Share

Bab 76 Rasa Mual Sang Duke

Author: Gauri Nayara
last update publish date: 2026-06-28 02:07:12

Pagi itu di ruang makan utama Kaelen duduk bersandar lemas di kursi, wajahnya pucat pasi dengan sebuah saputangan sutra yang terus menempel di hidungnya. Di depannya, sama sekali tidak ada makanan, hanya segelas air putih hangat dengan perasan lemon yang bahkan baunya pun membuat ulu hatinya bergejolak.

Sebaliknya, di sisi lain meja, Thalassa tampak begitu bersinar. Pipinya yang dulu tirus kini mulai berisi dan merona sehat. Nafsu makannya meningkat drastis, di depannya tersaji roti panggang de
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 78 Thalassa Insecure

    Thalassa sedang berdiri di depan cermin besar. Ia hanya mengenakan gaun tidur tipis yang kini terasa lebih ketat dari biasanya. Thalassa memutar tubuhnya ke samping, menatap pantulan dirinya dengan jemari yang ragu-ragu menyentuh perutnya yang mulai membuncit nyata.Ia menghela napas panjang. Bukan hanya perutnya, tetapi lengannya, pipinya, bahkan lekuk tubuhnya kini terasa jauh lebih berisi. Sebagai wanita yang di kehidupan sebelumnya selalu merasa tertekan untuk tampil sempurna namun tetap gagal, melihat perubahan fisik ini memicu rasa tidak aman yang terpendam jauh di dalam jiwanya."Aku terlihat seperti bola," gumam Thalassa lirih, matanya berkaca-kaca menatap bayangannya sendiri. "Bagaimana bisa Kaelen masih ingin menatapku jika aku tidak lagi memiliki bentuk tubuh yang indah?"Tanpa ia sadari, pintu kamar terbuka pelan. Kaelen melangkah masuk, masih dengan wajah yang sedikit pucat namun tampak jauh lebih stabil malam ini. Langkahnya terhenti saat melihat istrinya berdiri diam di

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 77 Penderitaan sang Ayah

    Sesampainya di pasar pusat ibu kota, suasana sangat ramai. Kaelen berjalan sangat rapat di belakang Thalassa, lengannya melingkar di pinggang istrinya seolah-olah ia sedang memagari harta paling berharga miliknya agar tidak tersentuh udara luar. Matanya yang tajam dan dingin terus mengawasi setiap orang yang berpapasan dengan mereka. "Lihat, Kaelen! Kue beras madu itu terlihat enak!" seru Thalassa dengan ceria, ia melangkah menuju sebuah kedai kecil.Kaelen segera menariknya kembali sebelum ia sempat menjauh lebih dari satu langkah. "Jangan berlari, Thalassa! Dan kedai itu, lihat debu di mejanya. Itu tidak higienis. Kau sedang hamil, kau tidak boleh memakan sesuatu yang dihinggapi lalat pasar.""Ini pasar, Kaelen, tentu saja ada debu. Tapi lihat, penjualnya sangat bersih," Thalassa tetap bersikeras. Ia membeli satu kantong besar kue tersebut.Selama satu jam berikutnya, Kaelen berubah menjadi bayangan yang sangat cerewet dan protektif. Ia memeriksa setiap kantong makanan yang dibeli

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 76 Rasa Mual Sang Duke

    Pagi itu di ruang makan utama Kaelen duduk bersandar lemas di kursi, wajahnya pucat pasi dengan sebuah saputangan sutra yang terus menempel di hidungnya. Di depannya, sama sekali tidak ada makanan, hanya segelas air putih hangat dengan perasan lemon yang bahkan baunya pun membuat ulu hatinya bergejolak.Sebaliknya, di sisi lain meja, Thalassa tampak begitu bersinar. Pipinya yang dulu tirus kini mulai berisi dan merona sehat. Nafsu makannya meningkat drastis, di depannya tersaji roti panggang dengan lapisan mentega tebal, telur orak-arik yang lembut, dan potongan daging yang aromanya memenuhi ruangan."Kaelen, kau yakin tidak mau mencoba sepotong roti ini? Ini sangat enak," tanya Thalassa dengan nada tidak tega namun suaranya terdengar sangat ceria karena semangat makannya."Jauhkan... jauhkan piring itu dariku, Thalassa," gumam Kaelen parau, matanya terpejam rapat. "Hanya dengan mendengar suara kunyahanmu saja, perutku rasanya ingin terbalik."Tiba-tiba, Kaelen membuka matanya dengan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 75 Jiwa yang Menetap

    Tiba-tiba, sepasang lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dari belakang. Thalassa tersentak kecil karena terkejut, namun aroma maskulin yang akrab segera menenangkannya. Kaelen rupanya telah terbangun begitu merasakan sisi ranjangnya mendingin. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Thalassa, ikut menatap pantulan mereka berdua di cermin besar tersebut. "Kenapa kau berdiri di sini sendirian, Thalassa? Dan kenapa matamu terlihat begitu sedih saat menatap dirimu sendiri?" tanya Kaelen, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur, namun penuh selidik. Thalassa memaksakan seulas senyum tipis, meskipun hatinya terasa perih oleh rahasia yang tidak mungkin ia bagikan. "Aku hanya merasa aneh melihat perubahanku, Kaelen. Aku merasa seperti orang yang berbeda jika dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu." Kaelen tidak langsung menjawab. Ia justru mengeratkan pelukannya, membiarkan telapak tangannya yang besar dan hangat menempel di atas perut Thalassa, seolah ingin mengunci wan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 74 Miliknya yang Dijaga

    Malam itu, setelah Kaelen akhirnya tertidur karena kelelahan setelah sesi mual yang hebat, Thalassa tetap terjaga. Ia duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah suaminya yang tampak lebih tenang saat terlelap. Tangan Thalassa perlahan turun, mengusap perutnya yang masih terasa datar namun di dalamnya ada sebuah kehidupan yang mulai berdenyut.Setetes air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan rasa syukur yang begitu menyesakkan dada.Di kehidupan sebelumnya, memori itu masih tersimpan rapi seperti luka lama yang sudah mengering namun tetap meninggalkan bekas. Dulu, ia adalah seorang wanita yang hancur hanya karena rahimnya dianggap tidak berfungsi. Suaminya di kehidupan sebelumnya, pria yang dulu ia pikir adalah dunianya perlahan-lahan berubah menjadi orang asing. Tatapan cinta berganti menjadi tatapan kosong, lalu kebencian, hingga akhirnya pengabaian yang dingin.Thalassa ingat betul bagaimana ia menangis di kamar yang sunyi setiap malam, meratapi ketid

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 73 Gejala yang Tertukar

    Thalassa sudah tertidur lelap sejak dua jam lalu, meringkuk nyaman di balik selimut bulu tebal dengan posisi membelakangi sisi ranjang suaminya. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Kaelen, tiba-tiba terbangun. Matanya melotot lebar menatap langit-langit ranjang. Jantungnya berdebar, bukan karena ada ancaman musuh atau penyusup, melainkan karena sebuah dorongan aneh yang mendadak menguasai seluruh indra pengecapnya. Air liurnya berkumpul di rongga mulut, dan perutnya bergejolak hebat oleh sebuah keinginan yang sangat spesifik sekaligus tidak masuk akal. Pria itu menoleh ke samping, menatap punggung Thalassa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan dan mengguncang bahu istrinya dengan nada mendesak. "Thalassa, bangun," bisik Kaelen, suaranya parau dan dipenuhi kecemasan yang ganjil. "Hmm...?" Thalassa melenguh kecil, kelopak matanya terasa sangat berat. Ia mencoba mengabaikan guncangan itu, namun Kaelen kembali mendorong bahunya sedikit lebih kuat. "Thala

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 68 Sentuhan yang menyembuhkan

    Malam-malam di kediaman Aristhos biasanya dilewati dengan ketegangan yang sunyi. Kaelen sering kali terjaga hingga dini hari, duduk kaku di sisi tempat tidur atau di meja kerjanya, mengawasi Thalassa seolah wanita itu bisa menguap jika ia memejamkan mata. Namun, sejak Thalassa memutuskan untuk meru

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 60 Sisa Kehangatan Semalam

    Kaelen tampak ragu, seolah jika ia menurunkan kewaspadaannya sedikit saja, sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, melihat tatapan memohon dari Thalassa, ia akhirnya menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada kursi, meski tangannya tetap menggenggam ujung gaun tidur Thalassa. Thalass

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 57 Pemilik yang Menunggu

    Malam kembali memeluk menara utara dengan keheningan yang pekat, namun di salah satu sudut tersembunyi kastel Aristhos, suasana terasa jauh lebih hangat. Kaelen ingin merayakan pulihnya Thalassa. Ia ingin menghapus seluruh memori tentang masa-masa sulit saat istrinya terbaring tak berdaya dengan wa

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 56 Labirin Hangat

    Tatapan Kaelen menggelap mendengarnya. Ia merapatkan jubah bulu cerpelai yang membungkus tubuh Thalassa, memastikan tidak ada ruang bagi udara luar untuk menyelinap masuk ke balik pakaian istrinya. "Apakah kehangatan yang kuberikan di dalam kamar selama ini masih kurang nyata bagimu?" tanya Kaelen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status