LOGINSeorang dayang yang melayani Esther—Emma Hudson, datang ke kamar seperti yang sudah terjadwal. Melayani Esther saat mandi, termasuk membersihkan punggung, keramas, hingga menggosok kuku kaki dan tangan, ia lakukan dengan wajah datar dan serius untuk menutupi kegelisahan.
Esther teringat. Di novel ia tulis, pengabdian yang dilakukan pelayan terhadap keluarga kekaisaran dan bangsawan cukup berbeda. Meski begitu, merasakannya sendiri terasa cukup aneh karena Emma melayani dirinya hingga titik terpencil tubuhnya. "Emma," Esther memanggil, berusaha untuk tidak bergidik. "Ya, Yang Mulia Permaisuri." Emma menghentikan gerakannya, membungkuk takzim di belakang Esther sambil menunggu perintah. Esther menatap pantulan dirinya di cermin besar. Hiasan kepala yang berlebihan, gaun dengan warna merah yang mencolok, dan wajah yang dirias sedemikian rupa ini …, membuatnya terlihat seperti wanita yang angkuh dan berkuasa. Ia menertawai diri sendiri dalam hati. Karena telah menciptakan karakter dengan kepribadian seburuk Esther Belliana Ravenshire. Perlahan, tangannya bergerak melepas semua aksesori yang berlebihan itu. Emma terkejut dan segera berlutut. "Apakah saya melakukan kesalahan, Yang Mulia?" Alasannya sangat sederhana, "Tidak, hanya sedikit tidak nyaman." Deg. Emma menelan ludah, kedua tangannya bahkan sudah gemetar sejak Esther melepas semua perhiasan yang ia pasangkan. Esther memiringkan kepala melihat Emma yang gemetar sambil berlutut di bawahnya. Esther berdiri di hadapan Emma, tangannya terulur. ‘Dia akan menamparku!’ Emma berseru dalam hati, memejamkan mata. “Sedang apa kau, Emma?” Esther berjongkok di depannya dengan tangan terulur. “Berdirilah.” Esther tersenyum hangat. “Eh?” Manik Emma menajam, “Hah ….” Ia masih tidak sepenuhnya mengerti dengan perbuatan wanita ini. ‘Aku tidak dipukul ….’ Justru Esther memegangi kedua tangannya dan berdiri bersama. Bahkan sentuhan itu terasa lembut. Emma tertunduk, jantungnya berdegup, ‘Ini tidak seperti nyata.’ “Bolehkah aku meminta tolong padamu?” Esther bertanya dengan nada yang lebih akrab. “Eh? B-baik!” Emma tergugup. "Emma, bawakan dokumen dan surat-surat yang perlu kukerjakan." Esther memulainya dari sesuatu yang 'mudah'. Esther menghela napas panjang. 'Esther yang dulu hanya sibuk memproklamirkan diri sebagai wanita paling berkuasa di dunia sosialita, tapi kegunaannya sangat tidak ada.' 'Yah …, setidaknya sebagai pencipta, aku bisa menciptakan dunia yang damai untuk Willam dan Claire dengan menghentikan sikap sombong Esther melalui diriku sendiri. Dan memulai pekerjaan yang sebenarnya sebagai seorang Permaisuri.' 'Juga menyimpan investasi untuk biaya hidupku setelah novel ini berakhir, mungkin membeli rumah di pelosok negeri dan tinggal sendiri ….' "Y-Yang Mulia …?" Emma memanggil dengan suara gemetar, memecah lamunan Esther. "Dokumen apa yang Anda inginkan?" Terlihat, wajahnya separuh terkejut sejak ia mendengar Esther ingin dibawakan dokumen, separuh lagi bingung dokumen apa yang Esther maksud? 'Harusnya dokumen daftar pesta yang harus dihadiri, kan …?' Emma bergumam dalam hati. Esther mengangkat jari telunjuknya seolah mendapatkan ide bagus. "Ah, aku ingat sudah melimpahkan tanggung jawab pembukuan istana pada Norbert, kau bisa menyuruhnya datang untuk mengembalikannya padaku." "Lalu surat-surat yang tertunda sejak Duchess Luthadel meresmikan rumah sakit di Distrik Utara. Surat-surat dari galeri seni. Surat undangan pesta teh, atau apa pun yang semacamnya." Esther menyebutkannya secara lengkap. "Aku perlu menyelesaikan segera yang perlu diselesaikan." Emma menelan ludah. "B-baik, Yang Mulia!" ia segera berlari keluar dari kamar Esther. Esther duduk bersandar di belakang meja kerjanya, menunggu tumpukan pekerjaan itu. "Berhubung sudah memiliki tubuh sehat, tentu tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi." Ia meregangkan kedua tangannya, bersiap menerima pekerjaan sebesar apa pun, yang ia yakini banyak yang tertunda karena Esther mengabaikannya. *** Sementara dalam perjalanan pergi ke ruang kerja Permaisuri, Emma berjalan secepat mungkin dengan pertanyaan menumpuk di kepalanya. 'Apa matahari terbit dari barat hari ini? Beliau bangun pagi tanpa berteriak, tidak memaki saat mandi, dan sekarang …, ingin bekerja?' Emma memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya. Semua kejanggalan ini tidak akan pergi hanya dengan dipikirkan saja. Setidaknya, lakukan saja selama itu perintah. Dia menerobos masuk ruang kerja dan mencari semua dokumen yang dicari. Ia berpapasan dengan Sir Theron di lorong, pengawal Baginda Kaisar yang datang ke Istana Permaisuri untuk bertemu dengan Kepala Pelayan. "Lady Hudson?" Theron hampir menabrak Emma, yang segera berhenti di depannya dengan napas menderu. Melihat wanita muda itu membawa setumpuk dokumen. "Selamat pagi, Sir. Maaf, saya terburu-buru." "Ada apa? Kenapa dengan surat-surat itu? Apa Yang Mulia Permaisuri menyuruhmu membakar semuanya lagi?" Emma memejamkan mata sambil mengatur napasnya. "Bukan, Sir. Permaisuri …, hanya menyuruh saya membawakan semuanya ke meja kerjanya di kamar. Ini sangat aneh, tapi memang begitu kenyataannya. Kalau begitu, saya permisi." Theron mengedipkan mata beberapa kali. "Permaisuri yang itu? Bekerja?" Emma terus berjalan cepat di lorong supaya tidak memakan waktu lama. Ia menghentikan langkah di depan pintu kamar Esther yang tertutup, mengatur napas, lalu mengetuknya. "Masuk." Suara Esther terdengar dari dalam. Emma melangkah masuk, meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja,. "Yang Mulia, saya sudah membawakan dokumen yang ada. Tuan Norbert sudah dipanggil.” Lalu berdiri satu meter di depan Esther "Baiklah …." Esther mulai memilah tumpukan dokumen yang tertunda itu. Ia memijat pelipisnya saat melihat betapa berantakannya dokumen-dokumen itu. Surat-surat laporan Duchess Luthadel bahkan tidak pernah dibuka segelnya, padahal ada permohonan anggaran yang mendesak. 'Orang ini …, benar-benar permaisuri boneka yang hanya tahu fashion dan berpesta.' Esther menghela napas berat, frustasi sendiri. Ia harus memperbaiki semua kekacauan yang dibuat Esther yang sebelumnya. Emma mengamati dari dekat perubahan yang terjadi pada majikannya. 'Dia bekerja dengan serius, bahkan sudi membaca satu-persatu dokumen yang menurutnya membosankan.' 'Dia menandatangani semua surat undangannya tanpa mengeluh. Benar-benar kiamat. Padahal semalam orang ini masih suka mabuk-mabukan.' Emma menghela napas panjang. Pintu diketuk dari luar. Emma menoleh ke belakang, Norbert, Kepala Pelayan di Istana Permaisuri datang membawa buku besar pembukuan istana yang ia kelola sejak tiga tahun yang lalu. "Yang Mulia." Norbert membungkuk kaku. "Saya mendengar Anda meminta saya mengembalikan buku besar ini …, bolehkah saya menanyakan alasannya?" Esther menatap Norbert dengan wajah penuh tanya. "Alasan? Bukankah sejak awal pembukuan itu adalah tanggung jawab Permaisuri?" Norbert tertegun, itu adalah kalimat penuh otoritas yang belum pernah ia dengar dari mulut Esther selama ini. Ia menyerahkan buku itu dengan tangan gemetar, separuh ragu, separuh lagi ingin mencoba percaya. "Kudengar kau sangat kompeten sejak pertama kali dilimpahkan tanggungjawab ini. Apakah kau tidak keberatan tiba-tiba menyerahkannya padaku lagi?" tanya Esther, ia membuka buku itu. "Kalau itu kehendak Yang Mulia Permaisuri, maka saya merasa terhormat." Norbert membungkuk takzim, dalam hati, ia masih enggan untuk tunduk, tapi sosok di depannya ini membuatnya tidak punya pilihan lain. "Kalau begitu …, terima kasih telah menggantikan saya mengerjakannya beberapa tahun terakhir, Anda bisa bertugas dengan tenang sebagai kepala pelayan pada umumnya sekarang." Esther tersenyum. Emma menutup mulutnya. 'Wah, dia berterima kasih.' Esther menatap Emma. "Lalu, ini adalah daftar acara sosial yang akan kuhadiri dalam satu minggu ke depan, Emma." Esther memberikan lima buah amplop pada Emma. "Pastikan surat balasannya diterima dengan baik oleh calon tuan rumah." "Baik …." 'Esther menghela napas panjang. Hanya perlu membaca surat-surat Duchess Luthadel dan pembukuan Istana. Mulai besok aku sudah menghadiri pesta teh yang menyertakan namaku di undangannya.' Esther menghela napas panjang. 'Aku harus menyibukkan diri mulai sekarang. Sebagai investasi untuk kehidupanku setelah cerita ini berakhir. Karena pasti Claire akan menikah dengan William, lalu aku akan hidup menyendiri di suatu sudut kekaisaran ini dengan tenang.' *** "Silakan diminum, Baginda …." Claire, wanita berambut perak dengan pakaian serba putih itu menuangkan teh di cangkir William yang sibuk berkutat dengan pekerjaan. "Ya, terima kasih." William menyeruput isinya. Teh yang diseduh Claire sudah dicampuri dengan air suci khusus untuk menetralkan energi negatif di tubuh orang yang meminumnya. William sudah mengonsumsinya selama beberapa minggu terakhir sejak Claire datang ke istananya sebagai utusan kuil untuk menyembuhkan penyakit mentalnya yang terguncang setelah kematian keluarganya. Pintu ruang kerja terbuka. Theron masuk dengan langkah biasa. "Baginda." "Bagaimana?" "Hari ini saya gagal menemui Tuan Norbert, Baginda." Theron memasang wajah bingung. "Kenapa?" "Karena …, dia sedang berada di ruangan Yang Mulia Permaisuri." Theron memejamkan mata, merasa bahwa kalimatnya sendiri sangat sulit untuk dipercaya. "Oh? Wanita itu mau mengacaukan anggaran yang mana lagi?" William berdecih. "Bukan mengacaukan, ini …, bagaimana mengatakannya, ya? Lady Hudson berkata bahwa Yang Mulia Permaisuri ingin bekerja." Gerakan tangan William terhenti. "Permaisuri ingin bekerja?”“Apakah vas itu tidak menarik minat Yang Mulia?” Claire berdiri di samping Esther, melakukan curtsy yang sangat indah. Suara riuh rendah pelelangan itu menjauh entah ke mana. Esther menelan ludah. “Nona Saintess?” "Apakah itu lebih bagus dari guci yang ada di kamarku?" Esther bertanya pelan, menyadarkan diri dari keterkejutannya.Claire menundukkan kepala sedikit, menunjukkan senyum lembutnya. “Tidak sebagus itu …, yang dihargai adalah sejarah barang tersebut.”"Aku tidak membeli barang yang tidak kusukai, Nona Saintess.” Esther tersenyum kaku, ia menyadari para wanita bangsawan melihat mereka sudah seperti melihat pertunjukan drama di gedung teater.Claire masih menatapnya. "Meski berpotensi memenangkan semua barang dan menjadi terkenal sebagai donatur terbanyak?" Claire menatap penasaran."Ya, aku bisa memberikan donasi sebanyak yang kumau tanpa harus memenangkan semua barangnya. Lalu kelihatannya Marchioness Saffron lebih menginginkan vas itu daripada aku. Aku menghargai keingin
Lengang. Bahkan Marchioness Saffron sendiri tidak menyangka Esther akan menyentuh punggung tangannya dengan begitu ringan. Sehingga ia hanya mengira ini salah satu bentuk penghinaan yang baru. "Saya senang akhirnya mendapat kesempatan untuk hadir di acara mulia ini setelah bertahun-tahun hati saya tertutup kabut hitam." Esther tersenyum. "Terima kasih karena Marchioness sudah bersusah hati menyimpan satu undangan untuk saya." Marchioness yang baru menegakkan kembali tubuhnya, membelalak terkejut dengan mulut terbuka yang segera ia tutupi dengan kipasnya. "I-itu adalah sebuah kehormatan, Yang Mulia. Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia membaca undangan saya dan hadir. Mari, saya antarkan ke kursi Anda." "Terima kasih." Marchioness Saffron tertegun. Orang yang jarang membalas sapaan orang lain ini bahkan berterima kasih sebanyak dua kali padanya. Esther berjalan di belakang Marchioness sambil memasang wajah tersenyum manis pada setiap orang yang menatapnya dengan ekspres
Kekaisaran Ravenshire berdiri di atas daratan benua yang luas, dianugerahi pertambangan tembaga dan batu bara yang melimpah, tanah yang subur, habitat yang nyaman bagi para satwanya, dan ilmu pengetahuan yang mendasar bagi para ilmuwannya. Negeri sebesar ini dipimpin oleh Kaisar yang menjabat sejak usia dua puluh lima tahun, sekarang sudah berjalan tiga tahun sejak pelantikannya. Tiga tahun yang lalu, perang saudara menyebabkan Kaisar Sebelumnya terbunuh, Kaisar itu adalah tiran yang bahkan dianggap sampah oleh rakyatnya sendiri. Dan orang yang membunuhnya adalah Duke Ernest, ayah Esther sendiri. Yang kemudian mengangkat William sebagai kaisar yang baru dengan syarat putri mereka harus menjadi Permaisurinya. William menerima itu karena faktanya dia membutuhkan penyeimbang untuk memperkuat pemerintahannya. Lalu Esther menjadi seorang Ravenshire meski William tak mencintainya. Ia memerintah negeri ini sebagai Permaisuri dan tak membiarkan siapapun meragukan keberadaannya.Keberadaa
Begitu jam kerjanya selesai, karena sebuah keharusan, William pergi ke Istana Permaisuri untuk tidur. Ia melakukannya setiap hari karena ia harus menginap di kamar Esther setiap malam. Biasanya, karena hubungan mereka sangat renggang, William tidak tertarik untuk menyapa mau pun mengobrol dengan Esther, lebih tepat kalau menyebut Esther-lah yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk bicara dengannya. Tapi malam ini, ada banyak hal yang ingin William pastikan sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang menggebu-gebu seiring rumor yang menyebar dengan cepat sepanjang hari ini. Bahwa Permaisuri bekerja. Permaisuri yang selalu menghabiskan waktu untuk bersolek dan menggemakan kerusuhan di pesta teh para bangsawan itu tiba-tiba berhenti bersikap bodoh dan bekerja? William berjalan memasuki Istana Permaisuri dengan langkah yang cepat, kedua tangannya mengepal, mantel bulunya berkibar. Ia mengeraskan rahang, apa yang dipikirkan wanita itu sampai-sampai berubah sejauh ini?Tidak …, apa yang sedan
Seorang dayang yang melayani Esther—Emma Hudson, datang ke kamar seperti yang sudah terjadwal. Melayani Esther saat mandi, termasuk membersihkan punggung, keramas, hingga menggosok kuku kaki dan tangan, ia lakukan dengan wajah datar dan serius untuk menutupi kegelisahan.Esther teringat. Di novel ia tulis, pengabdian yang dilakukan pelayan terhadap keluarga kekaisaran dan bangsawan cukup berbeda. Meski begitu, merasakannya sendiri terasa cukup aneh karena Emma melayani dirinya hingga titik terpencil tubuhnya. "Emma," Esther memanggil, berusaha untuk tidak bergidik. "Ya, Yang Mulia Permaisuri." Emma menghentikan gerakannya, membungkuk takzim di belakang Esther sambil menunggu perintah.Esther menatap pantulan dirinya di cermin besar. Hiasan kepala yang berlebihan, gaun dengan warna merah yang mencolok, dan wajah yang dirias sedemikian rupa ini …, membuatnya terlihat seperti wanita yang angkuh dan berkuasa. Ia menertawai diri sendiri dalam hati. Karena telah menciptakan karakter deng
'Kalau begitu mati saja. Supaya kami bisa mengambil asuransi jiwamu.'Olivia membuka matanya dengan tatapan kosong. "Mimpi …, hal yang kualami beberapa hari yang lalu itu kini menjadi mimpi buruk." Olivia menatap laptopnya yang menyala dengan mata lelah. Suara napasnya bahkan terdengar sangat menyesakkan. Ia membaringkan tubuh perlahan. "Haah …," Olivia memandang langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Sambil bertanya-tanya, apakah ia sudah tidak tahan lagi? Kanker darah yang menggerogoti tubuhnya sejak usia kanak-kanak, ia mampu bertahan hingga menginjak usia dua puluh enam tahun. Untuk mengisi waktu membosankan karena sulit mendapatkan pekerjaan yang mampu diterima tubuhnya, Olivia mulai menulis novel. Satu-satunya karya yang berhasil ia tulis hingga saat ini adalah Love in Disguise. Namun, hal yang ia lakukan dengan dasar rasa cinta terhadap sastra itu tak ada harganya di mata keluarganya. Olivia sudah sakit sejak masa kanak-kanak, ia menulis sejak remaja, penghasilnya tak







