LOGINSenyum di bibir Aaron mengembang samar saat mendengar bisikan Sherry. Meski demam masih membuat tubuhnya limbung, ada kehangatan lain yang justru membangkitkan seluruh indranya. Tangannya yang menggenggam jari Sherry menguat sedikit. Ditariknya gadis itu lebih dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak sekepalan tangan. "Sherry..." panggilnya dengan suara serak yang berbeda. Bukan karena sakit kali ini. "Iya?" jawab Sherry sambil menatapnya, masih dengan senyum tipis. "Aku mau ciuman lagi." Sherry tertawa kecil. "Kamu sedang sakit, Kak," tolaknya sambil menggeleng. "Tapi aku tetap mau dicium kamu.." Sebelum Sherry bisa menjawab, tangan Aaron sudah lebih dulu meraih dagunya. Ditariknya wajah itu mendekat, lalu bibirnya mendarat dengan lembut tapi lebih lama dari sebelumnya. Ciuman itu tidak lagi sekadar pernyataan rindu. Ada sesuatu yang lebih hangat, lebih dalam. Bibir Aaron bergerak perlahan, mengajak Sherry larut dalam kehangatan yang mulai naik suhunya—bukan karena demam kal
Hujan masih menderas di luar, tapi di dalam kamar ini, waktu seolah berhenti. Sherry tidak bergerak dari posisinya. Tangannya masih menggenggam erat jari-jari Aaron yang panas. Napas pria itu mulai teratur, meski sesekali masih tersengal karena demam. Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar di lorong. Arsion kembali bersama dokter keluarga yang tinggal tidak jauh dari kompleks perumahan mereka. Dokter itu memeriksa Aaron dengan cepat. Termometer menunjukkan angka 39,2 derajat Celcius. "Demam cukup tinggi karena kelelahan dan sedikit kebasahan kena hujan," jelas dokter sambil menyiapkan infus. "Saya pasang infus untuk mengganti cairan dan memberi obat. Istirahat total setidaknya dua hari ke depan." Sherry mendengarkan dengan saksama, matanya tidak lepas dari wajah Aaron yang pucat. Setelah infus terpasang dan dokter pergi, Arsion menatap Sherry. "Sherry, kamu mau aku temani jaga?" Sherry menggeleng. "Aku sendiri saja. Kamu istirahatlah, Sion.." Arsion mengangguk, lalu ke
Hari hari berikutnya terasa semakin ganjil. Sherry tidak lagi terang terangan merajuk, tetapi sikapnya berubah menjadi diam yang lebih menyakitkan. Ia tidak membalas dingin, tidak pula tersenyum manis. Ia hanya menjadi tenang dan menjaga jarak. Aaron melihatnya. Namun ia salah mengartikan semuanya. Dalam pikirannya, Sherry akhirnya merasa lega karena ia tidak lagi terlalu protektif. Ia mengira jarak yang ia berikan adalah hal yang diinginkan gadis itu. Setiap kali mereka berpapasan di lorong, tatapan mereka bertemu sesaat lalu sama sama beralih. Setiap kali duduk di sofa yang sama, ada ruang kosong di antara mereka. Padahal di dalam hati Sherry, badai kecil terus berputar. Suatu malam, listrik sempat padam beberapa detik karena hujan deras. Rumah menjadi gelap. Refleks, Sherry menoleh ke arah Aaron yang berdiri tak jauh darinya. Biasanya, pria itu akan langsung mendekat, lalu memeluknya dari belakang dan membisikkan bahwa semuanya aman. Namun kali ini Aaron hanya b
Sherry bangun lebih dulu, seperti biasa. Ia menatap sisi tempat tidur yang kosong dan baru menyadari bahwa semalam Aaron tidak masuk ke kamar sama sekali. Dadanya terasa sesak. “Jadi begini caramu memberi ruang?” gumamnya pelan. Ia turun dengan wajah datar. Aaron sudah duduk di meja makan, membaca laporan di tablet. Ekspresinya tenang. Terlalu tenang. “Selamat pagi,” ucap Sherry singkat. “Pagi.” Tidak ada tambahan kata. Tidak ada pertanyaan apakah ia tidur nyenyak. Tidak ada teguran lembut seperti biasanya. Sherry menarik kursi dan duduk tanpa menatapnya. Beberapa hari terakhir, suasana seperti ini terus berulang. Sherry sengaja bersikap dingin. Ia menjawab seperlunya. Ia tidak lagi duduk dekat Aaron saat menonton televisi. Ia tidak lagi menunggu pria itu pulang sebelum tidur. Ia merajuk. Namun Aaron tidak mengejar. Aaron justru semakin tenang. Ia tidak memaksa berbicara. Tidak memeluk tiba tiba. Tidak mengatur jadwalnya lagi. Ia menjaga jarak dan jarak itu perlahan memb
Malam semakin larut. Di ruang kerja, Aaron berdiri di depan jendela besar, ponsel di tangannya. Ia sudah beberapa kali membuka layar percakapan Sherry. Mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu menghapus lagi. Drake berdiri tidak jauh darinya. “Tuan, Nona Sherry sudah berada di kamar sejak satu jam lalu,” lapornya pelan. Aaron mengangguk. “Apa saya perlu memastikan keadaannya?” tanya Drake hati-hati. “Tidak. Biarkan dia beristirahat," potong Aaron sambil menggeleng. Nada suaranya terdengar tenang, tapi rahangnya mengeras, ia tahu Sherry marah, tahu Sherry menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Aaron memaksa dirinya untuk tidak mengejar. Bukan karena tidak peduli, justru karena ia sedang mencoba. Mencoba memberi ruang, seperti yang selalu diminta Sherry. Lampu di ruang kerja masih menyala, tetapi berkas-berkas di meja Aaron tidak benar-benar ia baca. Tatapannya kosong, tertuju pada satu titik yang bahkan tidak ia sadari. Ponsel di tangannya sudah beberapa kali
Pagi hari, Sherry bangun lebih awal, menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Semalam, Aaron berdiri di bawah tangga, menatapnya dengan sorot mata yang berbeda, rapuh, takut, hampir kehilangan kendali. Ia mengingatnya dengan jelas. Dan justru itu yang membuat hatinya semakin rumit. Sherry bangkit dari tempat tidur. Ia mandi lebih lama dari biasanya, membiarkan air hangat membasuh sisa ketegangan. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, ia menghela napas panjang. “Aku tidak boleh langsung luluh,” gumamnya pelan. Bukan karena ia tidak peduli, hustru karena ia peduli. Sherry ingin Aaron mengerti bahwa rasa takut bukan alasan untuk mengikatnya terlalu erat. Dengan wajah yang sudah kembali tenang, Sherry turun ke ruang makan. Aaron sudah duduk di sana, seperti biasa, jas rapi, rambut tertata, ekspresi terkendali. Hanya saja, ada lingkar samar di bawah matanya. Ia jelas tidak banyak tidur. Drake berdiri tidak jauh dari meja, memeriksa laporan di table







