ログインEsther berdiri sambil mencoba merapikan gaunnya, topi lebar terpasang cantik di kepalanya, menutupi wajahnya dari terik matahari ujung musim semi yang mulai menyengat. Di belakangnya, Emma sibuk memandu pelayan-pelayan yang memindahkan barang bawaan Esther ke gerbong kereta kuda. Norbert sedang membincangkan sesuatu dengan Theron. Pastinya sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan mereka selama Esther dan William pergi. Katanya, William tidak membiarkan Theron mengikutinya kali ini, tapi ia masih mengizinkan Bladwin dan beberapa orang kesatria yang setingkat dengannya untuk mengawal perjalanan hingga kembali ke Istana. "Yang Mulia, jangan lupakan yang ini juga." Emma menyerahkan kipas tangan yang memang sering kali Esther tinggalkan di suatu tempat. "Di tempat yang asing, masih ada kemungkinan beberapa wanita bangsawan ingin datang menemui Anda, tidak memegang kipas terlihat tidak anggun di mata mereka." "Ah, lalu, tolong jangan pernah mengangkat gaun Anda seperti yang biasa Anda l
Esther berjalan cepat menuju pintu kediamannya. Dua orang pelayan membukakan pintu lalu membungkuk dalam. Tempat ini selalu dibersihkan secara rutin meski sudah beberapa tahun tidak ditempati. Karena ada masa ketika Esther pulang dan menginap beberapa lama. Hari ini pun, ia berencana menginap satu malam sebelum berangkat pada siang harinya. Tapi melihat suasana hatinya yang sedikit buruk karena sang Ayah terlalu bersekongkol dengan suaminya, ia mungkin akan mengurungkan niat tersebut. "Ayolah, Esther. Kau harus sekali sampai marah hanya karena aku menggodamu seperti itu?" "Yang namanya menggoda, seperti apa pun jenisnya adalah larangan untuk dilakukan padaku, William." Esther berkata ketus. Ia berjalan lurus hingga bertemu dengan kamarnya yang berpintu besar. "Jangan masuk dulu, kau menunggu di ruang tamu saja." Esther mengulurkan tangannya dan berkata 'stop' sesaat sebelum William melangkahkan kaki menuju kamarnya. "Hah? Kenapa? Bukankah nanti malam kita akan tidur di sana?" Wi
"William, ada apa?" Esther bertanya pelan, ia menelan ludah sambil menatap William dengan harap-harap cemas. Ia memiringkan kepalanya ke arah William, mencoba terlihat natural. Lalu pandangan William perlahan terarah padanya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis. "Rupanya kalian masih mengingatnya, ya. Hidangan ini." Ia menunjuk hidangan di depannya. "Ah, i-itu?" Duke Ernest mendekat dengan gelisah. "Sebenarnya saya kurang yakin dengan makanan kesukaan Baginda sekarang. Tapi saya ingat dulu Yang Mulia Permaisuri sering meminta istri saya memasak hidangan ini.""Beliau mengatakan kalau putranya William sangat menyukai hidangan tersebut. Saat Anda kecil pun, saya pernah melihat betapa bahagia dan manisnya ekspresi wajah Anda saat memakannya. Sungguh saya masih mengingatnya hingga sekarang." Duke Ernest tertunduk, ia menghela napas dalam. "Kalau ternyata hidangan ini kurang cocok bagi selera Anda yang sekarang, saya mohon maaf dan akan menghidangkan menu ba—""Tidak perlu." Wil
Kalau boleh mengatakannya, sebenarnya Esther sangat tidak ingin melibatkan William ke dalam pembicaraan ayahnya yang terkadang tidak terkontrol. Godaan-godaan kecil yang membuatnya merasa malu itu, jangan sampai terdengar oleh telinga William yang bisa memicu reaksi yang berlebihan darinya. Esther mendongak, menatap rumahnya yang megah dan menjulang tinggi. Ia mengembuskan napas panjang, sudah tiba di sini, tentu tidak bisa lagi mengharapkan apa-apa. Apalagi saat melihat Jeanne, pelayannya saat masih seorang Lady berjalan cepat dari dalam rumah bersama pria tua yang tak lain adalah ayahnya. Duke Ernest memakai setelan jas formal yang lebih santai daripada setelan yang biasa ia kenakan saat menghadap ke Istana. Raut wajahnya pun tampak lebih segar untuk ukuran orang tua yang anak-anaknya sudah dua puluh tahun lebih. "Oh …, putriku tersayang." Duke Ernest merentangkan tangannya dengan senyum lebar dan tatapan sendu. Esther nyaris memalingkan wajahnya dan mencebik kesal, tapi kare
Gugup. Ini pertama kalinya ia merasa gugup sejak memasuki raga Esther. Dan rasa gugup ini datang pada pagi hari di mana ia akan menepati janjinya pada sang Ayah, Duke Ernest, untuk membawa William ke Mansion Ernest untuk berpamitan sebelum pergi berlibur selama dua puluh hari.Saat ini, dirinya berada di dalam kereta kuda yang baru saja keluar dari pekarangan Istana yang luas. Ia duduk tegak, memaksa punggungnya agar tidak menyentuh sandaran kursi. Kedua tangannya terkepal di atas lutut. Matanya menatap lantai gerbong dengan serius, mulutnya tertutup rapat.Ia sedang meminimalisir rasa gugupnya agar William yang kini duduk di depannya tidak terlalu menyadarinya. Tapi, melihat tingkah laku tak biasa itu saja sudah cukup bagi William yang peka untuk segera menyadarinya. "Kau gugup, ya?" tanya William secara spontan. Tentu saja Esther tersentak kaget dengan mata membulat tajam. "Si-siapa yang gugup?"William hanya menatapnya datar, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai, melip
Malam hari setelah pesta teh itu berakhir.William berdiri menghadap jendela ruang kerjanya yang terbuka. Memperlihatkan pemandangan petang yang memanjakan mata. Dari sana, ia bisa melihat Istana Permaisuri yang bersinar dengan lampu-lampu malamnya. Senyumnya terukir tipis. Di belakangnya, Vincent Hudson merapikan dokumen yang sudah mereka kerjakan bersama. Dengan senyum penuh dukungan, Vincent membungkuk takzim. "Terima kasih telah bekerja keras, Baginda." "Ya …, kau boleh meninggalkan ruanganku, Count.""Saya permisi." Vincent Hudson mengundurkan diri dari ruangan itu. "Baginda." Begitu Vincent pergi, Theron bersuara. Ia baru saja masuk beberapa saat sebelum Vincent keluar. Dengan raut wajah tersenyum lebar, Theron menyapa William dengan santai seperti tadi. Pengawal pribadi itu mulai melaporkan hasil pengamatannya selama pesta teh Permaisuri berjalan. Semuanya ia laporkan tanpa ada satu hal pun yang terlewat, termasuk kelancangan Viscountess Cornelia Bardo yang sudah membua







