LOGINSaat aku terbangun kembali, yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit. Luka di tanganku sudah dibalut. Di samping tempat tidur, ada seorang polisi wanita yang menjagaku."Kamu sudah bangun? Jangan takut, sekarang kamu sudah aman.""Keberanian dan kecerdikanmu telah menyelamatkan dirimu sendiri."Aku mengangguk, tetapi air mata tetap mengalir tak terbendung. Saat makan di restoran, aku menyadari ada yang salah dengan Winda dan Henri. Jadi, saat pamit ke toilet, aku diam-diam menelepon polisi. Bagaimanapun juga, aku harus waspada. Aku tidak bisa mempertaruhkan sisa hidupku pada nurani Winda, yang mungkin sudah hilang.Ternyata, dugaanku benar. Sejak mantan suamiku mengusirku, membekukan kartu kredit, dan membiarkanku tanpa uang sepeser pun, jebakan ini sudah dimulai. Selama bertahun-tahun menikah, segala hal tentangku berada dalam genggamannya. Teman-teman sosialita yang biasa bermain denganku, hanyalah mereka yang menghormati suamiku. Tidak ada satu pun yang benar-benar tulus
Inara bergegas mengayunkan tangannya di depan mataku. "Sherly, kamu nggak apa-apa?" "Henri! Cepat, jaga Sherly baik-baik! Aku akan minta sup pereda mabuk pada pelayan."Dalam pandanganku yang kabur, sosok Inara perlahan menghilang. Tak lama kemudian, sepasang tangan besar Henri mulai meraba paha dengan tidak sabar. Seluruh tubuhku menegang karena terkejut, tetapi kelopak mataku terasa sangat berat.Di sini banyak orang berlalu-lalang, bagaimana mungkin Henri berani melecehkanku? "Ja-jangan!"Aku refleks mencoba menghalanginya dengan tangan, tetapi sia-sia. Meski hanya punya sedikit pengalaman semalam, Henri sepertinya sudah memetakan titik sensitif di tubuhku. Dia dengan lihai menyelinap ke balik gaunku.Meski kesadaranku samar, tubuhku tidak kehilangan respons. Aku bisa merasakannya, area di antara kakiku sudah basah. Entah karena pengaruh alkohol atau bukan, reaksi tubuhku hari ini jauh lebih hebat daripada semalam. Jika ini sampai ketahuan Inara, aku benar-benar tidak akan bi
Aku menangis saking paniknya. "Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu katakan! Aku hanya menumpang di sini!"Wisnu mencibir dan hendak bicara lagi, tetapi suara ketukan pintu dari Inara terdengar dari luar. "Sherly, ini aku. Aku datang untuk menjemputmu makan siang. Kenapa kamu mengunci pintu di siang hari begini?"Syukurlah, Inara datang! Merasa terganggu, Wisnu turun dari tubuhku dengan berat hati. Namun sebelum pergi, dia sengaja membisikkan kata-kata yang memuakkan. "Hati-hati dengan pasangan Henri itu, jangan sampai kamu dijual tapi malah tidak tahu!"Aku melotot tajam ke arahnya. "Cuih! Dasar berengsek! Jangan mencoba mengadu domba kami! Kalau aku nggak sedang sibuk sekarang, sudah kulaporkan kamu ke polisi!"Wisnu memakai bajunya kembali sambil tertawa acuh tak acuh. Awalnya, kukira dia hanya bicara asal karena tidak mendapatkan apa yang dia mau, tapi kata-katanya selanjutnya benar-benar membuatku tersadar."Aku nggak bohong padamu, kamu harus hati-hati. Coba kamu pik
Mata Inara semakin memerah saat berbicara, sementara pria lainnya menatap dengan tatapan mengejek. Meski malam ini aku berhasil menyelamatkan diriku, tapi reputasiku sudah hancur total.Aku tersiksa hingga keesokan paginya. Di asrama, hanya tersisa aku sendiri karena yang lain sudah pergi bekerja. Aku menatap deretan kartu kredit di tanganku yang sudah dibekukan oleh mantan suamiku, lalu menghela napas panjang. Meski tidak punya uang sepeser pun, aku tidak mungkin terus tinggal di asrama ini.Namun, tepat saat aku selesai mengemasi barang-barangku, Inara masuk membawa sarapan yang masih hangat. Nada bicaranya tidak menunjukkan amarah maupun senang. "Makanlah, aku sengaja membelikannya untukmu."Perutku yang sudah keroncongan terasa mulas, hidungku terasa perih dan air mataku jatuh berderai. Tidak kusangka setelah kejadian semalam, Inara masih bisa bersikap perhatian padaku. Sambil menelan roti, suaraku terdengar serak. "Soal kejadian semalam, aku ...."Inara mengangkat tangan,
Benda yang sekeras besi itu menekan bagian lembutku, rasa sakitnya membuat air mataku menetes secara alami. Mungkin karena seseorang bisa meledakkan potensi tersembunyi di saat paling putus asa, atau mungkin karena rasa sakit yang tak tertahankan itu, membuat tubuhku yang lemas perlahan kembali bertenaga.Kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku mengulurkan tangan kecilku untuk melindungi diri sendiri, lalu berucap dengan terburu-buru, "Aku ini sahabat istrimu! Kalau kamu nggak segera menjauh, aku akan melaporkanmu padanya!"Tak disangka, Henri sama sekali tidak gentar menghadapi ancamanku. Dengan kurang ajar, dia menepuk-nepuk pipiku. "Sudah kubilang, malam ini istriku sendiri yang setuju! Kalian ‘kan sahabat baik, dia merasa kasihan padamu karena nggak punya suami!"Tidak mungkin!Walaupun aku sudah lama tidak berhubungan dengan Inara, tapi setelah bertahun-tahun berteman saat kuliah, aku yakin tahu persis dia orang yang seperti apa.Benar-benar tidak kusangka, Henri tega mengucapkan ke
Tanpa diduga, kedua kakiku justru merapat erat secara spontan. Bagian sensitif di dadaku pun mengeras di saat yang tidak tepat. Henri yang sedang membantuku melepaskan baju tentu saja merasakannya. Sesuatu yang keras di balik bokongku pun kembali menegang.Rasanya begitu mengganjal hingga aku hampir memekik. Ukurannya bahkan lebih luar biasa dari sebelumnya. Entah mengapa, selain rasa malu, muncul sebuah getaran aneh di dalam hatiku.Aku dan Inara adalah sahabat sejak kuliah. Penampilannya biasa saja, berbeda denganku yang dipuja banyak orang karena wajah dan bentuk tubuh yang sempurna. Setelah lulus, dia tidak mendapat pekerjaan bagus sehingga harus bekerja kasar di proyek. Sementara aku menerima lamaran mantan suamiku dan menjadi nyonya kaya.Namun siapa sangka, sekarang nasibku justru berakhir seperti ini. Bahkan pria yang kupilih dulu tidak sekuat suami sahabatku. Dulu dengan mantan suamiku, aku tidak pernah merasa sehebat ini. Entah bagaimana rasanya jika dilakukan dengan







