LOGINYeshe membaca potongan surat tersebut.
Aku harap kamu menyukai hadiah dariku, tuan putri. Maaf jika aku hanya memberikan sebuah kalung tetapi aku benar-benar bekerja keras soal kalung ini. Yeshe menyipitkan kedua matanya. "Mana sisanya?" tanya Yeshe ke penyihir itu. Penyihir itu menggelengkan kepalanya. "Bahkan dengan sihir kami, kami tidak bisa menyusun kembali kertas yang melebur itu." Yeshe juga punya sihir yang sangat besar. Setiap kali dia mengayunkan pedangnya, akan ada sihir yang menyelimuti pedangnya dan melakukan penghancuran terhadap apa yang dia serang. Yeshe menoleh ke putri mahkota Delayna. "Menurutmu siapa penyihir yang mengirimkan hadiah di luar pengawasanku?" tanya Yeshe. Putri mahkota Delayna terdiam. Dia tampak berpikir keras. Berapa kalipun dia berpikir, dia tidak bisa menemukan jawabannya. "Rasanya tidak ada," jawab putri mahkota pada akhirnya. Putri mahkota langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Tuan duke bilang dia tidak memberikan hadiah apapun tetapi tampaknya dia memberikan hadiah. Mana hadiahnya? Aku ingin lihat!" sentak putri mahkota. "Aku berjanji akan menyerahkannya kepadamu setelah memastikannya aman," ucap Yeshe. Putri Delayna mengehela nafas. Dia sudah terbiasa dengan sikap protektif Duke Aldridge. "Ya sudah bawa saja hadiahnya ke pusat penelitian!" titah putri mahkota lalu kembali ke teman-temannya. Yeshe mengangggukkan kepalanya. Yeshe tidak langsung membawanya ke pusat penelitian. Yeshe justru tetap menyimpannya. "Perintahkan seorang mata-mata untuk pergi ke Voidwood dan memata-matai Lady Lunara!" titah Yeshe pada penyihir kekaisaran itu. Penyihir itu mengernyitkan alisnya. "Apakah tuan duke berpikir kalau Lady Lunara adalah yang memberikan kalung itu? Dia bukan seorang penyihir. Ditambah kalung itu punya sihir yang begitu besar. Mustahil dia yang memberikannya. Pandai besi mana yang dia datangi dan penyihir darimana yang dia bujuk untuk memberikan sihir ke kalung itu?" "Itu masih belum bisa dipastikan." "Apakah anda mencurigai Lady Lunara hanya karena dia tidak datang? Bahkan jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan, itu pasti hanya untuk menarik perhatianmu, jadi bukankah sebaiknya diabaikan saja?" tanya penyihir itu dengan tawa kecil remehnya. "Dia bisa menjadi sangat merepotkan. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Sekecil apapun masalahnya, aku harus mengatasinya," tukas Yeshe. "Baiklah tuan duke," jawab penyihir itu kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Duke Aldridge. Penyihir itu berpikir di perjalanan bahwa tidak mungkin Lunara Windmere yang memberikan hadiah itu pada putri mahkota. Sebab Lunara Windmere selain arogan dan sombong, dia juga bodoh. Tindakannya hampir semuanya dilakukan tanpa pikir panjang. Semua orang tahu kebenciannya pada putri mahkota mengerikan. Keluarganya juga diambang kehancuran karena rusaknya kepercayaan kaisar kepada keluarganya yang disebabkan oleh kebencian keluarga itu pada keluarga kaisar. Penyihir itu mendatangi seorang mata-mata kekaisaran yang profesional. "Apa?! Pergi ke kediaman keluarga Windmere cuma untuk cari tahu putri bungsu keluarga itu?" "Ini adalah perintah dari Duke Yeshe." Mata-mata itu mengenakan pakaian serba hitam dan auranya seperti pembunuh bayaran. Wajahnya rupawan dengan rambut hitam dan mata biru yang berkilauan. "Kenapa orang itu memerintahkan tidak penting seperti itu?" "Lady Windmere mengirimkan surat kepada putri mahkota. Dia meminta maaf. Itu saja sudah aneh. Makanya tuan duke ingin kau memata-matai dia sekarang juga." Mata-mata itu menghela nafas. Duke Aldridge sangat merepotkan kalau keinginannya tidak dituruti jadi mau tidak mau mata-mata itu pergi. Dia berubah menjadi monster yang mirip serigala dan melesat ke keheningan malam menuju kediaman keluarga Windmere. Saat itu, seluruh keluarga Windmere tidak ada yang menghadiri acara ulang tahun putri mahkota. Padahal kaisar telah mengundang mereka. Itu dikarenakan, ayah Lunara, pemimpin keluarga mengkhawatirkan putrinya yang tidak kunjung pulang dan telah menyuruh beberapa pengawal untuk mencarinya. Arzu Windmere, jangan ditanya lagi. Dia berpikir Lunara, adiknya telah melakukan sesuatu di acara ulang tahun putri mahkota. Dia bilang tidak akan datang tetapi itu pasti cuma omong kosong. Pasti dia lagi membuat masalah disana dan dia tidak ingin terseret masalah jadi dia memutuskan untuk diam di kediamannya sambil berjaga-jaga untuk kabur jika terjadi sesuatu.Lune, kakak kedua Lunara memasuki kamar Arzu dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Dimana sebenarnya Lunara?!" tanya Lune kesal.
Arzu menoleh ke Lune dan menjawab dengan nada yang sinis, "Tidak tahu. Tanyakan saja pada ayah."
"Bocah sialan itu," geram Lune.Tiba-tiba seorang pelayan berhenti di pintu kamar dan memberitahu Lune bahwa Lunara telah pulang.
Lune langsung bergegas ke depan disusul Arzu.
"Lunara, kamu dari mana saja?" tanya Zane menghampiri putrinya dengan terburu-buru. "Ayah, boleh minta koin emas lagi untuk penyihir ini?" tanya Lunara seraya menunjuk ke nenek sihir yang mengenakan jubah hitam itu.Zane diam sejenak lalu menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan banyak koin emas tetapi saat mereka akan mengambil, Arzu menghentikan tindakan mereka.
"Berani sekali kau dengan seenaknya menghabiskan harta keluarga. Jangan melampaui batas, Lunara!" tukas Arzu tajam seraya menunjuk wajah Lunara.Lunara tetap tenang.
Mata-mata yang dikirimkan oleh Yeshe akhirnya tiba di dekat kediaman keluarga Windmere. Dia mulai menyusup dan berpura-pura menjadi pengawal keluarga itu.
"Aku akan menggantinya nanti. Tenang saja," ucap Lunara santai. "Tidak akan ada yang percaya kepadamu. Gunakan uangmu!" tukas Arzu Windmere. "Arzu, hentikan! Kau semakin semena-mena terhadap adik kandungmu sendiri, dimana otakmu?" tanya Zane Windmere dengan nafas memburu dan mata melotot. Lunara sudah tidak mampu lagi membayar penyihir yang dia mintai tolong. Penyihir itu mengatakan sebelumnya jika dia tidak dibayar lagi, maka penyihir itu terpaksa memberikan kutukan pada Lunara."Untuk memberikan ini kepada lady."Lunara tentu saja masih ingat dengan sangat jelas mengenai kehidupannya sebelumnya. Acara lamaran biasanya dihadiri oleh hampir seluruh anggota keluarga dua pihak. Meskipun keadaan itu rasanya tidak akan pernah terjadi karena Lunara juga tidak berhubungan harmonis dengan keluarganya. Sementara Yeshe datang berencana melamar tetapi dia cuma datang sendirian bersama para pengawalnya. Masa bodoh. Lunara tidak akan pernah menjadi pasangan Yeshe. "Tuan duke, untuk sekarang, aku belum tertarik dengan pernikahan. Ada banyak mimpi yang ingin kugapai," ucap Lunara menatap dingin pada cincin itu. Cincin itu, sangat untuk. Kristalnya tampak berkilauan dan terkadang menyala, kadang-kadang mengeluarkan partikel-partikel yang terlihat cantik. Secantik itu tetapi demi keselamatan diri dan keluarga, Lunara tetap akan menolak dengan tegas. "Aku mengerti. Ayah dan kakakmu sudah bicara denganku. Tetapi aku harap kamu menerima cincin ini, anggaplah sebagai hadi
"Hati-hati di jalan Duke Aldridge," ucap Lunara seraya menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya. "Kau seharusnya memanggilnya tuan duke," ucap Arzu. Lunara menarik nafas dan tersenyum tipis. "Maaf. Hati-hati di jalan tuan duke," kata Lunara. Duke Aldridge memperhatikan Lunara. Lunara tahu kalau dia sedang diamati. Sesuai yang ia duga, Duke Aldridge mencurigainya. "Terima kasih Lady Luna. Tetapi sebelum aku pergi, ada yang ingin kutanyakan dan lady harus menjawabnya dengan jujur," ucap Yeshe ramah. Lunara diam sejenak. "Apa yang ingin dia tanyakan? Aku harap aku tidak salah menjawab. Meskipun dia senyum ramah begitu, rasanya dia bisa mengayunkan pedangnya yang diselimuti sihir kegelapan itu kapan saja," batin Lunara. "Tentu saja tuan duke. Mana mungkin aku berani berbohong kepada tuan duke yang terhormat," kata Lunara. Arzu dan Zane mengangguk-angguk mendengar ucapan Lunara karena menurut mereka, Lunara menjawab dengan jawaban yang tepat. "Kalung berisi sihir yang b
Di buku itu, Lunara tidak pernah bertemu dengan Allan Asier. Intinya, keduanya tidak pernah dalam ranah yang sama. Allan Asier sempat datang ke kekaisaran untuk membicarakan soal perdamaian tetapi Lunara tidak ada disana. Para penjahat yang bersekongkol dengan keluarga Windmere, cukup jauh dengan Allan Asier. Allan Asier menganggap mereka kacau dan tidak pantas untuk diajak bekerja sama meski raja disana menginginkannya. "Aku memang tidak pernah melihatnya secara langsung tetapi aku sering mendengar cerita tentangnya. Dia adalah seorang jenderal perang yang terhormat," ucap Lunara. "Bagaimana bisa menyukai seseorang kalau tidak pernah melihatnya secara langsung Lunara," ucap Lune seraya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan adiknya."Bahkan jika dia dikabarkan sebagai jenderal perang yang terhormat, bukan berarti aslinya seperti itu. Bagaimanapun, dia berada di pihak musuh. Kalian tidak akan pernah bisa bersama. Atau kau justru ingin kita semua bergabung dengan kekaisa
"Tuan duke, maafkan putriku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia sedang sakit jadi sikapnya berubah drastis," ucap Zane. "Jika kamu berkenan, aku akan langsung memanggilkan dokter kekaisaran untuk datang kesini dan memeriksa Lady Lunara," ucap Yeshe. Lunara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu! Kau tidak perlu sampai melakukan itu, Duke Aldridge."Yeshe melebarkan kedua matanya sedikit. Sebelumnya, Lunara selalu memanggilnya tuan duke tetapi sekarang dia memanggilnya Duke Aldridge. Masa perubahan sikap karena sakit sampai seperti itu? "Aku akan melakukannya jika aku ingin melakukannya," kata Yeshe ramah. "Tuan duke tidak bermaksud meremehkan dokter keluarga kami kan?" tanya Arzu ramah. "Lunara tidak pernah diperiksa oleh dokter kekaisaran. Yang paling mengenalnya sejak kecil adalah dokter keluarga kami. Beliau lebih mengerti ketimbang dokter kekaisaran," ucap Lune. "Dokter kekaisaran adalah dokter terbaik di kekaisaran ini. Ilmunya lebih banyak daripada dokter keluarga kali
Lunara akhirnya berhasil menghindari malam kematiannya. Namun jalan ceritanya juga berubah. Duke Aldirdge seharusnya tidak pernah datang ke kediaman keluarga Windmere seperti ini. Dan apa yang Lunara dengar baru saja? Melamar? Duke Aldridge melamarnya? Mustahil. "Menurut kakak, apa yang dia inginkan?" tanya Lunara cemas. Arzu berpikir sejenak. "Kau tanpa pikir panjang menerima para penjahat itu di wilayah kita. Apakah pernah kau berpikir kalau Duke Aldridge mengetahuinya?" tanya Arzu. Lunara memperhatikan Duke Aldridge yang tengah bicara dengan ayahnya. Lunara menganggukkan kepalanya. "Dia mengetahuinya sejak awal."Di buku tersebut, Duke Aldridge yang teliti, segera mengetahui gerak gerik keluarga Windmere. Makanya dia menciptakan permusuhan dan pengkhianatan di dalam keluarga ini. "Kalau begitu ucapanmu benar. Kemungkinan besar, dia sedang menjalankan rencana untuk menghabisi kita semua.""Tentu saja! Itu akan terjadi!" ucap Lunara cepat. Arzu memejamkan matanya. Dia tidak
"Lihat saja ke depan! Para pelayan sibuk memasukkan hadiah-hadiah dari Duke Aldridge untuk lady!" ucap ksatria itu. Alih-alih percaya pada ucapan ksatria ini, Lunara malah curiga telah terjadi sesuatu di depan sana.Ksatria ini barangkali telah bersekongkol dengan Duke Aldridge untuk menemukannya lalu disuruh berbohong kepadanya soal hadiah supaya memancingnya keluar. "Seolah-olah aku akan menemuinya di depan," batin Lunara. Ksatria itu memperhatikan Lunara yang langsung berbalik dan menjauh ke dalam rumah begitu saja. Lunara bergegas mencari senjata untuk berjaga-jaga. Pedang terlalu berat baginya. Dia juga tidak pernah menyentuhnya sebelumnya. Dia mengambil belati perak. "Anggota keluargaku yang baru tidak sudah mati semua kan?" batin Lunara cemas. Lunara membuka jendela di kamarnya setelah mengambil jubah berwarna coklat dan dia langsung menutupi kepalanya dengan tudung jubah. Lunara melompat ke luar jendela dan berlari kecil menuju gerbang samping. Para pelayan yang tengah







