LOGINDi buku tersebut, diceritakan bahwa putri mahkota, sang karakter utama, sempat menyelamatkan peri dalam salah satu ekspedisinya ke suatu wilayah di kekaisaran.
Setelah itu, sang putri mahkota berteman dengan peri tersebut. Diceritakan putri mahkota menjadi salah satu manusia yang berhasil berteman dengan peri. Para peri itu sangat pemalu, tinggal di titik terpencil di kedalaman hutan, dan nyaris tidak pernah menunjukkan diri. Saat acara ulang tahun semakin dekat, putri mahkota mengundang peri tersebut untuk datang. Namun peri itu datang setelah kematian Lunara ketika putri mahkota sendirian di kamarnya dan dia memberikan kalung sihir. Sekarang kalung sihir itu jatuh ke tangan Lunara. Nenek sihir itu memperhatikan kalung yang diambil Lunara di dekat pohon. Hari sudah hampir gelap. Mereka mencarinya sangat lama. "Anda harus membayar berkali-kali lipat," kata nenek sihir itu. Lunara menoleh ke nenek sihir itu. "Tentu saja," ucap Lunara. "Tetapi bisakah kau mengantarkanku ke istana kekaisaran utnuk memberikan hadiah ini kepada putri mahkota? Aku tidak bisa menyerahkannya kepada sembarangan orang khawatir mereka mencurinya karena ini sangat berharga." Sebab kalung itu berpengaruh besar ke peperangan di masa depan. "Jika lady membayarku lebih banyak, maka aku bersedia," kata nenek sihir itu. Setelah mendapatkan bayaran dar Lunara, nenek sihir itu terlebih dahulu memeriksa koin emas dari Lunara, khawatir itu palsu. Lady satu ini nyaris tidak mendapatkan banyak kepercayaan dari orang-orang karena sifat dan perilakunya yang sangat buruk. Namun setelah mengetahui koin emas itu asli, akhirnya nenek sihir itu setuju. "Aku berjanji," kata Lunara. Lunara menatap ke mata nenek sihir itu begitu dalam. "Kalau terlambat, bisa menjadi masalah. Aku sudah tidak membawa koin emas lagi dan harus mengambil terlebih dahulu di rumah tetapi aku tidak punya banyak waktu," kata Lunara. "Kenapa lady tidak menjadi penyihir saja? Tampaknya lady sangat antusias sejak memasuki hutan untuk mencari hadiah untuk putri mahkota. Di matamu, terlihat kau suka melakukan sesuatu," kata nenek sihir itu. Lunara sejujurnya sangat bahagia bertransmigrasi menjadi Lunara Windmere yang tinggal di dunia fantasi. Lunara berharap melihat peri tetapi dia tidak melihatnya. Dia terbang bersama seorang penyihir. Di kehidupan sebelumnya, dia bahkan tidak pernah naik pesawat. Ini saja sudah sangat bahagia. Lunara menantikan petualangan di dunia ini. Wnaita itu menunjukkan senyum manisnya. "Terima kasih nona penyihir," kata Lunara. Penyihir itu terdiam. Entah apa yang dia pikirkan. Penyihir itu yang tinggal di wilayah yang sama dengan Lunara telah mendengar banyak keburukan Lunara. namun setelah bertemu dengannya langsung dan melakukan perjalanan bersama, berita-berita itu tampaknya tidak benar atau dia masih belum tahu begitu jauh. Seseorang mudah menyembunyikan sifat buruk mereka. "Aku akan mengujinya," batin penyihir itu. "Aku bersedia lady asalkan kau menepati janji, akan membayar dengan jumlah yang sama yang pertama kali kau berikan kepadaku." Lunara tersenyum sumringah. "Terima kasih banyak." Mereka akhirnya pergi ke istana putri mahkota dimana acara ulang tahun tinggal menunggu satu jam lagi. Langit malam penuh bintang. "Bisakah kau yang menyerahkannya?!" tanya Lunara pada penyihir itu. "Kenapa lady tidak menyerahkannya sendiri?!" "Tidak mungkin bertemu dengannya setelah mengirimkan surat tidak bisa hadir," jawab Lunara. "Kalau begitu letakkan saja di kamarnya!" "Ide bagus." Akhirnya penyihir itu mengarahkan sapu terbangnya ke kamar putri mahkota yang berada di lantai atas dekat menara. Saat mereka terbang, Lunara memperhatikan cahaya keemasan dibawah. Ada begitu banyak orang. Tampan yang sangat indah penuh ribuan bunga dihias dengan sihir cahaya keemasan. Lunara tidak menyadari seseorang memperhatikannya melintas. Orang itu berambut coklat gelap dan memiliki mata hijau yang tajam. Wajahnya rupawan. Dia memegang segelas minuman. "Berani sekali mereka melintas diatas kediaman putri mahkota, mereka pasti akan mati," ucap orang itu. Sementara itu, penyihir yang membawa Lunara merasa ada yang tidak beres. "Lady, sepertinya kedatangan kita ketahuan," kata nenek sihir itu. Lunara yang sibuk memperhatikan bawah pun menyadari sesuatu. Buku itu tebal dan beberapa narasi tidak masuk ke dalam ingatan Lunara jadi ada beberapa informasi yang terlewat tetapi setelah ucapan penyihir yang membawanya itu, Lunara jadi menyadari bahwa obsesi duke Aldridge itu pada putri mahkota tidak cuma dinarasikan dengan kalimat saja tetapi juga diperlihatkan tindakannya. Salah satu yang dilakukannya adalah mengerahkan sihir pendeteksi yang begitu besar di lingkungan kediaman putri mahkota. Lunara sangat ketakutan usahanya sia-sia jadi saat mereka dekat dengan menara, Lunara melempar hadiah itu. "Ayo kita pergi secepat mungkin!" teriak Lunara. Penyihir itu pun berbalik dan sapu terbang melaju kencang. Hadiah itu jatuh ke balkon ruangan dimana pesta diadakan tidak cuma di lantai bawah.Yeshe, yang sedang memperhatikan putri mahkota dari kejauhan dan dibalik kerumunan orang-orang, dihampiri oleh salah satu prajuritnya.
"Tuan duke, tampaknya ada penyihir yang masuk secara ilegal. Dia terbang sangat tinggi."
Yeshe langsung keluar setelah menyerahkan minumannya kepada pelayan.
"Sudah sampai mana pengejarannya?!"
Yeshe bersiap mengejar penyihir itu tetapi seorang bawahannya yang merupakan salah satu penyihir terbaik di kekaisaran terbang ke arahnya seraya membawa sebuah kotak kado.
"Tidak perlu dikejar, tuan duke. Tampaknya penyihir itu adalah temannya putri mahkota dan dia cuma ingin menyerahkan hadiah ulang tahun padanya."
Yeshe menatap kotak hadiah itu dengan penuh curiga.
"Marquis Zane, naga putih telah kembali. Tuan muda Arzu memerintahkan para pasukan untuk bersiap-siap kembali ke Everest," ucap seorang pengawal melapor kepada Marquis Zane yang sedang duduk di dalam rumah sewa itu sambil menekan keningnya yang pening. Zane langsung menemui kedua anaknya yang sibuk di depan. "Marquis Zane, aku sudah mendengar soal Lunara. Apakah dia-" Zane langsung menampar Arzu. Tentu saja seketika Arzu berhenti berbicara. Ayahnya jelas-jelas memotong ucapannya dengan tindakan kasarnya itu. Ketara sekali dia tidak membiarkannya berbicara lebih lanjut. Arzu sempat tidak percaya bahwa Zane benar-benar bernegosasi dengan kaisar terkait naga putih milik Lunara hanya karena tidak ingin Lunara terlibat hal-hal berbahaya. Tetapi ternyata dia benar-benar serius. Dia terlihat sangat marah mendengar kenyataan bahwa mereka membawa kembali naga putih milik Lunara. "Apa yang kau lakukan? Kau datang ke hadapan kaisar dan mengambil naga yang telah disepakati untuk dip
Arzu berdiri tegak di hadapan Putri Mahkota Delayna. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajah jenderal muda itu, hanya ada tatapan dingin yang dipadu dengan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Angin dingin mengibarkan jubah perangnya, membawa bau amis darah dari pertempuran singkat yang baru saja usai di sekeliling mereka. "Putri Mahkota Delayna," panggil Arzu dengan suara tenang yang menggema di area terbuka tersebut. "Sangat disayangkan Anda harus mengotori gaun indah Anda dengan menapak di tanah berdarah ini. Namun, mengenai naga putih ini... kurasa Anda terlambat." "Jenderal Arzu Windmere!" pangkas Delayna dengan napas memburu. Matanya menyipit murka menatap tubuh-tubuh penyihir kekaisaran yang tergeletak tak berdaya di sekitar rantai-rantai sihir yang kini telah hancur. "Kau telah melakukan pengkhianatan terang-terangan! Menyerang penyihir istana dan berusaha melarikan naga putih ini adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi! Kaisar tidak akan pernah membiarkan keluarga
Lune memperhatikan pasukan yang mengawasi naga putih. Entah bagaimana, para penyihir profesional kekaisaran sudah berjaga di depan naga putih. Mereka merantai naga putih itu. Lune tidak yakin dia akan menang. Tidak seperti Lunara dan Arzu, dia tidak punya banyak kemampuan. Sihirnya juga sebatas itu saja meskipun dia termasuk murid pintar dari akademi ternama tetapi bukan berarti dia yang paling pintar. "Arzu seharusnya cepat datang bukan?" "Lady Lune. Ada perintah dari putri mahkota. Jika kau tidak ingin mati, maka mundur saja!" titah penyihir itu dengan tatapan tajam. Lune mendecih. "Kalian para perampas, kalian pikir akan menang?" tanya Lune kemudian tertawa kecil. "Jangan bertindak gila, lady Lune. Cukup adikmu saja yang gila. Kau masih waras, tidak seperti adikmu. Jadi bertindaklah sebagaimana mestinya maka kau akan aman," ucap seorang penyihir yang diam-diam naksir Lune dari lama. Lune menatap penyihir itu dengan tatapan yang sangat dingin. "Jangan bicara
Hening mendadak menyergap aula utama. Kalimat Arzu barusan bagaikan pedang bermata dua yang disabetkan tanpa keraguan—menghantam tepat di ulu hati reputasi keluarga Aldridge sekaligus menyentil keengganan pihak istana. Sindiran yang dibalut pengakuan dosa secara terbuka itu membuat para bangsawan yang duduk di sekitar meja besar saling pandang dengan cemas.Suasana yang tadinya hangat karena pembahasan strategi dan negosiasi perdamaian, kini berubah menjadi medan pertempuran tak kasatmata.Yeshe tidak langsung membalas. Sorot matanya yang semula hanya menyipit, kini memancar dingin bagai danau es di puncak musim dingin. Rahangnya mengeras halus, mempertahankan wibawa seorang Duke yang tak boleh goyah hanya karena provokasi verbal. Namun, di dalam dadanya, ada denyut amarah dan rasa penasaran yang teramat sangat. Kekasih? Sejak kapan Lunara memiliki kekasih?"Jenderal Arzu," suara Yeshe mengalun pelan, namun berbobot. "Masa lalu adalah bagian dari catatan taktik militer saat kita berad
Tentu saja disana ada Yeshe Aldrdige. Pria itu memperhatikan Arzu dan segera menyapanya dengan ramah. "Ada apa jenderal?" tanya Vinsent dengan nada ada sedikit ketegasan disana. "Yang mulia, mengapa kau menahan naga putih? Tolong kembalikan naga putih itu kepada lady Lunara. Kami sudah berjanji untuk tidak melakukan pengkhianatan untuk kedua kalinya jadi yang mulia seharusnya bisa mengembalikan naga putih itu kepada lady Lunara," kata Arzu dengan nada tegas dan penuh desakan. Vinsent tidak langsung mengatakan sesuatu. Justru dia beralih menatap para bangsawan yang duduk disekitarnya. Termasuk Yeshe. "Naga yang diklaim baik oleh bangsawan, rakyat, maupun pengembara yang tinggal di kekaisaran ini akan sepenuhnya menjadi milik kekaisaran, untuk kepentingan bersama. Bukan berarti kami merampasnya begitu saja, jenderal Arzu. Naga itu tetaplah dikendarani oleh Lady Lunara," kata salah satu tetua. Arzu menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Adikku berencana melakukan per
"Vezerg memang dikabarkan punah oleh sebagian besar botanis kekaisaran, Raga," Profesor Heinz menghela napas berat, matanya menatap cemas ke arah Lunara yang masih terbaring lemah dengan peluh dingin di keningnya. "Namun, catatan kuno di perpustakaan rahasia akademi menyebutkan bahwa tanaman itu masih tumbuh secara terisolasi di celah-celah tebing beracun perbatasan selatan. Tanaman itu menyerap racun di sekitarnya dan mengubahnya menjadi energi pemurni yang mampu menghancurkan inti sihir gelap." Zane bangkit dari tempat duduknya, raut wajahnya kembali mengeras penuh wibawa seorang Marquis. "Aku akan mengirimkan pasukan elite Windmere ke perbatasan selatan sekarang juga. Berapa pun biayanya, tanaman itu harus dibawa ke sini." "Jangan, Marquis Zane," potong Raga dengan cepat. "Pasukan elite yang bergerak dalam jumlah besar ke perbatasan selatan akan memicu kecurigaan pihak istana, terutama Putri Mahkota. Jika dia tahu kita sedang mencari penawar untuk sihir gelap ini, dia akan meny
Darah dimana-mana. Lunara kesakitan luar biasa karena banyak tusukan di badannya yang dilakukan oleh Tristan, kekasihnya yang sangat dicintainya itu setelah dirinya memergokinya selingkuh dengan teman dekatnya, Zee. Sementara itu, Tristan sibuk berkemas dan mengambil barang-barang berharga Lun
"Nona penyihir, bagaimana kalau menyicil membayarnya? Aku perlu bekerja dulu," ucap Lunara dengan sorot mata penuh harap pada nenek sihir itu.Luar biasa. Si penyihir itu tidak pernah membayangkan akan menyaksikan keadaan dimana Lunara meminta seperti ini padanya.Dan apa yang dia katakan? Bekerja
Yeshe membaca potongan surat tersebut. Aku harap kamu menyukai hadiah dariku, tuan putri. Maaf jika aku hanya memberikan sebuah kalung tetapi aku benar-benar bekerja keras soal kalung ini. Yeshe menyipitkan kedua matanya. "Mana sisanya?" tanya Yeshe ke penyihir itu. Penyihir itu menggelengkan k
Di hari ulang tahun putri mahkota, bukannya bersiap agar tampil paling cantik, Lunara malah sibuk bersiap-siap pergi. "Ada apa ayah?!" Zane Windmere sangat kaget setelah mendengar dari para pelayan kalau putrinya justru mengirimkan surat ketidakhadirannya di ulang tahun itu. Padahal dia sudah me







