FAZER LOGINThalassa tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun, sebuah kebiasaan dari kehidupannya yang lalu yang kini muncul secara alami. Ia menumpukan dagu di atas tautan tangannya, menatap Kaelen dengan binar yang tulus, sesuatu yang belum pernah dilihat Kaelen sebelumnya.
"Kehidupan yang penuh amarah itu sangat melelahkan, Kaelen," jawab Thalassa lembut. "Aku hanya menyadari bahwa tidak ada gunanya melawan pria yang memegang kunci duniaku. Lagipula..." Ia menjeda, membiarkan jemarinya merayap di atas meja, menyentuh punggung tangan Kaelen yang kokoh. "Dulu aku merasa sesak karena pengawasanmu. Tapi sekarang, aku merasa hangat karena kau memperhatikanku."
Cengkeraman tangan Kaelen pada kursinya mengeras. Ia tidak menyangka jawaban itu akan keluar dari bibir wanita yang biasanya mengutuk namanya di setiap napas. Hasrat posesif yang selama ini ia kunci rapat kini bergejolak hebat. Baginya, Thalassa adalah sebuah teka-teki yang baru saja berubah bahasa, lebih memikat, namun lebih mematikan bagi kewarasannya.
Kaelen berdiri secara tiba-tiba, membuat kursi mahoninya berdecit keras di atas lantai marmer. Ia melangkah memutari meja makan, berdiri tepat di belakang Thalassa. Tangan besarnya mendarat di bahu sempit sang istri, memijatnya pelan namun dengan tekanan yang mengklaim kepemilikan.
"Makan malamnya sudah selesai," bisik Kaelen tepat di samping telinga Thalassa, napasnya yang hangat menggelitik kulit leher istrinya. "Jika itu benar-benar keinginan terbesarmu, maka buktikan padaku di dalam kamar. Aku tidak ingin melihatmu berpaling dariku, bahkan untuk sedetik pun."
Thalassa merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang aneh. Ia membiarkan Kaelen menarik kursinya dan membantunya berdiri. Saat pria itu melingkarkan lengan di pinggangnya dengan protektif, Thalassa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu.
Di kehidupan ini, ia tidak akan pernah dibiarkan kedinginan lagi. Kaelen adalah api yang membara, dan Thalassa dengan senang hati membiarkan dirinya hangus di dalamnya. Baginya, tidak ada tempat yang lebih aman daripada berada di bawah bayang-bayang pria yang terobsesi padanya.
---
Keheningan menyelimuti ruang kerja Kaelen pagi itu. Namun, bukannya suara goresan pena di atas kertas perkamen, yang terdengar justru suara langkah kaki Kaelen yang mondar-mandir dengan gelisah. Sekretaris pribadinya berdiri mematung di ambang pintu, memegang jadwal pertemuan yang sangat padat untuk satu minggu ke depan.
"Batalkan semuanya," perintah Kaelen tanpa menoleh. Suaranya rendah dan mutlak. "Tapi, Duke... pertemuan dengan delegasi kekaisaran sangat penting untuk jalur perdagangan—" "Aku tidak peduli," potong Kaelen. Ia berbalik, matanya berkilat di balik kacamatanya yang elegan. "Katakan pada mereka aku sedang tidak bisa diganggu. Selama seminggu ke depan, aku tidak akan meninggalkan kediaman ini. Dan tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk tanpa izin tertulis dariku." Sekretaris itu membungkuk hormat dan segera mundur, menutup pintu ek dengan hati-hati. Begitu keheningan menyergap, Kaelen tidak segera beranjak. Ia berdiri dan melangkah perlahan menuju sebuah lukisan potret berukuran sedang yang ia gantung di dinding tepat di seberang meja kerjanya, sebuah potret Thalassa yang sengaja ia bawa dari mansion mereka agar ia bisa terus mengawasinya, bahkan dari kejauhan. Dalam lukisan itu, Thalassa mengenakan gaun sutra zamrud, wajahnya tampak angkuh dengan binar pemberontakan yang dulu sangat Kaelen benci. Ia menyentuh permukaan kanvas itu dengan ujung jarinya, tepat di bagian bibir Thalassa yang terkatup rapat dalam lukisan. "Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku hanya karena aku sedang bekerja, hm?" bisik Kaelen pada sosok di dalam lukisan itu, suaranya parau oleh obsesi yang kini tak lagi ia sembunyikan. "Kau telah mengubah rumahku menjadi oase yang membuatku gila jika tidak pulang. Tunggu aku, Duchess. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari jeratanku lagi." Kaelen menyambar mantel beludru hitamnya dan melangkah keluar dengan gusar, meninggalkan kantornya yang kaku demi satu-satunya tujuan yaitu Thalassa. Beberapa waktu kemudian, pintu besar ruang kerja pribadi di kediaman Duke terbuka. Kaelen masuk dengan langkah terburu-buru, napasnya sedikit memburu karena hasrat yang menggebu. Aroma kayu cendana dan kehangatan perapian segera menyambutnya. Di sana, Thalassa berdiri di tengah ruangan, tepat di bawah lukisan minyak raksasa lainnya, versi yang jauh lebih besar dari potret yang ada di kantornya. Kaelen menutup pintu mahoni di belakangnya dengan dentuman final dan memutar kunci kuningan yang mengisolasi mereka dari dunia luar. "Dunia bisa runtuh, aku tidak peduli," geram Kaelen sambil melepaskan sarung tangan putihnya. Ia melangkah mendekati Thalassa, bayangannya yang tinggi menjulang menutupi tubuh istrinya. "Kau yang memulai semua ini, Thalassa. Kau membersihkan parasit di sini, kau menata ulang segalanya, dan kau membuatku tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun di kantor karena aku terus-menerus berbicara pada lukisanmu seolah aku sudah gila." Ia berhenti tepat di hadapan Thalassa, mendongak sekilas ke arah lukisan raksasa yang memotret kemarahan masa lalu istrinya, lalu kembali menatap mata jernih Thalassa yang sekarang. Jemarinya yang panjang meraba garis rahang istrinya dengan tekanan yang posesif. "Kau ingin aku menjadi rajamu?" Kaelen berbisik di depan bibir Thalassa. "Maka kau harus menerima konsekuensinya. Seminggu ini, aku tidak akan kembali ke kantor. Kau tidak akan melihat siapa pun selain aku. Hanya ada kau, aku, dan dinding-dinding ruangan ini." Thalassa tidak memalingkan wajah. Sebaliknya, ia justru menyandarkan pipinya ke telapak tangan Kaelen yang besar, memberikan sentuhan lembut yang membuat binar kegilaan di mata sang Duke semakin pekat. "Tugas seorang istri adalah melayani suaminya, Yang Mulia," bisik Thalassa dengan nada patuh yang begitu manis. "Jika kau harus membawa lukisanku ke kantormu hanya untuk merasa dekat denganku, maka di sini, aku dengan senang hati akan menjadi tawananmu yang nyata." Kaelen mengerang rendah, menarik pinggang Thalassa dan merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah tersisa. "Lihat lukisan itu, Duchess," bisik Kaelen gelap di telinganya. "Di sana kau tampak ingin pergi. Tapi di sini, di pelukanku, kau adalah milikku seutuhnya. Dan aku akan memastikan selama tujuh hari ke depan, kau lupa bahwa ada dunia lain di luar pintu ini."Pagi harinya, sinar matahari utara yang hangat menerobos sempurna di antara celah-celah tirai renda kamar utama Kastel Aristhos. Bias keemasan itu perlahan mengusir sisa-sisa embun beku yang menempel di balik kaca tebal, membawa kehangatan alami yang menyelimuti seluruh ruangan. Kaelen terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar setelah melewati tidur nyenyak yang tak terinterupsi sepanjang malam. Pria itu menarik napas panjang, meresapi rasa lega yang menjalar di dada dan kepalanya yang kini bersih dari pening. Lengan kokohnya masih melingkari pinggang Thalassa secara mutlak, mengunci posisi tubuh istrinya rapat dalam dekapannya. Ketika Kaelen menunduk, ia mendapati sepasang mata gelap Thalassa sudah terbuka. Wanita itu sedang menatapnya dengan senyuman lembut yang selalu sanggup meruntuhkan sisa-sisa ketegangan di dalam jiwanya. "Selamat pagi, Duke Aristhos," bisik Thalassa pelan, suaranya yang halus memecah keheningan pagi. Jemari lentiknya terulur, membelai garis rahang Kae
Langkah Kaelen terasa berat namun mantap saat melintasi selasar utama yang temaram. Udara malam di koridor terasa begitu dingin, tetapi kehangatan tubuh gembul Tatjana di dalam dekapannya serta jemari Thalassa yang menggenggam erat tangannya seolah membakar habis seluruh sisa keletihan yang menumpuk di kepalanya. Di dalam kamar utama, perapian batu besar menyala dengan lidah api keemasan yang menari riang, menghantarkan hawa nyaman yang seketika menyambut kepulangan sang penguasa wilayah utara. Kaelen melangkah sangat perlahan menuju ranjang berkanopi mereka. Pria itu merendahkan tubuhnya dan membaringkan Tatjana tepat di tengah-tengah kasur empuk berlapis sutra. Balita yang baru saja menyelesaikan Misi Penyelamatan menggeliat pelan. Mulut kecilnya mengerucut, mengeluarkan gumaman halus dalam lelapnya sebelum akhirnya melingkarkan lengan gembulnya pada boneka beruang kusam yang dibawa Thalassa dari ruang kerja tadi. Thalassa mendekat, menarik selimut bulu domba tebal untuk menutupi
Selama tiga hari berturut-turut, Kediaman Aristhos terasa seolah membeku. Pintu kayu tebal yang melapisi ruang kerja sang Duke tertutup rapat, mengisolasi Kaelen dari sisa dunia. Krisis perbatasan barat laut, kebocoran dokumen sengketa tanah dan ancaman pergerakan pasukan faksi oposisi ibu kota memaksa Kaelen mengurung diri. Pria itu menolak keluar, hampir tidak menyentuh makanan, dan terus bekerja dalam remang cahaya lilin yang tak pernah padam. Para pelayan yang mengetuk pintu hanya disambut oleh suara bariton dingin yang menggelegar dari dalam "Tinggalkan baki di luar dan jangan ada yang menggangguku." Bahkan Kepala Pelayan Gilbert dan Jenderal Balthazar hanya bisa berdiri cemas di lorong, tak berani mendobrak keputusan sang penguasa wilayah utara. Thalassa, yang berdiri di ujung lorong dengan nampan teh yang sudah dingin, menghela napas panjang. Ia melirik gaun malamnya, lalu menunduk menatap sosok kecil gembul yang berdiri di sampingnya. Tatjana sedang memegang cangkir plastik
Pagi itu, perkemahan militer di perbatasan utara dipenuhi aura dingin yang mencekam. Angin berembus membawa aroma tanah basah dan besi tua, sementara ratusan prajurit berbadan tegap sedang berlatih pedang dengan ketangkasan penuh. Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke lapangan latihan, Kaelen berdiri tegak dengan jubah hitam tebal melambai tertiup angin. Di sampingnya, Thalassa berdiri anggun sambil memperketat pegangannya pada tali gaun muslin tebalnya. Namun, fokus utama di tempat latihan pagi itu bukanlah formasi tempur para prajurit, melainkan sosok kecil bergaun wol tebal merah tua yang sedang berdiri tepat di tengah perkemahan. Kaelen sengaja membawa Tatjana ke sini untuk memberi pelatihan mental pertama sebagai calon penguasa wilayah utara. "Lihat mereka, Tatjana," ujar Kaelen dengan suara bariton berat yang sengaja dibuat berwibawa, menunjuk barisan prajurit bersenjata lengkap. "Mereka adalah pedang dan perisaimu kelak. Seorang penerus Aristhos tidak boleh takut pa
Hari ini adalah hari pembuktian. Kaelen telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan terpengaruh lagi oleh taktik manipulasi putri kecilnya. Kedisiplinan Aristhos harus ditegakkan. Suara langkah-langkah kecil yang berderap riang terdengar dari koridor luar, disusul oleh pintu kayu besar yang terdorong pelan. Tatjana melangkah masuk dengan gaun merah muda berenda, rambutnya yang halus dikuncir dua di sisi kepala. Balita gembul itu berjalan mendekati meja makan sembari memeluk sebuah boneka beruang kain yang sudah agak lusuh. "Selamat pagi, Ibu cantik! Selamat pagi, Ayah ganteng!" seru Tatjana dengan suara nyaring dan ceria. Thalassa tersenyum manis. "Selamat pagi, Putri Ibu." Kaelen menetralkan ekspresi wajahnya, mengabaikan dorongan kuat di dadanya untuk langsung tersenyum. Ia menatap Tatjana dengan pandangan lurus. "Selamat pagi, Tatjana. Duduklah di kursimu. Sarapan sudah siap." Di atas meja di hadapannya, sebuah piring perak kecil sudah disiapkan. Isinya adalah por
"Dia putri dari Kaelen Aristhos, apa yang kau harapkan?" balas Thalassa dengan senyuman hangat. "Darah pembaca situasi dan ahli strategi mengalir deras di nadinya. Bedanya, jika kau menggunakan kecerdikan itu untuk memenangkan pertempuran atau negosiasi politik, Tatjana menggunakannya untuk mendapatkan biskuit tambahan dan menghindari sayuran hijau." Kaelen menghela napas panjang, merengkuh pinggang Thalassa lebih erat, membawa tubuh istrinya makin menempel padanya. "Ini tidak lucu lagi jika kita memikirkannya dalam jangka panjang. Jika dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan hanya dengan mengeluarkan tatapan memelas dan kata-kata manis, bagaimana saat dia harus menghadapi dunia luar yang keras? Dunia politik bangsawan tidak akan melunak hanya karena seseorang punya pipi gembul dan mata bulat yang menggemaskan." Thalassa menyandarkan dahinya di dada Kaelen, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama konstan. "Kaelen, dengarkan aku," tutur Thalassa dengan nada seju
Keheningan di dalam perpustakaan yang sebelumnya terasa hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Kaelen, yang sedang merapikan beberapa buku tua di rak paling atas, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku bersampul kulit kusam. Dari sela-sela halamannya, sebuah amplop biru pucat terjatuh
Keputusan Kaelen mengguncang seluruh isi rumah. Sang Duke yang biasanya menghabiskan 18 jam sehari untuk urusan wilayah, kini justru mengurung diri di rumah. Namun, bagi Thalassa, ini adalah surga yang selama ini ia impikan. Kaelen tidak membiarkan Thalassa berada jauh darinya. Saat Kaelen membaca
Pagi hari di kediaman Aristhos biasanya dimulai dengan bisik-bisik sinis dari para pelayan di lorong-lorong gelap. Namun, pagi ini berbeda. Thalassa terbangun lebih awal, memastikan dirinya tampil sempurna sebelum Kaelen meninggalkan ranjang.Setelah Kaelen berangkat dengan pesan posesif seperti bi
Suasana aula perjamuan kerajaan begitu berkilauan. Ratusan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan lencana militer para bangsawan. Namun, bagi Thalassa, kemewahan ini terasa asing. Ia melangkah dengan anggun di samping Kaelen, tangan mungilnya terseli







