로그인Kegelapan di kabin First Class terasa begitu tebal, hanya dipecahkan oleh pendar lampu indikator kecil di langit-langit pesawat yang menyerupai bintang-bintang jauh. Di luar jendela, badai di atas daratan Eropa Timur mulai menunjukkan taringnya. Kilat menyambar di kejauhan, menerangi gumpalan awan kumulonimbus sekejap saja, seperti bayangan raksasa yang mengintai perjalanan mereka.
Elena tidak bisa tidur. Meskipun kursi mewahnya telah diubah menjadi tempat tidur yang empuk dengan seprai katun Mesir berdensitas tinggi, pikirannya tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kabin, merenungkan tawaran gantung Aiden Valerick. Menjadi wajah bagi perusahaan yang menghancurkan keluarganya? Ide itu terasa seperti meminum racun dalam gelas kristal.
Di seberangnya, Aiden tampak tenang. Pria itu baru saja menutup laptopnya, menyisakan segelas sampanye Krug yang masih berbuih di atas meja lipatnya. Cahaya dari gelas itu memantulkan bayangan kuning keemasan di wajahnya yang keras.
"Anda memikirkan Paris, atau memikirkan saya, Elena?" suara Aiden memecah keheningan. Rendah, serak, dan penuh percaya diri.
Elena memperbaiki posisi duduknya, menarik selimut sutranya hingga ke pinggang. "Saya memikirkan betapa ironisnya hidup ini. Di bawah kita ada ribuan orang yang bermimpi bisa berada di posisi ini, sementara saya merasa seolah sedang menuju tiang gantungan yang sangat mewah."
Aiden memutar gelas sampanyenya. "Tiang gantungan hanya berlaku bagi mereka yang menyerah. Bagi orang seperti saya, ini hanyalah sebuah transisi."
Baru saja Elena ingin membalas, pesawat mendadak berguncang hebat.
Awalnya hanya getaran kecil yang biasa, namun detik berikutnya, hidung pesawat seolah terperosok ke dalam lubang udara yang dalam. Bunyi dentuman keras terdengar dari arah sayap, dan lampu kabit berkedip-kedip sebelum padam sepenuhnya, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang redup.
"Harap kembali ke kursi Anda dan kencangkan sabuk pengaman," suara pilot terdengar tenang namun tegas melalui interkom, namun nada bicaranya tidak bisa menutupi gravitasi situasi tersebut.
Guncangan kedua datang lebih dahsyat. Elena, yang baru saja melepas sabuk pengamannya untuk mengambil air minum, terlempar ke samping saat pesawat miring secara ekstrem. Ia tidak sempat berpegangan pada apa pun. Tubuhnya terdorong melewati sekat rendah yang terbuka, langsung menuju arah Aiden.
Aiden bereaksi dengan kecepatan predator. Sebelum Elena menghantam lantai atau sudut meja yang tajam, lengan kuat Aiden sudah melingkar di pinggangnya, menariknya dengan sentakan kuat ke dalam pelukannya di atas kursi yang lebar.
Pesawat berguncang lagi, kali ini dengan vibrasi yang membuat segelas sampanye Aiden melayang dan pecah di lantai, namun cairannya sempat memercik ke lengan baju mereka.
Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya merah darurat, Elena menemukan dirinya terjebak. Ia terduduk di pangkuan Aiden, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari dada pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Aiden yang stabil—kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar karena adrenalin.
"Jangan bergerak," bisik Aiden di telinga Elena. Suaranya tidak menunjukkan rasa takut, hanya otoritas yang mutlak. Kedua tangannya mengunci tubuh Elena, satu di punggung dan satu lagi menggenggam lengan atasnya, memastikan wanita itu tidak terlempar jika turbulensi berikutnya menghantam.
Napas Elena memburu. Aroma wiski, sampanye, dan parfum kayu cendana milik Aiden mengepung indranya. Dalam kedekatan yang begitu intim ini, dinding es yang selama ini ia bangun terasa mulai retak. Ia bisa merasakan panas tubuh Aiden menembus kemeja tipisnya, dan kekuatan otot pria itu yang menopangnya dengan kokoh.
Pesawat kembali berguncang, lebih lama dan lebih kasar. Elena secara naluriah mencengkeram bahu Aiden, jemarinya meremas kain kasmir mahal yang dikenakan pria itu. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aiden saat sensasi jatuh bebas sesaat menghantam perut mereka.
"Aku di sini, Elena. Kau aman," gumam Aiden. Ada nada yang berbeda dalam suaranya—bukan lagi nada pengusaha dingin yang menghitung untung rugi, melainkan sesuatu yang lebih mentah, lebih manusiawi.
Selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian, mereka tetap dalam posisi itu. Di dalam private suite yang sempit dan mewah, di tengah amukan badai di ketinggian 40.000 kaki, mereka bukan lagi sang pemangsa dan sang tawanan. Mereka hanyalah dua manusia yang mencoba bertahan melawan kekuatan alam.
Saat guncangan mulai mereda dan pesawat kembali stabil, lampu kabin perlahan menyala kembali dengan cahaya kuning temaram. Namun, tidak ada yang bergerak.
Elena mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan mata Aiden yang kini tampak lebih gelap dan intens. Bayangan dari lampu kabin jatuh di wajah mereka, menciptakan kontras antara cahaya dan kegelapan—champagne and shadows.
Tangan Aiden yang berada di punggung Elena tidak segera melepaskannya. Sebaliknya, jemarinya bergerak perlahan, seolah sedang memetakan tulang belikat Elena di balik kain sutra gaunnya.
"Turbulensi sudah lewat," bisik Elena, suaranya parau. Namun, ia sendiri tidak berusaha menjauh. Ada daya tarik magnetis yang aneh, sebuah ketegangan seksual yang muncul dari bahaya, yang membuat kakinya terasa lemas.
Aiden menatap bibir Elena yang sedikit terbuka, lalu kembali ke matanya. "Kadang-kadang, kehancuran dibutuhkan untuk melihat apa yang sebenarnya berharga di bawah permukaan, Elena."
Aiden mengangkat tangannya, ibu jarinya menyeka sedikit percikan sampanye yang menempel di pipi Elena dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sebuah belaian. "Kau tidak sepuisi yang kau kira. Kau adalah pejuang. Dan aku tidak pernah membiarkan pejuang yang hebat berjalan sendirian ke medan perang."
Elena merasakan tenggorokannya kering. Kedekatan fisik ini lebih berbahaya daripada kebangkrutan mana pun yang pernah ia hadapi. "Apa ini bagian dari kesepakatan Anda, Tuan Valerick? Memanfaatkan rasa takut saya?"
Aiden melepaskan pegangannya perlahan, membiarkan Elena kembali ke kursinya sendiri, namun matanya tidak pernah lepas dari wanita itu. "Saya tidak memanfaatkan rasa takut. Saya memanfaatkan peluang. Dan saat ini, peluang kita untuk saling menguntungkan jauh lebih besar daripada sekadar urusan galeri seni di Paris."
Aiden memperbaiki kerah kemejanya, kembali ke persona CEO-nya yang tak tersentuh dalam sekejap. "Pikirkan tawaranku baik-baik sebelum kita mendarat. Aku ingin kau menjadi tunanganku, Elena. Bukan karena aku mencintaimu, tapi karena bersama, kita adalah kekuatan yang tidak bisa dihentikan oleh dewan direksi mana pun atau musuh keluarga Adiningrat mana pun."
Elena duduk kembali di kursinya, merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap ke luar jendela, di mana fajar mulai menyingsing di cakrawala Eropa, menyemburkan warna ungu dan emas di atas lautan awan yang kini tenang.
"Tunangan sandiwara?" tanya Elena tanpa menoleh.
"Tunangan sandiwara yang paling elegan dalam sejarah Jakarta dan Monaco," jawab Aiden dingin. "Kau mendapatkan kembali galeri dan reputasimu, dan aku mendapatkan stabilitas di kursi kepemimpinan Valerick Group."
Elena terdiam, menatap pantulan dirinya di jendela. Di balik bayangan kegelapan semalam, ia menyadari bahwa ia baru saja selamat dari satu badai, hanya untuk masuk ke dalam badai lain yang jauh lebih kompleks dan menggairahkan.
"Saya butuh jaminan, Aiden. Bahwa Anda tidak akan menghancurkan apa yang tersisa dari hati saya."
Aiden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat gelas kristal yang baru diberikan pramugari, menawarkan sebuah roti panggang dalam keheningan. Di mata Aiden, Elena melihat sebuah janji—atau mungkin sebuah ancaman—bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.
Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak
Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum
Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K
Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat
Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung
Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.







