Compartir

Bab 2. Mertua Licik

Autor: Bulandari f
last update Fecha de publicación: 2026-03-04 23:36:12

BAB 2

Rumah yang Tak Pernah Menerimaku

Malam itu Elena tertidur dengan mata sembab.

Air matanya mengering sendiri di pelipis.

Namun bahkan dalam tidurnya, hatinya tidak benar-benar tenang.

Ia berdiri di sebuah taman yang hangat oleh cahaya senja. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga yang familiar. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu sederhana dan senyum teduh.

“Tuan Alex…” bisiknya pelan.

Alex Blackwood tersenyum padanya. Senyum yang selalu berbeda dari semua anggota keluarga itu. Hangat. Tulus. Seperti seorang ayah.

“Kenapa kamu menangis, Elena?” tanyanya lembut.

Air mata kembali jatuh. “Maafkan aku… aku tidak bisa menjaga pernikahanku dengan Adrian.”

Alex menggeleng pelan. “Kamu tidak pernah gagal.”

“Tapi dia ingin menceraikanku…” suaranya bergetar. “Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku mencoba membuatnya bangga. Aku mencoba membuat Ibu Margaret menerimaku…”

Alex mendekat dan nepuk bahunya. “Bukan kamu yang salah.”

“Elena.”

Suara itu terdengar jauh.

“Lindungi dirimu sendiri.”

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Langit yang tadinya hangat berubah gelap.

Sosok Alex perlahan memudar. "Tuan Alex." Elena mencari-cari sosok tuan Alex, sampai tubuhnya di penuhi dengan keringat dingin. "Tuan Alex, tolong jangan pergi," ujarnya dengan rintihan air mata, sampai ia perlahan terbangun.

“Elena!”

Ia tersentak bangun.

Napasnya memburu. Kamar gelap. Sunyi.

"Itu hanya mimpi." segera mungkin ia menyadari nya.

Namun rasa hangat dari senyum Alex tadi terasa nyata.

Elena memeluk dirinya sendiri.

Sejak hari pertama menikah dengan Adrian, hanya Tuan Alex yang menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Terima kasih sudah mau menikah dengan anakku,” kata pria itu dulu sambil tersenyum. “Aku tahu ini tidak mudah untukmu.”

Saat itu Elena tidak pernah tahu alasan di balik pernikahan itu. Ia hanya tahu bahwa Alex yang memintanya. Dan Adrian… menuruti dengan wajah dingin.

Bahkan di malam pertama mereka, Adrian memilih tidur di kamar terpisah.

“Aku tidak mencintaimu,” katanya datar waktu itu. “Pernikahan ini hanya formalitas.”

Kalimat itu masih membekas sampai sekarang.

Namun Elena tetap bertahan.

Karena ia percaya, suatu hari Adrian akan melihatnya.

Akan menerima dirinya.

Akan mencintainya.

Tapi malam tadi… harapan itu resmi dihancurkan.

Tenggorokannya terasa kering.

Ia bangkit perlahan dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.

Lorong rumah itu sunyi dan dingin.

Lampu dapur menyala redup.

Dan di sana—

Adrian berdiri dengan kemeja putih longgar, rambutnya sedikit berantakan, segelas air di tangannya.

Mereka saling menatap.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Elena berusaha tersenyum kecil.

Senyum lelah. Sakit. Tapi tetap berharap.

“Belum tidur?” tanyanya pelan.

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya menatapnya dengan ekspresi datar.

Lalu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Langkahnya dingin. Tegas. Seolah Elena hanyalah orang asing yang kebetulan tinggal di rumah itu.

Hati Elena kembali teriris.

Ia meneguk airnya perlahan, mencoba menenangkan diri.

Lindungi dirimu sendiri.

Kata-kata dalam mimpinya terngiang lagi.

"Kenapa semua ini terjadi padaku, Tuhan." butiran air mata berhasil membasahi pipinya. "Bahkan aku dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan sama sekali," rintihnya kembali.

—

Pagi datang terlalu cepat.

Elena duduk di meja makan dengan sarapan sederhana di hadapannya. Ia hampir tidak menyentuh makanannya.

Langkah kaki terdengar dari ruang depan.

Seorang pria berjas hitam masuk bersama Margaret Blackwood.

Adrian berjalan di belakang mereka.

Wajahnya dingin seperti biasa.

“Elena,” ucap Margaret dengan nada formal, “kami tidak ingin memperpanjang masalah.”

Pria berjas itu membuka map cokelat dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Jantung Elena mulai berdebar tidak karuan.

Adrian mengambil berkas itu.

Lalu meletakkannya tepat di depan Elena.

Surat perceraian.

Tangannya gemetar.

“Adrian…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Kamu benar-benar ingin melakukan ini?”

“Kita sudah membicarakannya semalam,” jawabnya tanpa emosi.

“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” air mata mulai mengalir. “Tolong pikirkan ulang. Aku bersumpah aku tidak mengambil uang itu.”

Margaret tertawa kecil, sinis.

“Wanita rendahan seperti kamu tidak pantas tinggal di rumah ini,” katanya tajam. “Kami sudah cukup baik menampungmu selama lima tahun.”

Menampung.

Seolah Elena adalah beban.

Elena menatap Adrian dengan penuh permohonan.

“Tolong… aku mencintaimu.”

Adrian tidak membalas tatapannya.

Margaret melanjutkan dengan suara dingin, “Aku juga heran kenapa almarhum suamiku dulu memaksakan pernikahan ini. Apa kamu yang memintanya? Apa kamu merayunya?”

Elena menggeleng cepat. “Tidak! Saya tidak pernah—”

“Sudahlah,” potong Margaret. “Apa pun alasannya, keluarga kami sudah cukup bermurah hati. Sekarang waktunya kamu angkat kaki.”

Dunia Elena terasa runtuh.

Ia berdiri dan berjalan mendekat pada Adrian.

Tangannya meraih lengan pria itu.

“Tolong jangan ceraikan aku, Adrian…”

Adrian menepis tangannya dengan kasar.

Sentuhan itu terasa seperti penghinaan terakhir.

“Pertimbangkan lagi,” isaknya. “Karena aku sedang—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Adrian mendorong tubuhnya.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup untuk membuat Elena terhuyung dan hampir jatuh.

“Keluar dari rumahku,” ucapnya dingin. “Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada dorongan tadi.

Elena terdiam.

Tangisnya pecah.

Lima tahun.

Lima tahun ia bertahan.

Dan semuanya berakhir dalam satu pagi.

Adrian berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Pintu depan tertutup keras beberapa detik kemudian.

Sunyi menyelimuti ruangan itu.

Hanya tersisa Elena yang terduduk lemas di lantai.

Tangisnya menggema pelan.

Langkah sepatu hak tinggi mendekat.

Margaret berhenti tepat di depannya.

Wanita itu membungkuk sedikit, wajahnya mendekat dengan senyum penuh kemenangan.

“Bagaimana?” bisiknya pelan.

Elena mengangkat wajahnya yang basah air mata.

“Semua yang aku lakukan berhasil membuatmu terusir dari rumah ini, kan?”

Senyum Margaret semakin lebar.

Dan untuk pertama kalinya, Elena menyadari—

Ia tidak pernah benar-benar kalah karena kesalahan sendiri.

Ia dihancurkan.

Dengan sengaja.

"Kemana aku akan pergi, Adrian?"

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Elena, bahkan tidak ada kompensasi pernikahan, yang ada hanya kata menyakitkan. Keluar dari rumahku.

Elena bingung, dia harus kemana?

Saat tangan sedang merapikan pakaian sendiri, Margaret masuk dengan senyum angkuh. "Kamu datang ke rumah ini dengan tangan kosong, jadi keluarlah dari rumah ini dengan tangan kosong juga."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 50.Akhir dari Sebuah Kehilangan

    Bab 50Akhir dari Sebuah Kehilangan"Sam ternyata bukan dalang utama pertukaran bayi dua puluh lima tahun lalu."Kalimat Victor membuat suasana yang semula hangat berubah membeku.Elena yang masih berdiri di samping Axel langsung menegang."Apa maksud Ayah?" tanyanya pelan.Victor menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Axel.Pria itu membaca cepat isi pesan tersebut.Wajahnya perlahan berubah serius."Itu laporan terbaru dari penyidik," ujar Axel."Setelah Sam ditangkap, polisi kembali memeriksa arsip lama rumah sakit tempat Elena dan Vivian lahir."Nyonya Victor langsung memegang dadanya."Jangan bilang..."Victor mengangguk pelan."Ternyata ada orang lain yang terlibat."Suasana kembali hening.Elena menatap ayahnya dengan perasaan campur aduk.Baru kemarin ia mengetahui siapa keluarga kandungnya.Baru beberapa jam lalu ia merasakan bagaimana rasanya dipanggil "Nak" oleh seorang ayah.Dan sekarang muncul lagi fakta baru.Fakta yang mengancam mem

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 49. penyesalan

    Bab 49Penyesalan yang Terlambat"Tapi kenapa...?"Suara Adrian terdengar serak.Tangannya gemetar saat memegang map tua berwarna cokelat itu.Victor mengernyit."Apa maksudmu?"Adrian tidak langsung menjawab.Wajahnya sudah pucat pasi.Matanya berkaca-kaca.Dengan tangan bergetar, ia membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlihat sudah lama disimpan."Itu... wasiat Papa."Victor menatapnya."Alex?"Adrian mengangguk.Pria itu menelan ludah dengan susah payah."Papa menulis ini sebelum meninggal."Tangannya semakin gemetar saat membaca isi surat itu.---Adrian...Jika suatu hari Papa tidak ada lagi, ingat satu hal.Jangan pernah menyakiti Elena.Jangan pernah meninggalkannya.Apalagi menceraikannya.Elena adalah perempuan baik.Dan yang lebih penting...Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah orang biasa.Percayalah pada Papa.Suatu hari kau akan mengerti mengapa Elena harus kau pertahankan.Jika kau kehilangan Elena, maka kau akan kehilangan sesuatu y

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 48

    Bab 48Ayah yang Terlambat Datang"Kalau kamu benar-benar tidak tahu apa-apa..."Victor menatap lurus ke arah Vivian."Kenapa selama lima tahun terakhir kamu diam-diam mengirim miliaran rupiah kepada Sam?"DEG!Tubuh Vivian langsung menegang.Matanya membelalak."Pa..."Suaranya bergetar."Aku..."Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vivian kehilangan kata-kata.Karena pertanyaan itu terlalu tepat.Terlalu menusuk.Dan yang lebih mengerikan...Victor sudah memiliki bukti.Axel langsung meletakkan beberapa lembar dokumen di atas tempat tidur."Bukti transfer.""Catatan rekening.""Dan rekaman CCTV saat orang kepercayaan Sam mengambil uang."Tubuh Vivian mulai gemetar.Adrian membelalakkan matanya.Nyonya Victor memejamkan mata sambil menangis.Sedangkan Victor hanya berdiri memandang Vivian.Tatapan itu tidak lagi seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.Tatapan itu seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia telah dikhianati selama bertahun-tahun."Katakan."Suara Vict

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 47.

    Bab 47Kebenaran yang Tidak Bisa Disembunyikan"Sejak kapan kamu tahu bahwa Sam adalah ayah kandungmu?"Kalimat itu menggantung di udara seperti palu yang menghantam keras kesadaran Vivian.Dalam sekejap, seluruh warna di wajah wanita itu menghilang.Matanya membulat.Napasnya tercekat.Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.Untuk beberapa detik, Vivian hanya menatap Victor tanpa berkedip.Seolah berharap pria itu sedang bercanda.Seolah berharap semua yang baru saja didengarnya hanyalah mimpi buruk akibat obat-obatan yang masih mengalir di tubuhnya.Namun tatapan Victor terlalu dingin untuk dianggap sebagai lelucon.Tatapan itu bahkan tidak menyisakan sedikit pun kasih sayang yang dulu selalu diberikan kepadanya.Tatapan itu hanya berisi kemarahan.Kekecewaan.Dan pengkhianatan."Apa...?"Suara Vivian terdengar bergetar."Apa maksud Papa?"Tidak ada jawaban.Victor tetap berdiri di tempatnya.Tatapannya tidak bergeser sedikit pun.Vivian mulai panik.Matanya berg

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   BAB 46. DIA BUKAN ANAK KANDUNG MU, Tuan.

    bab 46. "Kalau Elena adalah putriku... lalu selama ini siapa sebenarnya Vivian?"Suara Victor terdengar serak.Namun justru karena itulah suasana di koridor rumah sakit menjadi semakin mencekam.Tidak ada yang berani menjawab.Tidak ada yang berani memotong kalimatnya.Axel hanya berdiri diam sambil memperhatikan pria yang selama ini dikenal sangat tenang itu. Untuk pertama kalinya ia melihat ketenangan Victor benar-benar runtuh.Tangannya masih menggenggam hasil tes DNA dengan begitu erat hingga lembaran kertas itu terlihat kusut.Di sampingnya, Nyonya Victor sudah tidak mampu menahan air matanya lagi.Puluhan tahun.Puluhan tahun mereka hidup dalam kebohongan.Puluhan tahun mereka membesarkan anak yang ternyata bukan darah daging mereka sendiri.Dan yang lebih menyakitkan lagi, putri kandung mereka justru tumbuh jauh dari keluarga yang seharusnya melindunginya.Axel menarik napas panjang sebelum akhirnya menyerahkan satu map lain."Masih ada yang perlu Bapak lihat."Victor perlahan

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 45— Kebenaran yang Terkubur

    Bab 45— Kebenaran yang Terkubur"Aku harus pergi..."Vivian bahkan tidak sadar kalimat itu keluar dari bibirnya.Tangannya masih menggenggam ponsel dengan begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya terus menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari nomor misterius itu. Hanya satu kalimat singkat, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada ancaman apa pun yang pernah ia terima.Kalau aku jadi kamu, aku akan segera pergi sebelum polisi tahu alasan sebenarnya kamu datang ke sini.Selama beberapa detik Vivian hanya berdiri membeku di tengah koridor rumah sakit. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitnya, tetapi tubuhnya justru dipenuhi keringat dingin. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Ia tidak tahu dari mana orang tersebut mengetahui keberadaannya. Namun satu hal yang sangat jelas baginya—orang itu sedang mengawasinya.Dan orang itu mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.Dengan langkah cepat Vivian berbalik meninggalkan

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 5. Siapa sebenarnya aku?

    Bab 5. Siapa sebenarnya aku?lena masih berdiri terpaku setelah pertanyaannya menggantung di udara.“Bu… sebenarnya aku ini siapa?”Angin sore berembus pelan, menggerakkan tirai tipis di jendela ruang tamu panti. Wajah anak-anak yang tadi memeluknya kini mengintip penuh rasa ingin tahu.Bu Suri men

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 4. Identitas yang tersembunyi

    Bab 4. Identitas yang tersembunyi Beberapa hari setelah ancaman pembongkaran itu, suasana panti asuhan berubah muram.Anak-anak tidak lagi bermain seramai biasanya.Setiap suara kendaraan berat yang lewat membuat mereka refleks menoleh ke arah gerbang dengan wajah cemas.Elena tidak bisa tinggal d

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 3. Wanita Tertindas

    BAB 3Keluar dengan Tangan Kosong“Kamu datang ke rumah ini dengan tangan kosong, jadi keluarlah dari rumah ini dengan tangan kosong juga.”Suara Margaret jatuh seperti palu hakim.Elena yang sedang melipat pakaian di atas ranjang berhenti. Tangannya menggenggam kain gaun yang dulu ia pakai saat ma

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Rahasia Tersembunyi

    BAB 1Wanita yang Salah“Berhenti berpura-pura tidak tahu apa-apa, Elena.”Suara Adrian Blackwood terdengar dingin dan menusuk, seperti es yang menggores kulit.Elena yang berdiri di tengah ruang tamu rumah megah itu perlahan menoleh. Lampu kristal besar di atas kepalanya memantulkan cahaya ke lant

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status