LOGIN"Terima kasih atas jalan-jalannya, Brixzen." ujar Belliza."Dengan senang hati, Yang Mulia." jawab Brixzen sambil menunduk singkat.Mereka sudah tiba di kediaman keluarga Grouss. Setelah pulang dari hutan, Lenzoris meminta Brixzen mengantar Belliza, sementara ia membawa Selina pergi ke sebuah butik yang sedang tren di ibu kota."Brixzen," "Ya, Yang Mulia?""Tentang... Famara." Belliza berhenti sejenak. "Bisakah aku bertemu dengannya lagi? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."Brixzen terdiam sebelum menjawab. "Tentu, Yang Mulia. Anda bisa mengatur kapan waktu pertemuannya." ujarnya.Belliza tersenyum lembut. "Kalau besok siang bagaimana? Karena paginya, aku ada rapat penting.""Tentu bisa, Yang Mulia. Saya akan menyampaikan hal ini kepada Famara.""Terima kasih.""Apa ada lagi yang Anda perlukan?""Tidak ada, kau boleh pergi." jawab Belliza."Baik," Brixzen membungkuk dan mundur perlahan, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.Ia memacu kudanya dengan cepat, ada sesuatu yang men
Wuussshhh~Angin lembut berputar naik dari bawah kakinya. Tidak menyakitkan, hanya seperti pelukan hangat yang terlalu halus untuk dijelaskan. Kelopak-kelopak bunga di sekelilingnya terangkat, berputar pelan seperti hujan yang menari terbalik, naik ke udara.Peri-peri kecil bersorak dengan suara halus seperti gemerincing kaca mini, mereka mengelilingi Belliza. Kristal itu melayang sedikit, memancarkan kilau tipis yang merambat ke jari Belliza, membentuk pola cahaya samar di kulitnya… lalu meresap masuk seolah menyatu dengannya.Podium itu perlahan menutup kembali begitu Belliza melepaskan sentuhannya. Cahaya kubah yang melingkupi lingkaran suci itu meredup pelan, kembali menjadi halus seperti sinar pagi.Peri kecil yang sebelumnya memberi Belliza bunga, terbang mendekat lagi. Ia menyentuh punggung tangan Belliza dengan ujung jarinya yang mungil, seperti salam perpisahan. Lalu peri itu mengepakkan sayap perlahan, terbang mundur sambil memberi anggukan kecil.Belliza merasakan maksudnya
Begitu mereka mencapai ujung jalan berbatu, pemandangan di depannya langsung berubah lembut, dunia seperti memutuskan untuk mengecil dan menjadi lebih halus. Di tengah padang bunga liar yang berwarna pastel, berdirilah rumah-rumah mungil, tak lebih tinggi dari pinggang Belliza. Bentuknya bundar, dengan dinding dari batu-batu kecil yang tersusun rapi dan atap kubah mini yang ditutupi lumut hijau lembut, membuatnya tampak seperti bagian dari alam itu sendiri.Belliza otomatis melambatkan langkah. Ada sesuatu yang... hidup di tempat ini.Setitik cahaya muncul dari celah bunga, lalu satu lagi, dan satu lagi, hingga puluhan titik bersinar lembut, menari di udara. Peri-peri kecil itu melayang ke luar, sayap mereka berkilau seperti serpihan kaca yang memantulkan sinar matahari menjelang siang. Beberapa terbang rendah di sekitar Belliza, meninggalkan jejak cahaya tipis yang cepat menghilang. Brixzen berhenti beberapa langkah di depan."Selamat datang di Rumah Peri, Yang Mulia," ujarnya lem
Angin pagi berembus pelan di antara pohon-pohon tinggi. Cahaya matahari yang baru terbit menembus celah dedaunan dengan hangat. Tadi, pagi buta sekali Kaisar tiba-tiba mengutus Belliza untuk ikut bersama rombongan Archduke Lenzoris mengecek salah satu hutan di desa Elverin, wilayah yang masih berada dekat pusat kekaisaran.Ia sendiri tidak mengerti mengapa harus ikut. Sedari tadi, ia hanya mengikuti mereka dari belakang seperti anak kucing yang kebingungan. Tidak ada satu pun yang memberi tahu alasan pengecekan hutan ini.Namun udara hutannya sejuk. Setidaknya, itu cukup membuat Belliza menikmati waktu. Seperti sekarang ini, ia sedang duduk di batuan besar sambil menunggu Lenzoris dan rombongannya yang sedang meneliti salah satu pohon tinggi di sana.Belliza menatap sekeliling, pohon-pohon di daerah itu masih tampak asri dan terawat. Mungkin para warga desa sering berkunjung kemari? Pertanyaan itu hanya menguap di udara tanpa jawaban. Belliza menangkup kedua pipinya bosan, tidak tah
Flashback on~"Belliza," panggilan itu membuat Belliza menoleh menatap ibunya. "Ada yang ingin ibu bicarakan."Belliza, Raysenne, dan Grezine saling pandang."Bicaralah, Ibu," ucap Belliza."Ini berhubungan dengan sesuatu yang tidak pernah kau ketahui di masa lalu."Atmosfer di sekitar mereka berubah. Hawa di ruangan sunyi, berat, dan seakan seluruh tempat itu ikut menunduk mendengar rahasia yang telah lama dikubur."Ketika kau tepat berusia tujuh belas tahun, seorang pria yang sudah lama menjalin kerja sama dengan ayahmu datang ke istana. Tapi bukan untuk membicarakan bisnis..." Meline menarik napas sebelum melanjutkan, "melainkan memberitahu bahwa dia tertarik pada putri sulung Autronia."Belliza menunjuk dirinya sendiri sambil berkata 'aku' tanpa suara.Meline mengangguk. "Dan tentu saja ayahmu tidak setuju. Meskipun mereka ada keterikatan bisnis, ayah tahu bahwa pria itu tidak sebersih kelihatannya."Raysenne mengerutkan kening. "Tidak sebersih kelihatannya?"Meline kembali mengan
Angin siang berhembus lembut ketika Elena membawa Belliza melewati koridor terbuka menuju taman istana. Cahaya matahari yang sudah cukup tinggi jatuh di permukaan kolam marmer, memantulkan kilau keemasan yang bergerak pelan bersama riak air.Langkah mereka menjauh dari keramaian bangsawan, Elena akhirnya melepaskan tangan Belliza. Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara dedaunan dan air mancur yang memecah sunyi.Belliza menatap Elena dengan tenang. "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu, Archduchess?"Elena berhenti di bawah deretan tanaman merambat yang menaungi jalan setapak."Aku tidak suka cara Bianca memandangmu," ucap Elena. "Nada suaranya manis, tapi niatnya tidak."Belliza tersenyum tipis menatap Elena. "Aku tahu. Tapi aku sudah terbiasa dengan orang-orang seperti itu.""Kau tidak seharusnya terbiasa." jawab Elena cepat. Ia melangkah sedikit mendekat, cahaya matahari jatuh di rambut pirangnya, membuatnya tampak seperti lingkaran cahaya. "Kau Grand Duchess. Tunangan Putra M







