Share

Chap 29 Inconvenience

Author: Strrose
last update publish date: 2026-08-25 13:00:52

Hanaya meletakkan cangkir porselen putih di samping lengan Silas dengan hati-hati, memastikan gerakan jarinya tidak menimbulkan suara dentingan sekecil apa pun yang bisa memancing kemarahan sang majikan. Aroma pekat kopi hitam itu segera menguap, berpadu dengan wangi khas kertas dokumen yang sejak tadi dibolak-balik oleh pria itu dengan tempo konstan. Dari gelagatnya, sepertinya hari ini sang Tuan besar tidak berniat pergi ke kantor; ia memilih mengurung diri dan mengubah ruang makan penthous

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 156 Gelora

    Deru angin laut Tyrrhenian menyapu lembut helai-helai rambut Hanaya saat mobil convertible antik yang mereka kendarai meliuk manis di sepanjang tebing Amalfi Coast.Di sebelahnya, Silas memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas menggenggam jemari Hanaya di atas paha, menautkan jemari mereka seolah tak ingin terpisah walau seincipun.Pemandangan laut biru membentang tanpa batas, berpadu dengan rumah-rumah bergaya Mediterania yang menempel indah di tebing karang. Suntingan sinar matahari sore Italia memberi kilau keemasan pada wajah Hanaya.Silas melirik istrinya sebentar, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan dominasi sekaligus kelembutan. "Suka pemandangannya?”Hanaya menoleh, menatap garis rahang tegas suaminya yang selalu berhasil membuat dadanya berdebar liar."Sangat suka, Silas. Tempat ini... seperti mimpi.""Ini bukan mimpi" bisik Silas seraya mengangkat tangan Hanaya ke bibirnya,

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 155 Hanya Ingin Lebih Lama Denganmu

    Ruang kamar utama dipenuhi oleh koper bernuansa leather yang telah terbuka di atas walk-in closet.Hanaya berdiri di depan lemari pakaian, memilih gaun kasmir longgar, pakaian pantai berbahan linen lembut, serta beberapa pakaian hangat untuk menghadapi udara malam di pesisir Italia. Sesekali, ia mengangkat sehelai pakaian, memeriksa bahannya, kemudian melipatnya dengan hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam koper.Rona bahagia tak pernah lepas dari wajahnya. Perjalanan ke Amalfi Coast merupakan sesuatu yang telah lama dinantikannya, terlebih karena kali ini ia akan menikmati waktu bersama Silas tanpa harus terus-menerus memikirkan pekerjaan atau urusan perusahaan pria itu.“Apa sesenang itu bulan madu?” Tanya SilasPria itu bersandar di bingkai pintu walk-in closet dengan kedua tangan terbenam di saku celananya, memperhatikan setiap gerak-gerik sang istri. Matanya tak pernah lepas dari lekuk tubuh Hanaya dan baby bump yang membuncit indah di

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 154 Ratunya

    Hanaya menyuapkan potongan pancake blueberry hangat ke dalam mulutnya. Rasa manis organik sirup mapel berpadu sempurna dengan kelembutan adonan buatan Robert yang meleleh di lidah, seketika menerbitkan senyum puas di wajah cantiknya."Enak?" tanya Silas rendah seraya memperhatikan setiap gerak-gerik wanitanya dengan binar mata yang hangat."Sangat enak," gumam Hanaya jujur sebelum meneguk sedikit susu hamil hangat dari cangkir porselen di sisinya. "Rasanya benar-benar tidak berubah sejak pertama kali aku memakannya di sini."Silas menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari terus memandangi istrinya yang menyantap sarapan dengan lahap. Bagi Silas, melihat Hanaya makan dengan tenang tanpa bayang-bayang ketakutan adalah pemandangan paling mewah yang mengalahkan pencapaian bisnis mana pun.Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Hanaya berniat mengangkat piring-piring kotor di atas meja. Namun, belum sempat jemarinya menye

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 153 Dimanja Sang Penguasa

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar utama penthouse, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei bernuansa champagne yang kusut. Udara di dalam ruangan masih dipenuhi aroma cedarwood maskulin dan kehangatan sisa-sisa pergulatan intim mereka.Hanaya berbaring menyamping, bersandar nyaman di atas dada bidang Silas yang bertelanjang dada. Napasnya sudah kembali teratur, meski rona merah di kedua pipinya belum sepenuhnya pudar. Jemari mungilnya mengusap secara acak garis-garis otot perut Silas yang keras, menikmati detak jantung suaminya yang berdetak stabil dan menenangkan.Silas mengusap punggung mulus Hanaya dengan jemari kokohnya, menyusuri lekuk tubuh wanitanya sebelum mendaratkan telapak tangannya di atas perut Hanaya yang membuncit mungil. Usapan lembut itu terasa begitu posesif sekaligus memuja."Masih sesak, wifey?" bisik Silas rendah, menyandarkan dagunya di puncak kepala Hanaya seraya mengecup rambut mewangi istrinya.Hanaya mendonga

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 152 Jatah Pagi Sang Sinclaire

    Hanaya terbangun karena napasnya yang terasa sesak. Sensasi hangat yang teramat pekat dan berat memeluk tubuhnya dari belakang, mengunci ruang geraknya begitu rapat hingga dadanya sulit mengembang sempurna.Dekapan lengan kokoh berotot Silas melingkar protektif di sekeliling pinggang dan perutnya, menempelkan punggung Hanaya tanpa sela pada dada bidang pria itu."Mmh..." desah Hanaya pelan, berusaha menggeser tubuhnya sedikit untuk mencari rongga udara. Jemari mungilnya mendorong pelan lengan tegap Silas yang bertengger kukuh di atas baby bump-nya. "Silas... sesak..."Hanaya mencoba melepaskan diri dari kungkungan erat itu, namun cengkeraman Silas justru refleks memadat secara alami dalam tidurnya, seolah enggan membiarkan wanitanya menjauh walau hanya satu milimeter."Silas, lepas dulu..." cicit Hanaya lagi, kali ini menyikut pelan pinggang suaminya.Kelopak mata Silas perlahan terbuka. Iris mata biru lautnya yang jernih seketika mengunci pandanga

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 151 Pemujaan Sang Penguasa

    Silas perlahan mendongak, menyusuri kembali keindahan wanitanya yang terhampar di hadapannya. Manik mata biru lautnya berkilat pekat, sarat akan gairah liar yang tak lagi mampu ditahannya, namun tetap dipenuhi binar kepemilikan dan pemujaan mutlak."Kau siap untuk malam pertama pernikahan kita, sunshine?" bisik Silas rendah dan parau, suaranya bertindak bagai getaran mendalam yang langsung menusuk ke pusat kesadaran Hanaya.Hanaya tak sanggup menjawab dengan kata-kata. Napasnya tercekat, manik matanya berkabut pasrah saat ia memberikan anggukan pelan, menarik tengkuk Silas semakin merapat.Jawaban itu seketika meluruhkan sisa pertahanan diri Silas. Tanpa menunggu sedetik pun, pria itu meluncurkan posisinya turun ke bawah. Jemari kokohnya menyingkap sisa kain yang menghalangi, memiringkan paha mulus Hanaya dengan gerakan protektif namun penuh dominasi mutlak."Mmh... Silas!" jerit Hanaya tertahan, jemarinya seketika meremas sprei sutra di bawahnya erat-era

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status