MasukRyan segera memasukkan tangan melewati permukaan batang yang beriak.
Tidak ada hambatan.Ryan meraba-raba sebentar sampai ujung jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan panjang.Begitu berhasil menggenggamnya, ia langsung menarik benda tersebut keluar.Namun baru setengah bagian yang muncul, pergelangan tangannya mendadak tertarik ke bawah.'Berat sekali!'Ryan segera mengalirkan tenaga untuk memperkuat pegangannya.Dengan sedikitKakek berjanggut putih berbalik menuju ranjang kayunya."Aku mau melanjutkan tidur. Jangan menggangguku kalau tidak ada urusan penting.""Baik, Tetua. Selamat beristirahat."Kakek tersebut tidak menjawab lagi.Hubungan kesadarannya dengan Ryan langsung terputus.Di dalam ruang kesadaran, sosok berjanggut putih itu kembali berbaring di ranjang kayunya.Ia mengatur posisi tubuh sampai nyaman, kemudian memejamkan mata.Namun sebelum benar-benar tertidur, kakek tersebut masih sempat bergumam."Gaya bicaranya sok pujangga..." Ia mendengus pelan. "Persis bajingan itu..."Ryan sama sekali tidak mendengar gumaman tersebut.Setelah memastikan ketiga pusaka tersimpan dengan aman, ia berjalan meninggalkan gunung harta sambil tersenyum puas.Hari ini benar-benar mendatangkan keuntungan besar.Tongkat Bintang Runtuh, Jubah Gaib Santo Brito, dan selembar sutra putih yang belum diketahui kegunaannya.Meskipun hanya boleh mengambil tiga benda, Ryan merasa tidak ada alasan untuk mengeluh.Sebelum perg
Melihat Jubah Gaib Santo Brito menghilang dari pandangan, kakek berjanggut putih di dalam ruang kesadaran Ryan tiba-tiba mengangkat kepala."Tunggu sebentar!"Ryan tertegun. "Ada apa, Tetua?"Kakek tersebut menatap tempat jubah itu menempel pada tubuh Ryan. Setelah memperhatikannya beberapa saat, nada suaranya berubah serius."Roh pusakanya ternyata masih ada?"Ia segera melanjutkan, "Bocah, coba tanyakan kepada roh pusaka itu. Ke mana tuannya pergi?"Ryan mengangguk.Ia langsung memusatkan kesadaran pada Jubah Gaib Santo Brito yang masih menyelimuti bahunya.'Halo? Kau bisa mendengarku?'Tidak ada jawaban.Ryan mencoba mengalirkan sedikit tenaga ke dalam jubah tersebut, kemudian kembali mengirimkan pikirannya.'Aku tahu kau memiliki roh pusaka. Bisakah kau memberitahuku ke mana Santo Brito pergi?'Namun hasilnya tetap sama.Jubah tersebut tidak memberikan tanggapan sedikit pun.Bahkan ketika Ryan mencoba menggunakan kekuatan hukumnya untuk berkomunikasi, kain itu tetap diam, tidak be
Broto masih belum pulih dari keterkejutannya ketika melihat Ryan menemukan Tongkat Bintang Runtuh.Namun sebelum ia sempat menenangkan diri, sosok Ryan di dalam bola kristal sudah kembali bergerak.Kali ini, langkah pemuda itu terlihat jauh lebih mantap. Tidak ada lagi keraguan seperti ketika pertama kali memasuki gunung harta. Ryan berjalan lurus menuju suatu arah, seolah sudah mengetahui persis benda apa yang sedang dicarinya.Melihat arah tersebut, wajah Broto langsung berubah. "Tunggu..."Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Jangan bilang..."Broto mencengkeram tepi meja kayu jati begitu erat sampai terdengar bunyi derit dari permukaannya."Tidak, tidak, tidak! Mustahil!"Ia menggeleng berkali-kali. "Tidak mungkin kebetulan sampai dua kali!"Sayangnya, kenyataan sama sekali tidak memedulikan harapan Broto.Ryan justru mempercepat langkah menuju tempat yang paling tidak ingin didatangi lelaki tua tersebut.**Di dalam ruang harta, Ryan sedang berjalan dengan suasana hati yang sangat
Ryan segera memasukkan tangan melewati permukaan batang yang beriak.Tidak ada hambatan.Ryan meraba-raba sebentar sampai ujung jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan panjang.Begitu berhasil menggenggamnya, ia langsung menarik benda tersebut keluar.Namun baru setengah bagian yang muncul, pergelangan tangannya mendadak tertarik ke bawah.'Berat sekali!'Ryan segera mengalirkan tenaga untuk memperkuat pegangannya.Dengan sedikit usaha, ia akhirnya berhasil mengeluarkan benda itu sepenuhnya.Sebuah tongkat panjang kini berada di tangan Ryan.Penampilannya tidak terlalu mencolok dibandingkan pusaka-pusaka berkilauan yang sebelumnya ia temukan.Namun ketika diperhatikan lebih dekat, permukaan tongkat tersebut dipenuhi titik-titik cahaya kecil.Titik-titik itu menyerupai bintang yang tersebar di langit malam.Cahaya yang dipancarkannya tampak redup, tetapi mengandung hawa mendal
Kakek berjanggut putih itu menatap Ryan cukup lama.Kemudian ia mendengus. "Hmph! Bocah, kau cuma ingin aku memilihkan pusaka untukmu, bukan? Jangan kira aku tidak tahu akal bulusmu!"Ryan tersenyum canggung. "Tetua, bagaimana mungkin aku berpikir begitu? Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan sukma Tetua.""Sudah, tidak perlu berpura-pura!" Kakek itu mengibaskan tangan dengan kesal. Namun alih-alih kembali tidur, ia justru berjalan menuju tepi pelataran ruang kesadaran Ryan.Melalui penglihatan Ryan, kakek berjanggut putih itu mulai mengamati gunung harta yang menjulang di dunia kecil milik Broto."Keadaanku sekarang berbeda dari yang kaubayangkan. Pusaka biasa yang digunakan untuk memperkuat sukma tidak akan banyak membantuku."Ia mengelus janggutnya. "Kalau kau benar-benar ingin membantuku, cepatlah menjadi lebih kuat. Itu jauh lebih berguna daripada mencarikan obat yang belum tentu cocok."Ryan t
Ryan tidak berani sembarangan mencobanya. Barang-barang di tempat ini terlalu aneh.Bahkan benda yang terlihat tidak berbahaya belum tentu memiliki fungsi sesuai penampilannya.Ryan akhirnya berhenti di depan sebuah rak.Ia mengambil guci kecil yang memancarkan cahaya kehijauan, menimbangnya sebentar, lalu mengembalikannya ke tempat semula.Tidak ada petunjuk mengenai kegunaan benda itu.Mengambilnya hanya karena terlihat menarik jelas terlalu berisiko.Ryan mengusap dagunya. 'Memilih tiga pusaka yang berharga sekaligus cocok dengan kekuatan hukummu sendiri ternyata tidak semudah kedengarannya.'Ia kembali memandang tumpukan benda yang membentang tanpa ujung. Rasanya seperti mencari tiga jarum di tengah gunung jerami.Tepat ketika Ryan mulai kebingungan, sebuah suara tua mendadak menggema di dalam kepalanya."Bocah!"Ryan tersentak."Aku baru tidur sebentar. Kenapa tiba-tiba kau membawaku ke tempat seperti ini?"Suara itu terdengar menggerutu. Namun sesaat kemudian, nadanya berubah. "







