로그인Suara desis udara di dalam kabin First Class perlahan berubah seiring dengan menurunnya ketinggian pesawat. Di atas meja mahoni yang masih menyisakan aroma kopi mahal, selembar kertas kontrak tergeletak dengan tanda tangan Elena Adiningrat yang masih basah. Tanda tangan itu tampak seperti sebuah segel—bukan hanya untuk sebuah pekerjaan, tetapi untuk sebuah babak baru yang ia sendiri tidak yakin bisa ia kendalikan.
Elena meletakkan pena emasnya dengan denting pelan. Ia menatap Aiden Valerick, yang kini menyandarkan punggung dengan raut wajah puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia korporasi.
"Sudah selesai," ucap Elena pelan, namun suaranya membawa ketegasan yang tidak bisa dibantah. "Saya adalah kurator Anda, dan saya adalah tunangan sandiwara Anda. Namun, sebelum kita menginjakkan kaki di aspal Paris, ada hal yang harus kita perjelas. Saya menyebutnya... Peraturan Berlian."
Aiden mengangkat sebelah alisnya, tampak terhibur. "Peraturan Berlian? Nama yang sangat puitis untuk sebuah batasan bisnis. Silakan, Elena. Saya mendengarkan."
Elena memajukan tubuhnya, menatap Aiden tepat di manik matanya. "Berlian adalah material terkeras di bumi. Begitu juga dengan peraturan ini. Tidak bisa diganggu gugat, tidak bisa dinegosiasikan ulang."
Ia menarik napas panjang, menghitung poin-poinnya dengan jari yang terawat sempurna.
"Pertama, hubungan ini murni profesional dan strategis," tegas Elena. "Di depan publik, saya akan menjadi tunangan yang sempurna. Saya akan berdiri di samping Anda, tersenyum pada kamera, dan meyakinkan dewan direksi Anda bahwa Valerick Group memiliki kelas. Namun, begitu pintu penthouse atau mobil tertutup, kita adalah orang asing. Tidak ada kontak fisik yang tidak perlu, tidak ada pertanyaan pribadi, dan tidak ada campur tangan dalam urusan privasi masing-masing."
Aiden tidak menyela. Ia hanya memperhatikan bibir Elena yang bergerak, seolah sedang mempelajari ritme bicara wanita itu.
"Kedua," lanjut Elena, "Anda tidak boleh menggunakan kekuasaan Anda untuk menekan saya dalam hal kurasi seni. Jika saya mengatakan sebuah karya seni tidak layak untuk citra perusahaan, maka itu adalah keputusan final. Anda membeli keahlian saya, bukan sekadar persetujuan saya."
"Masuk akal," gumam Aiden pendek.
"Dan ketiga," Elena memberikan penekanan pada poin terakhir ini, "permainan ini berakhir tepat saat dewan direksi Anda memberikan mosi percaya penuh dan aset keluarga Adiningrat di Paris telah aman di bawah kendali saya secara hukum. Setelah itu, kita akan mengumumkan pembatalan pertunangan dengan alasan 'perbedaan visi' yang elegan, dan kita berjalan di jalur masing-masing. Tanpa drama, tanpa dendam."
Hening sejenak menyelimuti kabin tersebut. Di luar, roda pesawat menyentuh landasan pacu Charles de Gaulle dengan hentakan halus, menandakan mereka telah kembali ke daratan. Sensasi gravitasi itu seolah mengukuhkan kesepakatan yang baru saja diucapkan.
Aiden melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia berdiri, membuat ruang kabin yang luas itu tiba-tiba terasa sempit karena tinggi badannya yang menjulang. Ia melangkah mendekati Elena, berhenti tepat di jarak yang sangat tipis dari batas kenyamanan Elena.
"Peraturan yang sangat detail, Elena. Sangat... protektif," ucap Aiden, suaranya kini terdengar lebih dalam. "Anda seolah-olah sedang membangun benteng untuk melindungi diri dari saya. Apakah saya begitu menakutkan bagi Anda?"
Elena tidak mundur satu inci pun. "Bukan menakutkan, Aiden. Hanya saja, saya tahu tipe pria seperti Anda. Anda adalah pengumpul aset. Dan saya tidak berniat menjadi salah satu barang koleksi di rak Anda yang akhirnya berdebu."
Aiden menatapnya cukup lama, matanya memindai wajah Elena dengan intensitas yang membuat napas Elena sedikit tertahan. Kemudian, sebuah seringai misterius muncul di sudut bibir pria itu—sebuah ekspresi yang sulit diartikan, antara kekaguman dan tantangan yang tersembunyi.
"Saya setuju dengan semua poin Anda," kata Aiden. "Murni profesional. Tanpa perasaan. Tanpa sentuhan di balik pintu tertutup."
Aiden mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Elena, melainkan untuk mengambil tas tangan Elena yang berada di kursi samping. Ia membawakan tas itu untuknya, sebuah gestur ksatria yang terasa aneh datang dari pria sekeras Aiden.
"Namun, ingatlah satu hal, Elena," Aiden berbisik tepat di samping telinganya saat mereka mulai melangkah menuju pintu keluar pesawat. "Berlian mungkin adalah material terkeras, tapi ia juga yang paling mudah membiaskan cahaya. Kadang-kadang, apa yang kita lihat sebagai batasan, hanyalah cara untuk membuat pantulan yang lebih indah."
"Apa maksud Anda?" tanya Elena, menghentikan langkahnya di lorong pesawat.
Aiden hanya menoleh sekilas, seringai misterius itu masih menghiasi wajahnya. "Maksud saya? Selamat datang di permainan kita, Tunanganku. Mari kita lihat berapa lama berlian ini bisa bertahan sebelum ia mulai berkilau di bawah tekanan."
Mereka keluar dari pesawat dan langsung disambut oleh udara pagi Paris yang dingin dan segar. Di ujung garbarata, dua orang pria berjas hitam dengan papan nama "Valerick" sudah menunggu. Sebuah limusin hitam mengkilap sudah terparkir di area VIP bandara.
Saat mereka berjalan berdampingan menuju mobil, Aiden tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang Elena dengan sangat posesif.
Elena tersentak dan mencoba melepaskan diri. "Aiden! Peraturan pertama!" desisnya dengan gigi terkatup.
Aiden tidak melepaskannya. Ia justru mempererat pelukannya dan menunjuk ke arah balkon terminal di atas mereka, di mana beberapa fotografer paparazzi tampak sedang membidikkan lensa kamera mereka ke arah pasangan baru yang kontroversial itu.
"Peraturan pertama berlaku di balik pintu tertutup, Elena," bisik Aiden sambil tersenyum lebar ke arah kamera, seolah-olah ia adalah pria paling bahagia di dunia. "Tapi di sini, di bawah langit Paris dan di depan mata dunia... Anda adalah milik saya. Dan Anda harus terlihat sangat menikmatinya."
Elena terpaksa tersenyum, menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Aiden agar terlihat natural, meskipun di dalam hati ia merasa seperti baru saja masuk ke dalam jebakan yang paling elegan di dunia. Ia menyadari bahwa Aiden Valerick tidak hanya menyetujui peraturannya—ia sedang mencari celah di setiap kata yang ia ucapkan.
Saat limusin mulai meluncur membelah jalanan Paris menuju hotel mewah di Place Vendôme, Elena menatap pemandangan kota di luar jendela. Ia telah menyelamatkan masa depannya, namun ia baru saja menyadari bahwa harga yang harus ia bayar mungkin jauh lebih besar daripada sekadar tanda tangan di atas kertas.
Permainan ini baru saja dimulai, dan di bawah seringai misterius Aiden, Elena tahu bahwa "Peraturan Berlian"-nya akan diuji habis-habisan oleh pria yang tidak pernah menerima kata "tidak" sebagai jawaban.
Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak
Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum
Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K
Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat
Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung
Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.







