MasukJulian tidak bisa menunggu lagi. Ia langsung menuju rumah sakit, tanpa menunggu banyak penjelasan dari asistennya karena firasatnya mulai buruk. Langit di atas kota London runtuh dalam kelabu pekat, menumpahkan rintik hujan yang berubah menjadi badai kecil sesampainya Julian di halaman utama rumah sakit. Mobil hitamnya berhenti dengan digital rem yang memekakkan telinga. Pintu mobil terbuka kasar, dan Julian berlari menembus hujan tanpa memedulikan jas mahalnya yang basah kuyup.Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan kepanikan luar biasa yang sejak tadi mencengkeram jiwanya sepanjang perjalanan dari gedung pengadilan. Panggilan telepon dari Jun barusan terus berputar di kepalanya bagai kutukan.Tapi tidak ada persiapan mental sudah siap apapun yang mampu menahan hantaman visual saat durian tiba Di pelataran IGD.Pernyataan Jun Chen kembali berputar-putar dalam ingatannya. "Anda harus kembali ke rumah sakit sekarang... Nyonya Cleda... beliau baru saja melompat dari lantai at
Ruang sidang utama Pengadilan Tinggi London berdengung oleh bisikan tajam para hadirin yang memenuhi bangku galeri. Cahaya matahari sore yang menembus jendela kaca patri raksasa membiaskan garis-garis keemasan di atas lantai marmer, menciptakan kontras yang dingin dengan ketegangan mencekam di meja litigasi.Julian berdiri kaku, napasnya memburu menatap wanita yang selama tiga tahun terakhir menjadi belahan jiwanya.Di hadapannya, di balik podium saksi dengan keanggunan yang luar biasa dan ketegasan yang menggetarkan dinding ruangan. Renata menegakkan bahunya, jemarinya yang lentik menggenggam erat secarik kertas berlabel resmi rumah sakit pusat. Suaranya melengking tenang, membelah keheningan yang mendadak membeku."Maaf Yang Mulia," ucap Renata, tatapannya tajam menghujam ke depan---menolak berpaling pada pria di sampingnya. "Anak ini..." Dia mengusap perutnya dengan jijik, "bukan anak Julian. Tapi anak dari saudara tiri saya, Devan... yang saat ini juga hadir di dalam persidangan i
Julian menatap dalam-dalam ke manik mata hazel milik Renata. sebentar lagi dia akan menyampaijan pertanyaan paling krusial yang menentukan nasib hidup mereka. Pria itu berlutut di samping tempat tidur, merangkul jemari Renata yang dingin dengan kehangatan yang amat gemetar. "Bicaralah jujur padaku, Rene... setelah semua hal yang terjadi. Soal rahasia bayi yang kini hadir di antara kita... Apakah kau masih ingin melanjutkan perceraian ini?" Renata terdiam. Julian melanjutkan ucapannya ketika Renata tak melepaskan genggamannya. "Ataukah... Kau bersedia memberiku kesempatan untuk mempertahankan pernikahan kita dan membiarkanku menjaga bayi ini bersama-sama?" Mata Renata seolah dipaksa meloncat dari retinanya. Tubuhnya membeku kaku di atas ranjang. Di balik pertanyaan romantis dan penuh ketulusan itu, Renata melihat kilatan duka yang aneh dan begitu dalam di celah iris mata Julian. Sebuah duka yang membingungkan, sebab seharusnya pria itu memancarkan binar kebahagiaan. Renat
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal pencernaan Nona Renata, Tuan Julian," tutur Dokter Aris dengan tenang. "Rasa mual dan kelelahan ini sama sekali bukan karena keracunan makanan." Dahi Julian berkerut dalam. "Lalu kenapa dia muntah-muntah sampai semerah itu?"Dokter Aris terkekeh pelan, merapikan kembali alat-alat medisnya ke dalam tas. "Itu adalah reaksi yang sangat normal untuk trimester pertama. Selamat Tuan Cooper... Istri Anda sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki Minggu keenam."DEG.Kata-kata itu bergema bagai dentum meriam di dalam kamar.Anak siapa?Renata membeku total di atas ranjang. Matanya bergerak perlahan menatap perut ratanya sendiri lalu beralih menatap Julian. DI ujung ranjang, tubuh tegap Julian tampak kaku sepenuhnya.Keangkuhan dan ketenangan yang biasanya melekat pada pria itu menguap tanpa sisa, digantikan oleh binar kebingungan, syok dan kebahagiaan liar yang meledak di matanya."Apa? Rene hamil?" pekik Ruth terlihat jelas kebahagiaan
Aroma sup asparagus yang gurih membumbung dari mangkuk porselen di tengah meja makan. Kehangatan yang langka menyelimuti ruang makan apartemen. Ruth duduk berdampingan dengan Cleda yang tampak begitu tenang menikmati makan malam. Namun bagi Renata, wewangian mentega dan rempah yang menguar dari meja justru terasa bagai racun yang memutarbalikkan isi perutnya."Kenapa denganku?" gumam Renata sambil membekap mulut.Sensasi mual yang mendadak menekan tenggorokannya membuat Renata membeku. Wajahnya yang semula memerah perlahan kehilangan warna, berubah pucat pasi dalam hitungan detik.Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun, Renata membanting sendoknya, bangkit tergesa-gesa dari meja makan lalu berlari kencang tanpa pamit menuju kamar mandi.Brak!Pintu kamar mandi tertutip rapat."Renata? Ada apa dengan anak itu?" pekik Ruth cemas, seketika menghentikan suapannya dengan mata membelalak panik.Nyonya Cleda meremas serbet di pangkuannya, menatap pintu kamar mandi dengan dahi berkerut tajam
Kecupan yang jatuh di atas kulit lehernya membuat Renata mendongak pasrah. Gairah telah membakarnya, membuatnya lupa diri jika komitmen yang sudah ia rancang sekian lamanya untuk tidak sudi disentuh Julian. Bubar.Sangat sial. Renata sulit menolak gairah yang Julian ciptakan. Sentuhannya, kecupannya, ciumannya dan permainannya itu sulit diterima logika. Tadi Renata menolak mentah-mentah, sekarang ketika Julian menciumnya dia membalasnya dengan liar.Di atas lantai basah, tubuh Julian menghangatkannya. Gerakannya mantap, menumbuknya hingga tersentak-sentak dipelukannya."Rene, aku mencintaimu," bisik Julian dengan keposesifan.Daun telinganya dibasahi dengan liurnya, Renata mendesahkan napas panjang dan melenguhkan rendah nikmat itu."Hanya... Sekali ini saja," balas Renata dengan nada suara yang terputus-putus.Julian menatap wajah wanita itu di atasnya, kedua tangannya semakin menggerakkan pinggul Renata cepat. Buah da
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua
Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.
Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama
Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang samb







