LOGINMalam itu, ruang makan kediaman Grouss tampak ramai oleh cahaya, namun sunyi oleh hati yang saling menjauh. Para pelayan berlalu-lalang menata hidangan, tetapi suara langkah mereka hanya menjadi gema yang tidak benar-benar menyentuh siapa pun.Belliza duduk di kepala meja dengan posisi anggun, namun jari-jarinya yang saling menggenggam di atas meja menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan. Ketegangan yang merayap, dan hati yang memberat.Di sisi kirinya, Meline duduk dengan wajah datar yang dingin. Sejak awal, wanita itu tidak menatap Belliza sekali pun. Ada jarak halus namun tajam di sana, seperti sekat kaca yang tak terlihat namun menyakitkan.Grezine tampak berusaha ceria, tetapi tatapan matanya gugup. Raysenne tenang, tapi ketegangan bahunya jelas terlihat. Dan Tuan Brondez yang duduk di seberang berusaha menyamankan suasana dengan senyuman tipis yang sopan.Begitu para pelayan mundur dan pintu ditutup, hening tebal turun perlahan, menyesaki ruangan seperti kabut dingin.Bell
Suara-suara di lorong memudar. Yang tersisa hanya denyut halus di telinga Belliza dan rasa mencekik di tenggorokan. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan sesuatu yang menghangat di balik mata. Belliza ingin mengulurkan tangan, memanggil Myrrathis, tapi suara itu mati di kerongkongan. Bukan karena ia marah pada pria itu, tidak sedikit pun. Tapi karena ia merasa… tak pantas menyela.Jadi ia hanya berdiri. Memilih untuk memendam semua yang ingin ia ucapkan. Ia menonton dari jauh saat Myrrathis dan Varella melangkah berdampingan, perlahan menghilang di tikungan.Dan saat punggung mereka lenyap, seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut tenggelam. Lorong terasa dingin. Seolah Myrrathis membawa serta kehangatan itu pergi.Belliza masih terdiam ketika sebuah sentuhan ringan menyentuh pundaknya. Ia sontak menoleh.Lucarien.Wajah pria itu memancarkan kebingungan bercampur kekhawatiran. "Ada apa, Grand Duchess? Apa sesuatu mengganggumu?"Belliza menahan napas sejenak, lalu menatap
Aula pertemuan siang itu tampak hening. Para prajurit yang menjaga pintu menunduk hormat ketika satu per satu para pemimpin wilayah mulai memasuki aula.Count Lucarien melangkah masuk lebih dulu, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak mengeras oleh ketegangan. Di belakangnya, Viscount Elandor menyusul dengan langkah teratur. Tak lama kemudian, Duchess Varella muncul, membawa elegan khasnya yang lembut namun berwibawa.Dari ujung ruangan, Belliza mengamati mereka satu per satu. Ia duduk dengan tampak tenang, meski jantungnya tidak. Ada seseorang yang ia tunggu sejak tadi, seseorang yang kedatangannya justru membuat hatinya terasa semakin berat.Dan akhirnya... pintu kembali terbuka.Myrrathis.Pria itu melangkah masuk dengan langkah tenang, namun ada sesuatu yang berbeda hari itu. Pandangannya sempat bertemu dengan Belliza, hanya sekejap, namun cukup untuk membuat napasnya tercekat.Bukan karena ia ingin menghindar. Hanya saja ia tidak ingin membuat Belliza semakin terbebani. Karena
Aurora melayang perlahan ke bawah, mendekati buku tebal yang sejak tadi hanya digenggam tanpa pernah dibuka. Sayapnya mengepak lembut, menghasilkan kilau emas tipis yang jatuh ke sampul usang berwarna gelap itu.Belliza mengusap sisa air mata di pipinya, napasnya kini lebih teratur. Meski dadanya masih sesak, ada sedikit ruang untuk bernapas dan berpikir. Aurora-lah yang menciptakan ruang itu.Aurora menyentuh sampul bukunya. Cahaya tipis berpendar dari ujung jarinya, membuat kontur tulisan di sampul tampak lebih jelas."Buku ini..." ucap Aurora pelan, "tidak sepenuhnya salah. Tapi juga... tidak sepenuhnya benar."Belliza mengerjap, bingung. "Maksudmu?"Aurora memandangnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat."Ratusan tahun sebelum keluarga Grouss berdiri di Autronia... Kaum Ven dikenal sebagai kaum terkuat di seluruh penjuru kekaisaran. Para penguasa tunduk bukan karena takut akan pemberontakan..." Ia berhenti sejenak, suaranya merendah seperti rahasia yang dijaga rapi. "Melain
Malam turun di kediaman Grouss, menyelimuti seluruh bangunan dalam keheningan. Meski suara jangkrik masih terdengar, ada jeda panjang di antaranya. Cahaya bulan menembus masuk melalui sela jendela perpustakaan, jatuh lembut di sisi wajah Belliza.Ia duduk diam di kursi pojok, tertutup bayang rak-rak buku tinggi. Sudah berjam-jam ia di sana, namun buku tentang sejarah Kaum Ven yang digenggamnya tak juga dibuka. Matanya memandang keluar jendela, namun pikirannya terperangkap di tempat lain, di satu titik yang tak bisa ia hindari.Satu tetes air mata lolos pelan dari pelupuknya, menuruni pipinya yang dingin."Maafkan aku…" bisiknya, nyaris tak terdengar. Ia memejamkan mata, rasa sesak dalam dadanya membuatnya ingin mengecil, ingin lenyap, ingin membuat semuanya berhenti.Ia tidak bermaksud membuat Myrrathis terluka. Ia tidak pernah ingin Myrrathis diseret dalam kemarahan ibunya. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan kini gambaran Myrrathis berdiri sendirian di depan gerbang… terus m
Langit sore menipis menjadi warna keemasan ketika Belliza dan Myrrathis berhenti di depan gerbang Kediaman Grouss. Cahaya jingga memantul di permukaan kolam lotus, kelopak-kelopak merah muda tampak berkilau seolah ikut menyapa Belliza pulang.Tuan Brondez memberi hormat. "Terima kasih atas bantuannya, Duke Tanderiz."Myrrathis hanya mengangguk, lalu menatap Belliza dengan cara yang lembut, nyaris protektif."Jaga dirimu."Belliza membalasnya dengan senyum kecil yang hangat. "Kau juga."Namun belum sempat Myrrathis merespon, sosok Meline tiba-tiba muncul. Wajahnya setegang permukaan danau sebelum badai. Tanpa sepatah kata, ia berdiri di depan Belliza, menutupi putrinya dari pandangan Myrrathis."Apa yang kau lakukan di sini?" suara Meline datar dan dingin.Myrrathis tetap tenang. "Mengantar rekan kerja saya untuk memastikan dia pulang dengan selamat.""Bukankah sudah kubilang, jauhi Belliza. Atau perlu aku ulangi sampai kau mendengarnya dengan benar?" ucap Meline.Myrrathis menatapnya







