MasukAurora's life became a mess, a total mess. Her life was perfect at first. A loving family, a happy home. Her life was simple and perfect. But the arrival of a letter was what caused her whole world to crumble, but in a way, started a new beginning for her. **** Her heart was beating loudly in her ears. Her breath coming out as small sighs. They were so close, noses slightly rubbing. She couldn't believe what was happening. She had tried to run away from him but she kept falling into his arms. His hazel coloured eyes watched her every move, a charming yet devilish grin plastered on his face. He had his arm over her head. "Your.." "Why do you try to run? Have you forgotten that you live under my roof?" He asked. She shivered when he ran his thumb on her cheek. "Please let me go" She pleaded. She felt light-headed because of his proximity. "How can I when I'm not even holding you." He asked with a smirk. Her expression pleased him. He leaned towards her ear and whispered; "You can hide all you want, but you'll always come back to me, both as a king and as a man."
Lihat lebih banyakJangan pernah mengemis pada mereka yang meninggalkanmu. Bahkan jika suatu saat mereka menangis darah memintamu kembali. Jangan pernah mau!
*** "Aku akan menikah." Ucapan bernada tak acuh itu membuat Ariana mendongakkan kepala, sejenak melupakan bumbu apa yang seharusnya dia masukan kedalam mangkuk racikannya. "Selamat kalau begitu." Ucap Ariana juga dengan nada tak acuh yang sama dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Kamu tidak mau tahu siapa yang akan kunikahi?" Tanya Karenina seraya menyandarkan pinggulnya ke meja kitchen dan melipat kedua tangannya di depan dada, memandang langsung ke arah Ariana. "Apa aku perlu tahu?" Ariana balik bertanya. "Toh kamu juga tidak akan mengundangku ke pernikahanmu." Lanjutnya dan mulai mengaduk semua bumbu dengan menggunakan pengocok manual. "Syukurlah kalau kamu sadar diri." Ucap Karenina dengan nada mengejek. "Tapi meskipun kamu tidak akan datang ke pernikahanku, aku tetap butuh bantuanmu." Lanjutnya seraya memandang area dapur restoran Ariana dengan tatapan mengejek. Ariana tidak menanggapi ucapan adiknya sehingga Karenina menegakkan tubuhnya dan menghadapkannya langsung pada Ariana. "Aku perlu surat pernyataan dari ayah yang menyatakan kalau dia tidak akan menjadi wali nikahku." Ucap Karenina dengan nada mendesak. "Beginikah caramu meminta bantuan?" Ariana memandang adik kembarnya dengan dingin. "Dan beginikah caramu memperlakukan ayahmu?" Lanjutnya dengan amarah yang coba ia tahan. Karenina mengedikkan bahunya dengan ekspresi tak acuh. "Aku tidak bisa membuat Papi merasa malu. Aku tidak mungkin membuat para tamu bertanya-tanya tentang statusku, Papi dan Ayah." Ariana memutar bola matanya. "Seolah orang-orang tidak tahu saja siapa kau dan Nyonya Juliarty." Dengusnya mencelupkan ujung jari kelingkingnya ke dalam racikan bumbu. Menambahkan sesuatu supaya rasanya pas sebelum mengaduknya kembali. "Kau belum menjawab permintaanku." "Aku tidak merasa perlu melakukan apa yang kau minta. Apalagi dengan cara seperti ini. Kalau kau memang memerlukan bantuan Ayah, pergi pada Ayah langsung. Minta dia untuk mundur dan membuatkan surat perwakilan wali untukmu. Setidaknya itu cara yang lebih sopan meskipun tetap akan membuatnya sakit hati." Ucap Ariana ketus dan mulai memindahkan racikan bumbunya pada mangkuk lain yang nantinya akan dia simpan dalam lemari es. "Kau tahu aku tidak bisa melakukannya." Ucap Karenina, menarik lengan Ariana dengan kuat supaya perhatian kakak kembarnya terfokus padanya. "Dan kau tahu aku juga tidak bisa melakukannya." Ariana balas memandang adik perempuannya dengan jijik. "Satu-satunya orang yang tidak ingin kusakiti di dunia ini adalah Ayah. Jadi jangan harap aku membantumu." Ucap Ariana seraya menarik tangannya dengan kasar. Ariana tidak memedulikan apa yang Karenina lakukan. Dia tidak peduli saat adik kembarnya menyapukan tangannya yang terbungkus pakaian mahal ke atas meja kitchennya dan menumpahkan barang-barang serta bahan makanan yang ada disana. Lani yang mendengar suara keributan seketika muncul dari bagian depan restoran dan memandang Ariana serta Karenina bingung. "Ada apa ini? Siapa yang melakukannya?" Tanya sepupu sekaligus sahabat Ariana itu terkejut. Tatapannya beralih pada Karenina dan seketika amarah menyeliputi wajahnya. "Kau!" Bentaknya. Namun sebelum Lani mengemukakan kemarahannya, Karenina sudah melangkah menjauh dan bahkan sempat menyenggol bahu Lani dengan sengaja yang membuat Lani semakin marah. Beruntung Lani masih bisa menahan diri dan tidak menjambak rambut panjang nan terawat milik Karenina. Karena jika tidak, Ariana pastikan bukan hanya rambutnya saja yang berantakan, namun wajah saudara kembarnya itu pasti akan lebam mengingat emosi Lani yang tidak terkendali. "Apalagi yang diinginkannya sekarang?" Tanya Lani seraya mengambil barang-barang yang berserakan di lantai satu persatu. Ariana menatap sepupu sekaligus sahabatnya itu dan mengedikkan bahu. Enggan menjawab pertanyaannya dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Lani pun tak lagi berkata-kata. Dalam diamnya dia membersihkan semua barang yang berserakan sebelum rekan-rekan mereka yang lain datang dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. *** Ariana mau tak mau datang ke rumah ayahnya karena sang ayah yang meminta. Tanpa perlu ayahnya beritahukan, Ariana sudah menduga apa yang akan mereka bicarakan kali ini. Tentu berkaitan dengan Karenina dan permintaannya. "Apa ayah marah?" Tanyanya pada sang Bunda saat wanita berhijab itu membuka pintu rumah untuknya. Ibu sambungnya itu menjawab dengan senyuman khasnya dan menggelengkan kepala. "Udah makan?" Tanya wanita yang selama tiga belas tahun terakhir ini berperan sebagai ibu untuknya. "Udah. Tadi sebelum kesini makan dulu." Jawab Ariana yang lagi-lagi ditanggapi dengan anggukkan ibunya. "Ayah ada di halaman belakang." Ucapnya memberitahu dan Ariana melangkah menuju halaman belakang dimana ayahnya tampak tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam dan buku bacaan. "Bacaan apalagi sekarang?" Tanya Ariana seraya memeluk bahu sang ayah dan mengecup puncak kepalanya lembut. Ayahnya menutup buku dan menunjukkan bagian depan buku yang tengah dibacanya pada Ariana. Ariana tersenyum dan menganggukkan kepala. "Apa gak bosan? Kalo aku baca yang begituan yang ada malah ngantuk." Ucapnya seraya mengambil satu potong mendoan yang sudah agak dingin dan mencelupkannya ke dalam sambal kecap seraya duduk di kursi kosong yang diduduki sang ayah. "Ayah perlu yang begini buat motivasi." Jawab ayahnya dan meletakkan buku ke atas meja, tepat di samping piring berisi mendoan dan mengambil gelas kopinya dan menyeruputnya pelan. "Ayah gak ganggu kesibukan kakak kan?" Tanya pria awal paruh baya itu setelah meletakkan gelas kopinya. "Ngapain ada anak buah kalau semua harus bos yang urusin." Kilah Ariana dengan senyum di wajahnya. Ayahnya turut tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ada apa Ayah panggil kakak kesini?" Tanya Ariana ingin tahu. Meskipun dalam hati ia sudah bisa menebaknya. "Karenina datang ke tempat kerja ayah." Ucap ayahnya, membenarkan apa yang ada dalam pikiran Ariana. "Dia minta ayah membuat surat pernyataan kalau ayah tidak bisa menjadi walinya saat pernikahannya nanti." "Ayah menyanggupinya?" Tanya Ariana dengan nada datarnya. "Ayah bisa apa?" Ayahnya balik bertanya. "Baik Karenina ataupun mama kamu tidak mau ayah ada di pernikahannya. Yang bisa ayah lakukan untuk membahagiakan mereka hanya ini." Ucap ayahnya dengan nada sedih yang meskipun samar masih bisa Ariana dengar. "Tapi ayah gak kecewa, masih ada kakak yang nanti akan ayah walikan saat nikah. Dan masih ada Dira." "Hanya ada Dira." Ucap Ariana lirih. "Kakak gak ada niatan buat nikah. Gak setelah semua drama pernikahan yang sudah Ariana lihat." "Kak.." Ayahnya memandang Ariana dengan tatapan sedih. "Ini udah jadi pilihan Kakak, Yah." Ucap Ariana tak mau diganggu gugat. Menikah? Jelas kata itu tidak pernah terselip dalam benaknya. Bukan semata-mata karena tidak mau mengulang kisah yang sama atau mengalami sesuatu yang dramatis dan mengalami sakit hati akibat berharap pada seseorang yang disebut pasangan. Namun Ariana tidak yakin kalau dirinya masih memiliki waktu untuk bisa menikmati hidup dalam waktu yang lama. Ia tidak yakin bisa hidup berbahagia bersama seseorang dan menyatakan padanya kalau ia akan menemani pria itu dalam susah dan senangnya karena yang ada justru pria itulah yang akan selalu menemaninya dalam keadaan terpuruknya. Dan Ariana tidak mau menumbalkan seseorang hanya demi masa singkat hidupnya yang akan berakhir entah kapan."Oh princess, this is horrible! I fear this will be the end of us.“ Said Vicky. Isabelle groaned and threw the covers off her body.“Exactly! Grandma and Grandpa are so mad. If they could, they would kick father out of here."“But that's not possible. Another war is upon us.““Vicky! Don't be so pessimistic. We will get out of this situation, even though I don't know how.““You just can't see the seriousness of this matter. The last war between these two sides was horrible. So many casualties occured on both sides. It was a war to be remembered.““I know, my brothers have told me. But I believe that this king Owen won't wage a war against his own daughter. That would be madness!""He is mad. I have people who live there. The kingdom is a hell hole. He rules them with an iron fist. He even cut ties with some kingdoms who helped with some productions. He's suffering the kingdom. But somehow, they've been surviving.“ "He sounds like he's mentally unstable. Maybe Gabriel was right.l, we
Isabelle glanced from her brothers to her father. He had an unreadable expression. Lauren hadn't said a word, she just stayed rooted on her seat, face still in her hands.“What happened?“ Darien asked. It was at that moment that the adults acknowledged their presence. Karla just let out a huff.“There's no point hiding it from them.“ Said Charles. He then loosened his tie. "Tell them what you did and the war you've plunged their home Into." He exclaimed.Isabelle wanted to say something but she decided against it. What could she even say? And she believed that her brothers could handle it. "What do we need to know?" Asked Gabriel with a curious look. Isabelle stared at him, slightly shocked. Were they going to pretend that they didn't already know?"Yes father, what do you want to tell us?" Added Darien. Darien's statement answered her question. "He won't talk, because he knows what he's done is wrong." Karla said. She was extremely angry and it bothered Isabelle. She immediately ra
After their reunion, they all headed back to the palace. Darien and Gabriel had caught three Stags. Isabelle knew that at one point her brothers got competitive. Habriel always wanted to prove that he was a better hunter than Darken, and Darien being the eldest wouldn't allow his younger brother to surpass him. But she just didn't know who got two Stags, to become the winner.When they finally arrived at the palace, Lauren alighted from her horse and immediately went inside without sparing the siblings a look. Darien then pulled his sister and brother inside.“So what happened?“ Darien asked his sister.“Nothing. We talked for a while and I went off to get the Antelope. She followed later on.““So in conclusion it didn't go as planned.“ Said Gabriel.“It was slightly alright. But I asked her about her family and she said that her parents were dead.““Lies, how long do they think they can keep this from us?“ Questioned Darien. He knew his father well, and he knew that he would do anyth
A stablesman Prepared four horses like Isabelle commanded, she rushed over to persuade her eldest brother.“Darien, why do you always have to be a sadist? Queen Lauren has already agreed, why can't you do the same?"“I would follow if you hadn't invited her. We only hunt with our family. She is not our mother Belle."“But she's father's wife and he would like for us to treat her as our mother.““She can never replace mother. Father has literally brought doom to our kingdom by marrying her."“I know, but I just want us to put aside our differences. And maybe Father will even…““What? That he'll become the caring father that he was before? That will never happen Belle. That all perished when mother died. And now that he has another wife, it's impossible." He said bitterly. Isabelle stared at her brother in shock.“It's not impossible! Father will realise that we are giving her a chance and that we respect him. He will change towards us.“ Isabelle stated with teary eyes. Ever since their
Laura was seated in a carriage sent by Kilan. Since he was the one who invited her and she had no idea where the council's club was, he sent a carriage to pick her up. Laura was a little bit excited, yet she was nervous. She was happy that she was going to spend the entire afternoon with him, but it
Laura was definitely not paying attention to what Ciara was saying. Her mind was on Kilan who just arrived with a woman she knew too well. Ciara, who noticed this, looked to where Laura's attention was.She then saw that Laura was staring at Councilman Duran who arrived with Kamillah Saline."Laura, a
Two weeks later;Laura strolled down the steps at a calculated pace. Moving elegantly, she looks nothing less to that of a princess. She is dressed in a beautiful wedding dress. The dress which flowed freely onto the ground, had its train sweeping the floor. Instead of the classic long sleeve, it was
A few days later;After Kevin's death, the past few days became hectic for Kilan. First, he dedicated his time in preparing a proper funeral for his deceased assistant, which took place three days after his death.Although Kevin wasn't married, he still had his parents. Kilan paid his condolences to t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan