Início / Romansa / The Day We Do It / Bab 129 - Panggilan Bu Rica

Compartilhar

Bab 129 - Panggilan Bu Rica

Autor: Anidania
last update Data de publicação: 2026-10-14 23:00:09

Pagi menjelang dengan ritme khas hari Senin yang sibuk. Langit ibu kota masih berbalut abu-abu tipis saat Raia selesai merapikan penampilannya di depan cermin rias.

​Ia mengenakan setelan kerja andalannya, blazer berpotongan tegas warna abu-abu gelap, kemeja sutra gading di bagian dalam, serta rok span selutut yang anggun. Rambut panjangnya digelung rapi tanpa cela. Di jemari kirinya, cincin berlian presisi pemberian Leo Vaneric terpasang kokoh.

​Raia meraih tas kerja kulit dan berkas tinjauan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • The Day We Do It   Bab 148 - Malam Panas

    Ciuman itu tidak lagi tergesa-gesa seperti di ruang jamuan Menteng tadi. Di apartemen, bibir Leo bergerak, menuntut sekaligus memuja setiap jengkal napas Raia hingga wanita itu kehilangan akalnya.Raia membalas lumatan itu perlahan. Jemarinya menelusup di sela helai rambut hitam Leo kian mengerat, menarik pria itu semakin merapat hingga tak ada celah udara yang tersisa di antara mereka. Napas Leo memburu saat ia memiringkan wajahnya, memperdalam pagutan bibir mereka. Lengannya yang kekar mengunci pinggang ramping Raia dengan mantap, memastikan wanita itu tetap aman di tepian meja."Raia..." bisik Leo serak, suaranya bergetar di depan bibir Raia yang kini basah dan sedikit membengkak. "Mulai detik ini, jangan pernah berpikir untuk mundur selangkah pun dari hidupku."Raia membuka matanya perlahan, menyambut sorot mata posesif yang selalu berhasil meluluhkan seluruh benteng profesionalismenya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Bahkan kalau aku mau mundur pun," bisik Ra

  • The Day We Do It   Bab 147 - Apartemen Raia

    ​"Malam ini aku menginap di apartemenmu, ya?" gumam Leo tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan.​Raia menoleh, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan geli. "Lho, bukannya Pak Presdir punya penthouse megah sendiri?"​"Penthouse itu terlalu luas dan dingin kalau tidak ada kamu di sana," sahut Leo enteng, sudut bibirnya terangkat nakal. Pria itu menaikkan tautan tangan mereka sedikit ke udara, lalu mengecup singkat punggung jemari Raia yang mengenakan cincin bermata safir. "Lagipula, calon Nyonya Utama Vaneric tidak boleh tidur sendirian setelah berhasil menaklukkan keluarga sebesar ini dalam satu malam."​Raia tertawa kecil, meyakinkan dirinya bahwa badai apa pun yang menunggu di ruang rapat hari Senin nanti, mereka akan menghadapinya bersama.Mobil meluncur mulus membelah keheningan jalanan kota yang kian lengang, hingga akhirnya berbelok memasuki area parkir gedung apartemen Raia. Suara dengung mesin seketika mati, menyisakan deru pendingin udara yang ber

  • The Day We Do It   Bab 146 - Hidupku Untukmu

    ​"Cukup pamer kemesraannya, Leonardo," tegur Kakek Edward santai. "Kami semua sudah paham maksudmu tanpa kamu harus menelan bibir tunanganmu di depan kami."​Rona merah di pipi Raia seketika menjalar hingga ke daun telinga.​Sebagai sekretaris yang terbiasa bersikap dingin dan mengendalikan ruang rapat penuh pria berkuasa, baru kali ini ia merasa kehilangan kendali total atas ekspresinya sendiri. Cepat-cepat ia melangkah mundur dari dekapan Leo, merapikan gaunnya dengan gerakan anggun yang berusaha menutupi debaran jantungnya yang masih berantakan.​Namun Leo sama sekali tidak merasa malu. Pria itu justru melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Raia, menahannya tetap menempel di sisinya seolah menolak membiarkan wanita itu menjauh barang secentimeter pun.​"Hanya memastikan tidak ada yang amnesia soal statusnya malam ini, Kakek," sahut Leo enteng, sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri.​Ibu Rica yang duduk di seberang meja tersenyum tipis, mengangkat serbet sutranya lalu

  • The Day We Do It   Bab 145 - Pertunangan

    "Malam ini, saya tidak berniat meminta pendapat siapa pun di meja ini."​Pandangan elang Leo menyapu seluruh anggota keluarga besarnya, mulai dari Om Robert yang masih mematung menahan amarah, hingga Kakek Edward yang duduk tenang di ujung kepala meja.​"Kalian semua mengenalnya sebagai Raia Sophie. Sekretaris utama yang memegang seluruh rahasia, strategi, dan operasional Vaneric Group selama tujuh tahun terakhir," lanjut Leo.​Leo memutar tubuhnya sedikit, menundukkan pandangannya menatap Raia. ​Tangan Leo terulur, meraih jemari Raia dan mengangkatnya perlahan di hadapan semua orang, memperlihatkan tautan cincin yang berkilau.​"Tapi mulai malam ini, berhenti menyapanya dengan panggilan itu," tegas Leo, kembali menatap tajam ke arah keluarganya dengan nada yang tak memberi ruang bantahan sedikit pun. "Dia bukan lagi sekadar tangan kanan saya di lantai eksekutif. Dia Raia Sophie, tunangan saya. Wanita yang berdiri setara di samping saya, calon Nyonya Utama Vaneric, dan satu-satunya or

  • The Day We Do It   Bab 134 - Kakek Edward

    Sandy bangkit dari kursinya, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. "Papa, ayo pergi... jangan biarkan mereka membeberkan ini lebih jauh!" bisiknya panik, mencengkeram lengan Robert yang masih mematung.​Bibirnya gemetar menahan malu dan amarah yang meluap, Robert meninggalkan ruang perjamuan tanpa sepatah kata pun lagi, disusul langkah tergesa-gesa putranya.​Tok. Tok.​Bunyi ketukan tongkat berkepala elang di atas marmer memecah keheningan dari ujung kepala meja perjamuan.​Sosok pria tua bertubuh tegap dengan rambut perak rapi yang sedari tadi duduk diam memperhatikan jalannya jamuan perlahan menegakkan punggungnya. Tuan Besar Edward Vaneric meletakkan serbet makannya dengan tenang.​Seluruh kerabat yang tersisa di meja makan langsung menahan napas, tak ada satu pun yang berani bersuara di hadapan sang kepala keluarga.​"Leonardo," panggil Kakek Edward, suaranya berat dan menggelegar tenang, menyapu seluruh penjuru ruangan.​Leo segera bangkit berdiri

  • The Day We Do It   Bab 143 - Om Roberts!

    Robert mendengus, tawa sinisnya memecah keheningan. Pria itu menolak mundur, kedua tangannya mencengkeram tepi meja marmer hingga urat-uratnya menonjol."Bicara soal integritas? Omong kosong!" sergah Robert, tatapan kebencian pada Leo dan Raia bergantian. "Keluarga ini butuh penerus yang pasti, bukan eksperimen emosional seorang pewaris manja! Tempo lalu, Sandy dan Evelyn sudah resmi mengikat pertunangan. Putri konglomerat yang menjadi mitra bisnis perusahaan Vaneric! Itu yang namanya menyatukan darah terhormat demi martabat dan kejayaan empat generasi Vaneric!"Robert menepuk dadanya sendiri dengan dagu terangkat angkuh, melirik putranya, Sandy, yang duduk di ujung meja dengan senyum pongah yang tertahan.Leo mendengarkan ocehan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Alis tebalnya hanya terangkat, memperlihatkan kebosanan terhadap manuver murahan pamannya."Lalu?" suara bariton Leo terdengar begitu dingin dan datar. "Apa hubungannya pertunangan anakmu dengan keputusanku malam ini, Om Rober

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status