Share

Bab 6

Author: Grind
Di acara potong pita hari ini, semua orang yang hadir adalah tokoh-tokoh terpandang.

Perkataan Ronald membuat pandangan heran semua orang tertuju pada Sinta.

Terlihat para pengawal Ronald sudah mengepungnya dengan ketat.

Seorang petugas sudah membuka penutup saluran pembuangan air. Bau busuk yang mendadak menyeruak dari sana membuat orang-orang di tempat kejadian mengerutkan dahi.

Kedua tangan Sinta ditahan oleh petugas keamanan, tapi matanya menatap Ronald tanpa menyerah.

"Ronald, kamu mau aku mungut sampah Virly? Mimpi aja di kehidupan selanjutnya!"

Kejengkelan di mata pria itu makin membara, dia pun memberi perintah.

"Lempar dia ke dalam saluran pembuangan air! Sebelum dia mengambil kembali karya Virly, nggak diizinkan naik ke atas!"

Melihat Sinta ditekan oleh para pengawal dan dibawa menuju saluran pembuangan air yang kotor, Merry tidak bisa menahannya lagi.

"Ronald, kamu udah keterlaluan! Sinta itu putri tunggal Keluarga Lioda, gimana bisa dia menerima penghinaan seperti ini!"

"Hentikan sekarang juga! Kalau nggak, aku bakal panggil polisi!"

Ronald terkekeh pelan, suaranya terdengar dingin.

"Boleh aja, silakan Tante panggil polisi."

Dia membuka ponselnya, lalu menayangkan video saat Sinta memegang tongkat bisbol dan menghancurkan alat-alat mahal di rumah sakit milik Grup Garga. Dia berkata tanpa rasa takut.

"Begitu polisi datang, aku justru bisa menyerahkan video ini ke mereka."

"Pilih masuk penjara atau kehilangan muka, Tante harus memikirkannya baik-baik!"

Napas Merry tertahan, tubuhnya gemetar karena emosi. Tubuhnya yang memang sudah lemah langsung pingsan di tempat akibat amarah yang menekan dadanya.

Di bawah tatapan semua orang, Sinta ditekan oleh para pengawal dan dimasukkan ke dalam saluran pembuangan air yang berbau busuk.

Dia tercium bau itu dan refleks menahan napas.

Namun di detik berikutnya, punggungnya mendadak ditendang dengan keras dari belakang.

Seluruh tubuhnya jatuh dengan mengenaskan ke dalam saluran pembuangan air, rambut dan kulitnya ternoda air kotor yang menyebarkan bau busuk.

Beberapa orang yang menonton terkekeh mengejek.

Virly merangkul lengan Ronald sambil pura-pura membujuk.

"Ronald, gimanapun juga Nona Sinta itu seorang perempuan, hal yang seutuhnya mempermalukan seperti ini ... terlalu menyusahkannya ...."

Pria itu tidak ambil pusing dan berkata dengan datar.

"Dia itu cuma putri tunggal yang terlalu dimanjakan, sifatnya harus benar-benar ditempa."

"Keluarga Garga nggak butuh seorang Nyonya Garga yang egois dan manja."

Percakapan mereka terdengar jelas oleh Sinta.

Dia pura-pura tidak mendengar, hanya menundukkan kepala dan mencari perhiasan yang dibuang di dalam saluran pembuangan air yang berbau busuk.

Dia tidak tahu sudah berapa lama mencari, sampai langit mendadak gelap, kedua tangannya keriput karena terendam air kotor.

Akhirnya dia berhasil menemukan perhiasan-perhiasan itu di antara tumpukan sampah.

Sinta menggenggam perhiasan tersebut, lalu bersiap untuk memanjat keluar dari saluran pembuangan air.

Para pengawal menjalankan perintah Ronald dengan ketat dan berjaga di pintu keluar.

Dia tidak menyangka Virly juga ada di sana dan menghadangnya di pintu keluar.

"Nona Sinta, Ronald bilang, kalau belum menemukan perhiasanku kamu nggak boleh naik."

Sinta tersenyum mengejek.

"Nona Virly, sampahmu nggak beda sama sampah di tumpukan itu."

Sambil berbicara, dia membuka telapak tangannya untuk memperlihatkan perhiasan itu.

Namun di detik berikutnya, kilatan kejam melintas di mata Virly, lalu dia mengangkat kaki dan menendangnya!

Seluruh perhiasan jatuh dan berserakan kembali ke dalam saluran pembuangan air.

Tubuh Sinta tidak bisa dikendalikan dan terhuyung ke belakang, seluruh tubuhnya jatuh ke dalam saluran pembuangan air berbau busuk, seketika kehilangan kesadaran.

Saat dia sadarkan diri kembali, hari sudah larut malam.

Jalanan terasa sangat sepi dan menakutkan.

Sinta sampai mematahkan seluruh kuku jarinya baru bisa memanjat keluar dari saluran pembuangan air.

Begitu dia kembali ke Vila Keluarga Lioda, lampu-lampu di sana tampak menyala terang tidak seperti biasanya.

Melihat Sinta yang bersimbah kotoran, kilatan kejutan di mata Bi Marni seketika berubah menjadi rasa kasihan yang mendalam.

Bi Marni buru-buru membawanya untuk mandi dan berganti pakaian.

Sinta baru menyadari ada hal yang tidak beres di Rumah Keluarga Lioda.

Kenapa di seluruh rumah ini cuma tersisa Bi Marni seorang diri?

Setelah didesak oleh Sinta, Bi Marni baru menyuarakan kenyataannya.

"Nona! Keluarga Lioda sudah hancur!"

"Karya Virly diduga menjiplak dan ketahuan oleh merek internasional, seluruh merek barang mewah dunia yang dijiplak bersatu mengajukan gugatan ke Grup Lioda!"

"Grup Lioda terkena dampak opini publik yang buruk, arus kas terputus, dan harga saham anjlok."

"Yang lebih keterlaluan, mereka menuntut ganti rugi dengan angka yang sangat fantastis! Bahkan kalau Grup Lioda dijual pun nggak akan sanggup melunasinya!"

Bi Marni menangis karena panik.

"Sekarang yang bisa menyelamatkan Grup Lioda cuma Grup Garga, nyonya ... nyonya pergi memohon ke Tuan Ronald!"

Tubuh Sinta gemetar hebat, tanpa berpikir panjang dia langsung berlari keluar.

Saat dia tiba di kediaman Ronald, dia melihat Merry sedang berlutut di luar pintu.

Virly berdiri di sampingnya dengan wajah puas.

"Tante, 'kan udah aku bilang, Tante harus bersujud 99 kali dan mengucapkan 'maaf' 99 kali, baru aku bisa membujuk Ronald buat menemui Tante."

"Ibu!"

Sinta berlari kencang memegang tubuh Merry, matanya tergenang air mata, "Selain Keluarga Garga, pasti masih ada cara lain!"

Merry menepuk-nepuk tangannya, tersenyum dengan paksaan.

"Sinta, Grup Lioda itu seluruh hidup Ibu, Ibu nggak boleh menghancurkannya sama tangan Ibu sendiri!"

Sambil berbicara, dia bersujud sekali lagi dan berteriak keras mengucapkan "maaf".

Air mata Sinta menetes deras dalam bulir-bulir besar.

Di detik berikutnya, Virly mendadak tertawa terbahak-bahak.

"Aku berubah pikiran."

"Sekarang syarat buat menemui Ronald adalah kamu ...."

Dia menunjuk ke arah Sinta.

"Tampar dirimu sendiri 999 kali, setiap kali menampar, kamu harus berteriak 'maaf Nona Virly, aku sudah menyinggung Nona'!"

Wajah Merry berubah drastis.

"Kamu! Keterlaluan sekali!"

Virly menatap mereka berdua dari atas dengan sombong.

"Terus kenapa? Kalau nggak mau ya nggak usah dilakukan, tapi jangan harap bisa menemui Ronald!"

"Kamu ...."

Ucapan Merry dipotong oleh Sinta.

"Ibu, biar aku aja."

Setiap tamparan Sinta mendarat dengan sangat keras.

Tidak lama kemudian, pipinya membengkak besar, membuat Merry menatapnya dengan tatapan kasihan.

Akhirnya, dia menyelesaikan semua yang diperintahkan Virly.

"Nona Virly, apa sekarang kami bisa menemui Tuan Ronald?"

"Hahaha!"

Virly tertawa sampai terpingkal-pingkal.

"Bodoh! Benar-benar bodoh banget!"

"Ronald sama sekali nggak ada di sini, dia tahu aku mau makan cokelat matcha dari Hokkaido, makanya sengaja terbang ke sana buat beliin! Hahaha ...."

Merry baru menyadari, dia dan putrinya sudah dipermainkan oleh Virly!

Dia berniat bangun dengan marah, tapi karena sudah terlalu lama berlutut, darah membeku menumpuk di dalam dadanya.

Di saat dia berdiri, dari mulutnya menyembur darah segar dalam jumlah banyak, lalu dia pingsan di tempat!

Sinta tidak mempedulikan hal lain, dia menggendong Merry dan berlari menuju rumah sakit.

Namun, tiga rumah sakit berturut-turut menolaknya!

Ternyata semua rumah sakit di bawah naungan Grup Garga sudah menerima instruksi dari Virly untuk tidak menerima pasangan ibu dan anak dari Keluarga Lioda!

Tepat di saat Sinta berada di pinggir jalan dalam keadaan paling putus asa dan tidak berdaya, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya.

Pria yang mengenakan setelan jas hitam turun dari mobil dan memeluknya dengan lembut.

"Sinta ...."

Dia menatap raut wajah pria di depannya, lalu menangis histeris.

"Julian, tolong ibuku, tolong Grup Lioda ...."

"Serahkan semuanya ke aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status