Share

Bab 16. Panik

last update publish date: 2026-03-13 14:38:01

"Itu soal nenekmu," ucap Julian pendek.

Renata mengernyit. “Nenekku kenapa?”

“Dia menghilang dari rumah sakit, Renata. Seseorang menjemputnya sepuluh menit yang lalu," jelas Julian.

Sesaat Renata bergeming, ekspresinya datar. Ia merasa raga wanita itu saja yang di sini, namun jiwanya melayang entah ke mana. Hingga Julian tiba-tiba merasa khawatir.

“Renata—” suaranya pelan memanggil.

Renata memotongnya dengan tawa kecil. “Kau sedang bercanda Julian?” Renata memangku wajahnya dengan satu tangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   68.

    "Oh, tidak! Dia datang?" Renata yang panik langsung membalik tubuhnya membelakangi pintu. Ia tak jadi memutar gagang pintu, namun sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal: >> Jangan buka pintunya, Renata. Pria di depan pintumu itu bukan mencari ibunya untuk diselamatkan ... tapi untuk memastikan rahasia pembunuhan lima tahun lalu tidak pernah terbongkar

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   67.

    Julian memandanginya dengan pandangan yang hening, tajam dan tanpa emosi. Tak ada satu patah kata yang terucap. Pria itu bahkan tidak menawarkan tumpangan, atau juga menyapa. Hanya tatapan mata kelamnya yang mengunci manik mata Renata selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Sebelum Renata sempat merespon, Julian menaikkan kembali kaca jendelanya dan menekan pedal gas. Mobil maybach itu melesat cepat, meninggalkan genangan air yang terpercik ke arah trotoar. "Apa? Dia pergi begitu saja?" Renata menggeram pelan, kejengkelan membakar dadanya saat melihat lampu di belakang mobil itu menghilang di balik tikungan. Dua tangannya terangkat ke udara sambil menggeleng. 'Sudah kuduga. Es batu memang dingin!' batinnya sengit. Namun sedetik kemudian, rasa sesak yang familiar kembali menyenggol dadanya. Renata sadar, kejengkelan itu sebenarnya bersumber dari kekecewaannya sendiri. Renata memang berharap tadinya Julian menawarkan tumpangan di saat dia sulit mendapatkan taksi. Kalau s

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   66.

    Nyonya Cleda nyengir. Tapi senyum itu tampak tak bahagia, justru membuat Renata merinding."Julian sering cerita soal kamu.""Julian?" Renata tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Maksudmu Julian cooper atau Julian yang mana?""Itu... Yang memakai nama belakang, Cooper. Sebelum mereka---" Nyonya Cleda berhenti. Matanya liar ke arah pintu, dia seperti was-was.Mata Renata membulat seperti kelereng. Jantungnya berdetak sangat kencang saat Nyonya Cleda menyebutkan nama suaminya. Itu tidak mungkin sebuah kebetulan. Pasti ada sesuatu yang tidak diketahui selama ini.Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Ada hubungan apa Julian dengan Nyonya Cleda? Siapa Nyonya Cleda sebenarnya? Mungkinkah Julian menyembunyikan sesuatu darinya? Ya, dia harus tahu. Bagaimana caranya dia harus mengetahuinya, itu hanya bisa lewat Nyonya Cleda sendiri."Sebelum apa?" Renata menahan napas saat menunggu kelanjutannya. Dia bertanya sangat hati-hati agar wanita paruh baya itu mau memberitahu."Sebelum mereka

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   65.

    Hari itu Renata harus mengambil laporan hasil test darah neneknya di bagian laboratorium di rumah sakit. Lorong menuju laboratorium harus melewati area IGD. Renata sudah hafal jalan itu karena belakangan sering bolak-balik semenjak Ruth kontrol. Suasana rumah sakit selalu punya bau yang khas. Campuran antiseptik, lantai yang dipel disinfektan.Tetapi pagi ini ada yang berbeda. Dari kejauhan, Renata mendengar suara roda brankar berderit cepat di atas lantai keramik putih. Suara napas terengah-engah dari paramedis yang mendorong. Renata menoleh, entah kenapa dia tak pernah seterlalu penasaran dengan pasien di atas brankar itu?Seorang wanita paruh baya terbaring di atas brankar yang meluncur cepat menuju pintu ruang IGD. Rambut hitamnya berkibar acak, basah oleh keringat. Wajahnya terlihat pucat seperti kertas HVS. Tapi bukan itu yang membuat Renata bergidik. Kedua tangan wanita itu diikat ke sisi ranjang. Bukan memakai tali medis biasa, melainkan semacam strap lebar warna hitam

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   64.

    Klik, klak, klik, klak!Sepatu hak pendek Renata bergema pelan di lantai marmer. Lobi Rumah Sakit Jiwa itu ternyata elegan, tidak seram seperti bayangannya. Ada sofa putih, meja resepsionis dengan vas bunga segar. Bahkan musik instrumental pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Tapi ….Brak!!Suara pintu darurat di ujung lorong terbanting kasar. Teriakan menggema seperti bom yang meledak, keras.“Hey, jangan lari. Berhenti!”“Aku bilang berhenti!”Langkah kaki berat berlari seperti gempa. Renata cuma sempat menengok ke kiri sebelum dua sosok perawat laki-laki berpakaian seragam biru tua mengejar seseorang yang melesat seperti anak panah. Renata melihat sedikit pasien laki-laki itu yang rambutnya acak-acakan. Matanya liar, mengenakan jubah putih pasien yang berkibar-kibar ia melaju langsung ke arah dirinya. “Bu—!”Hampir. Tubuh Renata sudah oleng ke belakang, bersiap nyungsep ke lantai marmer yang dingin itu dengan tangan otomatis mengayun ke depan untuk menahan benturanNamun

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   63.

    Tubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 15. Telepon Misterius

    Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 10. Digilir

    "Aku punya tawaran yang lebih menarik darimu, Tuan Cooper," ucap Renata, suaranya kini tenang, hampir menggoda ketika turun sejenak ke bahunya yang masih dicengkeram oleh Julian. "Katakan." Julian melepas tangannya sambil memperhatikan posisi duduk Renata yang menyamping, menyilangkan kaki den

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 36. Sarapan Berbahaya

    Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, real

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 35. Lebih Manis Bibirmu

    Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status