LOGINElizabeth Adams has never made room for love. At twenty-nine, she believes success comes first and feelings only complicate the future she’s worked so hard to build. But in Paris—after a failed blind date and a moment of unexpected vulnerability—Elizabeth meets a woman who makes her forget every rule she’s ever lived by. Their connection is instant, electric, and deeply intimate. One night. Two women. A memory that refuses to fade. When a small lie shatters the illusion, Elizabeth leaves Paris convinced it was a beautiful mistake she’ll never repeat. Back in South Africa, she tries to move on—until the woman she left behind shows up, carrying the same longing Elizabeth can no longer deny. As their bond deepens, a devastating truth is revealed: the woman Elizabeth loves is her mother’s long-lost first love. Caught between desire and loyalty, Elizabeth must decide whether love is worth breaking her own heart—or her mother’s.
View More"Sesuai janjiku, aku datang ke sini untuk menyerahkan putriku pada Tuan Evans," ujar Mike pada dua anggota mafia di depannya.
Ranira yang mendengar itu, sontak mengangkat wajah dan menoleh pada Mike dengan mata yang membelalak terkejut.
Pasalnya sebelum ke sini, Mike mengatakan padanya dia akan mendaftarkan Ranira di kampus tempat Cristie kuliah.
Tentu saja Ranira begitu bersemangat. Sejak dulu dia ingin kuliah, tapi dia harus mengubur impiannya karena keterbatasan biaya. Dia dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Mike Moseley.
Tapi kini, Mike mengingkari ucapannya. Bukannya membawa Ranira ke kampus seperti yang dijanjikannya, Mike justru membawanya ke sebuah mansion mewah yang catnya didominasi warna hitam.
Entah tempat apa itu. Tapi Ranira merasa ngeri melihat dua pria berperawakan tinggi besar dengan tato naga di lengan, yang memasang wajah sangar di depannya.
"Baik. Tuan Evans sedang pergi ke luar. Mungkin dia akan pulang nanti malam. Kami akan menyampaikan kabar ini padanya," ucap salah satu dari mereka.
Ranira mengerutkan dahi. "Tunggu, ada apa ini? Apa maksud dari perkataan kalian?" tanya Ranira.
Tiba-tiba tangan Ranira ditarik masuk ke dalam mansion tersebut oleh dua bawahan Evans. Diam-diam Mike menyunggingkan senyum miring sembari membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Mike berbalik dan hendak pergi. Namun terhenti saat mendengar teriakan Ranira.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa menarikku masuk! Aku mau pulang!"
"Aargghh! Gadis sialan," umpat salah seorang bawahan Evans setelah Ranira menggigit tangannya, lalu berlari menghampiri Mike yang baru saja turun dari teras.
"Tuan Mike, apa maksud Anda? Bukannya Anda bilang akan membawaku untuk daftar kuliah di kampusnya Cristie?"
"Ssstt ..." Mike membekap mulut Ranira dengan telapak tangannya.
Dua orang bawahan Evans keluar dan hendak menyusul Ranira. Namun Mike memberi isyarat agar mereka memberikan waktu sesaat.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan putriku sebelum meninggalkannya," pinta Mike. Kedua bawahan Evans pun mengangguk dan memundurkan langkah.
"Jangan sebut nama Cristie di rumah ini," tekan Mike sambil mencengkeram ketat lengan kiri Ranira. Membuat gadis belia berbulu mata lentik itu meringis pelan.
Tentu saja Mike tidak mau Evans curiga jika Ranira menyebut-nyebut nama putri kandungnya.
"Tapi kenapa Anda mengakuiku sebagai putri Anda? Anda akan meninggalkanku di rumah besar ini? Apa yang sedang Anda rencanakan, Tuan Mike?"
Senyum seringai terlukis di wajah Mike. Lelaki yang telah menginjak usia kepala lima itu makin mengetatkan cengkeramannya di tangan Ranira.
"Aku adalah anggota dari organisasi mafia yang dipimpin oleh Evander. Semua kekayaanku yang berlimpah bukan hasil dari pekerjaanku sebagai pejabat. Tapi aku diutus sebagai tikus yang menyelinap ke dalam dunia politik untuk menggerogoti banyak uang dari sana."
Ranira memasang wajah terkejut. Matanya melebar, menatap serius pada Mike yang baru saja memberitahu bahwa ia adalah anggota mafia.
Padahal selama ini Ranira berpikir kekayaan Mike murni dari hasilnya mengabdi sebagai pejabat negara.
"Sayangnya, obsesiku untuk menjadi orang terkaya di negeri ini membuatku mencoba berhianat dengan mengambil keuntungan dari organisasi mafia lain. Sekarang, Evans sudah menendangku dari organisasi karena penghianatanku terbongkar. Harusnya aku dibunuh oleh Evans sebagai hukuman atas penghianatanku. Tapi, untungnya Evans memberiku sebuah penawaran yang membuatku terbebas dari jerat hukuman. Kau mau tahu apa penawaran itu?" Mike menyeringai lagi.
Membuat kedua alis Ranira saling bertautan.
"Apa?"
"Tawarannya adalah aku bisa bebas asalkan aku harus menyerahkan putriku padanya. Kau tahu sendiri bagaimana aku sangat menyayangi putri kandungku, Cristie. Maka dari itu, aku sengaja memilih menyerahkanmu saja. Di sini, kau harus mengaku sebagai putri kandungku. Jangan sampai Evans tahu kalau kau hanya anak pembantuku. Jika sampai rahasia ini terbongkar, maka nyawa ibumu menjadi taruhannya," cetus Mike tanpa perasaan.
Lelaki setengah baya itu menghempaskan kasar lengan Ranira. Sambil memegangi lengannya yang terasa sakit, Ranira menatap Mike dengan sorot benci.
"Dasar berengsek! Jangan berani menyakiti ibuku!"
"Tenang saja, Ranira. Hal itu tidak akan terjadi selama kau tetap menjaga rahasia. Sampai kudengar kau membocorkan pada Evander tentang siapa dirimu sebenarnya, maka aku jamin saat kau pulang ke rumahku nanti, kau akan melihat mayat ibumu." Ancaman Mike membuat hati Ranira mencelos.
Ranira menyesal. Mengapa ia harus termakan oleh jebakan Mike yang mengiming-iminginya daftar kuliah? Sekarang, Riana terjebak di dalam sarang mafia.
Setelahnya, Mike berpura-pura memasang wajah sedih dan memberi instruksi pada dua orang bawahan Evander.
"Aku sudah selesai bicara dengan putriku," ucap Mike, mengusap air mata palsunya.
Ranira masih tercenung dan melamun. Ia masih syok dengan kenyataan yang menimpanya.
"Sayang, Papa pulang. Maafkan Papa." Mike mengusap rambut Ranira, kemudian melangkah pergi menuju mobilnya.
Ranira langsung ditarik masuk oleh dua bawahan Evans. Mata Ranira sempat menoleh ke arah Mike yang menyunggingkan senyum puas sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara Ranira terus digiring masuk menuju lantai atas, lantas diantar ke sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan berbagai furniture mewah di dalamnya.
Ada sebuah ranjang berbentuk round bed berbalut sprei warna merah darah di tengah-tengah kamar.
"Tetaplah di sini sampai Tuan Evans pulang," ucap mereka, sebelum akhirnya menutup rapat daun pintu dan mengunci Ranira dari luar.
"Mama," desah Ranira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang akan dikatakan si brengsek Mike pada ibuku setelah dia melemparku ke dalam sarang mafia? Mungkin dia akan membuat cerita bohong. Sial! Kupikir dia orang yang baik, tapi ternyata dia sangat licik. Bisa-bisanya dia menyerahkanku ke tempat ini. Seharusnya Cristie yang berada di sini, sekarang."
"Aku tidak akan memaafkan lelaki tua itu jika sampai dia berani menyakiti ibuku," lanjut Ranira penuh emosi.
Dengan mata yang basah dan memerah, Ranira memendarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada beberapa lukisan berlatar hitam dan abu. Tidak ada satu pun foto sosok Evander yang katanya sang ketua mafia itu.
“Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia pulang nanti?" gumam Ranira, bertanya dengan perasaan cemas yang menyergap hatinya.
***
Malam hari, ketika Ranira merasa kelopak matanya berat dan hampir saja jatuh tertidur di atas ranjangnya, tiba-tiba ia terkejut mendengar suara gemerincing kunci dari luar kamar.
"Siapa itu?" panik Ranira, segera mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya terus tertuju pada daun pintu yang ini berayun terbuka.
Ranira mengerutkan kening saat ia hanya melihat seorang bawahan Evans yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Evans sudah datang," beritahunya pada Ranira.
Apa? Ketua mafia yang bengis itu telah datang?
Ranira segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan wajah tegang. Selanjutnya, melangkah masuk seorang lelaki barparas tampan, berambut hitam kecokelatan, serta tubuhnya yang tinggi menjulang.
Mulanya, Ranira sempat terkesiap melihat lelaki yang kini berdiri di dekat pintu. Hati kecilnya mengakui ketampanan dari sosok lelaki karismatik tersebut.
"Apakah dia sang ketua mafia yang dimaksud oleh Tuan Mike?" tanya Ranira dalam batinnya.
The morning of my thirty-third birthday began with rain.Not the heavy, oppressive rain of that first October, but a soft spring shower, the kind that made the city feel washed clean and newly possible. I lay in bed listening to it, Alex's arm heavy across my waist, her breathing even and deep against my neck. We had fallen asleep with the window cracked, and the smell of wet earth and growing things drifted in, carrying spring's particular promise of beginning again.I was happy.The thought came simple and absolute, without the qualifications that used to attach themselves, happy despite, happy for now, happy cautiously. Just happy. The kind that had been built day by day, choice by choice, through the ordinary miracles of shared life: grocery lists and morning coffee, arguments about whose turn it was to do dishes, the way she always knew when I needed her hand in mine.The trust had come slowly, as trust does. In small moments first, her calling when she would be late, my beli
We chose a Tuesday in December, the kind of gray day that makes indoor spaces feel like shelter. Alex drove me to the café my mother had suggested, neutral ground, public enough to prevent scenes, quiet enough for conversation. She parked but didn't turn off the engine. "I'll be here," she said. "However long you need. If you want me to come in, text. If you want to leave alone, text. If you want to walk and think, I'll follow at a distance. Whatever you need." I looked at her, this woman who had learned, finally, to ask instead of assume, to support instead of decide. To communicate instead of thinking for herself only. "What if I don't know what I need? In this case." "Then you'll figure it out while I wait." She smiled, small and certain. "I'm not going anywhere, Darling. That's the promise. Not that I'll always know what to do, but that I'll always be here while we figure it out." I kissed her, brief and grounding, and stepped into the gray day. My mother was already inside, a
The letter arrived on Saturday, slipped under my door while Alex and I were grocery shopping, returned to find it waiting like a small bomb.She and I were moving around from apartments. Hers was closer to my work but mine was my home. So whenever I said I wanted to see what was up back at my place she never refused, she agreed and moved with me. She was cuteSo back to the letter at my door.No envelope. Just folded paper, my name in my mother's handwriting, that familiar slant, the way she crossed her t's with small flourishes, the handwriting of grocery lists and birthday cards and notes left on kitchen counters.I stood in the doorway, holding it, feeling Alex's presence behind me, her hand on my lower back, ready to support whatever I needed."Do you want me to read it first?" she offered and walked past me to put the groceries on the counter. She came back and took my plastic bags."No." I unfolded it with fingers that trembled slightly. "I need to know what she has to say. Even
The second week was easier than the first, and harder.Easier because the rhythms returned, Alex's hand finding mine in the dark, her voice in the morning, the particular weight of her head on my shoulder as we watched something mindless on television. The language of us, which I had thought forgotten, proved to be only dormant, rising to my lips like a mother tongue I hadn't realized I still spoke.Harder because the rhythms returned. Because each time she reached for me, some part of me flinched backward, remembering the months of empty space where that hand had been. Because trust is not a switch to be flipped but a bridge to be rebuilt, plank by plank, and I was still testing each step before I put my weight on it.She knew. She always knew. She would feel my hesitation in the tension of my shoulder, the fractional pause before I leaned into her touch, and she would pull back, give space, wait for me to bridge the distance myself. Never pushing. Never demanding. Simply present, pa
The week began slowly, and I made a decision I committed to with almost stubborn discipline.I acted normal.I woke up Monday morning, dressed carefully, chose a blazer that made me look composed, and went to work as though a woman I once loved had not appeared at my birthday dinner like a ghost wa
Days passed like fog. I went to work. I smiled where I had to, nodded at the right times, even landed a new client. Everyone said I looked good, focused, confident. I didn’t correct them.The truth is, I wasn’t there.Not really.Every evening, I came home to an apartment that felt too quiet. I’d s
The pizza box lay on my floor like a fallen bird, cheese and sauce seeping into the wood, and none of us moved to save it.My mother's face had gone the color of old ash. She stood frozen in my on the middle of my room, her keys still clutched in one hand, her mouth opening and closing like she wa
Sunday morning arrived softly, almost politely, as if it were afraid to disturb what Saturday night had broken open.I woke up to the smell of breakfast.For a few quiet seconds, I didn’t know where I was. The ceiling above me was unfamiliar, cream instead of white, a thin crack running across one
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.