MasukDi hari ulang tahun putri mahkota, bukannya bersiap agar tampil paling cantik, Lunara malah sibuk bersiap-siap pergi.
"Ada apa ayah?!" Zane Windmere sangat kaget setelah mendengar dari para pelayan kalau putrinya justru mengirimkan surat ketidakhadirannya di ulang tahun itu. Padahal dia sudah menasehatinya kemarin untuk datang dan menarik perhatian Duke Aldridge."Persiapan dari pagi buta bahkan tidak cukup katamu untuk tampil lebih cantik dari putri mahkota. Ayah telah menyiapkan semuanya untukmu tetapi kenapa kamu sekarang berubah pikiran? Dan kau mau kemana?!"Mencari hadiah untuk putri mahkota.Di buku dijelaskan hadiah terbaik yang diberikan kepada putri mahkota adalah kalung sihir dari peri. Kalung itu ditemukan di wilayah hutan peri tetapi saat peperangan, terungkap kalau kalung itu milik seorang penyihir tinggi dari wilayah selatan. Dan hutan-hutan peri sangat dilarang dikunjungi manusia. Jika mereka masuk, kemungkinan besar tidak akan pernah bisa kembali.Namun Lunara ingin menggantikan peri itu yang memberikan itu kepada putri mahkota. Dia ingin menemukan kalung itu lebih dulu."Ayah, setelah kupikirkan, aku menyerah mencari perhatian Duke Aldridge," kata Lunara seraya menatap ke lantai."Apa?!"Marquess Windmere kaget. "Apa yang baru saja kamu katakan, Lunara?"Lunara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis."Di kehidupan ini, aku sudah memutuskan untuk menjalani hidup seperti yang kuinginkan.""Putriku..."Seseorang memasuki ruangan dan meledak marah. "Sekarang baru mengatakan itu?"Lunara terkejut dengan penampilan orang itu. Sangat tampan. Rambut dan warna matanya sama dengannya seperti mereka adalah kembar. "Sepertinya dia adalah kakak pertama Lunara, Arzu Windmere. Tetapi kenapa dia begitu marah?" batin Lunara. Lunara teringat suara kemarin. Suara yang sama. Arzu Windmere terus marah. Sebenarnya apa yang terjadi? Di buku, tidak banyak cerita tentang Arzu kecuali dia mati dalam pembantaian yang dilakukan oleh Duke Aldridge. "Maaf. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Lunara.Arzu menunjuk wajah Lunara dengan kesal. "Malah bertanya. Kau sendiri yang menyuruh ayah memberikan tempat tinggal para pemberontak itu. Sekarang kau menyerah mencapai tujanmu. Kau membuat situasi keluarga kita semakin berbahaya. Para pemberontak itu kalau tahu kau tidak bisa membuat Duke Aldridge berada di sisimu, mereka akan membunuhmu."Lunara terdiam. "Wah, jadi Lunara adalah karakter sampingan yang ternyata pengaruhnya sangat besar di plot buku itu?!" batin Lunara.Tidak ada informasi bahwa Lunara yang telah memberikan tempat tinggal pada para pemberontak itu. Tiba-tiba diceritakan mereka tiba disana. "Aku minta maaf. Aku akan bicara dengan para penjahat itu," ucap Lunara pada Arzu. Karena tokoh utamanya adalah putri mahkota dan seluruh pemberontak itu akan mati, jelas Lunara lebih memilih pihak putri mahkota. Tidak ada salanya setia pada kekaisaran. Dia telah dikhianati jadi dia tidak ingin mengkhianati.Lunara beralih ke ayahnya dan pamit pergi. "Kau mau pergi kemana nak?" "Kalau sudah mengirimkan surat, harus mengirimkan hadiah juga."Zane dan Arzu pikir mereka salah dengar. Lunara yang mereka tahu membenci putri mahkota setengah mati sampai berulang kali membahas rencana mengenai pembunuhan putri mahkota pada mereka tiba-tiba kepikiran memberinya hadiah di hari ulang tahunnya. "Lunara berubah drastis sejak kemarin," ucap Zane dengan wajah cemas.Arzu juga tidak percaya. Itu sebabnya dia keluar ruangan dan menyuruh salah satu pengawalnya untuk diam-diam mengikuti Lunara.
Di beberapa wilayah di kekaisaran, ada rumah-rumah penyihir. Bahkan di kerajaan Everhart.Lunara mendatangi rumah seorang penyihir yang ia ingat di buku. Saat para penyihir berlatih, salah satu tugas mereka adalah memasuki hutan peri dan keluar hidup-hidup. Itu akan menjadi salah satu pekerjaan mereka setelah mereka resmi menjadi penyihir yaitu menemukan orang yang hilang.
"Permisi." Lunara mengetuk pintu rumah penyihir itu yang terbuat dari kayu. Seseorang di dalam berteriak menyuruhnya masuk jadi Lunara masuk. Saat Lunara masuk, dia menemukan seorang wanita tua, lebih tepatnya nenek-nenek sedang sibuk merajut. "Aku tidak yakin dia bersedia mengantarkanku ke hutan peri. Tetapi aku membawa banyak emas," batin Lunara. Lunara menghampiri nenek sihir itu dengan ramah. "Permisi nona penyihir, bisakah kamu mengantarkanku ke hutan peri di perbatasan dengan kerajaan Wheatmadow?" tanya Lunara seraya menunjukkan koin emas di dalam tas kecil. Penyihir itu melirik ke kantung kecil itu kemudian ke wajah Lunara."Dari matamu, kelihatannya kau berasal dari keluarga Windmere ya?" tanya penyihir itu kembali merajut.
"Benar. Aku merasa sangat berterima kasih jika kau mau mengantarkanku ke hutan peri itu!" kata Lunara.
"Memangnya kau ingin apa kesana? Aneh sekali."
"Aku diundang oleh putri mahkota dalam acara ulang tahunnya tetapi untuk hadiahnya, tidak sempat tetapi aku perlu mengirimkannya. Dan hadiahnya aku ingin mengambil di hutan peri itu," kata Lunara.
"Hadiah dari hutan peri? Apa yang kau rencanakan?"
Lunara tidak mengerti kenapa penyihir ini menanyakan itu. Apakah fakta Lunara membenci putri mahkota sudah tersebar luas?
Memang di buku itu sudah dijelaskan Lunara salah satu yang paling membenci karakter utama. Alasannya karena dia mencintai pasangan karakter utama dan semua orang tampaknya sudah tahu bagaimana Lunara mengejar Duke Aldridge.
"Aku hanya ingin memberikan hadiah terbaik. Apakah salah?"
"Hadiah terbaik?"
Penyihir itu terheran-heran dan bertanya-tanya di benaknya mengenai hadiah terbaik.
"Nenek, sudah jangan banyak tanya. Apakah kau bersedia atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi ke penyihir lain."
Penyihir itu terdiam sejenak kemudian menyetujui. Akhirnya berangkatlah mereka ke hutan yang dimaksud terbang menggunakan sapu sihir. Lunara terbelalak takjub akan pemandangan dibawahnya.
Sementara itu, putri mahkota yang telah menerima surat dari Lunara pun mengernyitkan alisnya.
Pelayan pribadinya berkata, "Tuan putri harus hati-hati, Lunara pasti merencanakan sesuatu yang jahat pada tuan putri."
"Marquis Zane, naga putih telah kembali. Tuan muda Arzu memerintahkan para pasukan untuk bersiap-siap kembali ke Everest," ucap seorang pengawal melapor kepada Marquis Zane yang sedang duduk di dalam rumah sewa itu sambil menekan keningnya yang pening. Zane langsung menemui kedua anaknya yang sibuk di depan. "Marquis Zane, aku sudah mendengar soal Lunara. Apakah dia-" Zane langsung menampar Arzu. Tentu saja seketika Arzu berhenti berbicara. Ayahnya jelas-jelas memotong ucapannya dengan tindakan kasarnya itu. Ketara sekali dia tidak membiarkannya berbicara lebih lanjut. Arzu sempat tidak percaya bahwa Zane benar-benar bernegosasi dengan kaisar terkait naga putih milik Lunara hanya karena tidak ingin Lunara terlibat hal-hal berbahaya. Tetapi ternyata dia benar-benar serius. Dia terlihat sangat marah mendengar kenyataan bahwa mereka membawa kembali naga putih milik Lunara. "Apa yang kau lakukan? Kau datang ke hadapan kaisar dan mengambil naga yang telah disepakati untuk dip
Arzu berdiri tegak di hadapan Putri Mahkota Delayna. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajah jenderal muda itu, hanya ada tatapan dingin yang dipadu dengan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Angin dingin mengibarkan jubah perangnya, membawa bau amis darah dari pertempuran singkat yang baru saja usai di sekeliling mereka. "Putri Mahkota Delayna," panggil Arzu dengan suara tenang yang menggema di area terbuka tersebut. "Sangat disayangkan Anda harus mengotori gaun indah Anda dengan menapak di tanah berdarah ini. Namun, mengenai naga putih ini... kurasa Anda terlambat." "Jenderal Arzu Windmere!" pangkas Delayna dengan napas memburu. Matanya menyipit murka menatap tubuh-tubuh penyihir kekaisaran yang tergeletak tak berdaya di sekitar rantai-rantai sihir yang kini telah hancur. "Kau telah melakukan pengkhianatan terang-terangan! Menyerang penyihir istana dan berusaha melarikan naga putih ini adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi! Kaisar tidak akan pernah membiarkan keluarga
Lune memperhatikan pasukan yang mengawasi naga putih. Entah bagaimana, para penyihir profesional kekaisaran sudah berjaga di depan naga putih. Mereka merantai naga putih itu. Lune tidak yakin dia akan menang. Tidak seperti Lunara dan Arzu, dia tidak punya banyak kemampuan. Sihirnya juga sebatas itu saja meskipun dia termasuk murid pintar dari akademi ternama tetapi bukan berarti dia yang paling pintar. "Arzu seharusnya cepat datang bukan?" "Lady Lune. Ada perintah dari putri mahkota. Jika kau tidak ingin mati, maka mundur saja!" titah penyihir itu dengan tatapan tajam. Lune mendecih. "Kalian para perampas, kalian pikir akan menang?" tanya Lune kemudian tertawa kecil. "Jangan bertindak gila, lady Lune. Cukup adikmu saja yang gila. Kau masih waras, tidak seperti adikmu. Jadi bertindaklah sebagaimana mestinya maka kau akan aman," ucap seorang penyihir yang diam-diam naksir Lune dari lama. Lune menatap penyihir itu dengan tatapan yang sangat dingin. "Jangan bicara
Hening mendadak menyergap aula utama. Kalimat Arzu barusan bagaikan pedang bermata dua yang disabetkan tanpa keraguan—menghantam tepat di ulu hati reputasi keluarga Aldridge sekaligus menyentil keengganan pihak istana. Sindiran yang dibalut pengakuan dosa secara terbuka itu membuat para bangsawan yang duduk di sekitar meja besar saling pandang dengan cemas.Suasana yang tadinya hangat karena pembahasan strategi dan negosiasi perdamaian, kini berubah menjadi medan pertempuran tak kasatmata.Yeshe tidak langsung membalas. Sorot matanya yang semula hanya menyipit, kini memancar dingin bagai danau es di puncak musim dingin. Rahangnya mengeras halus, mempertahankan wibawa seorang Duke yang tak boleh goyah hanya karena provokasi verbal. Namun, di dalam dadanya, ada denyut amarah dan rasa penasaran yang teramat sangat. Kekasih? Sejak kapan Lunara memiliki kekasih?"Jenderal Arzu," suara Yeshe mengalun pelan, namun berbobot. "Masa lalu adalah bagian dari catatan taktik militer saat kita berad
Tentu saja disana ada Yeshe Aldrdige. Pria itu memperhatikan Arzu dan segera menyapanya dengan ramah. "Ada apa jenderal?" tanya Vinsent dengan nada ada sedikit ketegasan disana. "Yang mulia, mengapa kau menahan naga putih? Tolong kembalikan naga putih itu kepada lady Lunara. Kami sudah berjanji untuk tidak melakukan pengkhianatan untuk kedua kalinya jadi yang mulia seharusnya bisa mengembalikan naga putih itu kepada lady Lunara," kata Arzu dengan nada tegas dan penuh desakan. Vinsent tidak langsung mengatakan sesuatu. Justru dia beralih menatap para bangsawan yang duduk disekitarnya. Termasuk Yeshe. "Naga yang diklaim baik oleh bangsawan, rakyat, maupun pengembara yang tinggal di kekaisaran ini akan sepenuhnya menjadi milik kekaisaran, untuk kepentingan bersama. Bukan berarti kami merampasnya begitu saja, jenderal Arzu. Naga itu tetaplah dikendarani oleh Lady Lunara," kata salah satu tetua. Arzu menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Adikku berencana melakukan per
"Vezerg memang dikabarkan punah oleh sebagian besar botanis kekaisaran, Raga," Profesor Heinz menghela napas berat, matanya menatap cemas ke arah Lunara yang masih terbaring lemah dengan peluh dingin di keningnya. "Namun, catatan kuno di perpustakaan rahasia akademi menyebutkan bahwa tanaman itu masih tumbuh secara terisolasi di celah-celah tebing beracun perbatasan selatan. Tanaman itu menyerap racun di sekitarnya dan mengubahnya menjadi energi pemurni yang mampu menghancurkan inti sihir gelap." Zane bangkit dari tempat duduknya, raut wajahnya kembali mengeras penuh wibawa seorang Marquis. "Aku akan mengirimkan pasukan elite Windmere ke perbatasan selatan sekarang juga. Berapa pun biayanya, tanaman itu harus dibawa ke sini." "Jangan, Marquis Zane," potong Raga dengan cepat. "Pasukan elite yang bergerak dalam jumlah besar ke perbatasan selatan akan memicu kecurigaan pihak istana, terutama Putri Mahkota. Jika dia tahu kita sedang mencari penawar untuk sihir gelap ini, dia akan meny
Yeshe membaca potongan surat tersebut. Aku harap kamu menyukai hadiah dariku, tuan putri. Maaf jika aku hanya memberikan sebuah kalung tetapi aku benar-benar bekerja keras soal kalung ini. Yeshe menyipitkan kedua matanya. "Mana sisanya?" tanya Yeshe ke penyihir itu. Penyihir itu menggelengkan k
Semua hadiah untuk putri mahkota harus melewati Duke Aldridge yang terkenal kejam yaitu Yeshe. Tapi, ada memberikan hadiah pada putri mahkota diam-diam seolah-olah menghindari pengawasan Yeshe. Berani sekali. Yeshe mengerahkan pedangnya ke kotak hadiah itu kemudian menyeragnya hingga kotak itu ha
"Nona penyihir, bagaimana kalau menyicil membayarnya? Aku perlu bekerja dulu," ucap Lunara dengan sorot mata penuh harap pada nenek sihir itu.Luar biasa. Si penyihir itu tidak pernah membayangkan akan menyaksikan keadaan dimana Lunara meminta seperti ini padanya.Dan apa yang dia katakan? Bekerja
Darah dimana-mana. Lunara kesakitan luar biasa karena banyak tusukan di badannya yang dilakukan oleh Tristan, kekasihnya yang sangat dicintainya itu setelah dirinya memergokinya selingkuh dengan teman dekatnya, Zee. Sementara itu, Tristan sibuk berkemas dan mengambil barang-barang berharga Lun







