แชร์

Bab 4. Identitas yang tersembunyi

ผู้เขียน: Bulandari f
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-05 00:12:31

Bab 4. Identitas yang tersembunyi

Beberapa hari setelah ancaman pembongkaran itu, suasana panti asuhan berubah muram.

Anak-anak tidak lagi bermain seramai biasanya.

Setiap suara kendaraan berat yang lewat membuat mereka refleks menoleh ke arah gerbang dengan wajah cemas.

Elena tidak bisa tinggal diam.

Ia mulai bangun lebih pagi dari siapa pun.

Membantu Bu Suri menghitung sisa uang kas yang jumlahnya menyedihkan.

Tidak cukup untuk memindahkan anak-anak.

Tidak cukup untuk menyewa tempat baru.

Tidak cukup bahkan untuk bertahan lebih dari dua minggu.

“Aku akan cari uang,” ucap Elena tegas suatu pagi.

Bu Suri menatapnya khawatir. “Nak, kamu baru saja kehilangan segalanya. Jangan paksa dirimu.”

“Aku tidak punya pilihan.”

Dan sejak hari itu, Elena mulai berjualan kecil-kecilan di depan panti.

Ia meminjam kompor tua dari tetangga, membuat gorengan sederhana, nasi bungkus, dan teh hangat. Tangannya yang dulu terbiasa memegang peralatan dapur rumah besar kini kembali mengiris bawang dengan cekatan.

Beberapa warga sekitar mulai membeli.

Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat anak-anak bisa makan sedikit lebih layak.

Setiap kali ada pembeli datang, Elena memaksakan senyum.

Ia menunduk rendah saat menyerahkan kembalian.

Harga dirinya terasa tipis, tapi ia masih memilikinya.

Dan itu cukup.

Namun kedamaian kecil itu tidak bertahan lama.

Siang itu, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan lapak sederhananya.

Anak-anak yang membantu langsung terdiam.

Elena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

Sepatu hak tinggi itu kembali menyentuh tanah.

Vivian.

Dengan gaun mahal dan tas bermerek, ia tampak seperti kontras yang kejam terhadap meja kayu reyot penuh gorengan.

“Wah,” ucap Vivian santai. “Mantan Nyonya Blackwood sekarang jadi pedagang kaki lima?”

Beberapa orang yang sedang membeli langsung menjauh, merasa tidak nyaman.

Elena menunduk sedikit. “Silakan kalau mau beli.”

Vivian tertawa kecil.

“Aku tidak makan makanan murahan.”

Tanpa peringatan, ia mengangkat satu nampan gorengan dan menjatuhkannya ke tanah.

Makanan itu berserakan di aspal berdebu.

Anak-anak kecil terlonjak kaget.

“Elena!” seru Bu Suri dari teras.

Elena membeku.

Dadanya naik turun menahan emosi.

“Kenapa?” tanya Vivian dengan senyum tipis. “Ini tidak higienis. Aku membantu membersihkan.”

“Vivian,” suara Elena bergetar, “tolong… jangan lakukan ini.”

Vivian mendekat.

“Kau ingat janjimu? Kau bilang akan melakukan apa pun.”

Elena mengepalkan tangan di balik apron lusuhnya.

Orang-orang mulai berkerumun.

Beberapa berbisik.

Beberapa menonton dengan rasa penasaran.

“Kalau kau ingin aku mempertimbangkan menunda penggusuran,” lanjut Vivian pelan, “buktikan kesungguhanmu.”

Elena menatapnya.

“Apa yang kau mau?”

Vivian menunjuk gorengan yang tergeletak di tanah.

“Makan.”

Sunyi.

Bu Suri berjalan cepat mendekat. “Tidak! Elena, jangan!”

Vivian tersenyum manis. “Dengan mulutmu sendiri. Tanpa tangan.”

Beberapa orang terkekeh.

Elena merasa wajahnya terbakar.

Harga dirinya terasa diinjak-injak.

Ia bisa menolak.

Ia bisa berteriak.

Ia bisa melawan.

Tapi bayangan buldoser yang siap merobohkan panti muncul di benaknya.

Anak-anak yang akan kehilangan tempat tinggal.

Ia menelan ludah.

Perlahan, ia berlutut.

“Jangan, Nak…” suara Bu Suri pecah.

Elena memejamkan mata sejenak.

Lalu menunduk.

Wajahnya semakin dekat dengan aspal.

Debu menempel di pipinya.

Saat bibirnya hampir menyentuh makanan itu—

Tiba-tiba—

Guyuran air dingin menyiram kepalanya.

Air mengalir deras dari rambutnya, membasahi wajah dan pakaiannya.

Orang-orang tertawa.

Beberapa bahkan bertepuk tangan.

Vivian berdiri sambil memegang botol air mineral kosong, ekspresinya puas.

“Lihat dirimu,” katanya lembut tapi menusuk. “Kau benar-benar cocok berada di bawah.”

Elena terdiam.

Air menetes dari dagunya.

Tangannya mengepal begitu kuat sampai kukunya menancap ke telapak kulitnya sendiri.

Ia ingin berdiri dan menampar wanita itu.

Ingin berteriak bahwa ia tidak bersalah.

Ingin menghancurkan senyum angkuh itu.

Tapi ia hanya menunduk.

Karena jika Vivian murka—

Jika proyek itu dipercepat—

Panti asuhan akan hilang.

Dan ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Vivian mendekat dan berbisik di telinganya, “Ingat posisimu.”

Lalu ia melangkah pergi, masuk kembali ke mobilnya.

Kerumunan perlahan bubar.

Tinggal Elena yang masih berlutut.

Basah.

Kotor.

Terhina.

Hahahaha

"Aku puas banget hari ini."

Ocehan dan tawa itu hilang dengan kejauhan.

"Kamu tidak perlu mengikuti apa maunya, Nak."

Bu Suri bergegas memeluknya.

“Kamu tidak seharusnya melakukan itu, Nak,” lanjut nya dengan mata berkaca-kaca.

Elena tersenyum tipis, meski bibirnya gemetar. “Aku tidak mau panti ini digusur, Bu.”

Air matanya akhirnya jatuh lagi.

“Kalau dengan merendahkan diri aku bisa menyelamatkan mereka… aku akan melakukannya.”

Bu Suri memegang wajahnya.

“Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak yang berharga.”

Elena menggeleng pelan. “Di mata mereka, aku bukan apa-apa.”

Bu Suri terdiam.

Ada sesuatu di sorot matanya.

Sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Bahkan beberapa anak panti berlari menghampiri Elena. "Kak Elena." mereka satu persatu mengeratkan pelukan ke Elena.

"Kakak tidak apa-apa kok."

Elena mencoba tersenyum, seakan tidak ada kesedihan yang ia sembunyikan. Walaupun pada kenyataannya ia ingin berteriak dan berkata, "Dunia ini tidak adil padaku." Namun, demi menyenangkan anak panti. Elena hanya bisa tersenyum dan berpura-pura tegar. "Sudah, kakak gak apa-apa."

"Tapi Kak."

Elena mengelus lembut rambut anak panti. "Tolong bantu kakak membersihkan semua nya."

Bu Suri menatap rasa kagum ke Elena. "Hatimu begitu lembut Nak, tidak seharusnya kamu mendapat perlakukan kasar dari mereka."

Ucapan itu keluar sendiri dari mulut Bu Suri yang dijawab senyum oleh Elena.

"Aku akan membersihkan semuanya, Bu," kata Elena, namun ... “Nak,” katanya pelan, “sudah seharusnya kamu tahu semuanya.”

Elena mengerutkan kening.

“Tahu apa, Bu?”

Bu Suri menatap ke arah jalan, memastikan tidak ada yang mendengar.

Lalu kembali menatap Elena dengan wajah serius.

“Selama ini kamu hidup dalam kebohongan.”

Jantung Elena berdetak lebih cepat.

“Apa maksud Ibu?”

Angin sore berembus pelan.

Anak-anak memandang mereka dari kejauhan.

Dan untuk pertama kalinya—

Elena merasa bahwa penghinaan hari ini mungkin bukan akhir dari penderitaannya.

Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ia menatap Bu Suri dengan rasa penasaran yang menggetarkan.

“Bu… sebenarnya aku ini siapa?”

Bersambung.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 50.Akhir dari Sebuah Kehilangan

    Bab 50Akhir dari Sebuah Kehilangan"Sam ternyata bukan dalang utama pertukaran bayi dua puluh lima tahun lalu."Kalimat Victor membuat suasana yang semula hangat berubah membeku.Elena yang masih berdiri di samping Axel langsung menegang."Apa maksud Ayah?" tanyanya pelan.Victor menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Axel.Pria itu membaca cepat isi pesan tersebut.Wajahnya perlahan berubah serius."Itu laporan terbaru dari penyidik," ujar Axel."Setelah Sam ditangkap, polisi kembali memeriksa arsip lama rumah sakit tempat Elena dan Vivian lahir."Nyonya Victor langsung memegang dadanya."Jangan bilang..."Victor mengangguk pelan."Ternyata ada orang lain yang terlibat."Suasana kembali hening.Elena menatap ayahnya dengan perasaan campur aduk.Baru kemarin ia mengetahui siapa keluarga kandungnya.Baru beberapa jam lalu ia merasakan bagaimana rasanya dipanggil "Nak" oleh seorang ayah.Dan sekarang muncul lagi fakta baru.Fakta yang mengancam mem

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 49. penyesalan

    Bab 49Penyesalan yang Terlambat"Tapi kenapa...?"Suara Adrian terdengar serak.Tangannya gemetar saat memegang map tua berwarna cokelat itu.Victor mengernyit."Apa maksudmu?"Adrian tidak langsung menjawab.Wajahnya sudah pucat pasi.Matanya berkaca-kaca.Dengan tangan bergetar, ia membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlihat sudah lama disimpan."Itu... wasiat Papa."Victor menatapnya."Alex?"Adrian mengangguk.Pria itu menelan ludah dengan susah payah."Papa menulis ini sebelum meninggal."Tangannya semakin gemetar saat membaca isi surat itu.---Adrian...Jika suatu hari Papa tidak ada lagi, ingat satu hal.Jangan pernah menyakiti Elena.Jangan pernah meninggalkannya.Apalagi menceraikannya.Elena adalah perempuan baik.Dan yang lebih penting...Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah orang biasa.Percayalah pada Papa.Suatu hari kau akan mengerti mengapa Elena harus kau pertahankan.Jika kau kehilangan Elena, maka kau akan kehilangan sesuatu y

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 48

    Bab 48Ayah yang Terlambat Datang"Kalau kamu benar-benar tidak tahu apa-apa..."Victor menatap lurus ke arah Vivian."Kenapa selama lima tahun terakhir kamu diam-diam mengirim miliaran rupiah kepada Sam?"DEG!Tubuh Vivian langsung menegang.Matanya membelalak."Pa..."Suaranya bergetar."Aku..."Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vivian kehilangan kata-kata.Karena pertanyaan itu terlalu tepat.Terlalu menusuk.Dan yang lebih mengerikan...Victor sudah memiliki bukti.Axel langsung meletakkan beberapa lembar dokumen di atas tempat tidur."Bukti transfer.""Catatan rekening.""Dan rekaman CCTV saat orang kepercayaan Sam mengambil uang."Tubuh Vivian mulai gemetar.Adrian membelalakkan matanya.Nyonya Victor memejamkan mata sambil menangis.Sedangkan Victor hanya berdiri memandang Vivian.Tatapan itu tidak lagi seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.Tatapan itu seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia telah dikhianati selama bertahun-tahun."Katakan."Suara Vict

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 47.

    Bab 47Kebenaran yang Tidak Bisa Disembunyikan"Sejak kapan kamu tahu bahwa Sam adalah ayah kandungmu?"Kalimat itu menggantung di udara seperti palu yang menghantam keras kesadaran Vivian.Dalam sekejap, seluruh warna di wajah wanita itu menghilang.Matanya membulat.Napasnya tercekat.Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.Untuk beberapa detik, Vivian hanya menatap Victor tanpa berkedip.Seolah berharap pria itu sedang bercanda.Seolah berharap semua yang baru saja didengarnya hanyalah mimpi buruk akibat obat-obatan yang masih mengalir di tubuhnya.Namun tatapan Victor terlalu dingin untuk dianggap sebagai lelucon.Tatapan itu bahkan tidak menyisakan sedikit pun kasih sayang yang dulu selalu diberikan kepadanya.Tatapan itu hanya berisi kemarahan.Kekecewaan.Dan pengkhianatan."Apa...?"Suara Vivian terdengar bergetar."Apa maksud Papa?"Tidak ada jawaban.Victor tetap berdiri di tempatnya.Tatapannya tidak bergeser sedikit pun.Vivian mulai panik.Matanya berg

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   BAB 46. DIA BUKAN ANAK KANDUNG MU, Tuan.

    bab 46. "Kalau Elena adalah putriku... lalu selama ini siapa sebenarnya Vivian?"Suara Victor terdengar serak.Namun justru karena itulah suasana di koridor rumah sakit menjadi semakin mencekam.Tidak ada yang berani menjawab.Tidak ada yang berani memotong kalimatnya.Axel hanya berdiri diam sambil memperhatikan pria yang selama ini dikenal sangat tenang itu. Untuk pertama kalinya ia melihat ketenangan Victor benar-benar runtuh.Tangannya masih menggenggam hasil tes DNA dengan begitu erat hingga lembaran kertas itu terlihat kusut.Di sampingnya, Nyonya Victor sudah tidak mampu menahan air matanya lagi.Puluhan tahun.Puluhan tahun mereka hidup dalam kebohongan.Puluhan tahun mereka membesarkan anak yang ternyata bukan darah daging mereka sendiri.Dan yang lebih menyakitkan lagi, putri kandung mereka justru tumbuh jauh dari keluarga yang seharusnya melindunginya.Axel menarik napas panjang sebelum akhirnya menyerahkan satu map lain."Masih ada yang perlu Bapak lihat."Victor perlahan

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 45— Kebenaran yang Terkubur

    Bab 45— Kebenaran yang Terkubur"Aku harus pergi..."Vivian bahkan tidak sadar kalimat itu keluar dari bibirnya.Tangannya masih menggenggam ponsel dengan begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya terus menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari nomor misterius itu. Hanya satu kalimat singkat, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada ancaman apa pun yang pernah ia terima.Kalau aku jadi kamu, aku akan segera pergi sebelum polisi tahu alasan sebenarnya kamu datang ke sini.Selama beberapa detik Vivian hanya berdiri membeku di tengah koridor rumah sakit. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitnya, tetapi tubuhnya justru dipenuhi keringat dingin. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Ia tidak tahu dari mana orang tersebut mengetahui keberadaannya. Namun satu hal yang sangat jelas baginya—orang itu sedang mengawasinya.Dan orang itu mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.Dengan langkah cepat Vivian berbalik meninggalkan

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   bab 36. rahasia yang mulai terbuka

    Bab 36 — Rahasia yang Mulai Terbuka“…mantan suami kamu masih suka gangguin kamu?”Kalimat Axel sukses membuat suasana di sekitar meja itu berubah canggung.Elena yang tadi berdiri sambil memegang buku catatan langsung menoleh cepat. Sedangkan Adrian perlahan mengangkat wajahnya dengan tatapan ding

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 29. Luka yang Tidak Pernah Dicari

    Bab 29Luka yang Tidak Pernah Dicari“Sepertinya… kita baru saja menemukan sesuatu.”Kalimat Axel tadi masih menggantung di udara bahkan setelah pria itu kembali duduk di kursinya.Victor langsung menatapnya serius.“Sesuatu apa?”Axel tidak langsung menjawab.Ia membuka ponselnya sebentar, membaca

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 7 Jejak yang Disembunyikan

    Bab 7Jejak yang DisembunyikanPintu ruang kerja itu tertutup perlahan di belakang Elena.Suasana langsung berubah.Jika di luar tadi dipenuhi ketegangan, tatapan merendahkan, dan bisikan orang-orang… di dalam ruangan ini justru terasa sunyi. Tenang. Namun bukan ketenangan biasa—melainkan ketenanga

  • The Woman You Betrayed Is a Hidden Heiress   Bab 6. Mantan istri sialan

    Bab 6. Mantan istri sialan Udara di depan gedung itu mendadak terasa jauh lebih tegang.Elena masih berdiri dengan napas sedikit tersengal, jantungnya berdetak keras setelah benturan emosi yang baru saja terjadi. Tangannya masih terasa perih akibat cengkeraman Adrian, tapi ia menahannya. Ia tidak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status