Home / Fantasi / Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang / Bab 008 : Marianne Ruth Ernest

Share

Bab 008 : Marianne Ruth Ernest

Author: Xiao Chuhe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-29 13:57:04

Emma mengangguk, segera menyerahkannya pada Esther.

Esther menatap cap lilin berwarna merah dengan logo burung merpati di tengahnya. Ia membuka segel itu dan mengambil isinya.

"Wahai, adikku yang cantik dan berbakat dalam mengejutkan orang. Aku mengundangmu untuk makan siang di Restoran Zemira. Ada banyak hal yang ingin kukatakan sebagai seorang Kakak, kuharap kau datang, waktunya adalah pukul sebelas siang."

Esther mengedipkan mata. Sungguh seorang penyelamat. Ia menatap Emma dengan binar ge
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 152 : Membicarakan Masa Kecil

    "William, ada apa?" Esther bertanya pelan, ia menelan ludah sambil menatap William dengan harap-harap cemas. Ia memiringkan kepalanya ke arah William, mencoba terlihat natural. Lalu pandangan William perlahan terarah padanya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis. "Rupanya kalian masih mengingatnya, ya. Hidangan ini." Ia menunjuk hidangan di depannya. "Ah, i-itu?" Duke Ernest mendekat dengan gelisah. "Sebenarnya saya kurang yakin dengan makanan kesukaan Baginda sekarang. Tapi saya ingat dulu Yang Mulia Permaisuri sering meminta istri saya memasak hidangan ini.""Beliau mengatakan kalau putranya William sangat menyukai hidangan tersebut. Saat Anda kecil pun, saya pernah melihat betapa bahagia dan manisnya ekspresi wajah Anda saat memakannya. Sungguh saya masih mengingatnya hingga sekarang." Duke Ernest tertunduk, ia menghela napas dalam. "Kalau ternyata hidangan ini kurang cocok bagi selera Anda yang sekarang, saya mohon maaf dan akan menghidangkan menu ba—""Tidak perlu." Wil

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 151 : Kenangan Masa Kecil

    Kalau boleh mengatakannya, sebenarnya Esther sangat tidak ingin melibatkan William ke dalam pembicaraan ayahnya yang terkadang tidak terkontrol. Godaan-godaan kecil yang membuatnya merasa malu itu, jangan sampai terdengar oleh telinga William yang bisa memicu reaksi yang berlebihan darinya. Esther mendongak, menatap rumahnya yang megah dan menjulang tinggi. Ia mengembuskan napas panjang, sudah tiba di sini, tentu tidak bisa lagi mengharapkan apa-apa. Apalagi saat melihat Jeanne, pelayannya saat masih seorang Lady berjalan cepat dari dalam rumah bersama pria tua yang tak lain adalah ayahnya. Duke Ernest memakai setelan jas formal yang lebih santai daripada setelan yang biasa ia kenakan saat menghadap ke Istana. Raut wajahnya pun tampak lebih segar untuk ukuran orang tua yang anak-anaknya sudah dua puluh tahun lebih. "Oh …, putriku tersayang." Duke Ernest merentangkan tangannya dengan senyum lebar dan tatapan sendu. Esther nyaris memalingkan wajahnya dan mencebik kesal, tapi kare

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 150 : Gugup, ya?

    Gugup. Ini pertama kalinya ia merasa gugup sejak memasuki raga Esther. Dan rasa gugup ini datang pada pagi hari di mana ia akan menepati janjinya pada sang Ayah, Duke Ernest, untuk membawa William ke Mansion Ernest untuk berpamitan sebelum pergi berlibur selama dua puluh hari.Saat ini, dirinya berada di dalam kereta kuda yang baru saja keluar dari pekarangan Istana yang luas. Ia duduk tegak, memaksa punggungnya agar tidak menyentuh sandaran kursi. Kedua tangannya terkepal di atas lutut. Matanya menatap lantai gerbong dengan serius, mulutnya tertutup rapat.Ia sedang meminimalisir rasa gugupnya agar William yang kini duduk di depannya tidak terlalu menyadarinya. Tapi, melihat tingkah laku tak biasa itu saja sudah cukup bagi William yang peka untuk segera menyadarinya. "Kau gugup, ya?" tanya William secara spontan. Tentu saja Esther tersentak kaget dengan mata membulat tajam. "Si-siapa yang gugup?"William hanya menatapnya datar, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai, melip

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 149 : Menuju Hari Berlibur

    Malam hari setelah pesta teh itu berakhir.William berdiri menghadap jendela ruang kerjanya yang terbuka. Memperlihatkan pemandangan petang yang memanjakan mata. Dari sana, ia bisa melihat Istana Permaisuri yang bersinar dengan lampu-lampu malamnya. Senyumnya terukir tipis. Di belakangnya, Vincent Hudson merapikan dokumen yang sudah mereka kerjakan bersama. Dengan senyum penuh dukungan, Vincent membungkuk takzim. "Terima kasih telah bekerja keras, Baginda." "Ya …, kau boleh meninggalkan ruanganku, Count.""Saya permisi." Vincent Hudson mengundurkan diri dari ruangan itu. "Baginda." Begitu Vincent pergi, Theron bersuara. Ia baru saja masuk beberapa saat sebelum Vincent keluar. Dengan raut wajah tersenyum lebar, Theron menyapa William dengan santai seperti tadi. Pengawal pribadi itu mulai melaporkan hasil pengamatannya selama pesta teh Permaisuri berjalan. Semuanya ia laporkan tanpa ada satu hal pun yang terlewat, termasuk kelancangan Viscountess Cornelia Bardo yang sudah membua

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 148 : Cornelia Bardo

    "Itu? Hmm …, kenapa Anda tidak bilang saja kalau selera mereka semua buruk? Sampai bisa menghadiri pesta tehku yang mewah ini dengan gaun-gaun bobrok itu?" Esther tersenyum. "Eh? Y-Yang Mulia? Mengapa Anda kelihatannya marah?" Esther berdiri dari kursinya. Ia berbalik dan berjalan menuju ke tengah taman. "Tanyakan saja mereka. Butik Neridean itu apa? Apa hubungannya denganku? Dan apakah selera gaunku benar-benar seburuk itu sampai kau bilang gaunku bobrok, Cornelia Bardo?" Esther menoleh ke belakang setelah bertanya dengan nada dingin. "H-hah?!" Viscountess Bardo menjatuhkan lututnya dengan rasa takut yang memuncak. Ia tidak tahu bagaimana harus membantah, karena ia sendiri sadar telah mengatakan hal-hal buruk itu tepat di depan wajah Permaisuri. Pada saat itulah, Duchess Evander berdiri dari tempat duduknya. "Menurut saya, selera fashion Yang Mulia benar-benar sangat bagus dan berkelas, Yang Mulia. Anda pandai memilih warna dan menentukan tema yang sesuai.""Saya sebagai pekerja

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 147 : Pujian?

    Sementara di bangku yang lain, Esther sedang berkumpul dengan Marchioness Saffron dan beberapa wanita muda lainnya. Mereka mengobrol tetang betapa tenangnya Wilayah Saffron, wilayah itu dikelilingi oleh danau-danau besar yang indah. Esther menatap salah satu teman yang ada di meja yang sama dengannya. "Saya dengar, Wilayah Lambert juga sangat indah karena dikelilingi lembah-lembah hijau, ya …, apa pencaharian utama rakyat Lambert?""Ah, senang rasanya Yang Mulia Permaisuri tertarik dengan wilayah suami saya." Sylvia Lambert tersenyum senang sambil meletakkan tangan kanannya di pipi. "Kami memelihara domba, Yang Mulia. Mantel-mantel musim dingin yang kami ekspor ke Utara berasal dari domba-domba yang diternakkan di lembah-lembah itu.""Rumput-rumputnya segar, karena Wilayah kami memiliki cuaca yang netral, tidak terlalu hangat dan tidak terlalu dingin, domba-domba juga tumbuh dengan baik."Esther mengangguk senang, benar-benar seperti tertarik dengan topik yang ia pilih. "Saya jadi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status