Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 150 - Hari yang Dinanti

Share

Bab 150 - Hari yang Dinanti

Author: Anidania
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-28 21:38:34

"Jangan bergerak, Raia."

​Bibir Leo merangsek maju, meredam seluruh sanggahan wanita itu di antara lumatan panas dan menuntut. Tangan pria itu yang semula menahan dagunya kini menyusup cepat ke tengkuk, jemarinya membelai rambut Raia seraya menariknya semakin merapat.

​"Leo..." gumam Raia serak. Tangannya terangkat, merapikan dasi sutra Leo yang sedikit miring akibat tarikannya. "Lipstikku pasti berantakan."

​"Biar aku yang tanggung jawab merapikannya lagi nanti," sahut Leo enteng tanpa rasa be
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • The Day We Do It   Bab 151 - Manuver Leo

    ​"Mari kita temui Kakek Edward, Pak Presdir," ujar Raia tenang dengan dagu terangkat.​Leo menyunggingkan seringai tipis yang mematikan. Pria itu membetulkan kancing jasnya, lalu melangkah mendahului untuk membukakan pintu ruangan itu lebar-lebar.​Keduanya melangkah keluar menuju lorong eksekutif, di ujung lorong, Kakek Edward berdiri tegak bertumpu pada tongkat elang peraknya, dikawal oleh dua orang notaris senior bersetelan resmi dan pengawal pribadi.​Mata tua sang patriarki memandang lurus ke arah Leo dan Raia yang berjalan berdampingan. "Kalian berdua tampak siap menelan hidup-hidup siapa pun yang bernapas di ruang rapat nanti," suara Kakek Edward memecah hening lorong eksekutif, disusul ketukan ujung tongkat elang peraknya yang berdentang mantap di atas marmer.​Langkah Leo dan Raia berhenti tepat dua jengkal di hadapan sang patriark. Dua notaris senior di belakang pria tua itu membungkuk takzim pada Leo, sementara tatapan tajam Kakek Edward langsung terkunci pada cincin berma

  • The Day We Do It   Bab 150 - Hari yang Dinanti

    "Jangan bergerak, Raia."​Bibir Leo merangsek maju, meredam seluruh sanggahan wanita itu di antara lumatan panas dan menuntut. Tangan pria itu yang semula menahan dagunya kini menyusup cepat ke tengkuk, jemarinya membelai rambut Raia seraya menariknya semakin merapat.​"Leo..." gumam Raia serak. Tangannya terangkat, merapikan dasi sutra Leo yang sedikit miring akibat tarikannya. "Lipstikku pasti berantakan."​"Biar aku yang tanggung jawab merapikannya lagi nanti," sahut Leo enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ibu jarinya menyeka sudut bibir Raia.​Leo menegakkan tubuhnya, melangkah mundur untuk memberi ruang bagi Raia mengatur napasnya kembali.​"Pukul sembilan Kakek Edward tiba bersama notaris untuk serah terima saham yayasan," ujar Leo. Matanya melirik ke arah jam dinding di seberang ruangan. "Dan tepat pukul sepuluh, dewan komisaris akan berkumpul."​Raia merapikan letak blazer-nya, menghembuskan napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Ia mengangkat map kul

  • The Day We Do It   Bab 149 - Pagi Tak Bersapa

    "Raia! Ya ampun, konser akhir pekan kemarin itu bener-bener gila, seru banget parah!"​Sinta memekik seraya meletakkan segelas iced americano di tepi meja kerja Raia. Matanya binar penuh euforia, tangannya bergerak memperagakan riuhnya penonton. "Pas lagu andalannya dinyanyiin di encore, seluruh stadion nyalain lampu barengan sampai merinding. Visual panggungnya megah, pokoknya capek antre berjam-jam langsung lunas tanpa sisa!"​Raia yang baru saja duduk dengan setelan blazer abu-abu tersenyum tipis, membuka map agenda rapat seraya menatap Sinta dengan tenang. "Syukurlah kalau perjuangan war tiketmu tidak sia-sia."​Namun, binar heboh di wajah Sinta mendadak meredup, berganti raut cemas dan penasaran. Ia membungkuk sedikit lebih dekat ke meja Raia, merendahkan suaranya menjadi bisikan hati-hati.​"Tapi ngomong-ngomong... gimana kemarin malam? Aman, kan?" tanya Sinta penasaran. ​Raia menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Semuanya terkendali, Sinta."​"Syukur deh kala

  • The Day We Do It   Bab 148 - Malam Panas

    Ciuman itu tidak lagi tergesa-gesa seperti di ruang jamuan Menteng tadi. Di apartemen, bibir Leo bergerak, menuntut sekaligus memuja setiap jengkal napas Raia hingga wanita itu kehilangan akalnya.Raia membalas lumatan itu perlahan. Jemarinya menelusup di sela helai rambut hitam Leo kian mengerat, menarik pria itu semakin merapat hingga tak ada celah udara yang tersisa di antara mereka. Napas Leo memburu saat ia memiringkan wajahnya, memperdalam pagutan bibir mereka. Lengannya yang kekar mengunci pinggang ramping Raia dengan mantap, memastikan wanita itu tetap aman di tepian meja."Raia..." bisik Leo serak, suaranya bergetar di depan bibir Raia yang kini basah dan sedikit membengkak. "Mulai detik ini, jangan pernah berpikir untuk mundur selangkah pun dari hidupku."Raia membuka matanya perlahan, menyambut sorot mata posesif yang selalu berhasil meluluhkan seluruh benteng profesionalismenya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Bahkan kalau aku mau mundur pun," bisik Ra

  • The Day We Do It   Bab 147 - Apartemen Raia

    ​"Malam ini aku menginap di apartemenmu, ya?" gumam Leo tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan.​Raia menoleh, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan geli. "Lho, bukannya Pak Presdir punya penthouse megah sendiri?"​"Penthouse itu terlalu luas dan dingin kalau tidak ada kamu di sana," sahut Leo enteng, sudut bibirnya terangkat nakal. Pria itu menaikkan tautan tangan mereka sedikit ke udara, lalu mengecup singkat punggung jemari Raia yang mengenakan cincin bermata safir. "Lagipula, calon Nyonya Utama Vaneric tidak boleh tidur sendirian setelah berhasil menaklukkan keluarga sebesar ini dalam satu malam."​Raia tertawa kecil, meyakinkan dirinya bahwa badai apa pun yang menunggu di ruang rapat hari Senin nanti, mereka akan menghadapinya bersama.Mobil meluncur mulus membelah keheningan jalanan kota yang kian lengang, hingga akhirnya berbelok memasuki area parkir gedung apartemen Raia. Suara dengung mesin seketika mati, menyisakan deru pendingin udara yang ber

  • The Day We Do It   Bab 146 - Hidupku Untukmu

    ​"Cukup pamer kemesraannya, Leonardo," tegur Kakek Edward santai. "Kami semua sudah paham maksudmu tanpa kamu harus menelan bibir tunanganmu di depan kami."​Rona merah di pipi Raia seketika menjalar hingga ke daun telinga.​Sebagai sekretaris yang terbiasa bersikap dingin dan mengendalikan ruang rapat penuh pria berkuasa, baru kali ini ia merasa kehilangan kendali total atas ekspresinya sendiri. Cepat-cepat ia melangkah mundur dari dekapan Leo, merapikan gaunnya dengan gerakan anggun yang berusaha menutupi debaran jantungnya yang masih berantakan.​Namun Leo sama sekali tidak merasa malu. Pria itu justru melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Raia, menahannya tetap menempel di sisinya seolah menolak membiarkan wanita itu menjauh barang secentimeter pun.​"Hanya memastikan tidak ada yang amnesia soal statusnya malam ini, Kakek," sahut Leo enteng, sudut bibirnya terangkat penuh percaya diri.​Ibu Rica yang duduk di seberang meja tersenyum tipis, mengangkat serbet sutranya lalu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status