rencana yang matang, Paris hanya akan menjadi tempat di mana Anda menyaksikan kehancuran keluarga Anda dari jarak jauh."
Aiden memberi isyarat pada pramugari untuk meninggalkan mereka. Begitu tirai kabin ditutup rapat, suasana berubah menjadi lebih privat.
"Valerick Group telah mengakuisisi Adiningrat Group," Aiden memulai, suaranya tenang namun tajam. "Secara hukum, itu adalah kemenangan besar bagi saya. Namun, di mata publik dan dewan direksi, saya dianggap sebagai 'vulture capitalist'—burung pemakan bangkai yang hanya tahu cara menghancurkan warisan budaya demi angka di laporan tahunan. Citra perusahaan saya menjadi terlalu dingin, terlalu agresif."
Elena mengangkat sebelah alisnya. "Dan Anda merasa kasihan pada diri sendiri?"
Aiden terkekeh, sebuah suara rendah yang menggetarkan udara. "Saya tidak peduli dengan perasaan. Saya peduli dengan persepsi. Valerick Group butuh sentuhan 'jiwa' yang Anda sebutkan semalam. Kami butuh legitimasi budaya untuk meyakinkan pasar bahwa kami bukan hanya penghancur, tapi juga pembangun kembali."
Aiden mencondongkan tubuh ke depan, kedua lengannya bertumpu di atas meja makan yang mewah itu. "Saya ingin Anda bergabung dengan Valerick Group sebagai Kurator Seni Pribadi saya."
Elena terdiam. Garpu di tangannya tertahan di udara. "Kurator? Setelah Anda menyita semua galeri saya?"
"Bukan sekadar kurator yang mengatur lukisan di dinding," lanjut Aiden. "Anda akan mengelola seluruh portofolio aset seni dan budaya yang saya ambil alih dari keluarga Anda. Anda akan mengkurasi citra perusahaan saya melalui filantropi seni, pameran eksklusif, dan restrukturisasi galeri-galeri lama Anda. Anda akan memiliki otonomi penuh atas Galeri Menteng dan galeri di Paris itu—di bawah bendera Valerick, tentu saja."
"Anda ingin saya bekerja untuk pria yang merampok ayah saya?" Elena bertanya, suaranya bergetar karena campuran antara kemarahan dan logika yang mulai bekerja.
"Saya ingin Anda menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan," Aiden membalas tanpa berkedip. "Tanpa saya, koleksi di Paris itu akan dilelang untuk membayar utang bank dalam waktu tiga puluh hari. Dengan saya, koleksi itu tetap utuh di bawah pengawasan Anda. Anda tetap memegang kendali atas keindahan itu, meskipun kepemilikannya berpindah tangan."
Elena meletakkan garpunya. Pikirannya berputar cepat. Ia membenci Aiden, namun ia membenci kegagalan jauh lebih besar. Tawaran ini adalah penghinaan sekaligus penyelamat.
"Dan apa bagian lainnya?" tanya Elena. "Anda menyebutkan soal 'tunangan' semalam. Saya ragu itu ada hubungannya dengan kurasi lukisan."
Aiden menyandarkan punggungnya, sorot matanya berubah menjadi lebih kalkulatif. "Dewan direksi saya sedang mencoba melakukan kudeta. Mereka pikir saya terlalu muda dan terlalu impulsif. Mereka menginginkan stabilitas, dan mereka sangat memuja tradisi. Jika saya menikahi—atau setidaknya bertunangan—dengan seorang Adiningrat, itu akan mematikan pemberontakan mereka. Nama keluarga Anda adalah segel persetujuan bagi kaum aristokrat bisnis Jakarta."
"Jadi, saya adalah kurator untuk perusahaan Anda, dan aksesori untuk kehidupan pribadi Anda?" Elena bertanya dengan nada pedas.
"Anda adalah mitra strategis," koreksi Aiden. "Anda membutuhkan sumber daya saya untuk memulihkan kehormatan ayahmu, dan saya membutuhkan kelas serta reputasi Anda untuk mengamankan takhta saya. Ini adalah pernikahan korporasi yang elegan. Tanpa perasaan, tanpa drama yang tidak perlu. Hanya kontrak dan hasil."
Elena memandangi sisa omeletnya yang kini sudah dingin. Di luar sana, menara Eiffel mungkin sudah mulai terlihat di kejauhan. Paris, kota yang seharusnya menjadi tempat ia meratapi nasib, kini justru menjadi saksi dari kesepakatan paling berbahaya dalam hidupnya.
"Jika saya setuju," suara Elena menjadi serendah bisikan namun tegas, "saya ingin Galeri Paris dihapus dari daftar aset sitaan. Itu harus tetap atas nama pribadi saya sebagai jaminan."
Aiden menatapnya sejenak, lalu sebuah senyum tipis—hampir menyerupai kekaguman—muncul di bibirnya. "Anda sangat pandai bernegosiasi di saat terdesak, Elena."
"Saya belajar dari yang terbaik, bukan?" Elena membalas telak.
Aiden mengeluarkan sebuah map kulit dari tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja makan, di antara piring porselen dan gelas kristal. "Draf kontraknya sudah ada di dalam. Anda punya waktu sampai kita keluar dari imigrasi di Charles de Gaulle untuk menandatanganinya."
Elena menatap map itu seolah-olah itu adalah sebuah kontrak dengan iblis. Namun, ia menyadari satu hal: di dunia High Society, iblis yang menawarkan perlindungan jauh lebih baik daripada malaikat yang hanya bisa menontonmu tenggelam.
"Satu hal lagi, Aiden," ucap Elena sebelum Aiden kembali ke posisinya.
Aiden mengangkat alis. "Ya?"
"Jika kita melakukan ini, jangan pernah sekali pun berpikir bahwa Anda memiliki saya. Anda memiliki waktu saya, nama saya, dan keahlian saya. Tapi jiwa saya tidak termasuk dalam kontrak ini."
Aiden menatap Elena dalam diam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Ketegangan fisik yang mereka rasakan semalam saat turbulensi seolah muncul kembali, menyulut percikan yang sulit dijelaskan.
"Jiwa Anda terlalu mahal bahkan untuk saya, Elena," jawab Aiden pelan. "Saya cukup puas dengan kehadiran Anda di samping saya. Untuk sekarang."
Pesawat mulai menurunkan ketinggian. Roda-roda pesawat keluar dengan suara dentuman pelan. Elena menarik napas panjang, membuka map itu, dan mengambil pena emas yang tersedia. Dengan tangan yang stabil, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.
Kehancuran itu memang elegan, namun kebangkitan yang akan ia bangun bersama Aiden Valerick, mungkin akan menjadi sesuatu yang jauh lebih megah—dan jauh lebih mematikan.
Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak
Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum
Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K
Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat
Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung
Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.







