LOGINAs the head Warrior and Tracker of The Royal Riverstone Pack, Lance's responsibilities are a mile long. New enemies are popping up left and right for Werewolf kind. When the Queen sends Lance on a mission to look for missing pups, he could not be more stressed. Will finally meeting his long awaited Mate ease his stress, or will it just add heartbreak to the mix.
View MoreBab 1
Tangisan Bayiku Suara tangisan itu begitu keras, terdengar hingga radius puluhan meter, saat aku keluar dari taksi dan pertama kali menginjakkan kaki di ujung halaman rumah. Aku segera mempercepat langkahku seraya menyeret travel bag. Perasaanku campur aduk."Keisha!"
Aku menggeletakkan travel bag itu begitu saja, lalu berlari ke arah kasur, dimana putri kecilku menangis. Gegas kuangkat tubuh mungil itu.
Wajahnya terlihat memerah. Dan ketika kuraba dahinya, ada hawa panas menyergap.
"Cup cup cup, sudah ya, Nak. Ini Mama, Sayang. Mama sudah pulang. Maaf ya, Mama udah tiga hari ninggalin kamu sama Papa...." Aku menepuk-nepuk bagian belakang tubuh Keisha dengan lembut.
Namun, itu tak cukup menenangkan bayiku. Malah tangisnya kian keras. Tubuh mungilnya menggeliat dalam gendonganku.
Ada apa ini? Kenapa Keisha sampai menangis kejar sendirian? Mana mas Gilang?
Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran di benakku. Namun segera aku abaikan. Sembari menggendong Keisha, aku berjalan menuju meja kecil tempatku biasa membuat susu botol untuk Keisha.
Setiap ibu pasti memimpikan bisa memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya. Aku terpaksa memberikan Keisha susu formula karena produksi ASI ku sangat sedikit. Sudah beragam cara aku lakukan agar produksi asiku melimpah seperti layaknya ibu-ibu yang lain. Namun hipoplasia payudara yang aku derita membuatku tidak memiliki pilihan lain, kecuali memberikan susu formula untuk bayiku.
Meski ibu mertua dan suamiku sendiri marah-marah dan menganggapku boros, tetapi aku tetap tidak peduli. Toh, aku membeli susu formula dengan menggunakan uangku sendiri, bukan uang Mas Gilang.
Bagiku, kesehatan dan tumbuh kembang Keisha adalah segalanya. Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, bukan?
"Kok ada kotak susu merk lain di sini?" gumamku kaget ketika tanpa sadar aku menginjak kotak kemasan susu formula yang terletak di dekat meja.
Aku memungut benda itu. Warna dominan biru cerah dengan sedikit merah menghiasi kotak kemasan susu itu. Itu bukan merek susu yang biasa di konsumsi Keisha. Keisha biasa mengkonsumsi susu formula kemasan kaleng.
Lantaran wadah susu Keisha sudah kosong, akhirnya aku membuka lemari, tempat biasa aku menaruh semua perlengkapan bayiku.
"Kok nggak ada?!" Kali ini aku benar-benar terkejut.
Bukan cuma susu yang biasa diminum oleh Keisha yang tidak ada, tetapi stok popok Keisha pun turut menghilang, padahal seingatku masih ada lima bal ukuran besar dan lima kaleng susu ukuran besar, sebelum aku meninggalkan rumah tiga hari yang lalu. Jadi tidak mungkin stoknya habis.
Bukan cuma stok susu dan popok, tapi pakaian baru, perlengkapan mandi, dan perlengkapan lainnya seperti baby oil, baby hair lotion, baby cologne, dan printilan lainnya juga ikut menghilang. Barang yang tersisa hanya bedak bayi dan pakaian harian Keisha yang kondisinya tidak terlalu bagus.
"Kemana barang-barang Keisha?" Aku kembali bergumam.
Kepalaku seketika berdenyut. Aku terus menepuk-nepuk bokong Keisha, berusaha membuat bayi itu diam, meskipun usahaku tampaknya sia-sia saja. Keisha terus menangis dan suaranya kian serak.
Aku tahu jika ia kehausan, dilihat dari tubuhnya yang hangat dan wajahnya yang memerah.
Akan tetapi, bagaimana aku bisa membuatkan susu, jika ternyata barang yang aku butuhkan tidak ada?
Bahkan beberapa botol susu Keisha yang baru aku beli pun juga tidak terlihat di dalam lemari itu, hanya ada dua botol. Itu pun terlihat masih kotor karena bekas dipakai dan belum di cuci.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera mencari Mas Gilang. Kenapa Keisha sampai dibiarkan menangis kejar seperti ini?" Aku benar-benar geram.
Waktu sudah berlalu hampir sepuluh menit. Tangis Keisha hampir tanpa jeda. Namun, mas Gilang belum muncul juga.
Kemana suamiku? Bukankah seharusnya ia menjaga Keisha? Kenapa ia meninggalkan putri kecilnya begitu saja?
Aku terpaksa menyerahkan Keisha untuk diurus mas Gilang karena harus menghadiri acara reuni yang diadakan oleh teman-teman satu angkatan sewaktu masih kuliah dulu. Kegiatan reuni itu berlangsung selama tiga hari.
Ini bukan sekedar reuni biasa. Semua alumni diwajibkan hadir, bukan untuk sekedar pamer pencapaian, tetapi lebih untuk saling mensupport satu sama lain. Setiap tahun mereka mengadakan reuni itu dan dari sana akan ketahuan pencapaian dari masing-masing alumni. Jika ada alumni yang hidupnya masih dibawah rata-rata, maka alumni yang lain harus siap membantu. Angkatanku memang dikenal sangat solid. Mereka sangat setia kawan, sehingga tak heran jika aku akan merasa sangat tidak enak jika harus absen menghadiri acara itu, walaupun dengan resiko harus meninggalkan Keisha bersama dengan mas Gilang.
"Maafkan Mama ya, Sayang. Gara-gara Mama pergi, semua jadi kacau begini." Mataku berkaca-kaca. Sembari terus menggendong Keisha, aku berjalan menuju kamar kami yang terletak sedikit menjorok ke belakang dekat dapur.
Rumah ini cukup luas dan memiliki tiga kamar tidur. Namun kamar tidur utama yang letaknya paling depan justru digunakan untuk ibu mertuaku jika beliau menginap di rumah ini. Kamar tidur lainnya untuk Gita, adiknya mas Gilang.
Aku dan mas Gilang kebagian kamar paling belakang. Padahal uang yang dipakai untuk membangun rumah ini berasal dari uang hasil penjualan rumah warisan kedua orang tuaku.
Aku sendiri tidak masalah. Bukankah tidak ada salahnya memuliakan ibu mertua, satu-satunya orang tua kami yang tersisa, dengan cara menempatkan beliau di kamar terbaik di rumah ini?
Begitu langkah kakiku melewati kamar kedua, kamar yang biasa di tempati oleh Gita, seketika aku terperanjat. Terdengar suara desahan yang saling bersahutan dari dalam kamar kami. Dan suara itu sangat aku kenal.
"Mas Gilang...." Aku mempercepat langkahku, lalu berhenti di depan pintu. Suara-suara menjijikan itu semakin jelas terdengar, bahkan terdengar Mas Gilang begitu lepas mengeluarkan desahannya.
Dengan sekuat tenaga aku mendobrak pintu dan pintu pun terluka. Aku memekik sangat keras saat sepasang netraku langsung disuguhi live sepasang anak manusia tanpa busana tengah bergumul di atas kasur, bahkan benda kebanggaan suamiku menancap di liang surgawi wanita itu.
"Mas Gilang?!" Suaraku bergetar.
6 months later"Is everything packed," I callout. I'm about to grab Jane's first bag out of what feels like a hundred. She has been running around all morning in a nervous frenzy. Seeing the Queen again has her on edge. The last time I tried to load the car, Jane nearly bit my head off.A faint "yes" meets my ears from upstairs, and I chuckle. I haven't been in this good of a mood in ages. I'm not too fond of the paperwork that comes with being an Alpha, and I need a break. Visiting Riverstone is just what I need.Klaus grabs another two bags with a massive grin on his face. His month with Clint has proven to be beneficial. His frame has filled out, and he knows how to run a pack in my stead."Do you think Luna packed enough for the weekend," he asks sarcastically taking in all of Jane's luggage.I play growl and roll my eyes. He chuckles loudly. "Mark," I yell out, hoping the boy is close to the house.Without his wolf hearing, it takes mor
R RATEDOne week has passed since the executions, and I have done nothing but hold meetings. The pack to the East, Snow Point, is the closest and has agreed to allow White Crest clinic privileges. In exchange, I am to train their warriors with ours. Emmett decided to not leave us high and dry, though, andcontacted multiple packs to find a doctor interested in moving up. The clinic will be built as soon as Scott sends me his proposal. The pups will all begin school in August, which is months away, but I figure they would be fine until then.I open my email, hoping that he has opened the purse strings for us. White Crest is definitely in the poor house. Alpha Layne made no investments, so there is no income. Also, the lands are overhunted, so we have no large game. The pack doesn't have money to purchase food consistently, so they hunt like Rogues. The pack's account has a measly $117,000 in it, which isn't near enough to support our 102 member pack.Jane actua
"Now, as the true mate of your old Alpha's firstborn, I am ready to take the Alpha position of White Crest. If anyone feels that they are better suited, now is the time to challenge me," I say while taking off my shirt.My chiseled chest and shouldersare impressive. I've never been a burly guy like Emmett, but I'm all muscle. I make sure to train every part of my body. I refuse to have a weak point. I flex and raise my chin. I let my new Alpha aura pulse through the air. My eyes wander through the crowd of 93 people. Each male drops his eyes respectfully, and I internally sigh.I nod my head and glance at my mate, whose cheeks are flaming. I suppress the urge to pounce on her."I pledge to serve and protect the wolves of White Crest. You will never have to fear betrayal again," I said in a firm voice. The crowd erupts into howls and cheers."It brings me great honor to also announce my mate as your Luna then, and again if you think you can..," I say as
Waking up to Jane being in my arms was a dream come true. Her even breathing andloud heartbeat were music to my ears. Spooning her had my right shoulder dead asleep, but I don't care about the ache. It is worth it.I slowly pull my fingers through her dark hair. It is so silky. She moans at my touch, and I growl. She turns slowly in my arms, and the moment her eyes meet mine, my breath catches in my throat. Her emotions pulse through me. Happiness! We both feel happiness.Lance- Morning, PrincessJane- ( smiles ) Morning, Lance. You know I'm right here, right??"Yes, but I wanted to hear you in my head," I said before giving her a light kiss. She just laughs and jumps up. Her porcelain skin looks impressive as she darts to her restroom, trying to hide herself from my hungry eyes."Can we go see Mark," She yells from the bathroom as I pull on yesterday's clothes."Sure, but I don't think there has been any change. We need to handle the trial
R RATEDSensitive ChapterAlpha pushes forwardimmediately, as does Ace. Alpha kills the vampire swiftly before darting from the room.Alpha- (To Elites, Luna, Lance, Scott) THE BLOODSUCKERS ARE TARGETING THE BOYS FOR THEIR NEXT EXPERIMENT. LOVE, CONTACT ETH
Thirty-twoElites plus Alpha, Luna, Scott, and I are a potent force. When Alpha, Luna, and Scott are in fight mode, the air always seems to ripple. Their human forms and their wolf forms radiate an unwavering pulse of strength. They exemplify royalty. The Goddess chose well. All of White Cre
PLEASE LEAVE REVIEWS IT HELPS MY STORIES!!! I NEED TO KNOW WHERE I CAN IMPROVE OR WHAT I AM DOING RIGHT. THANK YOU Jane's car is small and cute. She looks adorable behind the wheel. Every small thing she does captivates me. She keeps shooting me timid glances, and they make me smile. I am staring at
Tiff picked me up from the airport, which I appreciated. I felt connected to her. She understood the pains that could come with the matebond, and that was refreshing. To have someone that I could talk to openly felt nice. Plus, she was one of two women I had been intimate with."So di
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore