Share

Bab 5

Author: Grind
Saat Sinta kembali terbangun, dia menyadari dirinya terbaring di dalam kamar VIP rumah sakit.

Bi Marni, pelayan Keluarga Lioda, sedang merawatnya.

"Bi Marni? Kok Bibi ada di sini?"

Bi Marni yang melihatnya terbangun akhirnya merasa lega, kerutan di dahinya perlahan mengendur.

"Nona, Bibi datang merawat Nona atas perintah Nyonya."

Sinta baru tersadar sepenuhnya.

Benar, saat koma tadi dia jelas-jelas mendengar suara Merry!

"Bi Marni, ibu di mana?"

Air mata Bi Marni mendadak menetes.

"Nona! Orang-orang Keluarga Garga benar-benar keterlaluan!"

"Mereka melukai Nona separah itu, bahkan melarang semua rumah sakit memberikan pengobatan buat Nona!"

"Demi Nona, nyonya sampai pergi memohon sama Ronald. Siapa sangka dia justru menuntut nyonya kasih dukungan penuh buat produk desain Nona Virly, bahkan minta izin masuk ke mal milik Grup Lioda!"

"Nyonya sudah lihat hasil karya desain Nona Virly, barangnya sama sekali nggak seberapa! Tapi, Ronald pakai nyawa Nona buat ngancam Nyonya supaya setuju!"

Sambil mengusap air mata, Bi Marni melanjutkan ucapannya.

"Sekarang nyonya lagi dipaksa ikut potong pita buat peresmian masuknya merek Nona Virly!"

Wajah Sinta mendadak berubah drastis, tanpa berpikir panjang dia langsung berniat mencabut jarum infus.

Bi Marni buru-buru menghentikannya, "Nona, Nona mau ngapain! Luka Nona sama sekali belum pulih!"

Dia menggertakkan gigi menahan rasa sakit, tetap kukuh ingin keluar dari rumah sakit.

"Aku mati pun nggak bakal biarin Virly menodai nama baik ibu!"

Saat Sinta tiba di mal, acara potong pita sudah selesai.

Virly sedang berdiri dengan bangga di tengah panggung, memamerkan hasil karyanya.

Merry berdiri di sampingnya dengan wajah pucat pasi.

Jantung Sinta mendadak berdesir tajam, matanya memerah.

Grup Lioda merintis usahanya dari perhiasan mewah, keberhasilan mereka berkembang hingga hari ini tidak lepas dari nama besar Merry sebagai desainer ternama dunia.

Hal yang paling dipedulikan dan dibanggakan oleh Merry adalah selera estetikanya terhadap perhiasan.

Semua orang tahu, asal ada dukungan dari Merry, merek desainer mana pun dipastikan bakal menjadi tren internasional.

Namun demi Sinta, Merry terpaksa menjual nama baiknya untuk mendukung Virly!

Bagi Merry, hal ini sama saja seperti membunuhnya!

Sinta melangkah tahap demi tahap ke depan panggung pameran, menatap ekspresi sombong mencemooh Virly.

"Desainer muda berbakat?"

"Memangnya kamu pantas?"

Wajah Virly mendadak pucat.

"Sinta, aku tahu kamu nggak suka sama aku, tapi kamu nggak boleh menghina karya-karyaku!"

"Karya-karya ini adalah kerja kerasku! Aku yang merancangnya sedikit demi sedikit!"

Sebelum ada orang yang sempat bereaksi, Sinta langsung merampas sebuah kalung.

"Kalung ini menjiplak model terbaru awal musim panas dari merek Morina, 'kan?"

"Terus gelang ini, jiplakan dari model klasik merek Dosta, perhiasan telinga ini, menjiplak produk terlaris merek Carla tahun lalu ...."

"Kerja keras?"

"Sampah kayak gini pantas disebut karya? Pantas buat ibu kasih dukungan dan berdiri di panggung buat kamu?"

Begitu kalimat itu selesai, Sinta meraup seluruh karya Virly lalu melemparkannya langsung ke dalam saluran pembuangan air di sampingnya!

Air mata Virly seketika menetes.

Dia menatap Ronald dengan raut wajah teraniaya.

"Ronald, karya-karya itu susah payah aku lukis dan buat sendiri pakai tangan selama tiga tahun di luar negeri ...."

Tanpa perlu banyak bicara dari Virly, ekspresi wajah Ronald sudah sangat buruk.

Ronald langsung mencengkeram pergelangan tangan Sinta dengan kuat.

"Kamu bisa berhenti nggak, sih?"

"Aku mengalah demi Tante Merry dengan kasih kamu pengobatan terbaik, bukan supaya kamu punya tenaga buat menyakiti Virly!"

Sinta menggertakkan gigi, meloloskan pergelangan tangannya demi lepas dari cengkeraman, lalu menatap matanya secara langsung.

"Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"

Raut wajah pria itu seketika berubah, jantungnya berdegup kencang.

Menatap kedua mata Sinta yang penuh amarah, rasa tidak senang dan jengkel di dalam hatinya makin menjadi-jadi.

"Keras kepala!"

"Minta maaf sama Virly!"

Sinta tertawa dingin, "Mimpi!"

Ekspresi Ronald terlihat dingin, dia memberi perintah dengan suara keras.

"Pengawal, buka penutup saluran pembuangan air ini, suruh Nona Sinta sendiri yang turun buat mengambil karya Virly kembali!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status