登入Semua hadiah untuk putri mahkota harus melewati Duke Aldridge yang terkenal kejam yaitu Yeshe.
Tapi, ada memberikan hadiah pada putri mahkota diam-diam seolah-olah menghindari pengawasan Yeshe. Berani sekali.
Yeshe mengerahkan pedangnya ke kotak hadiah itu kemudian menyeragnya hingga kotak itu hancur tak berbentuk.Tidak ada yang terjadi.
"Sebuah kalung," ucap penyihir yang membawa kotak hadiah itu.Yeshe mengambil kalung itu. Dia menyipitkan kedua matanya.
"Kalung ini, punya sihir yang sangat besar. Siapa penyihir yang memberikan kalung ini pada putri mahkota?" Yeshe beranya-tanya sendiri.Putri mahkota yang sedang bersama teman-temannya di dalam telah mendengar mengenai apa yang sedang terjadi di luar. Dia pun langsung menyusul Yeshe.
"Tuan duke, apa yang terjadi?" tanya putri mahkota.Yeshe menyimpan kalung tersebut di saku pakaian bangsawannya.
"Ada penyihir yang iseng mengirimkan hadiah padamu tetapi ternyata hadiahnya tidak ada," ucap Yeshe.
Putri mahkota mengernyitkan alisnya. "Banyak penyihir yang mengirimkan hadiah kepadaku kan?" tanya si putri mahkota.Yeshe menganggukkan kepalanya. "Tetapi dia ini mengirimkan di balkon atas jadi melewati pengawasanku. Menurutmu siapa penyihir yang melakukan cara ini?"
"Apa? Balkon lantai atas?" tanya putri mahkota. "Apakah kau tidak bisa memikirkannya sama sekali?"Putri mahkota mengangguk. "Aku tidak bisa membayangkan siapa penyihir itu apalagi menebaknya."
"Baiklah. Sudah kau tenang saja. Nikmati pesta ulang tahunnya."Putri mahkota menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam lagi bersama pelayannya.
"Hati-hati! Jika terjadi bahaya, segera panggil aku!' titah Yeshe.Kelihatan sekali Yeshe khawatir pada putri mahkota.
Putri mahkota tersenyum cerah.
"Baiklah tuan duke. Jangan terlihat jelas begitu dong khawatirnya," tukas putri mahkota sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan masuk ke dalam.Yeshe tidak mengatakan apapun. Dia mengambil kalung dari dalam sakunya. Bukan berarti dia enggan menyerahkan kalung tersebut pada putri mahkota karena kalung itu punya sihir yang begitu besar yang mampu mendorong orang yang mengenakannya melakukan sihir yang tidak bisa ia kuasai.
Tetapi pemberi kalung ini yang menjadi target Yeshe mulai sekarang makanya dia menyimpannya untuk mencari tahu lebih dulu untuk memastikan yang memberikannya bukanlah musuh.
Kalung itu bisa jadi membahayakan si pemakai.
Yeshe harus mencari tahu niat asli si pemberi.
"Kenapa saat dia melintas kalian tidak buru-buru mengejarnya? Kalian adalah penyihir terbaik di kekaisaran. Lakukanlah pengawasan yang ketat!" tukas Yesha pada para penyihir kekaisaran di hadapannya.
"Maafkan kami tuan duke. Penyihir itu melintas di luar sihir pengawasan yang kami lakukan dan kemudian terdeteksi saat sudah dekat lalu penyihir itu terbang sangat cepat. Tampaknya penyihir itu cukup berpengalaman," ucap salah satu penyihir kekaisaran.
"Cari tahu seluruh informasi mengenai penyihir yang tinggal di kekaisaran ini dan yang belum terdaftar oleh kekaisaran. Tanyakan pada mereka soal hadiah itu!" titah Yeshe pada para penyihir kekaisaran.Begitu Yeshe masuk ke dalam lagi, terdengar perbincangan para wanita.
"Aku dengar Lady Lunara tidak hadir karena sakit. Beliau bahkan sampai mengirimkan surat kepada putri mahkota, minta maaf atas ketidakhadirannya."Yeshe menoleh ke wanita yang baru saja berbicara itu kemudian melesatkan kedua matanya ke seluruh penjuru ruangan.
Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh wanita itu. Lunara Windmere tidak hadir di ulang tahun putri mahkota. Ini lebih mencurigakan lagi.
"Malam ini aku harus berkeliling disekitar istana kekaisaran terutama putri mahkota," gumam Yeshe.
Yeshe menghampiri putri mahkota yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Saat teman-temannya itu melihat Yeshe, mereka menyapa Yeshe dengan hormat dan mereka juga menggoda putri mahkota.
Duke Aldridge dan putri mahkota sudah seperti pasangan dan bahkan gosip mengatakan mereka akan bertunangan malam ini.
"Aku permisi sebentar," ucap putri mahkota ke teman-temannya.
Putri mahkota Delayna mengikuti Duke Aldridge.
"Ada apa duke?!" tanya Delayna dengan kedua mata menatap penasaran.
"Apakah benar Lunara Windmere tidak bisa datang ke ulang tahunmu karena sakit melalui surat?" tanya Yeshe.
Delayna menganggukkan kepalanya. "Kau sudah mendengarnya ya?!"
"Kenapa kau membuka surat dari dia? Bagaimana kalau surat itu diberi racun? Kau harus memahami kebenciannya terhadapmu," tukas Yeshe.
Delayna mengangguk-angguk paham. "Tidak ada apapun di surat itu kok. Dan yang lebih membuatku heran, dia meminta maaf. Lunara Windmere meminta maaf?"
"Dibalik permintaan maafnya pasti ada sesuatu yang dia rencanakan. Hati-hati dengan pemberontakan," kata Yeshe.
Tiba-tiba seorang penyihir menghampiri Yeshe dengan terburu-buru.
"Tuan duke, saat kami membersihkan kotak hadiah yang sudah tidak terbentuk itu, ternyata ada sebuah surat tetapi sudah robek," ucap penyihir itu.
Yeshe menyipitkan kedua matanya. Dia mengambil surat tersebut.
"Tuan duke, hadiah dan surat dari siapa?!" tanya putri mahkota Delayna.
Di tengah jeritan dan pertengkaran sengit yang berkecamuk di dalam alam bawah sadarnya, bayangan kehidupan masa lalu Lunara perlahan terkoyak bagai tirai yang koyak ditiup angin kencang. Retakan-retakan cahaya ungu dan hitam menembus ilusi kantor tua, mantan kekasih yang brengsek, dan bayangan keluarga yang parasit. Kehidupan kelam sebagai karyawan kantoran yang mati mengenaskan itu mendadak terdorong jauh ke dasar jiwanya, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang dan rasa sakit yang membakar dari dadanya.Tidak. Aku tidak akan pernah kembali menjadi sosok yang pasrah.Batin Lunara berteriak menolak kenyataan semu itu. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke dunia nyata.Di alam nyata, tubuh Lunara melengkung di atas tempat tidur kayu rumah sewa tersebut. Napasnya tersengal-sengal, sementara pola-pola hitam dari sihir gelap mengular tajam di sekitar lehernya. Lune yang berada di samping tempat tidur langsung tersentak, mencengkeram tangan adiknya yang dingin membeku."Lunara! Lu
"Marquis Zane, naga putih telah kembali. Tuan muda Arzu memerintahkan para pasukan untuk bersiap-siap kembali ke Everest," ucap seorang pengawal melapor kepada Marquis Zane yang sedang duduk di dalam rumah sewa itu sambil menekan keningnya yang pening. Zane langsung menemui kedua anaknya yang sibuk di depan. "Marquis Zane, aku sudah mendengar soal Lunara. Apakah dia-" Zane langsung menampar Arzu. Tentu saja seketika Arzu berhenti berbicara. Ayahnya jelas-jelas memotong ucapannya dengan tindakan kasarnya itu. Ketara sekali dia tidak membiarkannya berbicara lebih lanjut. Arzu sempat tidak percaya bahwa Zane benar-benar bernegosasi dengan kaisar terkait naga putih milik Lunara hanya karena tidak ingin Lunara terlibat hal-hal berbahaya. Tetapi ternyata dia benar-benar serius. Dia terlihat sangat marah mendengar kenyataan bahwa mereka membawa kembali naga putih milik Lunara. "Apa yang kau lakukan? Kau datang ke hadapan kaisar dan mengambil naga yang telah disepakati untuk dip
Arzu berdiri tegak di hadapan Putri Mahkota Delayna. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajah jenderal muda itu, hanya ada tatapan dingin yang dipadu dengan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Angin dingin mengibarkan jubah perangnya, membawa bau amis darah dari pertempuran singkat yang baru saja usai di sekeliling mereka. "Putri Mahkota Delayna," panggil Arzu dengan suara tenang yang menggema di area terbuka tersebut. "Sangat disayangkan Anda harus mengotori gaun indah Anda dengan menapak di tanah berdarah ini. Namun, mengenai naga putih ini... kurasa Anda terlambat." "Jenderal Arzu Windmere!" pangkas Delayna dengan napas memburu. Matanya menyipit murka menatap tubuh-tubuh penyihir kekaisaran yang tergeletak tak berdaya di sekitar rantai-rantai sihir yang kini telah hancur. "Kau telah melakukan pengkhianatan terang-terangan! Menyerang penyihir istana dan berusaha melarikan naga putih ini adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi! Kaisar tidak akan pernah membiarkan keluarga
Lune memperhatikan pasukan yang mengawasi naga putih. Entah bagaimana, para penyihir profesional kekaisaran sudah berjaga di depan naga putih. Mereka merantai naga putih itu. Lune tidak yakin dia akan menang. Tidak seperti Lunara dan Arzu, dia tidak punya banyak kemampuan. Sihirnya juga sebatas itu saja meskipun dia termasuk murid pintar dari akademi ternama tetapi bukan berarti dia yang paling pintar. "Arzu seharusnya cepat datang bukan?" "Lady Lune. Ada perintah dari putri mahkota. Jika kau tidak ingin mati, maka mundur saja!" titah penyihir itu dengan tatapan tajam. Lune mendecih. "Kalian para perampas, kalian pikir akan menang?" tanya Lune kemudian tertawa kecil. "Jangan bertindak gila, lady Lune. Cukup adikmu saja yang gila. Kau masih waras, tidak seperti adikmu. Jadi bertindaklah sebagaimana mestinya maka kau akan aman," ucap seorang penyihir yang diam-diam naksir Lune dari lama. Lune menatap penyihir itu dengan tatapan yang sangat dingin. "Jangan bicara
Hening mendadak menyergap aula utama. Kalimat Arzu barusan bagaikan pedang bermata dua yang disabetkan tanpa keraguan—menghantam tepat di ulu hati reputasi keluarga Aldridge sekaligus menyentil keengganan pihak istana. Sindiran yang dibalut pengakuan dosa secara terbuka itu membuat para bangsawan yang duduk di sekitar meja besar saling pandang dengan cemas.Suasana yang tadinya hangat karena pembahasan strategi dan negosiasi perdamaian, kini berubah menjadi medan pertempuran tak kasatmata.Yeshe tidak langsung membalas. Sorot matanya yang semula hanya menyipit, kini memancar dingin bagai danau es di puncak musim dingin. Rahangnya mengeras halus, mempertahankan wibawa seorang Duke yang tak boleh goyah hanya karena provokasi verbal. Namun, di dalam dadanya, ada denyut amarah dan rasa penasaran yang teramat sangat. Kekasih? Sejak kapan Lunara memiliki kekasih?"Jenderal Arzu," suara Yeshe mengalun pelan, namun berbobot. "Masa lalu adalah bagian dari catatan taktik militer saat kita berad
Tentu saja disana ada Yeshe Aldrdige. Pria itu memperhatikan Arzu dan segera menyapanya dengan ramah. "Ada apa jenderal?" tanya Vinsent dengan nada ada sedikit ketegasan disana. "Yang mulia, mengapa kau menahan naga putih? Tolong kembalikan naga putih itu kepada lady Lunara. Kami sudah berjanji untuk tidak melakukan pengkhianatan untuk kedua kalinya jadi yang mulia seharusnya bisa mengembalikan naga putih itu kepada lady Lunara," kata Arzu dengan nada tegas dan penuh desakan. Vinsent tidak langsung mengatakan sesuatu. Justru dia beralih menatap para bangsawan yang duduk disekitarnya. Termasuk Yeshe. "Naga yang diklaim baik oleh bangsawan, rakyat, maupun pengembara yang tinggal di kekaisaran ini akan sepenuhnya menjadi milik kekaisaran, untuk kepentingan bersama. Bukan berarti kami merampasnya begitu saja, jenderal Arzu. Naga itu tetaplah dikendarani oleh Lady Lunara," kata salah satu tetua. Arzu menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Adikku berencana melakukan per
"Nona penyihir, bagaimana kalau menyicil membayarnya? Aku perlu bekerja dulu," ucap Lunara dengan sorot mata penuh harap pada nenek sihir itu.Luar biasa. Si penyihir itu tidak pernah membayangkan akan menyaksikan keadaan dimana Lunara meminta seperti ini padanya.Dan apa yang dia katakan? Bekerja
Yeshe membaca potongan surat tersebut. Aku harap kamu menyukai hadiah dariku, tuan putri. Maaf jika aku hanya memberikan sebuah kalung tetapi aku benar-benar bekerja keras soal kalung ini. Yeshe menyipitkan kedua matanya. "Mana sisanya?" tanya Yeshe ke penyihir itu. Penyihir itu menggelengkan k
Di buku tersebut, diceritakan bahwa putri mahkota, sang karakter utama, sempat menyelamatkan peri dalam salah satu ekspedisinya ke suatu wilayah di kekaisaran. Setelah itu, sang putri mahkota berteman dengan peri tersebut. Diceritakan putri mahkota menjadi salah satu manusia yang berhasil bertema
Darah dimana-mana. Lunara kesakitan luar biasa karena banyak tusukan di badannya yang dilakukan oleh Tristan, kekasihnya yang sangat dicintainya itu setelah dirinya memergokinya selingkuh dengan teman dekatnya, Zee. Sementara itu, Tristan sibuk berkemas dan mengambil barang-barang berharga Lun







