Share

212. Mencuri Ciuman!

Author: Lil Seven
last update Last Updated: 2026-01-05 21:31:20

Hari-hari berikutnya setelah mengantarku pulang naik motor, Aaron semakin nekat.

Hari ini, dengan alasan yang sama di mana tiba-tiba Kaiser berhalangan menjemput, Aaron menyamar menjadi taksi online dan mengantar aku ke kampus.

“Kak, kamu gila,” desisku, melihat ke belakang di mana ibuku mengantar sampai gerbang, dengan gelisah.

Aaron hanya tersenyum kecil dan menjawab sambil mengendikkan bahu, “Dan kamu tidak menghentikanku, kan? Toh ibumu tidak sadar bahwa sopirnya aku."

Aku memegang pintu, hendak keluar dari mobil, tapi Aaron memegang tanganku dengan lembut.

"Mau kemana? Apakah kamu tidak merindukan aku?" tanyanya dengan tatapan menggoda, padahal mobil kami belum jauh meninggalkan rumah, aku bahkan masih melihat ibu yang tetap berdiri di gerbang seakan sedang mengawasi sampai aku benar-benar jauh dari rumah.

"Kak, ibu ... ibu bisa melihat kita," ujarku panik, menyingkirkan tangannya.

"Nyatanya dia bahkan tak tahu kalau sopir taksi online ini aku, kan? Kenapa kamu sangat kha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   220. Aku Kangen

    “Maureen yang menyarankan ibu mengambil alih semuanya,” jawabku. “Dengan alasan… ‘membersihkan masa lalu’.”Kata-kata itu seperti korek api.“Itu rumah kita,” Aresh berkata pelan, penuh amarah tertahan. “Rumah yang dia rebut.”Arsion bersandar, menyilangkan kaki. “Jadi sekarang jelas. Ini bukan soal keluarga lagi. Ini soal pengambilalihan.”Aku mengangguk. “Dan aku takut. Bukan cuma buat kalian. Tapi buat ibu.”Aresh menatapku lama. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak penuh tuduhan. Hanya… konflik.“Kamu datang ke sini,” katanya akhirnya, “karena kamu ingin membetulkan semuanya?”“Iya,” jawabku tanpa ragu. “Aku ingin ibu kembali. Dan… aku ingin kalian pulang.”Keheningan lagi. Kali ini berbeda—lebih berat, tapi juga penuh kemungkinan.Aresh menghela napas panjang, lalu menatap Aaron. “Kita tidak bisa bergerak gegabah.”“Aku tahu,” jawab Aaron. “Makanya kita kerjakan bersama.”Arsion mengangguk. “Informasi dari Sherry penting. Kita punya motif, pola, dan target.”Mereka mulai berdi

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   219. Rencana Mengusir Maureen

    "Kak, Sebenarnya..."Aku tiba-tiba gugup—lebih tepatnya, seluruh tubuhku terasa kaku—saat berhadapan langsung dengan tatapan Aresh. Cara kakak tiriku yang pertama itu memandang selalu membuatku merasa seperti sedang diadili. Tatapannya tajam, penuh penilaian, seolah ia bisa melihat kebohongan sekecil apa pun di wajah seseorang, padahal malam ini, aku tidak datang membawa kebohongan, aku bahkan sedang sangat ketakutan.Aaron merasakan jemariku bergetar. Genggamannya menguat tanpa perlu melihat ke arahku, seakan berkata bahwa aku tidak sendirian. Bahu Aaron sedikit maju, posisinya jelas—melindungiku, bahkan sebelum Aresh sempat melangkah lebih dekat.“Aresh,” ucap Aaron lebih rendah, namun tegas. “Bukan malam yang tepat.”Aresh mendecakkan lidah pelan, lalu menurunkan tangannya dari dada. Namun sorot matanya tidak melunak. Sama sekali tidak.“Bukan malam yang tepat,” ulangnya sinis, “atau bukan saat yang tepat untuk menjelaskan kenapa dia ada di sini?”Aku membuka mulut, tapi kata-kata

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   618. Dijemput Aaron

    Untungnya balasan datang tidak sampai satu menit.[ Di mana kamu? Aku jemput. Jangan kemana-mana. Bahaya.]Aku menelan ludah dan menyebutkan lokasi. Menghapus, lalu mengirim ulang. Rasanya seperti menyeberangi garis yang tidak bisa kutarik kembali.Aku menunggu.Beberapa saat kemudian, sebuah motor berhenti di seberang jalan. Lampunya tidak menyilaukan—disengaja. Aaron turun tanpa tergesa, menatapku lama, memastikan aku benar-benar berdiri di sana, utuh.“Kamu yakin melakukan ini, Sherry?” tanyanya pelan.Aku mengangguk dan tak berkata apapun karena rasanya suaraku hilang.Aaron seketika memelukku, menepuk lembut punggungku seakan tahu aku sedang kalut luar biasa."Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Sherry. Aku disini," bisiknya lembut, yang membuat jantungku kembali perlahan lahan menjadi tenang.“Tapi setelah kamu keluar dari rumah itu... kamu tidak bisa kembali,” ucapnya, yang ku jawab dengan anggukan.“Aku tahu.”“Kalau kamu naik,” lanjutnya, “keputusanmu milikmu. Bukan milikku, bukan

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   217. Kabur;

    “Bilang saja kamu cemburu karena Aaron tidak memilihmu,” ucapku penuh amarah.Untuk pertama kalinya, ekspresi Maureen berubah—bukan marah, tapi tertarik.“Oh, Sherry,” katanya lembut, hampir sayang. “Kamu benar-benar tidak mengerti.”Ia berdiri, mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat hingga aku bisa mencium parfumnya—ringan, dewasa, dan menyesakkan.“Aaron tidak memilih siapa pun,” lanjutnya. “Dia hanya terikat.”Aku menelan ludah. “Apa maksudmu?”“Keterikatan yang tidak sehat,” jawabnya pelan, mengulang kata-katanya di depan ibu. “Dan kamu pusatnya.”Aku mendorongnya menjauh dan menunjuk pintu.“Keluar.”Ia tidak melawan. Hanya mundur setengah langkah, lalu menatapku dengan mata yang tenang—terlalu tenang.“Kamu pikir ibumu membencinya tanpa alasan?” tanyanya. “Kamu pikir ketakutan itu muncul tiba-tiba?”“Kamu yang membuatnya takut!” seruku, marah.“Aku hanya membuka matanya,” balas Maureen. “Seperti yang seharusnya dilakukan orang dewasa saat melihat sesuatu yan

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   216. Bilang Saja Cemburu!

    “Itu yang dari awal membuatku tidak tenang,” sahut ibu cepat. “Naluri seorang ibu tidak pernah salah.”Maureen mengangguk pelan dan menjawab dengan nada yang terdengar sangat alami.“Aku dulu juga menutup mata. Sampai akhirnya aku sadar… dia punya ketertarikan yang tidak sehat.”Kata-kata itu seperti pisau tipis, aku menatap ibu dan ibu… tidak membantah.Tidak sekali pun.Di kepalaku, potongan-potongan mulai menyatu.Kebencian ibu kepada Aaron yang terlalu tiba-tiba, serta semua tuduhan tanpa bukti dan ketakutan yang dibesarkan berlebihan.Semua itu bukan lahir begitu saja, tapi seseorang dengan sengaja menanamnya... dan pelakunya adalah Maureen.“Ibu,” pangggilku dengan suara bergetar, “dia pernah memfitnah aku.”Maureen terkesiap kecil, memainkan perannya dengan sempurna.“Astaga, Sherry,” katanya lembut. “Aku tidak pernah memfitnah. Aku hanya… khawatir.”"Tidak, Maureen! Kamu dulu benar-benar memfitnah aku mencuri dan—"“Cukup,” potong ibu tajam, menatapku. “Kamu tidak sopan, Sherr

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   215. Ternyata Dalangnya Adalah....

    Semuanya berubah sejak Aaron datang ke rumah, ibu memang tidak mengomel tapi dia semakin protektif dengan caranya sendiri. Pagi-pagi, ponselku sudah ada di meja makan, sebelum aku bertanya kenapa, ibu sudah bicara dengan nada tegas. “Mulai sekarang, ponsel ditinggal di rumah,” ucapnya sambil menuang teh, suaranya datar. “Tidak ada alasan.” “Tapi, Bu, aku perlu—” “Tidak,” potongnya singkat. “Kamu tidak perlu apa pun selain pulang tepat waktu, Sherry.” Ibu semakin ekstrem mengawasiku, jam pulang ditulis di papan kecil dekat kulkas. Nama Kaiser dicoret, diganti dengan jadwal ibu sendiri. Aku tidak diantar lagi, tapi aku dijemput. Aku benar benar harus berangkat dan pulang kuliah tepat waktu. Di dalam rumah, pintu kamarku tidak pernah benar-benar tertutup, bahkan tidurku tidak lagi privat. Suatu malam aku terbangun dan mendapati pintu kamarku terbuka sedikit, dan aku melihat bayangan ibu berdiri di sana, mengawasi. Aku menarik selimut sampai ke leher, jantungku berdegup liar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status