MasukMobil Aresh melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan siang itu. Di dalam kabin, keheningan mengudara, namun kali ini bukan keheningan yang mencekik. Itu adalah sisa-sisa adrenalin yang perlahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Hana menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung dan pepohonan yang berlalu lalang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, udara yang ia hirup terasa sepenuhnya miliknya. Tidak ada lagi bayang-bayang ayahnya, tidak ada lagi perjodohan paksa, tidak ada lagi sangkar emas. Tiba-tiba, ia merasakan usapan hangat di punggung tangannya. Aresh menggenggam tangannya erat, ibu jarinya mengelus punggung tangan Hana dengan lembut. Pria itu menoleh sekilas dengan senyum tipis yang tampak lelah namun tulus. "Kamu baik-baik saja?" tanya Aresh pelan. Hana menatap tautan tangan mereka, lalu membalas genggaman itu tak kalah erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes, namun kali ini dibarengi dengan senyuman. "Aku merasa.
Hana menahan isak tangisnya saat ia menyelinap keluar dari kamar hotel. Ia menghentikan taksi di depan lobi dan langsung memberikan alamat rumah orang tuanya. Ini adalah bentuk cintanya; sebuah pengorbanan agar pria yang ia cintai tidak kehilangan mimpinya.*** Lima belas menit kemudian, Aresh masuk kembali ke dalam kamar. "Han, Raka bilang ada celah di kontrak—" Kalimat Aresh terputus saat melihat kamar yang kosong. Matanya langsung tertuju pada secarik kertas di atas bantal. Membaca tulisan tangan Hana yang bergetar, rahang Aresh mengeras. Kepanikan sempat melanda, namun dengan cepat digantikan oleh kemarahan yang dingin dan fokus. Ia tidak akan membiarkan ayah Hana menang dengan cara manipulatif ini. Hana pikir menyerahkan diri akan menyelesaikan masalah, namun Aresh tahu ayah Hana tidak akan pernah menepati janji untuk mengembalikan perusahaannya utuh. Aresh kembali mengangkat ponselnya, kali ini menghubungi sebuah kontak yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Pak Wijaya,"
Pagi itu, sinar matahari menyusup dari balik celah tirai tebal, menyinari wajah Hana yang masih terlelap dalam pelukan Aresh. Kedamaian itu terasa begitu sempurna, hingga sebuah getaran panjang dan kasar dari nakas menghancurkan keheningan. Ponsel Hana menyala berturut-turut. Ada belasan panggilan tak terjawab dan satu pesan singkat yang membekukan darahnya. Pesan itu dari kakaknya, Dion. ["Papa tahu kamu tidak di apartemen temanmu. Dia tahu kamu bersama Aresh di Hotel Arcadis. Pulang sekarang, Han. Papa sudah bergerak menghancurkan perusahaan Aresh sejak subuh tadi."] Hana terkesiap, napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel Aresh yang tergeletak di lantai bersama pakaian pria itu. Layar ponsel Aresh dipenuhi notifikasi darurat: puluhan panggilan dari Raka, rekan bisnis sekaligus sahabat Aresh, dan rentetan email pembatalan kontrak. Aresh menggeliat bangun, merasakan ketegangan pada tubuh Hana yang kini duduk kaku di tepi ranja
Beberapa hari setelah malam di dalam mobil itu, Aresh merasa hubungan mereka butuh ruang yang lebih manusiawi. Ia tidak ingin Hana terus merasa seperti pencuri yang harus bersembunyi di tempat-tempat gelap atau membatasi diri hanya karena rasa takut. Dengan uang hasil kerja keras yang ia sisihkan, Aresh memesan sebuah kamar hotel butik yang tenang di pusat kota. Ia mengirim pesan kepada Hana untuk bertemu di sana. Ketika Hana tiba, ia tampak sedikit gugup, namun senyumnya merekah begitu melihat Aresh membuka pintu kamar. Suasana di dalam sangat kontras dengan hiruk-pikuk Jakarta di luar. Lampu kamar yang temaram menciptakan kehangatan yang intim. "Kamu sengaja memesan ini untuk kita?" tanya Hana pelan sambil meletakkan tasnya. Aresh mengangguk. Ia mendekat, membelai wajah Hana dengan penuh kasih sayang. "Aku ingin kita punya waktu yang tenang. Tanpa takut ada orang yang melihat, tanpa rasa cemas yang menghantui. Aku ingin memperlakukanmu sebagaimana mestinya, tanpa harus terburu-bu
Dua hari setelah konfrontasi di rumah orang tua Hana, hubungan Aresh dan Hana memasuki fase yang lebih dalam, sekaligus lebih rumit.Aresh memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jakarta. Ia masih menginap di rumah Aaron. Setiap malam, ia dan Hana bertemu diam-diam di sebuah kafe kecil di pinggir kawasan Menteng atau di taman dekat rumah Aaron. Bukan untuk bercinta liar seperti sebelumnya, melainkan untuk bicara. Benar-benar bicara.Malam ini, mereka duduk di bangku taman yang sepi. Hanya diterangi lampu jalan kuning yang temaram. Hana bersandar di bahu Aresh. Tangan mereka saling menggenggam erat."Aku takut, Aresh," bisik Hana. "Papa masih marah. Kemarin dia bilang kalau aku nekat bertemu kamu lagi, dia akan mengirim aku ke rumah tanteku di Bandung."Aresh mengelus rambut Hana dengan lembut. "Aku tahu. Aku juga takut. Tapi kali ini, aku tidak mau lari lagi. Aku ingin kita membangun hubungan ini dengan benar."Hana mendongak, menatap wajah Aresh yang masih dipenuhi bayang-bayang penye
Sore itu, Aresh membulatkan tekad. Ia datang ke rumah orang tua Hana di Menteng dengan tangan kosong, hanya membawa keberanian dan penyesalan yang mendalam. Hana sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah pucat dan mata yang bengkak. Pak Harun dan Bu Rina duduk di sofa dengan ekspresi dingin. Di meja, foto-foto dari hotel tergeletak begitu saja."Masuk," ucap Pak Harun datar. Namun, suaranya sarat dengan amarah yang ditahan.Aresh berdiri di tengah ruangan. Ia tidak duduk. Ia menunduk hormat, namun suaranya terdengar tegas."Pak, Bu, saya datang untuk bertanggung jawab. Saya tahu foto-foto itu sudah sampai di tangan Bapak dan Ibu. Saya tidak akan membela diri dengan alasan apa pun. Semua ini salah saya karena nekat mengajak Hana bertemu diam-diam."Bu Rina mengusap air matanya. "Kamu sudah merusak anak kami, Aresh. Hana anak baik-baik, lulusan terbaik. Sekarang nama baiknya tercoreng hanya karena bos playboy seperti kamu."Aresh menelan ludah. Ucapan itu terasa seperti tusukan."Say
Namun suara teriakan, klakson, dan kegaduhan menenggelamkan suaranya.Pada saat itulah, ponsel kembali berbunyi.[Tenang, Aaron. Itu cuma distraksi kecil.]Aaron berhenti mendadak, tersadar akan sesuatu.Distraksi.Matanya menyapu area parkir. Dan saat itulah ia melihatnya—Dua pria berdiri tak jau
"Kedua," potong Aaron lembut, sambil mengusap rambut Sherry dengan penuh kasih sayang.*Aku tahu perbedaan antara dimanja dan dilelahkan. Aku tahu perbedaan antara cinta yang tulus dan tuntutan yang memuakkan." Setelah mengatakan itu, Aaronencondongkan tubuh, dahi mereka hampir bersentuhan. "
Kulit pun mereka bertemu."Ahhh!" Sherry tersentak, bukan karena dingin, tapi karena hangat. Tubuh Aaron terasa begitu kokoh di atasnya, begitu nyata. Ia merasakan berat lengan Aaron yang bertumpu di samping kepalanya, merasakan dadanya yang naik-turun seirama dengan napasnya sendiri. Aaron m
"Sherry, apa yang kamu mau, Sayang? Bilang padaku, Sayang?"Aaron bertanya sambil menjilat bagian bawah Sherry, membuat tubuh Sherry bergetar hebat dan dengan napas tersengal-sengal menjawab."Aku mau Kakak... masuk ke dalam aku..." Aaron mengangkat kepalanya, memandang Sherry dengan tatapan yang







