INICIAR SESIÓNKlek...Gagang pintu naik turun secara perlahan.Darah Raia membeku. Cedera pinggang yang ia derita mengunci tubuhnya di atas bangsal—tak mampu bergerak sedikit pun.Clack!Pintu didorong dari luar, namun slot kunci menahannya dari dalam.Raia panik, ia meremas tangan Suster Pearly ... perawat itu tersentak, merapikan kacamata dan memasang posisi waspada menatap ke arah pintu.Seakan mengetahui kepanikan yang ada di dalam, terdengar ketukan sebanyak tiga kali dari balik pintu."Suster? Pintunya terkunci dari dalam."Raia menghembuskan napas lega mengenali suara itu. Sementara Suster Pearly beranjak memutar slot kunci dan membuka pintu.Di baliknya, berdiri sosok Leo.Pria iru berdiri tegap dengan kemeja tergulung rapi hingga siku dan dasi yang sedikit dilonggarkan. Tangannya menenteng paperbag eksklusif."Saya memakai kunci master, tapi ternyata terkunci dari dalam," ucap Leo tanpa basa-basi, melangkah masuk setelah Suster Pearly memberi jalan.Ia meletakkan wadah keramik berlogo rest
"Takut itu hal yang lumrah, Nona," bisik Suster Pearly seraya membungkuk, merengkuh bahu Raia hangat tanpa mengusik posisi punggung gadis itu yang tersangga bantal.Ia mengusap rambut Raia yang terurai. “Tapi memagari diri dari orang yang tulus ingin menjaga Nona ... itu sama saja dengan menghukum diri sendiri atas takdir yang bukan kesalahan Nona."Rasa lelah yang menumpuk, trauma masa lalu yang terus mencekik, serta rasa bersalah yang terus menghantui membuat Raia pecah dalam tangisnya. Tanpa berani banyak bergerak, Raia memiringkan kepala dan membenamkan wajahnya di pundak Suster Pearly. Ia menangis sesenggukan, menumpahkan seluruh beban yang selama ini ia pikul sendirian."Saya ... Saya selalu merasa tidak berhak bahagia lagi, Suster ...," bisik Raia terbata-bata di sela tangisnya. Air mata hangat membasahi kain seragam perawat senior itu. "Tiap kali jantung saya berdebar ... saya merasa seperti pengkhianat. Saya takut... saya takut jika saya mencintai lagi, orang itu juga akan d
"Bukan ... staf rumah sakit?" bisik Raia mengulang. Suaranya bergetar, membayangkan betapa tipisnya jarak antara dirinya dan bahaya yang baru saja mengintai.Suster Pearly mengangguk. Ia menatap wajah Raia yang kini berubah tegang."Suster Pearly...," panggil Raia lirih. "Boleh tidak ... Anda menemani saya di sini? Tolong jangan tinggalkan saya sendirian,” pinta Raia dengan nada memelas.Suster Pearly tersenyum hangat, ia mengusap bahu Raia, mencoba menenangkan. "Tentu saja, Nona. Memang itu tugas Saya untuk menjaga Nona," sahut Suster Pearly tanpa ragu."Suster ...," panggil Raia, sekali lagi. "Saya mohon ... jangan beri tahu Pak Leo tentang suntikan dan perawat pria yang suster maksud itu."Suster Pearly tertegun. Dahi perawat senior itu berkerut tak percaya dengan permintaan aneh dari Raia. "Tapi Nona, kejadian ini cukup berbahaya. Pak Leo harus tahu agar keamanan Nona dapat ditangani.""Saya mohon, Suster," potong Raia cepat dengan tatapan memelas. "Pak Leo sedang mempertaruhkan p
Raia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, meski dadanya terasa semakin sesak. "Iya, Suster ... Sangat spesial," cicitnya pelan, mengelus permukaan liontin perak itu dengan jemari yang masih bergetar.Ia tak sanggup menambahkan bahwa pemilik asli kalung itu kini telah tiada—menyisakan ruang hampa di hatinya yang ironisnya mulai terisi perlahan oleh atasannya sendiri.Suster Pearly menangkap perubahan raut wajah Raia. Ia memasang senyum di wajahnya, tidak melontarkan pertanyaan lebih jauh."Baiklah, Nona Raia. Kompres hangatnya sudah pas, bantal penyangga tulang belakangnya juga sudah terpasang rapi. Sekarang Nona istirahat ya, jangan memikirkan hal yang berat-berat dulu,” tutur Suster Pearly menenangkan, ia menepuk selimut Raia dengan pelan. “Saya bawa suntikan ini ke nurse station untuk kroscek langsung ke dokter jaga," lanjut Suster Pearly lembut."Terima kasih banyak, Suster Pearly," balas Raia tulus.Suster Pearly mengangguk ramah, memutar tubuhnya, lalu mendorong troli medi
Alis Raia berkerut. "Perawat pria? Bukankah tim medis yang menangani Saya hari ini semuanya wanita?"Suster Pearly menghentikan jemarinya di udara. Dahi perawat senior itu berkerut, ia mencoba menganalisa pernyataan Raia yang tiba-tiba mengganggu benaknya."Eh? Iya juga ya...," gumam Suster Pearly ragu. Ia menarik kembali jarum suntik itu dari selang infus Raia dan meletakkannya ke atas baki steril. "Benar juga, Nona Raia. Dokter tidak mengabarkan ada staf perawat pria baru hari ini. Nanti saya kroscek ke nurse station."Raia bernapas lega. "Terima kasih banyak, Suster Pearly," bisiknya, menggigit bibir bawahnya.Melihat Raia yang tiba-tiba memegangi pinggangnya, Suster Pearly menyentuh bahu Raia. "Punggungnya masih nyeri ya, Nona? Benturan kemarin memang membuat otot sekitar tulang belakang sedikit tegang, apalagi Nona memaksakan diri untuk tetap bergerak.""Iya, Suster. Rasanya seperti tertusuk ketika saya menggerakkan tubuh dengan paksa," cicit Raia pelan."Tenang ya, Nona. Kita ko
Bu Rica menyunggingkan senyum sarkas. Beliau meletakkan mangkuk ke nakas di samping bangsal ketika bubur sudah tandas, lalu berdiri perlahan tanpa berniat memperpanjang perdebatan di depan sekretarisnya itu."Ibu tidak punya waktu untuk berdebat soal alasanmu itu, Leo. Ibu harus segera ke kantor sekarang untuk memimpin rapat dewan komisaris," ujar Bu Rica dingin sambil merapikan penampilannya.Beliau melangkah menuju pintu, lalu berbisik tepat di samping Leo. "Fokus pada pekerjaanmu, Leo ... pastikan kamu sudah berada di ruang rapat sebelum Ibu memulainya," bisiknya penuh ketegasan.Pintu tertutup. Leo memejam matanya sejenak. Ia menghela napas panjang, menghilangkan ketegangan di dadanya."Jangan dengarkan ucapan Ibu," ujar Leo, melangkahkan kakinya mendekati bangsal Raia. "Fokus saja pada pemulihan."Raia mendongak, menatap atasannya begitu cemas. "Tapi, Pak ... Bukankah hari ini ada rapat dengan dewan komisaris?"Leo tidak bisa menjawab. Ada pergulatan batin yang terpancar dari mat







