Short
Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku

Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku

By:  PeachCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku terpaksa menumpang di barak proyek tempat sahabatku bekerja, tetapi kehadiranku justru memancing perhatian sekelompok pria di sana. Suami sahabatku berniat melindungiku. Namun, tanpa sengaja dia menyelinap ke dalam selimut dan meraba seluruh tubuhku. Aku yang sudah menjanda selama setengah tahun pun, tak sanggup menahan gejolak yang muncul ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Sherly Duma, seorang wanita muda yang baru saja bercerai.

Karena harus keluar dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun, aku tidak punya pilihan selain menumpang pada sahabatku di sebuah lokasi proyek bangunan.

Namun, aku tidak menyangka bahwa barak mereka ternyata merupakan asrama campuran pria dan wanita.

Setelah jam kerja usai, aku berdiri di tengah barak dengan mengenakan gaun ketat dan stoking hitam, menyeret koperku di bawah tatapan para pria di sana.

Mata mereka seperti serigala yang melihat mangsa, tak sedetik pun beralih dari tubuhku.

Mulai dari kaki, pinggang, bokong, hingga dada.

Mereka menatap ke setiap bagian yang sensitif.

Sahabatku, Inara, yang bekerja sebagai kuli di sana, bergegas menyampirkan jaket ke bahuku. Ucapannya bernada mengeluh, tetapi tersirat rasa peduli yang dalam.

"Sherly, kamu ini bagaimana sih? Di tempat yang penuh laki-laki begini, kamu malah berpakaian seperti ini!"

Aku mengerucutkan bibir dengan perasaan sedih.

Bukannya aku sengaja ingin menarik perhatian, tapi perceraian itu terjadi begitu mendadak. Mantan suamiku tidak menyisakan apa pun untukku.

Aku diusir begitu saja dan hanya sempat membawa pakaian yang biasa kupakai sehari-hari.

Mantan suamiku adalah seorang bos kecil yang sangat menjaga gengsi. Demi menjaga nama baiknya di depan rekan bisnis, baju-bajuku selalu bergaya seksi dan menggoda seperti ini.

Suami Inara yang bernama Henri Visha, hanya melirikku sekilas sebelum buru-buru menundukkan kepala dengan canggung.

"Anu, kamu Sherly, ‘kan? Istriku sudah menceritakan masalahmu, jangan khawatir."

"Asrama kami nggak terlalu ketat, kamu boleh tinggal di sini selama yang kau mau."

"Hanya saja ...." Henri menelan ludah sambil menunjuk deretan tempat tidur di ruangan itu. "Tempat tidur di sini model barak memanjang, pria dan wanita tidur bersama di satu ruangan."

Mendengar aku akan menginap, para pria di ruangan itu mendadak bersemangat.

Tanpa peduli apakah mereka mengenalku atau tidak, mereka mulai menggoda dan mengajakku tidur di sebelah mereka. Melihat mereka bertelanjang dada, jantungku berdegup kencang dan wajahku memerah hebat.

Meski aku berparas cantik dan pernah menjadi primadona saat kuliah, seumur hidup aku hanya pernah berhubungan dengan satu pria, yaitu mantan suamiku.

Mana pernah aku menghadapi situasi seperti ini?

"Sherly, aku ...."

Inara tentu tahu kesulitanku, tapi lokasi proyek ini terlalu jauh dari kota. Tidak ada penginapan lain di sekitar sini.

Apalagi aku diusir tanpa membawa uang sepeser pun.

"Begini saja Sherly, kita tukar posisi."

"Kamu tidur di sebelah suamiku, aku akan berdesakan di tempat lain."

Tempat tidur Inara berada di posisi paling pojok dekat dinding. Tidur di sana memang bisa menjauhkanku dari gangguan pria-pria lain.

Tapi, harus tidur bersisian dengan suami sahabatku? Rasanya sangat memalukan.

Refleks aku melirik Henri.

Wajahnya juga tampak memerah dan dia terus menelan ludah karena canggung.

Namun, karena keadaan sudah mendesak, hanya ini satu-satunya jalan. Menghadapi Henri seorang diri jauh lebih baik daripada menghadapi sekawanan serigala lapar di ruangan ini.

Di asrama ini tidak ada tempat tertutup untuk berganti pakaian.

Aku terpaksa berbaring dengan tetap mengenakan gaun ketat itu. Baru setelah aku diam-diam melepas pakaian dalam di balik selimut, tubuhku terasa lebih rileks.

Wanita dengan dada besar sepertiku memang tidak nyaman jika harus tidur memakai bra.

Rasanya sangat menyesakkan.

Setelah lampu dimatikan, meski harus berhadapan dengan seisi ruangan yang penuh pria asing, rasa panas di wajahku tak kunjung reda.

Namun, karena terlalu lelah setelah segala kekacauan hari ini, aku pun jatuh tertidur.

Dalam mimpi, mantan suamiku datang mengajak berbaikan.

Dia bilang wanita simpanannya di luar sana tidak ada apa-apanya dibanding denganku. Merasakan panas tubuh mantan suamiku, tubuhku pun mulai merespons secara alami.

Semenjak mantan suamiku berselingkuh, aku sudah tidak merasakan kehidupan suami istri selama setengah tahun.

Wanita sama halnya dengan pria.

Kami punya kebutuhan, dan itu tidak ada hubungannya dengan menjadi wanita jalang atau bukan.

Aku menggeliat gelisah, tetapi detik berikutnya aku tersentak kaget.

“Kenapa besar sekali?”

Ukuran ini bahkan dua kali lipat lebih hebat dari milik mantan suamiku.

Ada yang tidak beres ....

Aku memaksa mataku yang sayu untuk terbuka dan seketika tersadar bahwa aku masih berada di lokasi proyek.

Tanganku tanpa sadar menggenggam sesuatu.

Sensasi panas dan keras yang sama persis dengan yang ada di mimpiku.

Astaga, ini Henri!

Aku ternyata sedang "kumat" di hadapan suami sahabatku sendiri di tengah malam! Pria itu jelas-jelas sedang menahan diri sekuat tenaga.

Otot-otot tubuhnya menegang dan napasnya memburu kasar.

Aku buru-buru melepaskan genggamanku. Karena takut membangunkan yang lain, aku mendekat ke arah Henri dan meminta maaf dengan suara lirih.

"Maaf, Kak Henri ... aku nggak sengaja."

"Tolong jangan salah paham."

Henri membelalakkan mata tanpa menjawab. Aku menunduk mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari bahwa karena gerakanku tadi, sebagian besar bagian dadaku yang putih terekspos.

Di kegelapan malam, pemandangan putih itu tampak bergoyang samar.

Benar-benar memalukan.

Aku ingin segera menjauh, tapi pakaianku justru tersangkut di pinggiran ranjang atas.

Saat aku bergerak, gundukan putih yang besar itu justru semakin menyembul keluar.

Pada saat itu, seluruh tubuhku terasa panas karena malu. Rasanya ingin mati saja karena canggung. "Jangan ... jangan lihat lagi!"

Henri tersentak sadar dan buru-buru meminta maaf.

Dia berniat membantuku melepaskan kain yang tersangkut. Namun begitu bangkit, tubuhnya justru terimpit erat dengan tubuhku.

Tanpa penyangga bra, dua gundukan empuk di dadaku terimpit oleh otot kekar Henri. Napas panas pria itu pun langsung menerpa wajahku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status