Accueil / Romansa / The Day We Do It / Bab 35 - Bagaimana Keadaan Raia?

Partager

Bab 35 - Bagaimana Keadaan Raia?

Auteur: Anidania
last update Date de publication: 2026-08-31 22:16:26

Raia menatap tangan Leo yang terulur di hadapannya, ia menarik napas panjang sebelum mencoba menggeser sedikit tubuhnya.

Namun, baru saja siku kanannya bertumpu pada sandaran jok—

“Akh!”

Rintihan lolos dari bibir Raia. Wanita itu refleks mencengkram lengan jas Leo ketika rasa nyeri mulai menyerang punggungnya. Wajahnya memucat, matanya terpejam saat rasa nyeri mulai menjalar hingga pangkal pahanya.

Wajah Leo berubah tegang. Rahangnya mengeras. Tanpa keraguan, pria itu menahan tubuh Raia dengan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • The Day We Do It   Bab 99 - Kita Kemana Lagi?

    "Kan sudah saya bilang," jawab Leo santai, menyusul langkah Raia dengan kedua tangan yang kembali dimasukkan ke dalam saku celana. Pria itu berdiri tepat di samping Raia, melirik deretan kotak mewah di meja kasir dengan senyuman miring penuh kemenangan. "Semua yang sempat kamu sentuh, tanyakan, atau pandangi tadi itu cocok untuk kamu. Jadi, semuanya ikut dibungkus." ​Mata Raia membelalak semakin lebar. Ia menoleh bergantian antara tumpukan kotak di atas meja dan wajah Leo yang tampak sama sekali tidak merasa bersalah. ​"Tapi kan aku... maksud saya, saya tadi tidak bilang mau beli syal kasmir itu!" protes Raia dengan nada frustrasi, pipinya merona merah padam menahan malu, sebal, dan salah tingkah. "Dan jaket tweed itu juga cuma saya lihat-lihat doang! Kamu curang banget, ya! Mana bisa main ambil keputusan sendiri?!" ​Leo terkekeh. Pria itu melangkah lebih dekat, memperkecil jarak hingga aroma parfum kayu maskulinnya kembali menguar di indra penciuman wanita itu. ​"Bukan curang

  • The Day We Do It   Bab 98 - Apa-Apaan Ini?

    ​"Boleh ... saya mencoba tas ini bersama sepatu loafers yang tadi?" tanya Raia memastikan.​Manajer butik tersebut tersenyum lebar. "Tentu saja ... dengan senang hati, ibu Raia! Silakan dicoba, itu adalah salah satu koleksi terbaik kami musim ini."​Dengan cekatan, staf butik mengambilkan tas yan Raia maksud dan membantu Raia memadukannya dengan kemeja sage serta loafers kulit domba yang begitu empuk. Ia menuntun Raia menuju melangkah dan berdiri di depan cermin besar.​"Astaga, Ibu Raia! Pilihan yang Ibu ambil benar-benar terlihat sempurna!" puji sang manajer begitu antusias. "Ini cocok sekali. Penampilan Ibu jadi terlihat sangat berkelas, elegan, tapi tetap terlihat santai dan natural. Sungguh selera yang luar biasa."​Mendengar pujian itu, pipi Raia seketika merona. Ia melirik ke arah sofa, mendapati Leo tengah menatapnya dengan senyuman miring di bibirnya.​"Benar kan apa kata saya?" sapa Leo, beranjak dari sofa dan melangkah mendekati Raia. Pria itu berdiri tepat di hadapannya,

  • The Day We Do It   Bab 97 - Jangan, Pak Leo!

    ​Leo terkekeh. Pria itu sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Raia, pria itu justru semakin merapatkan duduknya hingga bahu mereka bersentuhan.​"Kalau lemari kamu tidak muat, tinggal pindah ke tempat saya," sahut Leo enteng, seolah perpindahan tempat tinggal adalah hal sepele yang bisa dilakukan kapan saja. "Atau kita bisa merombak seluruh isi kamar di apartemen kamu malam ini juga. Pilih mana yang lebih kamu suka."​Raia membelalakkan matanya, ia langsung menoleh tajam ke arah pria di sampingnya. "Jangan macam-macam, ya! Siapa juga yang mau pindah ke tempat kamu?" sergahnya memprotes.​Leo mengangkat kedua alisnya, "Saya tidak sedang main-main, Raia," ucap Leo rendah, suaranya berubah serius. "Sekarang, berhenti protes dan pilih apa yang kamu mau. Atau seperti yang saya bilang tadi... saya yang akan memakaikannya satu per satu ke tubuh kamu sekarang juga."Raia menghembuskan napas kasar, wanita itu begitu kesal, bahunya merosot pasrah menghadapi sikap atasan di hadapannya yang

  • The Day We Do It   Bab 96 - Pilihlah, Rai

    ​"Panggil kepala butik dan seluruh staf kalian sekarang juga," perintah Leo begitu memasuki salah satu butik mewah. "Saya mau semua koleksi terbaru musim ini—mulai dari kemeja kasual, blazer, celana, gaun, hingga seluruh sepatu, tas, dan aksesoris kelas atas—dibawa ke ruang privat lantai dua."​Mata staf yang menyambutnya, membelalak terkejut, mengangguk cepat sambil membungkuk hormat. "B-baik, Tuan Vaneric! Kami akan segera menyiapkan semuanya sekarang juga!"​Raia yang berada beberapa langkah di belakang Leo langsung menghentikan langkahnya, terperangah tak percaya mendengar instruksi ugal-ugalan tersebut. Ia buru-buru menarik lengan jaket kulit Leo dengan panik.​"Leo! Kamu sudah gila, ya?!" seru Raia tertahan, namun, matanya membelalak lebar. Wanita itu mencengkram jaket Leo. "Kenapa sampai memanggil seluruh staf untuk membawa semua barang ke lantai atas? Kita kan tinggal pilih beberapa saja di rak ini!"​Leo menoleh, pria itu menatap Raia dengan sebelah alis terangkat, tangannya

  • The Day We Do It   Bab 95 - Wanita di Samping Saya

    "Lho? Leo? Sama sekretaris kesayanganmu ini?"Raia tersentak, wanita itu menegakkan tubuhnya dan mengenali wajah pria yang berdiri di samping meja mereka. Sandy tengah berdiri di sana bersama Evelyn yang mengapit lengannya mesra.Sandy menyunggingkan senyum miring di bibirnya. "Wah, luar biasa ya, Yo," celetuk Sandy dengan nada jahat dan merendahkan. "Petinggi Vaneric Group sekarang hobi banget campur aduk urusan ranjang sama pekerjaan kantor. Seleramu turun drastis, ya? Cuma bawa sekretaris rendahan buat fine dining di tempat mahal kayak gini. Apa karena cewek-cewek dari kalangan kita udah nggak mau sama kamu?"Evelyn tersenyum sinis, ia melipat kedua tangannya di depan dada, melirik Raia dengan tatapan jijik. "Iya, aneh banget. Baju sama dandanan murahan begini dibawa masuk ke restoran mahal. Gak tahu diri banget jadi sekretaris, tahunya aji mumpung bisa nempel bosnya. Mau sok jadi nyonya besar, Mbak?" sindir Evelyn tajam, sembari melontarkan tawa sinis yang mengiris harga diri.Da

  • The Day We Do It   Bab 94 - Ngedate

    ​"Dari mana saja kamu, Raia?"​Raia tersentak, hampir saja ia menjatuhkan tas yang dipegangnya. Matanya tertuju pada sosok Leo yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya dengan melipat kedua tangan di dada. Pria itu seakan sudah memerhatikan area meja Raia yang kosong sejak tadi."Kenapa tidak ada di meja saat?" selidik Leo tajam.​Raia menelan ludah dengan susah payah, dadanya berdebar, merasa cemas karena kepergiannya tertangkap basah oleh sang bos. Ia menarik napas panjang, berusah menyembunyikan rasa gugupnya.​"M-maaf, Pak Leo. Tadi saya baru saja keluar sebentar... ada kepentingan di kafe depan," jawab Raia. "Apakah ada dokumen yang perlu saya siapkan atau ada yang bisa saya bantu, Pak?" Lanjutnya buru-buru mengalihkan pembicaraan.​Leo menatap Raia sejenak, mengamati wajah Raia yang seperti tak nyaman dengan situasi ini. Pria itu menghembuskan napas pelan, lalu menggeleng.​"Tidak," sahut Leo singkat. Namun, bukannya kembali masuk ke ruangannya, ia justru maju mendekati mej

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status