The Cornwall's Core

The Cornwall's Core

last updateLast Updated : 2020-09-01
By:  Nikki LarousseCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
34Chapters
5.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Book 2 of The Elemental Lovers series Bradon Cornwall has been one of the leading geologists in the Bay Area. So, when someone named Barbara Brown came knocking on his door to help her find the mineral that was rumored to be the most powerful, he accepted the challenge. There's only one problem, the excavation site does not admit the woman.For Barbara, to find the most precious mineral on earth has been one of her childhood dreams to go to. But when the organization did not recognize women to be participating in the research, she was furious. not to mention, Brandon Cornwall will be there. She has to get in, even if she meant to give her freedom away at the hand of Brandon Cornwall.But, little did they know, the whirlwind marriage that they had was not like what they imagine to be. it was intense, hot, and steamy, definitely not what they would have thought it will be as they were considered as archenemies of each other. Can they get through their marriage without killing each other, or will they finally know what lies beneath their core and bring out the diamonds that have been hiding there forever?

View More

Chapter 1

Chapter 1: The Conference

Yohan menggenggam tangan Moza, membawanya masuk ke kamar resort yang akan menjadi saksi dari malam pertama mereka. 

Di tengah ruangan, ranjang king size berkelambu putih berdiri kokoh. Tirai sutra di sekelilingnya tersibak, digerakkan oleh angin pantai yang masuk dari arah balkon.

"Akhirnya kita sampai di sini, Moza," bisik Yohan dengan suara rendah. “Aku ingin malam pertama kita jadi sesuatu yang istimewa. Hanya kamu, aku, dan alam.”

Sambil menatap Moza dalam-dalam, Yohan menelusuri lekuk leher sang istri dengan jemarinya.

“Ganti pakaianmu, Sayang. Aku punya satu permintaan khusus.”

Moza mengangguk, hatinya berdebar-debar. Ia masuk ke kamar mandi marmer yang luas, lalu mengganti gaun pengantinnya dengan piyama satin berwarna merah. Rambutnya ia biarkan tergerai, wajahnya sedikit dirias ulang agar tetap sempurna untuk sang suami.

Moza tampak dewasa, sensual, tetapi juga rapuh layaknya kuntum bunga yang baru mekar.

Saat ia keluar, Yohan sudah menunggu. Pria itu menatap Moza dengan sorot kekaguman, seperti melihat sebuah mahakarya hidup. Kemudian, dari saku kemejanya Yohan mengeluarkan pita sutra hitam yang lembut. 

“Malam ini, biarkan aku yang membimbingmu, Sayang. Aku ingin kamu merasakan penyatuan kita dengan hati. Tanpa rasa malu. Tanpa rasa takut.”

Moza ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Ia percaya pada Yohan. Percaya bahwa ini adalah cara mereka untuk memulai hubungan baru dengan keintiman yang lebih dalam.

Pita itu dikalungkan perlahan di matanya, lalu diikat erat di belakang kepala.

Dunia langsung gelap. Hanya deru napas Yohan dan sentuhan hangat pria itu yang terasa di kulit Moza.

Namun, tak lama kemudian, ponsel Yohan berdering keras. Moza mendengar desahan pelan dari Yohan ketika ia berbicara dengan seseorang. 

“Maaf, Sayang, sepupuku, Niko, datang untuk mengantarkan koper bajuku yang tertinggal. Aku harus menemuinya sebentar. Jangan buka matamu. Aku akan segera kembali.”

Sebelum Moza sempat menjawab, ia sudah mendengar langkah kaki Yohan yang menjauh, diiringi suara pintu yang terbuka dan tertutup. 

Moza duduk di tepi ranjang, jantungnya berdebar kencang. Ia menunggu suara Yohan, sentuhannya, ciumannya. Namun, yang datang hanyalah kesunyian yang mencekam.

Beberapa menit berlalu, hingga terdengar bunyi ‘klik’.

Pintu terbuka lagi.

“Sayang, kamu sudah datang?” panggil Moza ragu.

Tidak ada jawaban. Anehnya, Moza merasakan langkah kaki yang menjejak lantai berbeda, lebih ringan, lebih mantap.

Sebelum ia sempat berpikir, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipinya, perlahan berpindah menelusuri lekuk bibirnya. 

Napas Moza memburu. Ia merasakan tangan Yohan menyentuh dagunya, turun ke leher, lalu ke pundak. Tangan itu kemudian menyentuh lututnya, perlahan naik membelai paha hingga sampai ke inti tubuhnya.

Moza tersentak, tetapi ia membiarkan dirinya tenggelam. Tubuhnya sudah menyerah pada sensasi nikmat, pada desir listrik yang menjalar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. 

Ciuman Yohan terasa ganas, penuh nafsu yang tak terkendali. Tubuhnya digerakkan dengan cepat ke atas ranjang, piyamanya terlepas tanpa banyak perlawanan. 

Moza hanya bisa pasrah, walau untuk sesaat ia merasakan aroma parfum sang pria berbeda dari milik Yohan. Ia tetap percaya ini adalah suaminya, malam pertamanya. 

Detik demi detik berlalu, malam menjadi semakin liar. Desahan, erangan, kulit yang bergesekan, napas yang memburu memenuhi kamar itu. Segalanya begitu intens, begitu tak terduga.

Moza menjerit kecil saat rasa sakit dan kenikmatan bercampur jadi satu. Bagian bawah tubuhnya kini terasa penuh sesak, pertanda ia telah menyerahkan diri seutuhnya kepada sang suami.

Ketika akhirnya tubuh kekar itu berhenti bergerak, suara parau berbisik di telinga Moza, sangat dekat.

“Aku sangat puas. Kau sudah menyembuhkan aku.”

Dahi Moza mengernyit. Ia ingin membuka penutup matanya dan bertanya sesuatu, tetapi tubuhnya sudah sangat kelelahan. Pada akhirnya, ia pun tertidur pulas di pelukan sang pria.

Entah berapa lama ia terlelap, tetapi Moza terbangun karena mendengar derak pintu yang terbuka.

Dalam kondisi setengah sadar, ia mengerjap dan melepas pita hitam yang masih menutupi matanya.

Begitu pita tersebut terlepas, mata Moza beradu pandang dengan Yohan. Alangkah terkejutnya ia saat melihat pria itu berdiri dengan baju lengkap, wajahnya terlihat segar seperti belum tidur sama sekali. 

“Maaf, aku baru kembali, Sayang. Tadi, Niko mengajakku minum dan —”

Kalimat Yohan terputus saat matanya menangkap pemandangan ganjil di dalam kamar.

Pakaian Moza berserakan. Tempat tidur porak-poranda, dan Moza berbaring dengan tubuh yang berbalut selimut tebal. Bahkan, Yohan bisa mencium aroma bekas percintaan yang menguar dari atas ranjang. 

“Apa-apaan ini?!”teriak Yohan, suaranya mengguncang dinding kayu. “Apa yang sudah kamu lakukan, Moza?

Wajah Moza berubah pucat pasi. Matanya membulat, menatap Yohan dengan sorot bingung bercampur cemas.

“B-bukankah kamu tadi sudah kembali?” jawab Moza terbata.

Kedua tangan Yohan mengepal kuat di sisi tubuh. Sorot matanya menyala, bagaikan bara api yang siap meledak kapan saja. 

“Omong kosong! Aku baru kembali sekarang!” bentak Yohan, langkahnya maju cepat. “Lalu, siapa yang masuk ke kamar kita? Siapa yang sudah menjamah tubuhmu?"

Mendengar tuduhan yang dilontarkan Yohan, Moza perlahan bangkit dari ranjang. Ia mencoba meraih lengan sang suami, meski kedua lututnya terasa goyah. 

“Yohan, tolong… aku tidak bersalah. Aku pikir pria itu kamu." 

PLAK!

Yohan menepis tangan Moza dengan kasar, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.

Sebagian selimut yang melilit tubuh Moza pun tersibak, memperlihatkan jejak merah keunguan yang tertinggal di leher dan bahunya. 

“Lihat kondisimu! Kamu seperti wanita murahan, Moza!” raung Yohan, penuh kebencian.

Air mata Moza mengalir deras. Ia tidak menyangka pria yang dicintainya dengan segenap hati, kini tega menghinanya seperti ini.

“Aku tidak berbohong… Aku korban, Yohan. Aku—”

“Cukup!” potong Yohan seraya mengangkat tangan. “Kau sudah menginjak-injak harga diriku sebagai suami. Jangan harap, aku bisa memaafkan perbuatanmu yang tercela. Besok pagi, pengacaraku akan segera mengurus perceraian kita!"

Setelah berkata demikian, Yohan keluar dari kamar dengan membanting pintu. Meninggalkan Moza sendirian dalam kondisi tak berdaya. Malam yang seharusnya menjadi awal cinta, kini telah berubah menjadi neraka.

Ting!

Bunyi timer dari oven memecah kesunyian, membuat Moza tersentak dari lamunan yang membawanya kembali ke masa silam. 

Tanpa membuang waktu, Moza membuka penutup oven. Ia mengeluarkan loyang kue cokelat pesanan Nyonya Alma, tetangga tua yang sudah menjadi pelanggan setianya. Dapur kecil ini adalah bentengnya, tempat ia menyulap rasa sakit menjadi manis.

Baru saja Moza meletakkan kue itu di atas meja, terdengar derap langkah kecil yang berlarian memasuki rumah.

“Mama, aku pulang.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
34 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status