Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 76 - Kamu Kenapa Rai?

Share

Bab 76 - Kamu Kenapa Rai?

Author: Anidania
last update publish date: 2026-09-16 22:19:45

Tanpa menunggu jawaban dari Raia, Leo berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Raia seorang diri di dalam ruangan yang tiba-tiba terasa dingin.

Raia menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa pening yang menghimpit kepalanya.

Begitu dirinya keluar, Gavi dan Sinta terlihat mendekat. Cowok itu menunjuk ke arah punggung Pak Leo yang baru saja menjauh, lalu berganti menunjuk Raia dengan wajah bingung.

"Kenapa, Sin?" bisik Gavi ke Sinta, mengerutkan dahinya..

Sinta han
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 157 - Akhir yang Dinanti

    "Mulai detik ini, saya tidak lagi berdiri sendirian di puncak kendali Vaneric Group."Suara bariton Leo membelah keheningan Grand Ballroom, menggelegar melalui pelantang suara dan seketika membekukan ratusan konglomerat serta petinggi bursa efek internasional yang memenuhi ruangan.Pria itu berdiri di balik mimbar marmer hitam panggung kehormatan, mengabaikan naskah pidato resmi tahunan yang telah disiapkan tim humas. Lengan kirinya melingkar mantap dan protektif di pinggang ramping Raia Sophie, menarik wanita itu merapat seutuhnya ke sisinya di bawah sorotan lampu panggung utama.Kilatan blitz kamera dari jurnalis media finansial global seketika membabi buta, menyorot dua figur yang kini memegang kendali atas imperium bisnis terbesar di negeri ini."Banyak rumor beredar di lantai bursa bahwa Nona Raia Sophie hanyalah figur administratif yang saya tempatkan untuk mengamankan sepuluh persen hak veto yayasan keluarga pasca-pembersihan internal klan," lanjut Leo dingin, tatapan tajam san

  • The Day We Do It   Bab 156 - Gala Diner

    Ratusan jurnalis mencoba merangsek maju, tertahan oleh barikade ketat belasan petugas keamanan bersetelan hitam. Leo melangkah turun dari Maybach hitam antipeluru, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi dalam balutan tuksedo hitam karya penjahit Milan. Telapak tangan Leo terulur, menyambut jemari lentik Raia yang melangkah keluar ke hamparan karpet merah.Raia tampil memukau dalam balutan gaun sutra safir berpotongan ramping yang mempertegas lekuk tubuh anggunnya, rambut hitamnya disanggul rapi menyisakan beberapa helai yang membingkai leher jenjangnya.Suara mikrofon dan sahut-menyahut jurnalis seketika mendengung gaduh."Pak Leonardo! Apakah rumor mengenai kepemilikan sepuluh persen saham yayasan oleh Nona Raia benar adanya?!""Nona Raia! Bagaimana status Anda saat ini dalam jajaran eksekutif klan Vaneric?!""Apakah ini bentuk aliansi bisnis baru, atau ada hubungan personal di antara kalian berdua?!"Leo tidak menunjukkan sedikit pun rasa terganggu oleh kepungan pertanyaan itu.

  • The Day We Do It   Bab 155 - Kau Milikku

    "Pak Leo, ini masih di ruang rapat komisaris—" protes Raia tertahan, matanya membulat panik menatap pintu kaca berlapis tirai di belakang mereka."Persetan dengan ruang rapat," geram Leo seraya menangkup wajah Raia dengan kedua telapak tangannya yang hangat. "Kamu luar biasa tadi. Dingin, mematikan, dan begitu cantik sampai aku hampir lupa naskah ancamanku sendiri."Sudut bibir Raia berkedut menahan senyum. Tangannya yang bebas terangkat menyentuh kerah kemeja Leo, merapikan letaknya yang sedikit bergeser. "Aku cuma membacakan fakta audit yang mereka buat sendiri. Om Robert terlalu serakah sampai lupa memeriksa jejak digital putranya.""Tetap saja," bisik Leo serak. Wajahnya merunduk, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan, napas hangat pria itu membelai bibir Raia yang sedikit terbuka. "Mulai hari ini, seluruh keluarga tahu siapa ratu di sampingku. Tidak akan ada lagi yang berani merendahkanmu sebagai sekretaris biasa.""Termasuk kamu?" pancing Raia dengan nada berbisi

  • The Day We Do It   Bab 154 - Dasar Jalang

    "Kembalikan penjelasannya pada tim penyidik publik, Sandy," tukas Raia sebelum Leo sempat menyahut. Raia merapikan lembaran audit di hadapannya dengan cekatan, lalu menutup map hitam itu dengan satu ketukan tegas. "Dana yayasan dan dividen perseroan bukan brankas pribadi yang bisa kalian kuras lalu dikembalikan seenaknya saat tertangkap basah," lanjut Raia tajam, menatap lurus ke arah Sandy yang gemetar. Robert yang sejak tadi mematung di kursinya perlahan mengangkat kepala. Napasnya memburu, urat lehernya mencuat tegang saat matanya yang memerah menatap Raia dengan dendam yang mendidih. "Kamu... jalang kecil tak tahu diri," desis Robert penuh bisa, suaranya tercekat kebencian pekat. "Kamu pikir setelah menghancurkan kami, posisimu akan aman di keluarga ini?!" Brak! Tongkat elang perak Kakek Edward menghantam meja marmer dengan kekuatan penuh. Cangkir-cangkir porselen melompat dan salah satunya retak seketika, memercikkan sisa teh ke atas taplak linen. "Tutup mulut kotormu, Ro

  • The Day We Do It   Bab 153 - Berapa Milyar?

    "Tuduhan gila! Ini fitnah murahan!"​Sandy melompat berdiri hingga kursi kulit di belakangnya terdorong mundur dengan decit kasar di lantai marmer. Tangannya yang gemetar menyambar berkas audit di depannya, matanya membelalak liar menelusuri rincian mutasi rekening, nomor referensi perbankan, dan stempel verifikasi otoritas keuangan internasional yang tercetak jelas di sana. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Aku tidak pernah menandatangani pembukaan rekening apa pun di Zurich! Ini konspirasi sengaja untuk menjebakku dan Ayah!"​"Tanda tangan basahmu mungkin bisa kamu elak, Sandy," potong Leo dengan nada bariton yang begitu tenang, kontras dengan kekacauan di seberang meja. Ia mengetukkan ujung jari telunjuknya ke layar tablet di hadapannya, menghubungkannya ke proyektor raksasa di dinding utama ruangan. "Tapi rekaman otentikasi biometrik dan pemindaian retina saat pembukaan akun di cabang Banque Cantonale de Genève... apa itu juga hasil rekayasa?"​Layar proyektor seketik

  • The Day We Do It   Bab 152 - Keputusan Leo

    "Bukannya kursi itu bukan lagi milikmu, Leo?"​Suara lantang Sandy membelah keheningan begitu pintu ruang rapat lantai empat puluh dua terbuka lebar. Pemuda itu melempar seringai penuh kemenangan dari seberang meja marmer, menatap Leo yang baru saja melangkah masuk bersama Kakek Edward dan Raia di sampingnya.​Tanpa menunggu rapat resmi dibuka, Sandy sengaja menghempaskan selembar dokumen resmi berkop surat perseroan ke tengah meja.​"Bukankah keputusanmu sudah bulat akhir bulan lalu?" cecar Sandy pongah, melirik para komisaris yang duduk di samping ayahnya. "Dewan komisaris sudah menerima draf pernyataan mundurnya Leonardo Vaneric dari kursi CEO. Surat itu sudah kamu serahkan sendiri, dan kepemimpinan grup ini secara sah seharusnya sudah lowong mulai pagi ini!"​Robert tersenyum tipis menyandarkan punggungnya, menikmati apa yang ia kira sebagai pukulan telak bagi keponakannya.​Namun, Leo sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru melangkah tenang menuju pucuk meja, menarik kursi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status