登入Dunia di sekitar Esther mendadak berputar hebat. Rasa sakit itu seolah mencabik-cabik perutnya, dan kesadarannya mulai memudar dengan cepat. Ia memejamkan mata, memaksa kesadarannya tetap bekerja.'Apakah aku terlalu memaksakan diri?' pikirnya saat pandangannya mulai menghitam.Tangannya meraba dinding, menahan tubuhnya agar tidak tersungkur jatuh. Satu tangannya yang lain menyambar lengan Emma yang berjalan di sisinya, ia gemetar setengah mati."Aku ketakutan, Emma …." Esther menyandarkan tubuhnya di dinding, tangannya menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. "Mereka panik …, tapi aku malah ketakutan untuk menghadapi mereka.""Aku takut kemampuanku kurang untuk meyakinkan mereka." Esther mengembalikan napas berat. Ia menatap satu tangannya yang terangkat, gemetar. "Semuanya bergantung padaku. Tapi sebenarnya tak ada hal yang bisa kulakukan sampai sekarang." Esther terkekeh pelan. "Setelah semua hal yang kalian semua lakukan untuk keselamatanku, setelah semua yang kukorbankan
Esther duduk di tepian tempat tidur dengan wajah yang tampak lelah. Ia tidak tidur semalam suntuk setelah melihat lampu-lampu di Istana Utama menyala terang sebagai tanda kondisi William memburuk.Pikirannya melebar ke mana-mana, rasa takut dan cemas yang bercampur membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Esther duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Jelas ia cemas dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada William di sana, tapi ia tidak berdaya karena tidak bisa mendatanginya dan menyuruhnya berjuang untuk sembuh. Esther menghela napas berat, matanya menatap kosong, kantong matanya menggelap karena kurang tidur, tapi ia tidak peduli. Karena di pikirannya hanyalah 'bagaimana dengan William?'."Yang Mulia, sebaiknya Anda meminum air hangat ini," bisik Emma dengan suara gemetar.Esther menerimanya dengan tangan yang dingin. Baru saja ia ingin menyesapnya, pintu kamarnya diketuk dengan tergesa. Theron masuk tanpa menunggu dipersilakan, wajah ksatria itu tampak pucat dan dipenuh
Di dalam kamar tidur megah Istana Utama yang lengang, William duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra di tempat tidurnya. Seorang dokter dengan wajah tertutup masker—mengikuti prosedur kesehatan yang telah ditetapkan—baru saja pergi setelah mengirimkan obat untuknya. William telah menghabiskan obat itu, pelan-pelan makan potongan buah apel untuk menghilangkan rasa pahitnya. Ia bisa menggerakkan tangannya lebih bayak dari sebelumnya, ia bahkan bisa duduk lebih lama dari biasanya. Terdapat keyakinan yang tak terbantahkan bahwa ia akan segera sembuh dari penyakit ini. Pintu diketuk dari luar, William mengarahkan pandangannya ke sana, dan Theron muncul saat pintu terbuka. Ia membungkuk dalam-dalam setelah menghentikan langkahnya beberapa langkah dari pintu. Di tangannya, sebuah amplop merah yang familier tergenggam. Bunga-bunga di sekitar wajah Theron menunjukkan bahwa pria itu baru saja mendengar kabar yang bagus. "Baginda, ini adalah surat balasan dari Yang Mulia Permaisuri."
Setelah beberapa hari, kelopak mawar itu akhirnya kering dan sudah bisa diekstrak menjadi teh yang layak. Emma mengangkatnya dari penjemuran di samping rumah kaca dengan senyum ceria. Esther duduk di taman dengan tenang sambil makan camilan. Ia dalam suasana hati baik setelah mendengar laporan baik dari Vincent tadi pagi. Laporan itu berisi keadaan terkini rakyat di luar sana setelah obat-obatan semakin dibuka luas penyebarannya. Hampir semua rumah sakit menerima obat-obatan ini dalam jumlah besar, semuanya berjat dana pribadi yang Esther gelontorkan untuk menyelamatkan banyak nyawa. Laporan kesembuhan juga mulai terdengar banyak dari rumah sakit besar di sepanjang Ibukota. Tapi jumlah padien terinfeksi belum menurun meski kenaikannya tidak signifikan seperti sebelumnya. "Selamat sore, Yang Mulia Permaisuri." Theron tiba-tiba muncul di taman itu. Pria itu menghentikan langkahnya dua meter dari Esther yang sedang duduk di kursi. "Oh? Sore …. Kau sudah menyelesaikan masa karantin
"Emma, bolehkah aku menyuruhmu melakukan sesuatu?" Esther mendongak, menatap Emma dengan wajah datar. Emma yang berdiri di sebelahnya tersenyum. "Apa pun akan saya lakukan, Yang Mulia.""Hehe …." Esther nyengir lebar. "Kau melihat mawar itu, kan? Jarang sekali ada yang masih mekar, loh. Apakah kau mau membuatkan teh mawar untukku?" Emma terdiam mematung. "Teh mawar, Emma." Esther mengulangi kalimatnya. "Teh mawar?" Emma membeo. "Tentu, Yang Mulia. Saya akan segera ke dapur dan membuatkannya." Emma tersenyum kikuk, sebenarnya ia tidak tahu apakah yang Esther maksud berbeda dengan yang ia ucapkan. "Bukan itu, Emma. Kau tidak lihat bunga yang di sana? Hanya dua tangkai. Aku ingin dibuatkan teh mawar.""Maksudnya …, dari mawar segar itu?" Emma kembali bertanya memastikan. "Iya. Aku sudah bilang, kan? Bunga yang di sana, yang dua tangkai itu." Esther kembali menunjuknya. "T-tapi, Yang Mulia? Kalau masih segar seperti itu, butuh waktu untuk memprosesnya menjadi teh. Kelopaknya harus
Emma dan Norbert terpaku di tempat, tidak berani bernapas saat mata emerald Esther menatap mereka dengan kilat penuh amarah yang tajam. Esther menunjukkan kertas berisi laporan penting itu kepada mereka berdua. Ia yakin Emma juga mengetahuinya karena setiap hari mendapat akses penuh atas dokumen-dokumen yang sama. "Y-Yang Mulia. Kami hanya tidak ingin Anda terbebani—" Emma mencoba bersuara dengan bibir bergetar. Ia meremas ujung gaunnya, berusaha mencari alasan logis demi membenarkan tindakan mereka, namun Esther langsung mengangkat satu tangannya, membungkam kalimat itu seketika. Gerakan tangan yang tegas itu memotong pembelaan Emma tanpa celah. "Aku tidak suka kau merahasiakan sesuatu dariku, Emma. Ini berkaitan dengan nyawa manusia. Kau menyuruhku tidak peduli dengan satu-persatu nyawa yang hilang ini?" "Sejak kapan kalian para bawahan diperbolehkan memutuskan sesuatu di luar izinku? William saja bahkan tidak akan melakukannya. Kalian melakukannya seolah keputusan itul







