LOGINKeerthi felt a hand under her chin ,coaxing her to look up ,as she met with warm brown eyes ,in their darkest shade. Her eyes went to her husband's lips, wetting her own involuntarily, when she felt Vikram's hold tighten. She blushed, looking down, her face felt on fire. Vikram pulled her chin up, forcing her to look at him. "Keerthi", Vikram started gruffly ,his voice laced with desire, their lips merely brushing, teasing one another, "We should go to sleep now if you don't want it to continue any further." Keerthi's face flamed at her husband's insinuation. But dammit,she wanted to be kissed. For the first time ever.
View MoreLing Li yang seorang yatim piatu sudah mengasah kemampuannya menjadi pembunuh bayaran sejak berusia enam tahun, semakin lama Ling Li menjadi semakin kuat dan akhirnya menjadi pembunuh bayaran wanita terhebat, Ling Li memiliki anggotanya sendiri yang mengaguminya, tapi karena kehebatannya dan keberhasilannya yang membuat iri banyak yang tidak menyukainya dan sangat mengharapkan kematiannya.
"Hidup Ketua, jika Ketua yang turun tangan semua pasti selesai dengan sangat cepat," teriak salah anak buah Ling Li."Benar, aku sangat iri pada Ketua. Andai aku bisa sekuat dan sepintar Ketua," sahut anak buah Ling Li lainnya."Berhentilah bermimpi kalian tidak akan pernah bisa seperti ketua kita," ucap bawahan Ling Li.Mendengar ucapan anak buahnya Ling Li hanya tersenyum, dirinya sudah menjadi pembunuh bayaran sangat lama mana bisa anak buahnya yang baru beberapa tahun atau beberapa bulan menandingi kehebatannya.Duaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar.Di tengah sorakan kegembiraan atas keberhasilan Ling Li membunuh targetnya ledakan besar terjadi, ledakan tepat di mana Ling Li berada menghancurkan seisi markas dan membuat tidak ada satu pun orang yang berhasil melarikan diri dan selamat.***"Bunuh!""Kita harus segera membunuh Naga itu."Suara samar-samar kembali terdengar di telinga Ling Li, suara ciri khas pertarungan hanya bisa terus di dengarkan oleh Ling Li tanpa bisa membuka matanya yang terasa sangat berat."Ling Li bangun, ku mohon Ling Li bangunlah jangan mati di sini."Suara teriakan yang berlari ke arahnya membuat Ling Li berusaha perlahan membuka matanya. "Aku di mana." kata itu yang pertama diucapkan oleh Ling Li sesaat setelah membuka mata.Ling Li memperhatikan sekelilingnya dengan penuh kebingungan, mata Ling Li saat itu tertuju pada puluhan orang yang sedang menyerang hewan bersayap besar."Bukannya itu Naga," ucap Ling Li tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini."Aku terlahir kembali. Hahahahaha, saat ini aku terlahir kembali, semua ini seperti mimpi," sambung Ling Li tertawa keras."Ling Li, aku tau tidak semudah itu kamu untuk mati," ucap seseorang yang berjalan ke arah Ling Li membawa bambu di tangannya.Ling Li hanya diam menatap pria yang berjalan ke arahnya, belum sempat Ling Li bertanya siapa dan di mana sekarang dirinya berada tiba-tiba Ling Li merasa kepalanya sangat sakit dan tak lama samar-samar ingatan dari pemilik tubuh sebelumnya berputar di kepala Ling Li.Seorang anak gadis berusia 17 tahun dari keluarga Li yang sangat polos terpaksa mengikuti perburuan naga karena permintaan sang Adik tiri, tujuan sang Adik tiri sangat jelas untuk menjebak Ling Li agar selamanya lenyap dari muka bumi karena sudah lama adik tiri dan ibu tiri membenci Ling Li.Pemilik tubuh sebelumnya selalu ditindas saat ayahnya tidak mengetahuinya, Ling Li terus menerus menjadi sasaran kemarahan keduanya tanpa alasan dan karena berpikir Ling Li akan mengadu suatu hari nanti pada ayahnya ibu dan adik tirinya melakukan rencana terakhir."Kamu kenapa?" tanya Duan teman dekat Ling Li yang merasa sangat khawatir.Duan adalah pemuda yang selalu bersama Ling Li, Duan sangat kasihan pada Ling Li yang dijebak oleh ibu dan adik tirinya, tidak jarang Duan akan membantu Ling Li diam diam agar tidak ketahuan oleh Adik tiri dan ibu tiri Ling Li."Aku tidak apa-apa," sahut Ling Li pelan.Ling Li bergegas mengambil pedang usang berkarat di sampingnya dan langsung berdiri, Ling Li menatap sosok Naga besar yang tidak jauh darinya, mata Ling Li tidak berkedip melihat Naga itu membunuh semua manusia yang ingin membunuhnya.Kuku Sang Naga yang panjang dan tajam sudah seperti mata pisau, sekali tebas manusia yang menjadi lawannya langsung mati banyak tubuh manusia yang terbelah menjadi dua, tidak banyak juga yang kepala terlepas dari leher mereka.Ling Li yang melihat itu tersenyum sendiri, Ling Li baru pertama kali melihat pertarungan seperti itu, Ling Li berpikir sang Naga sama seperti dirinya yang tanpa ampun."Naga itu sama sepertiku sebelumnya, dia tidak segan membunuh yang mencoba mengancam nyawanya," ucap Ling Li berbicara sendiri.Ling Li langsung berjalan pergi mendekati sang Naga tanpa takut sedikitpun, sambil terus mendekati sang Naga Ling Li terus menatapnya dengan erat."Hei kamu mau ke mana?" teriak Duan yang melihat Ling Li berjalan mendekati sang Naga."Apa anak itu sudah gila, dia tidak memiliki kekuatan dan tidak bisa bela diri untuk apa dia kembali lagi ke sana, apa dia ingin mati lagi," sambung Duan bergegas menyusul dari belakang.Tidak jauh dari sang Naga yang masih terbang rendah Ling Li menghentikan langkahnya dan terdiam, Ling Li berpikir apa mungkin dirinya mampu membunuh hewan yang dianggap mitos olehnya dulu dan sekarang benar benar ada di depannya."Tambah lagi manusia sampah yang ingin membunuhku, sebenarnya apa yang ada dipikiran mereka, apa mereka mengira Naga itu lemah dan bisa dibunuh dengan mudah," ucap sang Naga kesal dan langsung mengeluarkan cakar panjangnya."Aku tidak ingin membunuhmu, aku sangat yakin aku bahkan tidak bisa melukaimu," sahut Ling Li."Apa kamu bisa mengerti yang aku katakan?" tanya sang Naga heran karena ada manusia yang bisa mengerti apa yang dikatakan nya."Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Ling Li balik."Hahahahaha. Akhirnya aku menemukan manusia yang selama ini aku cari," ucap sang Naga sambil terus tertawa.Ling Li yang kebingungan hanya mengernyitkan dahinya, apa maksudnya manusia yang dicari sang Naga memangnya apa yang sudah dilakukannya pikir Ling Li dengan heran.Sang Naga perlahan turun dan duduk tidak jauh dari Ling Li, tatapan membunuh yang sebelumnya ditunjukan sang Naga ke Ling Li kembali menjadi tatapan biasa seperti sebelumnya dan terlihat lebih bersahabat."Kemarilah," ucap sang Naga meminta Ling Li berdiri tepat di depannya."Apa kamu ingin membunuhku?" tanya Ling Li."Aku tidak akan membunuhmu, kemarilah," sahut Sang Naga.Ling Li berjalan pelan ke arah arah sang Naga, sebagai pembunuh dikehidupan sebelumnya saat ini dirinya tidak boleh menjadi pengecut yang hanya bisa melarikan diri.Tepat saat berdiri di depan sang Naga Ling Li baru menyadari ada permata bersinar terang di kepala sang Naga, Ling Li yang terus menatap permata Merah itu tiba-tiba saja melihat permata itu terbang ke arah kepalanya dan masuk ke dalamnya."Akhirnya aku bisa beristirahat," ucap suara sang Naga.Ling Li merasa kaget melihat Naga di depannya yang tiba-tiba menghilang, hanya suara tanpa wujud yang didengarnya membuatnya semakin kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.Vikram's POV(In Mumbai)I return home after an exhausting day to see my wife sound asleep on the couch. I shake my head, rolling my eyes. I had mentioned I would be late and specifically asked her to go to bed.The last time she fell asleep on the couch,she had a strained neck for three days,and she has a bad cold.I swallow back my irritation,taking gentle steps to check on my children before I freshened up.My lips tilt up automatically, relaxation coursing through my veins as I see my flesh sleeping peacefully. The father in me couldn't resist as I tip-toed into their room, placing a kiss on my seven year and four year olds' foreheads."Go to sleep Rahil",I murmured when I saw him move in his sleep, patting his chest. He was always a light sleeper.I glance at my daughter, smiling when I see her lower lip jutted out,her hands over her head as she slept beautifully. Aarna hates being touched in her sleep.I gently shut the door,making way to my room."When did you come home?",I hea
Vikram's POVIt was one of those days. When everything was great, grateful for all the good things in life. Living life looked simple,easy. I didn't realise I was lost in my thoughts, jumping from one to another when the flow was interrupted.I sweep a glance towards my wife,our coffee mugs in her hands."Why are you smiling?" ,She asks, handing me my mug.I shrug, pulling her gently into my lap,taking care the coffee didn't spill. I either had to clean it or put up with an earful I could do without.She only smiled shyly, closing her eyes when the side of her thigh grazed my penis.I gave her an amused smile, shaking my head. I couldn't deny,I liked it. A lot.I clear my throat,my hand inching into her top,as I place it there, ignoring her look as I sip on my coffee."It's 11 in the morning", Keerthi teased."So?",My hand travels higher, unclasping her bra."At least let me finish my coffee",my wife laughs,shaking her head.I let out a laugh too, squeezing her hip.She gives me a sof
"You kick me one more time,and I'm not going to feed you",Keerthi snapped at the six month old on her lap.The grinning crying/screaming copy of Vikram only let out gurgles of laughter, having his feed in the meantime, kicking his mother's tummy.Keerthi winced when she felt a sharp jab on her lower abdomen,tears pricking her eyes at the pain. She cupped her tummy,placing Rahil on the bed next to her. Even though she got her stitches removed a few months back,it still hurt when her son kicked too hard.It took her three minutes for the pain to become a dull throb. She glared at the about-to-wail child."You scream one more time, that's it. I'm giving you to your grandparents.""Stop being dramatic Keerthi", Keerthi heard her husband,as he entered their room, locking the door shut."You are twenty minutes late.""Wow. You learnt the art of checking time.""No need for that much sarcasm", Keerthi mumbled, placing Rahil in his crib, murmuring,"Please don't cry",in his ear.Keerthi felt he
Two anniversaries later...Keerthi stared at the plastic item in her hand, clutching it against her chest,not bothering that it was dirty. Tears blurred her vision,as she held the edge of the sink.She had mixed feelings. Although she was thrilled,she felt nervous.What would Vikram say if she told him she was pregnant?She didn't think she had the guts to look him in the eye and tell him that she was pregnant. The thought made her too nervous. Although she was positive Vikram might be happy,she couldn't rule out the possibility of him not taking it well.She tried to calm her racing heart,the nervousness not allowing her to be happy about the most precious moment in her life. She was going to be a mother.So why couldn't she be happy?She deep down knew it was because she wanted to share the news with her better half.Maybe she could just leave the stick on the sink,and Vikram would accidentally see it and question her himself?She shut her eyes,tempted at the possibility, jumping in
"Does it hurt too much?"Rhetorical question. Keerthi would get scolded either way,she knew it."Um.""Go to sleep. Maybe it'll be better in the morning.""Yeah.Ouch", Keerthi cried when she put some pressure on her hips.Vikram swallowed,"I think we should go to the hospital."Keerthi's side throbbed in
Keerthi hesitantly placed a hand on her husband's shoulder.He just stared into space,frowning."Any problem?"Vikram sighed, pulling his wife into his lap,nuzzling her neck. He took a deep breath."What to do you think of shifting to Mumbai?"Keerthi frowned,her hand in her husband's mane,"What?""Yeah.
Keerthi winced as she tried to sit in a comfortable position,as she typed an e-mail to apply for her transfer.Her back hurt a lot.She rubbed a hand on her back,trying to get some relief,as she shut her laptop,ready to go home, wincing when she moved her elbows while driving.Vikram came home to see h
Keerthi glared at her husband."Help me stock up the fridge if you want any food.""Are you hungry?""Why?"Vikram shrugged,helping his wife as she set their fridge."Vikram", Keerthi scolded when her husband hugged her from behind after they were done."Sweetheart?Stop shouting",he kissed his wife's neck






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews