LOGIN"Nona penyihir, bagaimana kalau menyicil membayarnya? Aku perlu bekerja dulu," ucap Lunara dengan sorot mata penuh harap pada nenek sihir itu.
Luar biasa. Si penyihir itu tidak pernah membayangkan akan menyaksikan keadaan dimana Lunara meminta seperti ini padanya.
Dan apa yang dia katakan? Bekerja dulu? Padahal Lunara Windmere terkenal punya sifat yang sangat manja dan tidak mau bekerja sama sekali. Pekerjaannya setiap hari hanya mempercantik diri.
Ditambah Lunara sebenarnya bisa menyuruh pengawalnya untuk menghabisi penyihir itu, jika tidak mampu, dia bisa menyuruh penyihir lain dengan cara merengek pada ayahnya tetapi bukannya melakukan itu, dia lebih memohon seperti ini.
"Apakah lady serius mengatakan itu?!" tanya si penyihir seraya melipat kedua tangannya di dada.
Lunara Windmere menganggukkan kepalanya.
Keluarganya heran sampai tidak bisa berkata-kata.
Zane kemudian masuk ke dalam dan mengambil sendiri koin emasnya karena dia tidak bisa mengandalkan putranya, Arzu Windmere.
Arzu, yang masih terkejut dengan tingkah Lunara tidak menyadari masuknya ayahnya ke dalam. Tahu-tahu ayahnya sudah di luar dan memberikan banyak koin emas kepada penyihir.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" teriak Arzu dan menghampiri penyihir itu untuk merebut kembali koin emas yang diberikan.
Namun penyihir itu dengan cepat terbang menjauh. Dia berteriak berterima kasih pada Lunara yang sejak tadi diam saja karena memikirkan pekerjaan apa yang paling bergaji tinggi di dunia fantasi.
"Arzu! Lunara adalah bagian dari keluarga Windmere. Jika kau terus bersikap seperti itu, maka aku bisa saja tidak menyisakan warisan apapun untukmu!" tukas Zane marah dengan melotot tajam.
Arzu tidak mengatakan apapun dan melotot tajam ke Lunara.
Lunara menghela nafas.
"Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menyukaiku kak," kata Lunara.
"Apa?! Kak? Biasanya kau memanggil Arzu dengan nama saja. Tidak dengan penyebutan kak atau semacamnya!" sahut Lune terkejut.
"Lunara sekarang sudah berubah!" sahut Zane.
Arzu menunjuk wajah Lunara. "Dia pasti telah melakukan kesalahan yang sangat besar makanya dia bersikap baik pasti untuk menutupi kesalahannya itu."
Lunara menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma menghabiskan koin emasku untuk menyewa seorang penyihir untuk mengantarkanku masuk ke hutan peri agar aku tidak tersesat," kata Lunara.
"Omong kosong apa yang kau katakan?!" tanya Arzu setengah membentak.
"Arzu!" bentak Zane tidak tahan lagi dengan putranya.
Pertikaian itu menarik perhatian si mata-mata. Dia berbalik dan menjauh dari kediaman keluarga Windmere.
Mata-mata itu tidak sampai berjam-jam sudah tiba di hadapan Duke Aldridge.
"Bagaimana hasilnya?!" tanya Yeshe seraya menikmati segelas teh.
"Lady itu bersama seorang penyihir tua dan mereka bicara soal koin emas. Tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga. Arzu terus marah dan adik ketiganya justru sangat tenang. Intinya, Lady Lunara tampak seperti orang yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya," kata mata-mata itu.
Yeshe menyipitkan kedua matanya.
"Aku curiga ada yang memanfaatkan Lunara. Wanita itu, tidak mungkin bersikap tidak seperti biasanya kecuali ada seseorang dibaliknya," bisik Yeshe.
Yeshe mengambil kalung sihir yang menjadi hadiah untuk putri mahkota. Sekarang dia tidak ragu lagi kalau Lunara yang telah mengirimkannya kepada putri mahkota bersama dengan penyihir tua itu.
"Apa lagi yang harus aku lakukan, tuan duke?!" tanya si mata-mata.
"Pergilah dan suruh temanmu mengawasi penyihir tua itu dan kau mengawasi Lady Lunara!"
Mata-mata itu terdiam karena terkejut.
"Tuan duke, apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik? Bahkan jika dia menjadi tangan kanan musuh, bukankah lebih baik fokus mencari tahu musuhnya?"
"Itu akan menjadi pekerjaanku," jawab Yeshe berdiri kemudian memanggil salah satu pengawal setianya dan memberikan kalung sihir itu kepadanya untuk diteliti di pusat penelitian kekaisaran.
Mata-mata itu memperhatikan kalung itu. Dia menyipitkan kedua matanya.
Yeshe menoleh ke mata-mata itu dan bertanya dengan dingin bersamaan dengan kilatan yang tidak biasa terlihat sekilas di kedua matanya.
"Kau masih belum pergi?!"
Seketika mata-mata itu merinding dan dia menjawab dengan cepat.
"Baik tuan duke."
Dia langsung berubah menjadi monster dan melompat keluar melalui jendela.
Yeshe kembali duduk dan termenung.
Sebelum kembali ke kediamannya, Yeshe sempat bertemu dengan kaisar. Mereka mendiskusikan mengenai keluarga Windmere yang tidak ada satupun anggota keluarganya yang datang ke acara ulang tahun putri mahkota.
Kaisar menginginkan mengeksekusi keluarga Windmere. Rumor sudah menyebar dimana-mana. Tentang mereka yang kemungkinan besar akan memberontak kepada kekaisaran, diam-diam mengumpulkan pasukan, bergabung dengan musuh, dan masih banyak lagi yang mereka lakukan.
Dan salah satu yang paling menonjol adalah Lady Lunara sangat membenci putri mahkota karena pertikaian memperebutkan Duke Aldridge.
Zane Windmere pernah bicara langsung dengan Yeshe, menawarkan putri ketiganya. Yeshe langsung menolak.
"Jika dengan pernikahan dapat mengungkapkan mengenai musuh, aku akan melakukannya," gumam Yeshe.
Di tengah jeritan dan pertengkaran sengit yang berkecamuk di dalam alam bawah sadarnya, bayangan kehidupan masa lalu Lunara perlahan terkoyak bagai tirai yang koyak ditiup angin kencang. Retakan-retakan cahaya ungu dan hitam menembus ilusi kantor tua, mantan kekasih yang brengsek, dan bayangan keluarga yang parasit. Kehidupan kelam sebagai karyawan kantoran yang mati mengenaskan itu mendadak terdorong jauh ke dasar jiwanya, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang dan rasa sakit yang membakar dari dadanya.Tidak. Aku tidak akan pernah kembali menjadi sosok yang pasrah.Batin Lunara berteriak menolak kenyataan semu itu. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke dunia nyata.Di alam nyata, tubuh Lunara melengkung di atas tempat tidur kayu rumah sewa tersebut. Napasnya tersengal-sengal, sementara pola-pola hitam dari sihir gelap mengular tajam di sekitar lehernya. Lune yang berada di samping tempat tidur langsung tersentak, mencengkeram tangan adiknya yang dingin membeku."Lunara! Lu
"Marquis Zane, naga putih telah kembali. Tuan muda Arzu memerintahkan para pasukan untuk bersiap-siap kembali ke Everest," ucap seorang pengawal melapor kepada Marquis Zane yang sedang duduk di dalam rumah sewa itu sambil menekan keningnya yang pening. Zane langsung menemui kedua anaknya yang sibuk di depan. "Marquis Zane, aku sudah mendengar soal Lunara. Apakah dia-" Zane langsung menampar Arzu. Tentu saja seketika Arzu berhenti berbicara. Ayahnya jelas-jelas memotong ucapannya dengan tindakan kasarnya itu. Ketara sekali dia tidak membiarkannya berbicara lebih lanjut. Arzu sempat tidak percaya bahwa Zane benar-benar bernegosasi dengan kaisar terkait naga putih milik Lunara hanya karena tidak ingin Lunara terlibat hal-hal berbahaya. Tetapi ternyata dia benar-benar serius. Dia terlihat sangat marah mendengar kenyataan bahwa mereka membawa kembali naga putih milik Lunara. "Apa yang kau lakukan? Kau datang ke hadapan kaisar dan mengambil naga yang telah disepakati untuk dip
Arzu berdiri tegak di hadapan Putri Mahkota Delayna. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajah jenderal muda itu, hanya ada tatapan dingin yang dipadu dengan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Angin dingin mengibarkan jubah perangnya, membawa bau amis darah dari pertempuran singkat yang baru saja usai di sekeliling mereka. "Putri Mahkota Delayna," panggil Arzu dengan suara tenang yang menggema di area terbuka tersebut. "Sangat disayangkan Anda harus mengotori gaun indah Anda dengan menapak di tanah berdarah ini. Namun, mengenai naga putih ini... kurasa Anda terlambat." "Jenderal Arzu Windmere!" pangkas Delayna dengan napas memburu. Matanya menyipit murka menatap tubuh-tubuh penyihir kekaisaran yang tergeletak tak berdaya di sekitar rantai-rantai sihir yang kini telah hancur. "Kau telah melakukan pengkhianatan terang-terangan! Menyerang penyihir istana dan berusaha melarikan naga putih ini adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi! Kaisar tidak akan pernah membiarkan keluarga
Lune memperhatikan pasukan yang mengawasi naga putih. Entah bagaimana, para penyihir profesional kekaisaran sudah berjaga di depan naga putih. Mereka merantai naga putih itu. Lune tidak yakin dia akan menang. Tidak seperti Lunara dan Arzu, dia tidak punya banyak kemampuan. Sihirnya juga sebatas itu saja meskipun dia termasuk murid pintar dari akademi ternama tetapi bukan berarti dia yang paling pintar. "Arzu seharusnya cepat datang bukan?" "Lady Lune. Ada perintah dari putri mahkota. Jika kau tidak ingin mati, maka mundur saja!" titah penyihir itu dengan tatapan tajam. Lune mendecih. "Kalian para perampas, kalian pikir akan menang?" tanya Lune kemudian tertawa kecil. "Jangan bertindak gila, lady Lune. Cukup adikmu saja yang gila. Kau masih waras, tidak seperti adikmu. Jadi bertindaklah sebagaimana mestinya maka kau akan aman," ucap seorang penyihir yang diam-diam naksir Lune dari lama. Lune menatap penyihir itu dengan tatapan yang sangat dingin. "Jangan bicara
Hening mendadak menyergap aula utama. Kalimat Arzu barusan bagaikan pedang bermata dua yang disabetkan tanpa keraguan—menghantam tepat di ulu hati reputasi keluarga Aldridge sekaligus menyentil keengganan pihak istana. Sindiran yang dibalut pengakuan dosa secara terbuka itu membuat para bangsawan yang duduk di sekitar meja besar saling pandang dengan cemas.Suasana yang tadinya hangat karena pembahasan strategi dan negosiasi perdamaian, kini berubah menjadi medan pertempuran tak kasatmata.Yeshe tidak langsung membalas. Sorot matanya yang semula hanya menyipit, kini memancar dingin bagai danau es di puncak musim dingin. Rahangnya mengeras halus, mempertahankan wibawa seorang Duke yang tak boleh goyah hanya karena provokasi verbal. Namun, di dalam dadanya, ada denyut amarah dan rasa penasaran yang teramat sangat. Kekasih? Sejak kapan Lunara memiliki kekasih?"Jenderal Arzu," suara Yeshe mengalun pelan, namun berbobot. "Masa lalu adalah bagian dari catatan taktik militer saat kita berad
Tentu saja disana ada Yeshe Aldrdige. Pria itu memperhatikan Arzu dan segera menyapanya dengan ramah. "Ada apa jenderal?" tanya Vinsent dengan nada ada sedikit ketegasan disana. "Yang mulia, mengapa kau menahan naga putih? Tolong kembalikan naga putih itu kepada lady Lunara. Kami sudah berjanji untuk tidak melakukan pengkhianatan untuk kedua kalinya jadi yang mulia seharusnya bisa mengembalikan naga putih itu kepada lady Lunara," kata Arzu dengan nada tegas dan penuh desakan. Vinsent tidak langsung mengatakan sesuatu. Justru dia beralih menatap para bangsawan yang duduk disekitarnya. Termasuk Yeshe. "Naga yang diklaim baik oleh bangsawan, rakyat, maupun pengembara yang tinggal di kekaisaran ini akan sepenuhnya menjadi milik kekaisaran, untuk kepentingan bersama. Bukan berarti kami merampasnya begitu saja, jenderal Arzu. Naga itu tetaplah dikendarani oleh Lady Lunara," kata salah satu tetua. Arzu menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Adikku berencana melakukan per
Di buku tersebut, diceritakan bahwa putri mahkota, sang karakter utama, sempat menyelamatkan peri dalam salah satu ekspedisinya ke suatu wilayah di kekaisaran. Setelah itu, sang putri mahkota berteman dengan peri tersebut. Diceritakan putri mahkota menjadi salah satu manusia yang berhasil bertema
Di hari ulang tahun putri mahkota, bukannya bersiap agar tampil paling cantik, Lunara malah sibuk bersiap-siap pergi. "Ada apa ayah?!" Zane Windmere sangat kaget setelah mendengar dari para pelayan kalau putrinya justru mengirimkan surat ketidakhadirannya di ulang tahun itu. Padahal dia sudah me
Darah dimana-mana. Lunara kesakitan luar biasa karena banyak tusukan di badannya yang dilakukan oleh Tristan, kekasihnya yang sangat dicintainya itu setelah dirinya memergokinya selingkuh dengan teman dekatnya, Zee. Sementara itu, Tristan sibuk berkemas dan mengambil barang-barang berharga Lun
Yeshe membaca potongan surat tersebut. Aku harap kamu menyukai hadiah dariku, tuan putri. Maaf jika aku hanya memberikan sebuah kalung tetapi aku benar-benar bekerja keras soal kalung ini. Yeshe menyipitkan kedua matanya. "Mana sisanya?" tanya Yeshe ke penyihir itu. Penyihir itu menggelengkan k







