INICIAR SESIÓNGugup. Ini pertama kalinya ia merasa gugup sejak memasuki raga Esther. Dan rasa gugup ini datang pada pagi hari di mana ia akan menepati janjinya pada sang Ayah, Duke Ernest, untuk membawa William ke Mansion Ernest untuk berpamitan sebelum pergi berlibur selama dua puluh hari.Saat ini, dirinya berada di dalam kereta kuda yang baru saja keluar dari pekarangan Istana yang luas. Ia duduk tegak, memaksa punggungnya agar tidak menyentuh sandaran kursi. Kedua tangannya terkepal di atas lutut. Matanya menatap lantai gerbong dengan serius, mulutnya tertutup rapat.Ia sedang meminimalisir rasa gugupnya agar William yang kini duduk di depannya tidak terlalu menyadarinya. Tapi, melihat tingkah laku tak biasa itu saja sudah cukup bagi William yang peka untuk segera menyadarinya. "Kau gugup, ya?" tanya William secara spontan. Tentu saja Esther tersentak kaget dengan mata membulat tajam. "Si-siapa yang gugup?"William hanya menatapnya datar, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai, melip
Malam hari setelah pesta teh itu berakhir.William berdiri menghadap jendela ruang kerjanya yang terbuka. Memperlihatkan pemandangan petang yang memanjakan mata. Dari sana, ia bisa melihat Istana Permaisuri yang bersinar dengan lampu-lampu malamnya. Senyumnya terukir tipis. Di belakangnya, Vincent Hudson merapikan dokumen yang sudah mereka kerjakan bersama. Dengan senyum penuh dukungan, Vincent membungkuk takzim. "Terima kasih telah bekerja keras, Baginda." "Ya …, kau boleh meninggalkan ruanganku, Count.""Saya permisi." Vincent Hudson mengundurkan diri dari ruangan itu. "Baginda." Begitu Vincent pergi, Theron bersuara. Ia baru saja masuk beberapa saat sebelum Vincent keluar. Dengan raut wajah tersenyum lebar, Theron menyapa William dengan santai seperti tadi. Pengawal pribadi itu mulai melaporkan hasil pengamatannya selama pesta teh Permaisuri berjalan. Semuanya ia laporkan tanpa ada satu hal pun yang terlewat, termasuk kelancangan Viscountess Cornelia Bardo yang sudah membua
"Itu? Hmm …, kenapa Anda tidak bilang saja kalau selera mereka semua buruk? Sampai bisa menghadiri pesta tehku yang mewah ini dengan gaun-gaun bobrok itu?" Esther tersenyum. "Eh? Y-Yang Mulia? Mengapa Anda kelihatannya marah?" Esther berdiri dari kursinya. Ia berbalik dan berjalan menuju ke tengah taman. "Tanyakan saja mereka. Butik Neridean itu apa? Apa hubungannya denganku? Dan apakah selera gaunku benar-benar seburuk itu sampai kau bilang gaunku bobrok, Cornelia Bardo?" Esther menoleh ke belakang setelah bertanya dengan nada dingin. "H-hah?!" Viscountess Bardo menjatuhkan lututnya dengan rasa takut yang memuncak. Ia tidak tahu bagaimana harus membantah, karena ia sendiri sadar telah mengatakan hal-hal buruk itu tepat di depan wajah Permaisuri. Pada saat itulah, Duchess Evander berdiri dari tempat duduknya. "Menurut saya, selera fashion Yang Mulia benar-benar sangat bagus dan berkelas, Yang Mulia. Anda pandai memilih warna dan menentukan tema yang sesuai.""Saya sebagai pekerja
Sementara di bangku yang lain, Esther sedang berkumpul dengan Marchioness Saffron dan beberapa wanita muda lainnya. Mereka mengobrol tetang betapa tenangnya Wilayah Saffron, wilayah itu dikelilingi oleh danau-danau besar yang indah. Esther menatap salah satu teman yang ada di meja yang sama dengannya. "Saya dengar, Wilayah Lambert juga sangat indah karena dikelilingi lembah-lembah hijau, ya …, apa pencaharian utama rakyat Lambert?""Ah, senang rasanya Yang Mulia Permaisuri tertarik dengan wilayah suami saya." Sylvia Lambert tersenyum senang sambil meletakkan tangan kanannya di pipi. "Kami memelihara domba, Yang Mulia. Mantel-mantel musim dingin yang kami ekspor ke Utara berasal dari domba-domba yang diternakkan di lembah-lembah itu.""Rumput-rumputnya segar, karena Wilayah kami memiliki cuaca yang netral, tidak terlalu hangat dan tidak terlalu dingin, domba-domba juga tumbuh dengan baik."Esther mengangguk senang, benar-benar seperti tertarik dengan topik yang ia pilih. "Saya jadi
Esther berdiri di balkon kamarnya. Menatap taman besar di sekitar rumah kaca yang terbuka lebar. Bangsawan-bangsawan wanita yang menerima undangan darinta mulai memadati lokasi pesta. Pelayan-pelayan berlalu-lalang menghidangkan teh dan camilan kelas atas yang hanya ada di Istana. Emma berdiri di belakang Esther dengan gaun yang mewah—tidak lagi memakai seragam dayang. Ia mengulas senyum tipis sambil mengamati situasi di bawah bersama Esther."Kamu menyiapkannya dengan sangat baik, ya, Emma. Terima kasih, aku terbantu." "Itu memang tugas saya, Yang Mu—""Sstt …, tinggal jawab sama-sama saja. Mengapa sulit sekali?" Esther menatapnya dengan pandangan sedikit kesal. Emma terkekeh pelan. "Sama-sama, Yang Mulia." "Kalau begitu, ayo kita turun dan menyambut mereka secara langsung, Emma." Esther tersenyum lebar. "Anda yakin, hanya akan memakai gaun ini?" "Karena belakangan aku sering merasa gerah, Emma. Lalu, aku mulai menyukai pakaian yang sederhana tapi berkelas seperti ini." Esthe
"Baiklah, ini yang terakhir." Esther mengembuskan napas panjang. Meletakkan lembaran terakhir di atas tumpukan yang lain. Ia kemudian menatap malas ke depan, di sofa ruang kerjanya, Emma duduk santai sambil menyeruput tehnya. Esther merasa kesal bukan karena Emma sudah bertindak lancang di depannya. "Memangnya kamu tidak ada pekerjaan lain? Sampai punta waktu untuk mengawasiku seperti ini." Emma meletakkan cangkirnya dengan pelan. Ia tersenyum formal. "Kalau tidak ditemani, nanti waktu bekerja Yang Mulia habis hanya untuk melamun."Esther mendengus pelan. "Bukankah aku fokus bekerja tadi, Emma? Tanpa kau temani pun pasti akan begitu." "Pasti tidak akan begitu." Esther mencibir, "Yakin sekali kelihatannya." Ia berdiri, melangkah mendekati Emma dan duduk di hadapannya. "Lihat, aku menyelesaikan pekerjaanku lima menit lebih awal." Esther berlagak sombong, ia melihat Emma yang sedang menuangkan teh ke cangkirnya. Setelah terisi, Esther segera meminumnya. Lalu menyumpal mulutnya de







