LOGINBegitu jam kerjanya selesai, karena sebuah keharusan, William pergi ke Istana Permaisuri untuk tidur. Ia melakukannya setiap hari karena ia harus menginap di kamar Esther setiap malam.
Biasanya, karena hubungan mereka sangat renggang, William tidak tertarik untuk menyapa mau pun mengobrol dengan Esther, lebih tepat kalau menyebut Esther-lah yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk bicara dengannya. Tapi malam ini, ada banyak hal yang ingin William pastikan sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang menggebu-gebu seiring rumor yang menyebar dengan cepat sepanjang hari ini. Bahwa Permaisuri bekerja. Permaisuri yang selalu menghabiskan waktu untuk bersolek dan menggemakan kerusuhan di pesta teh para bangsawan itu tiba-tiba berhenti bersikap bodoh dan bekerja? William berjalan memasuki Istana Permaisuri dengan langkah yang cepat, kedua tangannya mengepal, mantel bulunya berkibar. Ia mengeraskan rahang, apa yang dipikirkan wanita itu sampai-sampai berubah sejauh ini? Tidak …, apa yang sedang ia rencanakan? William membuka pintu kamar Esther dengan kencang. Matanya membulat sempurna, wanita itu sedang menguap dengan etika yang hilang, duduk di meja kerja dengan rambut berantakan, memakai gaun tidur tanpa lengan yang longgar, sambil menggoreskan tinta ke atas kertas undangan. "Eh?" Esther berhenti bergerak. "T-tunggu! Jangan masuk dulu!" ia berteriak kencang sambil menutupi bagian tubuhnya yang terekspos sedikit. William segera keluar dan menutup pintu secara refleks. Ia menahan napas. Pemandangan aneh apa yang tadi? 'Sungguh bukan sifat terpuji yang harus dimiliki Permaisuri.' Ia memejamkan mata sambil mengembuskan napas kasar. Tak lama, Esther kembali membuka pintu dan mempersilakan William masuk. Tadi itu, ia melupakan satu hal. Bahwa meski pun tidak suka, William selalu menepati janji pernikahan mereka untuk tidak pisah ranjang. William mengatur napasnya dengan benar. Kali ini Esther menutupi kedua bahunya dengan selendang tebal, rambut berantakannya telah disisir dengan baik. William sedikit termenung melihat penampilan Esther saat ini. Riasan yang biasanya berlebihan itu tidak ada, mengekspos jelas wajah naturalnya yang tidak bosan meski dipandang lama. Rambutnya tergerai lurus berkilau tanpa mahkota apa pun. Sungguh citra seorang wanita yang indah. "Baginda, saya akan pindah ke ruang kerja sekarang. Anda bisa tidur dengan nyenyak." Esther berkata dengan suara lembut. William tersentak pelan, ia jelas tidak biasa melihat wanita itu bicara tanpa sorot mata lemah menjijikkan yang biasanya ia lihat. Ia bahkan lupa kalau wanita ini tidak memberinya salam sama sekali. "Kau …, masih bekerja? Ini sudah larut." William memalingkan wajah. "Harus saya selesaikan sebelum besok." William melangkah menuju ranjang. "Kau selesaikan saja di sini. Aku tidak peduli tidur dengan lampu menyala." Esther terdiam. 'Apa William memang selembut itu orangnya saat berhadapan dengan Esther? Apa iya?' "Kalau begitu, maaf sudah merepotkan." Esther berjalan mematikan lampu, lalu menyalakan tiga buah lilin di atas kandil meja kerjanya. "Anda bisa tetap tidur nyenyak." William duduk di tepi ranjang, mengamati gerakan Esther yang tidak ceroboh seperti biasanya. "Kudengar kau akhirnya memutuskan untuk mengurus pembukuan Istana." William membuka obrolan. Esther mengangguk. "Karena itu tugas saya." William tidak tahu harus menanyakan apa meski sebelumnya merasa ingin menanyakan banyak hal. Ia segera merebahkan diri dan memejamkan mata. Esther melirik ke arah tempat tidurnya. Jantungnya berdegup kencang karena bicara dengan si tokoh utama pria. Ia mengembuskan napas panjang. 'Selama aku tidak terlibat dengannya, dia akan mencintai Claire dan aku akan segera melihat akhir cerita ini.' * * * Tok. Tok. Tok. Esther membuka mata, suara ketukan pintu itu mengejutkannya. Ia melirik William yang sudah beringsut duduk di sampingnya. "Masuklah." William menjawab. Pintu terbuka. Sosok wanita dengan gaun putih, dan berambut perak, terlihat begitu pintu itu dibuka lebar. Ia membawa nampan berisi sebuah guci porselen yang mewah. "Selamat pagi, Baginda. Semoga Berkat Dewa Matahari selalu menyertai Anda. Saya membawakan air suci." Wanita itu tersenyum hangat. "Terima kasih, Nona Saintess." William menjawabnya, lalu berdiri dari tempat tidurnya. "Kau bisa pergi lebih dulu." Esther menghela napas pelan. 'Kalau memikirkan logikanya, Claire sungguh berani juga, ya. Menjemput suami wanita lain di kediaman wanita itu sendiri,' ia terkekeh dalam hati, 'Meski begitu, dinamika ini disukai banyak penggemar.' Ia juga berdiri dari tempat tidurnya, selendang itu masih menyampir menutupi kedua bahunya yang terbuka. Melihat Esther sudah bangun, Claire sedikit canggung untuk menyapa, namun tetap melakukannya. "Selamat pagi, Yang Mulia Permaisuri." "Selamat pagi, Nona Saintess." Esther tersenyum ramah, "Kau boleh duduk selama menunggu Baginda selesai bersiap." Claire terdiam mendengar sapaan yang tak biasa itu. Ia hanya mengangguk kaku, masih terkejut. Namun saat langkah kaki William terdengar meninggalkan kamar, Claire segera menyusulnya keluar. Esther menghela napas kasar. Menatap ke arah pintu yang kembali tertutup. "Hubungan mereka masih belum sedekat itu untuk saling mencintai. Tapi tak butuh waktu lama sampai tiba pada masa itu. Pesta Perayaan Pendirian Negara. Saat itulah William akan jatuh cinta pada Claire." Esther menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku tinggal menyibukkan diri dan terus menjauh saja sampai saat itu tiba. Hari ini adalah permukaannya." Esther mengangguk penuh semangat. Emma Hudson sudah datang dan mengetuk pintu. "Masuklah, Emma." Gadis remaja akhir itu membuka pintu perlahan, melongok ke dalam untuk melihat situasi. Karena dalam perjalanan, ia berpapasan dengan Kaisar dan Saintess. 'Mungkinkah Permaisuri membuat kekacauan lagi? Pagi ini benar-benar buruk karena Nona Saintess terlalu lugu sampai berani masuk sarang harimau betina. Yang Mulia pasti merundungnya habis-habisan, bukan?' itu adalah satu-satunya hal yang Emma pikirkan sepanjang perjalanan. Tapi tubuhnya mematung setelah melihat Esther berdiri dengan pose yang ceria. "Pagi, Emma. Aku ingin mandi sendirian kali ini." Emma menutup mulut. "Ma-mandi sendiri?!" Esther mengangguk mantap. "Oh, iya. Hari ini aku ingin menghadiri pesta amal Marchioness Saffron. Bisakah kau memilihkan gaun yang cocok? Lalu tinggalkan saja di atas ranjang, aku bisa memakainya sendiri." "Saat keluar nanti, tolong bawa surat-surat balasan yang kutulis semalam. Itu adalah balasan surat undangan yang harus kudatangi minggu depan." Emma segera mengangguk. Esther masuk ke kamar mandi sendirian, menyisakan Emma yang termenung di tengah ruangan. "Aku pikir yang kemarin itu hanya karena beliau sedang bosan …. Tapi ternyata, Yang Mulia Permaisuri benar-benar berubah."Setelah menentukan rencananya, Esther segera menulis undangan untuk William dan Claire di sela-sela pekerjaannya. Undangan itu menuliskan bahwa ia mengundang Claire untuk makan malam dengannya di Istana Utama.Esther mengirim surat pada William untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin makan malam di Istana Utama tanpa memberitahu bahwa Claire akan ikut dengannya. Emma bertanya penasaran saat diminta untuk menyerahkan undangan-undangan itu. "Yang Mulia, kenapa Anda mengajak Nona Saintess juga? Bukankah lebih baik kalau makan malamnya hanya berdua saja?"Esther berdeham pelan. "Aku hanya ingin melaporkan pekerjaanku saja. Ini bukan hal romantis." Emma tersenyum jahil. "Baiklah, Anda mungkin masih merasa malu untuk mengakuinya, tapi sebenarnya saya tahu, Anda senang menghabiskan waktu bersama Baginda, bukan?" Esther melotot kesal. "Itu sungguh tidak seperti yang kau bayangkan, Emma …."Esther kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul dua siang. Hingga jam itu, ia harus memenuhi
"Lalu apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Esther malas. William berdiri, menatap Esther tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya begitu licik."Berikan aku perlakuan yang seperti dulu juga." Esther mengernyit dalam. "H-hah?!" "Kau ingin aku memperlakukanmu seperti dulu, bukan? Aku ingin kau pun melakukan hal yang sama." William tersenyum tipis. Esther membalikkan tubuhnya, mendengus kesal. Permintaan orang ini sungguh sulit dikabulkan. Yang benar saja. William ingin ia menjadi Esther yang sebenarnya, dalam artian, Esther yang selalu mengejar cintanya dan rela mempermalukan diri sendiri demi mendapatkan perhatian William. Dengan kondisi yang seperti ini, bukankah itu tidak mungkin? Esther yang sekarang adalah Olivia. Janganlah menempel terus-menerus pada William, berperilaku tidak sopan di depannya pun ia tak sepenuhnya berani. "Bagaimana, Permaisuri?" William bertanya lagi. Esther terdiam sejenak. Ia memikirkan apa yang akan terjadi kalau ia melakukan itu. "B-biarkan saya mem
Esther terdiam mematung di tengah pintu kamarnya sendiri. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Di belakangnya, Emma melongokkan kepala untuk melihat apa yang membuat Esther tiba-tiba terdiam.Lalu matanya menatap William yang duduk di tepi ranjang, bergeming. Ia membulatkan mata. Segera berjalan mundur setelah William melemparka tatapan mengusir padanya. Esther menoleh ke belakang dan melotot saat tahu Emma sudah pergi lebih dulu. Ia melangkah mundur pelan-pelan, lalu tertawa hambar. "Ah, hahaha …. S-sepertinya saya melupakan satu pekerjaan lagi—""Sudah melihat suamimu menunggu pun kau masih memilih pekerjaan, ya? Haah …, padahal aku berharap kau sedikit menyapaku." William melipat lengan di depan dada, sengaja menyindir. Esther menghentikan langkah dan berbalik dengan rahang mengeras, merasa cukup kesal. "Baginda …, saya hampir melupakan betapa pentingnya menyapa Baginda saat kita sudah saling berhadapan karena pekerjaan itu benar-benar pen
Semua orang duduk di kursi yang telah disediakan, melingkari meja makan dengan diameter satu meter berisi masing-masing empat kursi. Jumlahnya ada lima belas meja makan. Berpasang-pasang bangsawan mengambil tempat duduk masing-masing. Esther berada di meja yang sama dengan Duchess Luthadel dan Duchess Evander, hanya berisi tiga kursi. Emma berdiri di belakangnya. Lucien bersama teman-teman lamanya, sesekali masih melirik Raymond yang duduk berjarak darinya. Dame Charina dan Tuan Muda Isaac berdiri di depan para tamu undangannya. Lalu sebuah pidato pendek tentang betapa bersyukurnya mereka akan hari ini pun menciptakan gemuruh tepuk tangan penuh antusias dari para tamu. Esther tersenyum senang, akhirnya mereka bisa berkumpul bersama dan mengadakan acara kecil di musim sosial, musim di mana semua bangsawan di seluruh penjuru negeri kembali ke Ibukota untuk berpartisipasi. Setelah pidato pendek itu, Isaac memegang tangan Charina. Senyumnya terlihat tulus, ia mengangkat tangannya da
Raymond sempat terkejut saat melihat Lucien berada dua meter di depannya. Ia mendengus malas, memalingkan wajah, terlihat begitu enggan berurusan dengannya. Lucien sendiri memasang ekspresi wajah serupa. Ia menatap Isaac yang sebelumnya jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak mengundang Raymond. Matanya melotot, seolah mengatakan, "Apa ini? Bukankah katamu dia tidak datang?" Isaac memasang ekspresi wajah bingung sambil tertunduk. "Saya yakin tidak mengundang beliau …, tapi tunangan saya mengundang ibunya." Lucien menepuk dahinya pelan. Tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia jelas tahu bahwa maksud dari memberitahu bahwa ibu Raymond diundang adalah untuk menegaskan bahwa pria itu bisa berada di sini selama ibunya mengajaknya. Lagipula, Duchess Luthadel adalah salah satu orang terpandang yang bahkan sangat dihormati oleh Yang Mulia Permaisuri. Lucien mendengus kencang, Ia mengalihkan pandangan untuk memperbaiki suasana hatinya yang hampir kacau. Ia melambaikan tangan pada Esther sambi
Orang itu adalah Raymond. Melambaikan tangan dengan santai sambil tersenyum lebar. Esther menelan ludah, sungguh mengejutkan melihat Raymond yang baru beberapa hari lalu megirim surat bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Ibukota, tiba-tiba telah berada di lokasi yang sama dengannya. "I-Ibu?!"Esther terkesiap, lamunannya buyar, ia menatap Raymond yang nyaris berteriak sambil memegangi telinganya dengan ekspresi kesakitan. Duchess Luthadel menarik telinganya dengan wajah ketus. "Di mana sopan santunmu, Bocah?!" Esther tersenyum kikuk. Raymond meringis sambil mengusap telinganya yang merah. Lalu ia menatap Esther yang berdiri mematung tak jauh di depannya, ia menyeringai lebar, lalu melakukan bow dan menyapa lebih baik. Entah situasi canggung macam apa ini. Raymond benar-benar merusak suasana tenang yang sedang coba ia bangun. "Mohon maafkan kekonyolan putra saya, Yang Mulia …." Duchess Luthadel membungkuk dengan penuh sesal. "Eh? Kurasa itu bukan masalah besar." Esther mengeli







