Share

Bab 2

Author: T. Hush
last update publish date: 2026-07-20 18:38:39

Perutku langsung terasa sesak oleh kecemasan saat kuraih mantel dan kunci mobilku. Aku berharap malam ini akan berbeda. Aku berharap akhirnya bisa memberi tahu Daniel tentang bayi kami.

Namun kenyataannya, aku kembali pergi ke rumah sakit demi dirinya.

Vanessa.

Wanita yang telah membalikkan hidupku sejak kembali dari London. Wanita yang merebut perhatian Daniel, kasih sayangnya, dan kini, sekali lagi, kesetiaannya.

Saat tiba di rumah sakit, cahaya putih dari lampu-lampu neon menyinari lorong yang dingin dan terasa begitu asing, namun juga begitu akrab. Tempat ini mengingatkanku pada entah sudah berapa kali aku datang ke sini demi Vanessa.

Begitu memasuki ruang tunggu, aku melihat Daniel mondar-mandir dengan wajah penuh kegelisahan.

Saat melihatku, wajahnya langsung menunjukkan kelegaan.

Namun itu bukan kelegaan karena istrinya telah datang.

Itu adalah kelegaan karena dia tahu aku akan menyelamatkan Vanessa lagi.

"Kamu harus segera donor darah," katanya tergesa-gesa sambil menarik tanganku menuju meja perawat.

"Daniel, tunggu," kataku, berusaha menghentikan langkahnya.

Namun dia bahkan nyaris tidak menoleh ke arahku.

"Vanessa membutuhkanmu, Tasha. Hanya kamu yang bisa menolongnya. Dokter bilang kondisinya kritis."

Dadaku terasa sesak mendengar kepanikan dalam suaranya. Namun pada saat yang sama, kata-kata dokternya sendiri kembali terngiang di kepalaku.

Tasha, kamu harus lebih banyak beristirahat. Jangan terlalu memaksakan diri, terutama dalam kondisimu sekarang.

"Daniel, aku sedang tidak enak badan," kataku lirih, berharap dia mau mendengarkan. "Aku... aku tidak bisa donor hari ini. Ini benar-benar penting."

Dia akhirnya berhenti dan menatapku. Alisnya berkerut bingung.

"Apa maksudmu, Tasha? Setelah donor, kamu bisa berobat. Memangnya ada alasan yang lebih penting daripada menyelamatkan nyawa Vanessa?"

Tenggorokanku terasa tercekat.

Aku menatap kedua matanya, ingin sekali mengatakan yang sebenarnya.

Bayi kita.

Namun aku tahu ini bukan saat yang tepat.

Bukan di sini.

Bukan sekarang.

Terlebih lagi, saat semua perhatian Daniel hanya tertuju pada Vanessa.

"Kumohon, Daniel. Cobalah mengerti. Aku benar-benar tidak bisa donor sekarang. Ini berbahaya untukku dan..."

"Berbahaya?" potongnya dengan nada tidak percaya. "Tasha, apa sebenarnya yang kamu bicarakan? Apa kamu menginginkan sesuatu? Uang? Katakan saja. Satu juta? Lima juta? Berapa pun yang kamu mau, akan kuberikan."

Mataku mulai berkaca-kaca.

Bukan karena uang yang dia tawarkan.

Melainkan karena sekali lagi dia gagal melihatku.

Dia tidak melihat ketakutan di mataku.

Dia tidak melihat kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimku.

Dia juga tidak melihat risiko yang sedang kuambil.

"Daniel..."

Suaraku bergetar saat menyebut namanya.

Namun suasana saat itu terasa terlalu berat.

Dia tidak akan mengerti.

Bagaimana mungkin dia mengerti jika seluruh pikirannya hanya dipenuhi keinginan untuk menyelamatkan Vanessa?

Setetes air mata mengalir di pipiku ketika aku akhirnya mengangguk.

Sekali lagi...

Aku memilih mengorbankan diriku.

Demi Daniel.

Demi Vanessa.

Dan demi anak yang bahkan belum diketahui ayahnya sedang tumbuh di dalam rahimku.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku mengikuti perawat menuju ruang donor.

Hatiku terasa begitu perih saat bersiap memberikan sebagian dari diriku kepada wanita yang sudah merenggut terlalu banyak dariku.

Jarum perlahan menembus kulit lenganku.

Aku memejamkan mata.

Air mataku akhirnya jatuh tanpa mampu lagi kutahan.

Setelah selesai mendonorkan darah, aku melangkah pelan menuju kamar Vanessa. Tubuhku terasa lemas dan seluruh tenagaku seolah terkuras, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Vanessa berbaring di ranjang rumah sakit. Begitu melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang samar, namun cukup jelas untuk membuatku muak.

"Oh, Tasha," ucapnya lembut dengan suara yang dipenuhi kepura-puraan. "Terima kasih sudah donor darah lagi. Tapi... kasihan sekali kamu, ya?"

Dia terkekeh pelan.

"Sayang sekali Daniel masih sangat peduli padaku, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu."

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang mengiris hatiku.

Namun aku menahan keinginan untuk berteriak.

Aku sudah tidak punya tenaga untuk meladeninya, tidak setelah semua yang baru saja kulakukan.

Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin memberitahunya tentang bayi ini, tentang kenyataan yang sama sekali tidak dia ketahui.

Tapi aku tidak bisa.

Bukan di sini.

Bukan dengan cara seperti ini.

Aku melangkah mendekatinya, memaksa diriku tetap tenang.

"Vanessa, kamu tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan," bisikku pelan sambil berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Daniel dan aku..."

Namun sebelum sempat menyelesaikan kalimatku, aku melihat perubahan di matanya.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Tetapi cukup untuk membuatku sadar bahwa dia sedang merencanakan sesuatu.

Kilatan licik itu muncul begitu saja.

Dalam sekejap, sebelum aku sempat bereaksi, Vanessa tiba-tiba menjatuhkan dirinya dari atas ranjang.

Bruk!

Tubuhnya menghantam lantai, disusul jeritan melengking yang sengaja dibuat dramatis.

Pintu kamar langsung terbuka dengan keras.

Daniel berlari masuk.

Matanya membelalak saat melihat Vanessa tergeletak di lantai sambil memegangi lengannya seolah-olah terluka parah.

"Vanessa!" teriaknya panik sambil berlari menghampirinya.

Aku bahkan belum sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Daniel langsung berbalik menatapku.

Wajahnya dipenuhi amarah.

"Apa yang sudah kamu lakukan padanya?"

Suaranya dipenuhi kemarahan dan ketidakpercayaan.

Aku menggeleng cepat.

"Daniel, aku tidak..."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Plak!

Rasa perih langsung menjalar ke seluruh wajahku.

Aku membeku di tempat.

Air mataku seketika menggenang saat tanpa sadar memegangi pipi yang terasa panas.

Aku bahkan tidak mampu memahami apa yang baru saja terjadi.

"Kamu benar-benar keterlaluan, Tasha," geramnya. "Aku tidak menyangka kamu tega melakukan hal seperti ini padanya setelah semua penderitaan yang sudah dia alami. Kupikir kamu masih punya hati nurani."

"Daniel... tidak... aku sama sekali tidak menyentuhnya. Dia... dia berbohong."

Suaraku bergetar hebat.

Namun Daniel sama sekali tidak mau mendengarkan.

Vanessa mengerang pelan dari lantai sambil memegangi lengannya.

Dia mendongak menatap Daniel dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah dialah korban yang paling menderita.

"Daniel..." bisiknya lirih. "Aku tidak tahu apa salahku sampai dia memperlakukanku seperti ini. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena dia sudah membantuku... lalu dia..."

"Cukup, Vanessa," seruku dengan suara bergetar karena marah dan sakit hati. "Kamu tahu persis apa yang sedang kamu lakukan. Dari dulu juga begitu."

Daniel memandang kami bergantian.

Sesaat wajahnya tampak bimbang.

Namun pada akhirnya, dia tetap memilih Vanessa.

Dia membantu wanita itu berdiri dengan hati-hati, lalu menuntunnya kembali ke atas ranjang.

"Beristirahatlah, Vanessa," ucapnya lembut.

Dia bahkan tidak melirikku sedikit pun.

"Kamu sudah terlalu banyak menderita."

Aku hanya bisa berdiri mematung, menyaksikan dia sekali lagi berpihak kepada Vanessa.

Sementara kebenaran yang ingin kusampaikan terasa tercekat di tenggorokanku.

"Aku sudah muak, Daniel. Mulai sekarang carilah pendonor lain. Aku ingin bercerai."

Kata-kata itu meluncur begitu saja sebelum sempat kutahan.

Semua beban yang selama ini kupendam, Vanessa, pengkhianatan yang terus berulang, dan pengorbanan yang tidak pernah berakhir, akhirnya menghancurkanku.

Aku sudah tidak sanggup lagi.

Rasa takutku pada Daniel lenyap seketika.

Keinginanku untuk terus mematuhi semua aturan yang dia buat juga ikut menghilang.

Aku sudah selesai.

Mata Daniel menyipit tajam.

Dia menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang kamu katakan," ujarnya dengan suara rendah yang terdengar mengancam. "Bercerai? Jangan mengada-ada."

"Bukankah memang itu yang kamu inginkan?" bentakku dengan suara bergetar. "Kebebasan untuk kembali bersama cinta pertamamu. Aku lelah, Daniel. Lelah terus berharap suatu hari nanti kamu benar-benar mencintaiku. Tapi kenyataannya, kamu tidak pernah mencintaiku."

Daniel melangkah mendekat.

Tatapannya dingin dan tajam.

"Aku harap kamu benar-benar sadar dengan ucapanmu, Tasha. Ingat baik-baik, di luar keluarga Sterling, kamu bukan siapa-siapa. Tanpa aku, kamu tidak akan memiliki apa pun."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 48

    Tatapan Daniel melunak, memperlihatkan campuran kelegaan dan keraguan yang memenuhi hatinya. Dia memberikan senyum kecil kepada Ethan.“Ya, buddy,” jawabnya dengan suara sedikit serak. “Aku akan mengajakmu ke taman hari Sabtu.”Wajah Ethan kembali berbinar, kesedihannya beberapa saat lalu langsung terlupakan. Dia berlari menghampiri Daniel dan memeluknya erat dengan kedua tangan kecilnya.“Terima kasih, Paman Daniel!”Ketika Ethan berlari pergi untuk bersiap tidur, suasana di antara orang-orang dewasa kembali berubah. Daniel melirik Robbin, yang kini memasang ekspresi netral dengan hati-hati. Robbin mengangguk kepada Daniel, tetapi ketegangan pada rahangnya mengungkapkan lebih banyak daripada yang bisa disampaikan kata-kata.“Terima kasih sudah bersedia menggantikanku,” kata Robbin dengan suara kaku. “Sampai jumpa besok.”Tasha hanya mengangguk. Segala sesuatu yang terbentang di antara mereka tidak perlu diucapkan karena semuanya sudah dipahami. Saat Robbin berbalik hendak pergi, dia

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 47

    Wajah Ethan langsung berbinar penuh semangat saat menatap Daniel. Suaranya terdengar begitu antusias ketika dia bertanya, “Apa kau bisa datang untuk makan malam? Masakan Mom enak sekali, dan dia berjanji akan membuat pasta dan ayam panggang. Kau mau datang, kan? Kumohon!”Daniel terdiam sejenak, melirik Tasha yang berdiri di belakang Ethan dengan tangan terlipat di depan dada, mengamati situasi yang sedang berlangsung. Dia bisa merasakan ketegangan Tasha, tetapi dia tidak sanggup menolak tatapan penuh harap di mata Ethan.“Maaf, buddy. Malam ini aku punya banyak pekerjaan,” bohong Daniel, berusaha menolak dengan lembut agar anak itu tidak terlalu kecewa. Namun, sebelum dia sempat mengatakan apa-apa lagi, mata Ethan mulai berkaca-kaca dan bibir kecilnya bergetar.Tasha segera menyela. Suaranya lembut, tetapi tegas. “Oh, Sayang, tentu saja dia akan datang. Benar, kan, Daniel?”Daniel menoleh kembali kepadanya dan menyadari bahwa Tasha bukan sekadar berusaha melindungi perasaan Ethan. Di

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 46

    Daniel mondar-mandir di apartemennya setelah percakapan singkatnya dengan Robbin, pikirannya dipenuhi berbagai macam hal. Dia harus berbicara dengan Venessa dan menyelesaikan semuanya untuk selamanya. Situasi dengan Tasha, kontes fashion, semuanya sudah berada di luar kendali, dan Daniel tahu Venessa ada di balik semua itu.Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Venessa.Datang ke sini. Sekarang.Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu. Saat Daniel membukanya, Venessa berdiri di sana dengan ekspresi percaya diri seperti biasanya, senyum sinis tersungging di bibirnya.“Ada apa, Daniel?” tanyanya sambil masuk tanpa menunggu dipersilakan.Rahang Daniel mengeras saat dia menutup pintu. “Kau tahu persis apa yang ingin kubicarakan.”Venessa mengangkat sebelah alisnya. “Oh? Ini tentang Tasha lagi? Sudah kubilang, dia tidak lebih dari sekadar gangguan.”Tatapan Daniel menggelap saat dia melangkah mendekatinya. “Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Kau sudah berm

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 45

    Tepat ketika Daniel hendak menghampiri Tasha, Robbin muncul dari samping dan memeluknya dengan penuh dukungan.“Kau luar biasa tadi!” serunya, suaranya dipenuhi kekaguman yang tulus.Tasha tersenyum, perasaan lega dan bahagia bercampur memenuhi dirinya. Sebelum sempat menjawab, Robbin mencondongkan tubuh dan mengecup pipinya sekilas, sebuah bentuk dukungan dan keakraban.Daniel berhenti. Hatinya sedikit tenggelam melihat pemandangan itu. Ia hanya berjarak beberapa langkah dari mereka, tetapi kini ia merasa seperti orang asing yang hanya bisa melihat dari kejauhan. Kehangatan hubungan mereka dan betapa mudahnya mereka berinteraksi menyalakan percikan kecemburuan dalam dirinya.“Robbin,” kata Tasha sambil sedikit memalingkan kepala untuk melihat Daniel, matanya menunjukkan sedikit kebingungan. “Aku tidak mungkin berhasil tanpa dukunganmu.”“Tentu saja! Kau adalah bintang pertunjukannya,” jawab Robbin dengan nada bercanda namun tulus.Ia kemudian berbalik dan baru menyadari keberadaan Da

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 44

    Lampu-lampu mulai meredup secara dramatis, sementara alunan musik yang lembut memenuhi ruangan, menciptakan suasana penuh penantian di antara para tamu. Para model mulai berjalan menyusuri runway satu per satu, masing-masing menampilkan desain memukau yang menunjukkan keahlian dan inovasi. Para penonton yang dipenuhi tamu-tamu penting, termasuk para investor dan kritikus fashion, menyaksikan dengan penuh perhatian. Setiap langkah, setiap tatapan, setiap gerakan para model diperhatikan dengan saksama, tetapi di balik semua itu, ketegangan terasa begitu kuat di udara.Bisikan-bisikan penuh kekaguman semakin terdengar keras setiap kali desain baru muncul. Namun, meskipun tepuk tangan terus bergema, masih ada rasa penasaran yang menggantung di udara. Semua orang tahu bahwa busana utama, mahkota dari seluruh koleksi itu, masih belum ditampilkan. Dan itulah yang sedang mereka tunggu.Di belakang panggung, kekacauan telah terjadi. Julia, model yang seharusnya menjadi pusat perhatian, duduk d

  • Tolong Kembali, Mantan Istriku   Bab 43

    Hari kompetisi fashion akhirnya tiba, dan suasananya terasa begitu menegangkan. Tasha telah bekerja tanpa kenal lelah bersama timnya untuk memastikan semuanya sempurna. Ini adalah momennya, kesempatannya untuk membuktikan kemampuan dirinya, dan ia tidak boleh membiarkan sesuatu pun berjalan salah.Saat para model sedang mengenakan pakaian mereka di belakang panggung, Tasha berkeliling memastikan setiap detail sempurna—riasan, rambut, hingga fitting pakaian. Robbin sempat datang untuk memberinya semangat, dan meskipun Daniel belum juga terlihat, Tasha berusaha untuk tidak membiarkan pikirannya tertuju kepadanya. Ini murni urusan pekerjaan.Semuanya berjalan lancar sampai salah satu asistennya berlari menghampiri dengan wajah pucat karena panik.“Tasha,” kata asisten itu terbata-bata, “terjadi kecelakaan. Julia, model utama kita, dia... dia patah hak sepatunya dan jatuh. Sepertinya kakinya terluka. Dia bilang dia tidak bisa berjalan.”Jantung Tasha serasa jatuh. Julia adalah model utama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status