Mag-log inKedua manik-manik Renata membelalak saat menatap Julian yang sok manis itu padanya, apalagi dengan sebutan sayang?"Julian,kapan kau datang?" tanyanya sambil menggeliat agar tangan pria itu lepas dari pinggangnya, karena ia merasa risih dipeluk terang-terangan di depan banyak orang.Tapi yang ada, Julian justru semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Renata. Bersikap seoah dia dan Renata adalah pasangan romantis yang tak terpisahkan di depan Nate yang ekspresi wajahnya masam. Sedangkan Jun menahan senyum melihat usaha keras bosnya itu mendapat perhatian Renata."Kerja bagus, Tuan."Diam-diam Jun mengangkat dua jempolnya untuk Julian yang tampak bangga, karena hanya dia yang berhak menyentuh Renata."Barusan," jawab Julian tanpa melepas pandangannya sedikitpun dari Renata yang semakin lama tak pernah ia jumpai, dia ternyata semakin mempesona dan membuat jantungnya berdegup kencang.Satu kata lagi, semakin montok."Di mana Ruth?" tanya Julian mencari alasan, hanya demi mengalihkan Rena
"Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti ke bawah. Dan malah tak sengaja berhenti di tempat tak semestinya lalu ketahuan oleh Julian yang melotot."Jaga matamu atau mau kucongkel?"Seketika Jun nyalinya mengkerut didamprat Sang Bos, ia kembali ke posisi duduk semula. Ternyata menghadapi bosnya lebih mengerikan dibanding menghadapi hantu."Maaf, Tuan." Jun nyengir dan gegas keluar dari mobll demi membukakan pintu bosnya itu.Namun ketika Jun mengitari mobil, langkahnya tiba-tiba memelan, matanya membelalak saat dia melihat Sang Nyonya dari kejauhan. Renata berada di samping rumah dengan seoranag pria, dia begitu akrab bahkan tertawa lepas bersama pria itu yang membuatnya sontak mengusap tengkuk lehernya."Gawat," lirih Jun nyeplos
"Uhh... Julian! Pelan-pelan...." "Tidak bisa hun, kau memenuhiku! Sempit! Aku jadi ingin terus menelanmu bulat-bulat!" Julian yang ngoyo mendekap tubuh nir Renata dari belakang dengan erat. Ranjang yang ditumpangi dan menjadi alas bukti cinta itu sampai berguncang karena semangat pria itu yang overdosis. "Kau canduku, Rene. Ahh! Aku mau sampai!" erang pria itu tambah cepat. Renata memejamkan matanya. "Uhh... Ahhh!" mulutnya setengah terbuka. Mengeluarkan desahan-desahan panas yang melecut sisi kejantanan Julian semakin liar. Entah keberapa kali Julian telah melepaskan gelombangnya itu? Ia terus bergerak tanpa henti. Tapi yang pasti, dia ingin menyatu terus dengan Renata. "Aku juga, Julian!" Tubuh keduanya bergetar, ayunan Julian memelan saat ia menyentak Renata di penghujung. —Julian tersentak bangun, duduk di ranjangnya dengan napas terengah-engah seperti habis lari marathon sejauh ribuan mil. Setelah nyawanya sedikit terkumpul, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Dia ke
"Sayang, kau yakin akan tinggal di sini bersamaku?"Renata menggenggam kedua tangan neneknya itu, memandangnya lembut untuk meyakinkannya. "Tentu, Ruth. Aku bahkan telah lama mendambakan pulang ke kampung halaman ini sejak lama."Desa lereng gunung itu masih sama seperti saat Renata meninggalkannya beberapa bulan lalu. Tidak ada yang berubah.Old Amersham, Lembah Misbourne.Walau Renata tidak lahir di sana, tapi ia dibesarkan di sana dengan masa kecil yang penuh angan-angan.Angan-angan menjadi bahagia, angan-angan ingin datang ke London dan menjadi sukses. Sekaligus harapan besarnya bisa bertemu sang ayah kandung. Tapi sekarang, Renata benar-benar menyesali angan-angan kedua dan ketiganya. "Nek. Kau ingat, dulu. Kita bertiga, bersama Ibu menanam bunga matahari di sana!" Renata menunjuk bekas-bekas pot kosong yang dulunya menjadi pot bunga matahari. Ruth mendesahkan napas, ia agak melow kalau diingatkan soal putrinya yang malang. Seandainya saja, dulu, ibunya Renata—Elsi, itu memat
Henry menelan ludahnya susah payah melihat botol itu, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya memucat. “A-apa yang mau kau lakukan?” Kali ini dia tampak ketakutan sekali. “Renata, jangan main-main dengan botol itu sayang. Kemarikan pada Ayah.” Renata ingin muntah mendengar Henry mengatakan sayang padanya. Jika ada butuhnya saja, seperti sekarang dia memanggilnya dengan manis setelah tadi dia dicampakkan. Sudah waktunya Henry merasakan karmanya. Tanpa berkata apapun atau menembak pria tua itu. Renata justru melemparkan botol di tangannya ke arah Henry. PRANG!Botol itu pecah di dada Henry, seperti lecutan panah. Cairannya sontak membasahi pakaian safarinya dengan cairan kimia yang sangat korosif dan menyengat saraf.“Aaaarghh!” Henry menjerit kesakitan, panas sekaligus menyiksa. Dia sampai terjatuh berlutut sambil mencakar dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sistem sarafnya, membuatnya tidak bisa berpikir atau bergerak.“Tolong…! Aku kepanasan! Sakit!” teriak H
Renata berdiri di dermaga yang hancur, memegang botol bening milik ibunya di satu tangan dan pistol di tangan lainnya. Ia harus selalu waspada dengan kejutan dari Henry. Namun deru mesin helikopter terdengar membelah kegelapan menyentaknya dari lamunan sesaat. Dia menyipitkan matanya, melihat sebuah helikopter Bell berwarna hitam elegan mendarat di atas helipad vila yang masih utuh. Tangan Renata semakin pakem memegang pistolnya. Manakala pintu helikopter terbuka, seorang pria tua dengan setelan safari berwarna krem melangkah keluar. Itu Henry Doe dan ternyata dia tidak datang sendiri. Namun bersama empat pengawal bersenjata lengkap yang menjaganya. "Putriku yang cerdik.” Henry bertepuk tangan pelan sambil berjalan mendekati dermaga. "Kau selalu melampaui ekspektasiku. Kau berhasil menjinakkan tiga singa ini dan membuat mereka duduk manis di satu ruangan." “Lindungi Renata!” seru Julian memerintah. Devan dan Arthur mengangguk. Tiga pria gagah itu keluar dari balik puing-pu
Tawa Julian kontan meledak, ia tak bisa menahannya dan sama sekali tak marah justru menganggapnya lawak. Sebelum tangannya kemudian merambat di pinggang Renata, mencengkeramnya dengan posesif dan menyentak tubuh itu tanpa jarak darinya. Arthur menegang, hampir saja dia terprovokasi melihat tindak
Renata menarik napas panjang, yang dikatakan Julian benar. Sekarang ia tak bisa mundur lagi demi memperoleh kepercayaan suaminya itu. "Baiklah kalau itu maumu, aku akan menemuinya."Tanpa ekspresi, datar, Julian mengawasi Renata yang merapikan gaun zamrudnya yang sedikit kusut akibat pergulatan emo
Julian mencium Renata dengan penuh hasrat. Ia semakin tak terkendali saat tangannya berhenti di atas buah dada istrinya. Namun di tengah ciuman itu, ponsel Renata di atas meja bergetar.Renata melirik ponselnya yang masih menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.[Pilihanmu bagus sekali p
"Aku punya tawaran yang lebih menarik darimu, Tuan Cooper," ucap Renata, suaranya kini tenang, hampir menggoda ketika turun sejenak ke bahunya yang masih dicengkeram oleh Julian. "Katakan." Julian melepas tangannya sambil memperhatikan posisi duduk Renata yang menyamping, menyilangkan kaki den







