Home / Romansa / Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif / Bab 41 Rasa Manis Khusus Duchess

Share

Bab 41 Rasa Manis Khusus Duchess

Author: Gauri Nayara
last update publish date: 2026-06-07 10:17:53

Lentera dinding kamar utama telah meredup sejak beberapa jam lalu, menyisakan pendar keemasan dari sisa bara api di perapian yang memantul pada langit-langit kamar. Di luar, keheningan malam musim dingin begitu pekat, sesekali hanya diinterupsi oleh suara angin yang menyapu sudut-sudut menara batu.

Thalassa membuka matanya perlahan. Kesadaran kembali secara bertahap, mengusir sisa-sisa mimpi yang samar. Ia mengerutkan kening kecil saat merasakan kekosongan di sisi ranjangnya. Kaelen tidak ada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 78 Thalassa Insecure

    Thalassa sedang berdiri di depan cermin besar. Ia hanya mengenakan gaun tidur tipis yang kini terasa lebih ketat dari biasanya. Thalassa memutar tubuhnya ke samping, menatap pantulan dirinya dengan jemari yang ragu-ragu menyentuh perutnya yang mulai membuncit nyata.Ia menghela napas panjang. Bukan hanya perutnya, tetapi lengannya, pipinya, bahkan lekuk tubuhnya kini terasa jauh lebih berisi. Sebagai wanita yang di kehidupan sebelumnya selalu merasa tertekan untuk tampil sempurna namun tetap gagal, melihat perubahan fisik ini memicu rasa tidak aman yang terpendam jauh di dalam jiwanya."Aku terlihat seperti bola," gumam Thalassa lirih, matanya berkaca-kaca menatap bayangannya sendiri. "Bagaimana bisa Kaelen masih ingin menatapku jika aku tidak lagi memiliki bentuk tubuh yang indah?"Tanpa ia sadari, pintu kamar terbuka pelan. Kaelen melangkah masuk, masih dengan wajah yang sedikit pucat namun tampak jauh lebih stabil malam ini. Langkahnya terhenti saat melihat istrinya berdiri diam di

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 77 Penderitaan sang Ayah

    Sesampainya di pasar pusat ibu kota, suasana sangat ramai. Kaelen berjalan sangat rapat di belakang Thalassa, lengannya melingkar di pinggang istrinya seolah-olah ia sedang memagari harta paling berharga miliknya agar tidak tersentuh udara luar. Matanya yang tajam dan dingin terus mengawasi setiap orang yang berpapasan dengan mereka. "Lihat, Kaelen! Kue beras madu itu terlihat enak!" seru Thalassa dengan ceria, ia melangkah menuju sebuah kedai kecil.Kaelen segera menariknya kembali sebelum ia sempat menjauh lebih dari satu langkah. "Jangan berlari, Thalassa! Dan kedai itu, lihat debu di mejanya. Itu tidak higienis. Kau sedang hamil, kau tidak boleh memakan sesuatu yang dihinggapi lalat pasar.""Ini pasar, Kaelen, tentu saja ada debu. Tapi lihat, penjualnya sangat bersih," Thalassa tetap bersikeras. Ia membeli satu kantong besar kue tersebut.Selama satu jam berikutnya, Kaelen berubah menjadi bayangan yang sangat cerewet dan protektif. Ia memeriksa setiap kantong makanan yang dibeli

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 76 Rasa Mual Sang Duke

    Pagi itu di ruang makan utama Kaelen duduk bersandar lemas di kursi, wajahnya pucat pasi dengan sebuah saputangan sutra yang terus menempel di hidungnya. Di depannya, sama sekali tidak ada makanan, hanya segelas air putih hangat dengan perasan lemon yang bahkan baunya pun membuat ulu hatinya bergejolak.Sebaliknya, di sisi lain meja, Thalassa tampak begitu bersinar. Pipinya yang dulu tirus kini mulai berisi dan merona sehat. Nafsu makannya meningkat drastis, di depannya tersaji roti panggang dengan lapisan mentega tebal, telur orak-arik yang lembut, dan potongan daging yang aromanya memenuhi ruangan."Kaelen, kau yakin tidak mau mencoba sepotong roti ini? Ini sangat enak," tanya Thalassa dengan nada tidak tega namun suaranya terdengar sangat ceria karena semangat makannya."Jauhkan... jauhkan piring itu dariku, Thalassa," gumam Kaelen parau, matanya terpejam rapat. "Hanya dengan mendengar suara kunyahanmu saja, perutku rasanya ingin terbalik."Tiba-tiba, Kaelen membuka matanya dengan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 75 Jiwa yang Menetap

    Tiba-tiba, sepasang lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dari belakang. Thalassa tersentak kecil karena terkejut, namun aroma maskulin yang akrab segera menenangkannya. Kaelen rupanya telah terbangun begitu merasakan sisi ranjangnya mendingin. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Thalassa, ikut menatap pantulan mereka berdua di cermin besar tersebut. "Kenapa kau berdiri di sini sendirian, Thalassa? Dan kenapa matamu terlihat begitu sedih saat menatap dirimu sendiri?" tanya Kaelen, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh selidik. Thalassa memaksakan seulas senyum tipis, meskipun hatinya terasa perih oleh rahasia yang tidak mungkin ia bagikan. "Aku hanya merasa aneh melihat perubahanku, Kaelen. Aku merasa seperti orang yang berbeda jika dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu." Kaelen tidak langsung menjawab. Ia justru mengeratkan pelukannya, membiarkan telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas perut Thalassa, seolah ingin mengunci wan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 74 Miliknya yang Dijaga

    Malam itu, setelah Kaelen akhirnya tertidur karena kelelahan setelah sesi mual yang hebat, Thalassa tetap terjaga. Ia duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah suaminya yang tampak lebih tenang saat terlelap. Tangan Thalassa perlahan turun, mengusap perutnya yang masih terasa datar namun di dalamnya ada sebuah kehidupan yang mulai berdenyut.Setetes air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan rasa syukur yang begitu menyesakkan dada.Di kehidupan sebelumnya, memori itu masih tersimpan rapi seperti luka lama yang sudah mengering namun tetap meninggalkan bekas. Dulu, ia adalah seorang wanita yang hancur hanya karena rahimnya dianggap tidak berfungsi. Suaminya di kehidupan sebelumnya, pria yang dulu ia pikir adalah dunianya perlahan-lahan berubah menjadi orang asing. Tatapan cinta berganti menjadi tatapan kosong, lalu kebencian, hingga akhirnya pengabaian yang dingin.Thalassa ingat betul bagaimana ia menangis di kamar yang sunyi setiap malam, meratapi ketid

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 73 Gejala yang Tertukar

    Thalassa sudah tertidur lelap sejak dua jam lalu, meringkuk nyaman di balik selimut bulu tebal dengan posisi membelakangi sisi ranjang suaminya. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Kaelen, tiba-tiba terbangun. Matanya melotot lebar menatap langit-langit ranjang. Jantungnya berdebar, bukan karena ada ancaman musuh atau penyusup, melainkan karena sebuah dorongan aneh yang mendadak menguasai seluruh indra pengecapnya. Air liurnya berkumpul di rongga mulut, dan perutnya bergejolak hebat oleh sebuah keinginan yang sangat spesifik sekaligus tidak masuk akal. Pria itu menoleh ke samping, menatap punggung Thalassa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan dan mengguncang bahu istrinya dengan nada mendesak. "Thalassa, bangun," bisik Kaelen, suaranya parau dan dipenuhi kecemasan yang ganjil. "Hmm...?" Thalassa melenguh kecil, kelopak matanya terasa sangat berat. Ia mencoba mengabaikan guncangan itu, namun Kaelen kembali mendorong bahunya sedikit lebih kuat. "Thala

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 72 Tanda Kehidupan Baru

    Pagi itu, suasana di kediaman Aristhos tidak dimulai dengan ketenangan seperti biasanya. Cahaya matahari baru saja menyentuh lantai marmer, namun suara gaduh dari arah kamar mandi utama sudah memecah kesunyian.Kaelen, sang Duke yang biasanya tampak perkasa dan tak tergoyahkan, kini terduduk lemas

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 71 Jinak dalam Dekapan

    Kaelen duduk di balik mejanya, namun pikirannya tidak berada pada tumpukan kertas di depannya. Matanya terus bergerak gelisah, dan jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa kecemasannya sedang berada di puncak.Thalassa masuk membawa nampan berisi teh hangat dan camilan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 70 Genggaman yang Melunak

    Beberapa minggu setelah hari itu itu, Kaelen akhirnya harus menghadiri jamuan makan malam resmi di istana kekaisaran. Ini adalah kemunculan publik pertama mereka sejak Thalassa pulih dari sakitnya. Kerumunan bangsawan seketika hening saat pintu aula besar dibuka dan nama mereka diumumkan.Kaelen me

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 69 Dinding Dingin yang Mulai Mencair

    Pagi itu, atmosfer di dalam menara utara terasa jauh lebih ringan. Thalassa membuktikan ucapannya, ia tidak lagi sekadar pasrah menerima perlindungan Kaelen, melainkan mengambil langkah aktif untuk menjinakkan trauma yang merantai suaminya.Saat Kaelen baru saja selesai mengenakan kemeja formalnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status