Home / Fantasi / The Seven Phoenix Shards / Awal Dari Perubahan

Share

Awal Dari Perubahan

Author: Nona_El
last update Last Updated: 2022-06-16 22:02:42

Brak!

Aku membanting pintu berlapis emas, seketika gema memenuhi seluruh ruang. Saat melangkah masuk, aku melihat seorang pria berkulit putih pucat, dengan tubuh terikat rantai besi. Ia memiliki mata merah gelap, dan taring tajam yang mencuat keluar.

"Aku telah menantikanmu selama delapan belas abad di sini, Achilio." Pria itu menatapku dengan sorot yang menakutkan. "Akhirnya, kamu datang menemuiku," lanjutnya kemudian.

"Dari mana kamu tau namaku?" Aku menghunuskan pedang ke lehernya. "Siapa sebenarnya kamu?"

Pria itu terkekeh, lalu berkata, "Reinkarnasi telah menghilangkan ingatanmu, ya? Aku adalah Zay! Orang-orang menyebutku sebagai sang pembunuh hebat!"

Sungguh, bertemu dengannya adalah sebuah keberuntungan! Dengan begitu, aku tidak perlu repot untuk mencarinya.

"Aku membutuhkan bantuanmu, Zay. Nanti, aku akan menceritakan semuanya padamu. Tolong, ikutlah denganku!" ucapku meminta padanya seraya menjauhkan pedang dari lehernya.

"Ya, aku akan menolongmu, Achilio. Tapi, setelah kamu mengeluarkanku dari tempat ini. Tenang saja, anak kesayangan Dewa Naga berkepala tujuh sepertimu, tidak akan sulit keluar dari labirin ini."

Pedangku telah memotong rantai besi yang mengikatnya. Tepat saat itu, ruangan tiba-tiba bergetar seakan ingin runtuh. "Cepatlah keluar, Zay! Bangunannya sebentar lagi akan roboh!" Namun, Zay hanya bergeming di tempatnya.

"Kenapa lagi!? Jangan membuang-buang waktu!" Aku berteriak padanya sambil menghindari bongkahan batu, yang terus berjatuhan dari langit-langit.

"Aku masih tersegel kutukan, Achilio. Kita harus mengalahkan Naga Matahari untuk membebaskanku," sahutnya.

"A apa yang kamu katakan barusan? Me mengalahkan seekor naga? Jangan bercanda, Zay!" Aku masih tidak percaya dengan ucapan Zay.

"Berani sekali ... manusia memang tidak ada takutnya. Aku akan membuatmu menyesal telah membebaskannya!" Suara itu seperti helaan panas. Saat aku menoleh, seekor naga emas raksasa tiba-tiba menyemburkan api, tepat ke arahku.

Saat itulah, Zay berlari dengan cepat, dan membawaku bersembunyi di balik batu besar. Kami menyusun rencana selagi punya sedikit waktu. Ketika naga itu kembali menyerang, aku langsung berlari ke bawah sayap penuh duri emas itu.

"Serang sekarang, Achilio!" Zay mengeluarkan magic berupa rantai lilac, untuk menjerat pergerakan sang naga.

Sret!

Darah emas bercucuran dari sayap yang terpotong. Naga itu menghilang, dan berubah menjadi sebuah mahkota emas. Zay mengambil, lalu memakainya. Akhirnya, kami pun keluar dari reruntuhan.

"Kamu menggores setiap kaca untuk menemukan jalan ke luar? Wah, kamu sangat jenius, Achilio!" Zay membuat seekor kelelawar raksasa dengan magic-nya. Kemudian, menerbangkan kami hingga menembus dinding kaca.

Akan tetapi, saat kami mencapai langit, matahari telah berubah menjadi gelap gulita. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan besar, sehingga alam marah padaku?

"Zay, apakah hari ini matahari mengalami gerhana total?" Aku memberanikan diri untuk bertanya, setelah tak mampu lagi untuk menahan rasa penasaran.

"Bukan. Apa yang kamu lihat adalah sebagian kecil dari magic Harvey, yang kembali terkumpul pada porosnya."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, untuk mencegah magic itu bersatu kembali dengan pemiliknya, Zay?" Aku benar-benar panik, saat itu.

"Kita harus segera menemukan tujuh pecahan phoenix, sebelum kegelapan mencapai batas maksimal." Zay menambah kecepatan terbangnya. Hanya dalam hitungan menit, kami telah menembus cakrawala di atas sana.

Kami pun mendarat di wilayah Middleside—lautan yang memiliki pulau kecil di tengahnya, setelah dua hari melakukan perjalanan lintas udara. Negeri di antara Amorgold dan Sorcgard itu, dipimpin oleh Ratu Alea—seorang penyihir setengah Mermaid. Karena kegelapan tidak bisa menembus portal pelindung milik Middleside, pergantian siang dan malam di sana, tetap terjadi seperti biasanya.

"Sembilan belas abad yang lalu, peperangan besar telah terjadi di atas lautan ini. Kaisar Harvey menggunakan kristal phoenix, untuk menguasai daratan di seluruh dunia. Namun, dia dikalahkan oleh tiga saudara penakluk kegelapan, dan kristal itu pun pecah menjadi tujuh bagian. Salah satu pecahan kristal itu ada di Danau Lava, yang dijaga oleh Monsta," ucap wanita berambut biru bak samudra itu, menerangkan padaku.

Tidak kusangka, Ratu Alea akan memberikan pertolongan pada Sorcgard. Padahal selama bertahun-tahun lamanya, kerajaanku tidak terlalu berhubungan baik dengan Middleside.

*

Aku menghampiri lelaki berjubah hitam, yang menunggu di tepi pantai. "Kita harus segera berangkat ke Danau Lava, Zay!"

"Baiklah, Achilio. Sebaiknya kita lebih cepat ke sana, sebelum akhirnya terlambat. Ayo, naiklah!"

"Tentu saja, Zay. Ayo, menaklukkan kegelapan!"

Kami pun terbang menuju ke arah tenggara wilayah Middleside. Saat matahari kehilangan cahayanya, kami baru tiba di sana. Zay melempar sebuah batu berukuran sekepalan tangan, ke tengah danau. Tiba-tiba, sesuatu yang mengerikan ke luar dari luapan lava, membuat jantungku berdegup sangat kencang.

"Tunduklah pada reinkarnasi Sean, Monsta!" gertak Zay pada makhluk hitam dengan tujuh lidah itu. Dia memiliki sayap abu-abu yang penuh duri, dan mata berwarna jingga terang.

Aku menggenggam pedang erat, dan bersiap untuk menyerangnya. Namun, Zay menghalangi, dan memintaku untuk mundur beberapa langkah. Mereka—Zay dan Monsta, berbicara dengan bahasa yang aneh. Beberapa saat setelahnya, Monsta memberikan sebuah pecahan berkilau pada kami.

Kenapa Monsta tidak melakukan perlawanan, saat mendengar nama Sean? Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa seakan-akan dia begitu disegani para monster? Aku berniat menanyakannya pada Zay nanti.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, untuk mencari pecahan lainnya. Ketika terbang di atas birunya hamparan lautan, kami bertemu Alea yang duduk di atas batu karang. Putri Duyung yang kecantikannya tiada tara itu, membuat tubuh seakan mematung. Nyanyian indahnya begitu memikat hati.

Dar!

Suara ledakan dahsyat terdengar, tatkala hentakan ekor Alea membuat gelombang besar yang menghantam kami. Aku menyelam dengan cepat, untuk menyelamatkan tas berisi pecahan pertama. Ketika aku berenang ke permukaan, tubuh Alea telah berubah menjadi Siren yang mengerikan.

"Zayyy!" Aku memekik histeris. Tepat saat itu pula, Zay terisap masuk ke dalam mulut Alea.

"Magic apa itu? Kekuatannya bahkan lebih mengerikan daripada black hole, yang memiliki daya hisap dengan kekuatan besar," ucapku dalam hati.

"Sekarang giliranmu, Sean!'' Dia menyeringai, lalu berenang ke arahku yang tengah terombang-ambing.

Gigi runcing dan punggungnya yang penuh duri, membuat sekujur tubuhku berkeringat dingin. Aku tidak mungkin menyelam dalam waktu lama, tetapi Siren itu terus-menerus mengejar. Dia semakin dekat, dan berusaha menggapaiku.

Jleb!

Pedangku menusuk tepat di jantung wanita bermata biru gelap itu. "Ka kamu sangat baik padaku, Nona. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Ma ... maafkan aku."

Tubuhnya bersimbah darah, lautan berubah warna menjadi merah pekat. Sungguh, aku sangat menyesal membunuh seorang wanita!

Beberapa saat kemudian, sebuah kapal nelayan menolong diriku yang hampir putus asa. Akhirnya dengan berat hati, aku pun meninggalkan tempat tragis itu.

Dua bulan setelahnya, aku melanjutkan perjalanan seorang diri, untuk mencari enam pecahan kristal lainnya. Zay pernah berkata bahwa, kristal phoenix dapat mengalahkan Kaisar Harvey; hal itu juga diperkuat dengan penuturan mendiang Ratu Alea. Dari hasil kesimpulan yang kutarik, kristal phoenix diperebutkan karena memiliki kekuatan yang luar biasa.

"Jika kristal phoenix di masa lalu bisa menguasai seluruh dunia, maka mungkin kristal itu juga bisa membunuh Harvey," gumamku seorang diri.

Ketika bermalam di Wateras—kota pembatas antara Middleside dan Amorgold, aku membaca kembali surat dari ibu. Aku menemukan sebuah kalimat yang sangat aneh. Di sana, tertera bahasa seperti yang pernah diucapkan Zay dan Monsta. Akhir surat itu begitu janggal. Kalimat, "Dia bukanlah seorang iblis" meninggalkan tanda tanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Seven Phoenix Shards    Semoga Bahagia!

    Aku tersenyum manis, terpesona pada keahlian memasaknya. "Bagaimana kalo kita jalan-jalan minggu depan?" tawarku pada wanita yang sibuk menghitung takaran gula, di depan sana."Tumben ngajak jalan." Eunoia–yang mengenakan daster merah muda, tampak sibuk menyiapkan secangkir kopi hangat untukku. Toples kopi terlihat berantakan karenanya. Ya, namanya juga baru belajar masak, makanya seperti itu. Aku cukup memaklumi kondisinya–latar belakang sebagai orang kaya membuatnya manja.Kami berada di dapur berukuran luas, berdesain ala-ala restoran mahal. Sepertinya arsitek yang kurental tidak lagi memikirkan desainnya. Mereka selalu membuat ruangan luas di rumahku, dan itu bukan yang pertama kalinya. Untunglah, aku hanya perlu membayar, dan menikmati hasilnya. Lagian, menasehati mereka hanya membuang tenaga."Kamu nggak sibuk, kan? Lagian, jalan-jalannya di hari Minggu kok. Apa iya, kamu nggak bisa juga?" Aku menghentikan suapan nasi ke mulut. "Refreshing dong sekali-sekali juga." "Iya, boleh

  • The Seven Phoenix Shards    Reuni Para Pahlawan

    Sebuah meja makan yang di atasnya terdapat berbagai macam hidangan, tampak menggiurkan perut kosongku. Aku berdiri di antara orang-orang yang sibuk dengan santapannya. Memperhatikan mereka dengan tajam, sepertinya membuat Degree meningkatkan kewaspadaannya.Lampu kristal yang tergantung, di atas langit-langit ruangan interior klasik, terlihat begitu indah. Ada dua jenis kursi, yaitu sofa dengan bantalan empuk, dan kursi kayu berdesain batik. Lantai yang terbuat dari keramik mahal, membuat bibirku tak berhenti mengucapkan ketakjuban.Pandanganku berpindah ke sana kemari. Ya, ada seseorang yang ingin sekali kutemui. Sudah lama rasanya, semenjak peristiwa kehancuran alter ego. Rasa rindu ingin bertemu, dan bercengkerama memang ingin kulakukan, setelah lepas dari kesibukan menjadi seorang kepala negara.Masa jabatan yang baru setahun kujalani, dan masih terlalu cepat untuk lengser. Lagi pula, penduduk sudah memilih, dan mengembankan tugas penting itu padaku. Suatu amanah harus dilakukan,

  • The Seven Phoenix Shards    Kembalinya Kedamaian

    Apa yang telah berlalu, dijadikan sebagai pelajaran berharga. Aku menghirup udara segar Kota Scramble. Seluruh penduduk telah dibuat amnesia tentang kejadian di masa lalu. Biarlah, apa yang menjadi rahasia dunia, tetap seperti itu.Aku melepaskan jas hitam formal. Kemudian, meletakkannya di dekat meja kerja. Dokumen yang telah menumpuk seperti gunung kecil, kubiarkan saja. Menjadi pekerja keras, dan pemimpin Negara Erreala sungguh berat.Secangkir teh hangat dengan daun pandan yang dibentuk segi empat, kuminum perlahan. Menyeruput segelas teh adalah ketenangan yang sangat kurindukan. Di balik kaca, para karyawan muda tampak berlalu-lalang. Beberapa di antaranya saling bertegur sapa. Menu sarapan di pagi hari itu adalah telur dadar buatan Eunoia. Makanan yang dia buat sudah mampu menyaingi chef ternama, tetapi tidak dengan Sera.Hidup dengan bayangan masa lalu tidak akan habisnya. Aku mencoba untuk menjalani semuanya, tanpa adanya Aoi lagi. Kebisingan di istana kepresidenan sudah menj

  • The Seven Phoenix Shards    Menghancurkan Alter Ego

    "ini demi kebaikan semua orang, dan untuk dunia yang akan kembali utuh. Tolong aku, Saudaraku! Aku berjanji akan memberikan peluang padamu." Aku berlari cepat ke arah Dewa Naga berkepala tujuh. "Tidak. Jangan lakukan hal sebodoh itu, Yang Mulia!"Pantulan bayangan hitam yang menyerupai Naga Neraka–dalam sejarah Sorcgard disebut alter ego negatif (kepribadian ganda bersifat jahat), mendekat, lalu melahap Dewa Ergonza. Aku gemetar, tetapi tetap melangkah maju.Pedang di tangan kanan, dan tameng pelindung di tangan kiri. Aku menendang cermin perjanjian itu dengan tendangan maut. Berharap akan menjadi lebih baik. Namun, malah sebaliknya. Ya, semuanya telah terlambat.Dinding kebaikan antara jiwa-jiwa orang hidup, dan mati tengah mengalami kehancuran. Semua catatan batas kematian berterbangan ke mana-mana. Bola-bola kristal kematian pecah. Kekacauan di ruangan tanpa atap itu membuat telingaku berdenging. Berisik sekali. Gendang telingaku rasanya ingin pecah. Di hadapan, Dewa Naga telah b

  • The Seven Phoenix Shards    Sebelas VS Satu Kekuatan OP

    Sebuah kerajaan yang dibangun bertingkat-tingkat tampak berantakan. Semua pasukan Aksa–para ksatria titisan anak Dewa, berkumpul memadati api pengorbanan. Kejadian serupa pernah terjadi juga di masa lalu. Entah apa yang membuat mereka se-naif itu.Aku memerintahkan Nona Filia, untuk mendaratkan pesawat lima belas meter dari pusat istana. Mengingat kegentingan tengah terjadi, aku membagi tim menjadi dua kelompok.Satu kelompok terbagi menjadi lima anggota, kecuali tim dua. Ya, Harvey tidak mungkin berpisah denganku. Mereka–anggota Tim D yang lainnya, takut Harvey malah berkhianat di tengah jalan. Oleh karena itulah, aku selaku kapten memutuskan sendiri pembagian tim.Benteng besar dengan tumpukan bebatuan dari permata, menjulang tinggi bak gunung terbesar di Scramble–Gunung Zu. Pintu gerbang yang telah terbuka, memungkinkan kami masuk, tanpa harus memecahkan sandi.Peradaban kuno masih terikat dengan dinding-dinding Kerajaan Aksa. Tiga patung besar di masa Azo telah dihancurkan. Dulu,

  • The Seven Phoenix Shards    Setelah Kepergiannya

    "Ya, bisa dibilang, aku dapat berubah wujud menjadi apa saja, dan menyamarkan identitasku sebagai Dewi Phoenix."Kalimat itu memenuhi alam pikiranku. Setelah Degree memberitahukan segalanya padaku, barulah kesadaran mencintai dengan tulus itu timbul. Penyesalan memang selalu di akhir, itulah yang mereka katakan padaku.Dia yang sudah pergi meninggalkan, mungkinkah 'kan kembali? Dewi Phoenix ingin mewujudkan dunia yang adil, dan penuh dengan kebahagiaan. Namun, akulah yang menghanguskan segala asanya itu.Abu yang sudah tertiup angin, melayang entah ke mana. Aku kehilangan belahan jiwa, yang selama ini tidak pernah mengecap kata, "dihargai". Mencintainya adalah keterlambatan yang paling disesalkan.Kusandarkan kepala ke sebuah dinding beton–penghalang antara daratan dan lautan, yang ada di dekat tempat terakhir kepergiannya. Aku lelah menghadapi segala hal, yang sebenarnya tidak ingin kulakukan. Kewajiban yang telah kuambil, terucap sumpah, hingga jiwa menjadi saksinya, berat. Kejadia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status