MasukKabar mengenai kematian kakak laki-lakinya itu baru ia terima pagi ini, tepat pada pukul tujuh pagi. Dari sebuah ponsel genggam yang dipegangnya, dia hanya bisa bergetar dengan kedua mata membelalak namun air mata dari pelupuk matanya hampir jatuh. Mengairi, wajah manis yang sembab. Namanya Valyria Soga Kinaru, baru berusia dua puluhtahun. Kini setelah jadisebatang kara kemudian harus kehilangan sosok penyokong kehidupan utamanya, Sang Kakak.
“Baik, saya akan kesana. Saya akan membawa kakak saya untuk segera dimakamkan serta mengambil barang-barangnya.” Valyria berucapsembarimengakhiritelepon. Keduamatavioletnyajadikosongmenatapkehampaan.
Tubuhnya langsung lemas, berpegang pada nakas meja yang ada disampingnya. Terisaklah dia dengan seluruh kepedihannya. Mengutuk takdir yang kejam, setelah kedua orang tua yang meninggal saat dia masih begitu kecil. Kini kakak laki-lakinya, yang tercinta. Tulang punggung keluarga, penyanggah hidup sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki. Dihari senin pagi ini, Rumah Sakit Jiwa tempat sang kakak direhabilitasi selama tiga tahun lamanya. Ditemukan tewas bunuh diri, akibat melompat dari lantai tiga gedung rumah sakit.
“Hiks...Kak... Kak Darly.” Tangis Valyria pecahdenganpilu. Air mata itu mengalir deras. Berada pada titik terrendah dalam kehidupannya. Duka seseorang terjadi dalam beberapa tahap. Mulai penyangkalan, marah, menawar, depresi dan penerimaan. Hampir setiap manusia mengalaminya, untuk orang yang kau kasihi. Pedihnya kehilangan tak mungkin dapat diukur oleh angka bahkan menafsirkannya ke kata-kata pun tak akan dapat teruraikan.
Hanya beberapa perawat yang ia kenal, beberapa polisi dan orang-orang penyelidik yang hadir dalam pemakaman sang kakak. Sanak saudara pun tak ada yang datang, mereka sangat tak perduli akan nasib dua bersaudara Kinaru ini.
“Nona Valyria Soga Kinaru, Perkenalkan Saya Harlan Choi dariKepolisian yang menginvestigasi kasus kakak anda. Hasil visum sudah keluar. Apakah anda mau mendengarkannya?”tanya Si Pak Polisi.
Apa yang akan kau tunggu dari orang yang berduka? Gadis malang itu hanya menatap linglung. Antara sedih dan bingung dengan kelanjutan hidupnya, satu-satu keluarga yang menyambung kehidupannya hanya kakaknya seorang.
“Valerin Darly Kinaru, itu nama kakakku. Aku mengenal kakakku dengan baik, biarpun dia gila. Dia tak mungkin menyerah dengan kehidupan ini,” jawab Valyria denganlirih.
“Baiklah, Kesaksian Anda sangat dibutuhkanuntukjalanpenyelidikanini.”
Iris violet itu menatap kosong seorang pria dengan kemeja hitam rapi yang menjadi lawan bicaranya itu. Pendengarannyaseakantulisesaatsemuaitukarenaiataklagimemilikikonsentrasiakibatduka. Valyria menatapkosong Si Priasampaisetelahitudiaberteriak. “Aku tahu! dia tak mungkin bunuh diri. Seseorang pasti sudah melakukannya!” bentak Valyria seketikamembuat Sang Polisiterdiam.
“Begitulah kondisinya, patah tulang servikal dan kehilangan darah namun yang mengganjal disini, kaki kanan yang putus.”
“Begitu ya?”Kedua iris matanya menatap kosong, sambil meremat kedua tangannya.
Gadis yang tengah berduka itu, malah disibukkan oleh berbagai pertanyaan dari polisi dan administrasi dari Rumah Sakit yang harus dibayarnya. Gadis yang baru saja memasuki studi lanjutannya diperkuliahan itu, harus merelakan uang tabungan yang ia simpan selama ini untuk melunasi semua pengobatan sang kakak selama berada tiga tahun dalam perawatan kejiwaan.
Benar, kakaknya menderita depresi, delusi dan halusinasi yang berat. Pria itu pada awalnya merupakan sosok ibu, ayah dan kakak baginya. Pria dengan tatapan teduh, penyabar dan lembut. Kakaknya yang jenius, usai lulus perkuliahan langsung diterima bekerja pada salah satu Rumah Sakit di London. Kemudian kembali dengan gelagat yang aneh. Dia sering mabuk, mengkonsumsi obat tidur berlebihandan lebih kasar. Puncaknya ketika Priaitujadilebihpendiamdaribiasanya.
“Tuhanaku Lelah,” ujar Valyria saatsampaikekamar kos sederhananya. SaatPetangiabarusampaikekediamansederhanaini sambil melemparkan tubuhnya pada sebuah ranjang lusuh itu.
Bruk. Bunyi koper hitam yang jatuh kelantai karena tak disandarkan dengan elok, sepasang iris violetnya hanya melirik. Melihat koper berisi barang-barang kakaknya, kebanyakan isinya hanya pakaian.
Koper butut itu pun terbuka karena terjatuh, beberapa pakaian itu keluar dari ujung koper yang terbuka. Salah satunya sebuah buku bersampul hitam yang menyembul diantara pakaian itu.
“Hm?” sebelah alisnya menaik, buku itu menarik perhatiannya. Dia pun melangkah dengan kaki kecil yang kurus. Berjalan dengan pelan, kemudian berjongkok untuk memungut buku bersampul hitam itu. Saat membuka halaman buku itu, beberapa amplop surat lolos dari sana. Jatuh berserakan dilantai kayu yang reot itu.
Tangan lentik dengan kulit putih pucat itu memungut salah satu amplop tanpa tanggal dan tempat pengiriman. “Dijaman seperti ini masih ada yang mau menggunakan surat ya?” Valyria berkata seorang diri, kala melihat surat yang dilipat dengan cap surat bermotif bunga mawar itu. Kertasnya pun tampak kuno, terlihat dari warnanya yang kusam.
“Dear Earl Grayii,
You life is not getting longer, Your Venture. another person will replacing you. Just be ready(Hidupmu tak berlangsung lama, usaha yang kau miliki. Orang lain akan menggantikanmu. Hanya bersiap saja)
Prince of CraveRose”
Gadis itu memengangi secarik kertas, dia sempat mendecih. Dikiranya itu hanyalah surat yang sengaja dibuat Sang Kakak yang sedang berhalusinasi. Barangkali berhalusinasi dengan teman imajinasina, namun dia mendapati amplop surat lainnya. Kali ini amplop dengan cap bunga berkelopak putih, berputik kuning. Jemari-jemari kecil itu membukanya dengan pelan.
“Dear Frederitch,
When i lose my self, revenge... She’s was little girl with bigger heart. That’s sound so fine. Isn’t it?(Ketika aku kehilangan diriku, balas dendam... dia gadis kecil dengan hati yang besar. Terdengar menarik. Bukan?)
Earl Grayii”
“Dear Earl Grayii,
Sudah dengar mengenai bukuclandestine? Datanglah undangan pesta lusa dikediamanku.
Prince of Craverose”
“Dear Frederitch,
Aku datang dengan mengharapkan harta, kekuasaan dan kebahagiaan. Tapi dia akan datang dengan niat bertarung... Aku rindu Lemon Meringue Piebuatanmu. Semoga kau menghidangkannya.
Earl Grayii”
Kedua matanya membaca setiap secarik kertas. Tampaknya dua orang ini saling bertukar surat dengan akrab. “Earl? Prince? Aku tak mengerti... apakah kakak berhalusinasi separah ini, YaTuhan.” Gadis itu meremat secarik kertas itu. “Kenapa Kak? Kenapa Kak Darly.” Suaranya terucap dengan lirih. Sudah tak terbendung lagi, kepedihan dan kenyataan yang harus ditelan oleh seorang gadis muda ini.
Dia kembali menguatkan hati untuk membuka buku bersampul hitam ini. Sebuah buku dengan tulisan tangan sang kakak, dia sangat mengenalinya. Bergetarlah tangan lentik itu untuk membuka halaman lain dari buku harian ini. Sepanjang yang ia baca hanyalah tulisan agenda kegiatan keseharian sang kakak semasa hidupnya, sebelum bekerja dan masih diyakini sebagai mahasiswa. Itu dilihat dari setiap jadwal belajar yang ada disana.
Tetes demi tetes air matanya turun menjatuhi kertas didalam buku yang ia baca, betapa dia sangat merindukan sosok kakaknya. Mungkin akibat kelelahan menangis, dia pun tertidur dengan posisi asal diatas ranjang kasur buruk itu.
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu terdengar nyaris keseluruh rumah kontrakan sederhananya ini. “Engh, siapa?”
Valerin Grayii baru tiba di sebuah Pabrik Lama Keluarga Grayii. Dia menuruni kuda dalam sekali lompatan. Rambut hitam pendeknya basah kuyup karena keringatnya sendiri. Valerin tidak tahu sudah bergegas memacu kudanya dengan seberapa cepat untuk tiba kemari.Jika dugaannya benar, maka selama ini jawabannya ada di sana. Bisa dibilang gegabah tapi Valerin Grayii menjadikan dirinya sebagai umpan hidup. Valerin yang membaca pola dari rentetan kejadian Frederitch yang sempat menghilang kemudian kembali tanpa jantung juga jadi alasan bagi Valerin memberinya misi untuk menjauh dari Valerin. Kedua matanya melebar menatap beberapa orang yang sudah berdiri disana. Semua itu sudah dalam perhitungannya. Valerin tertawa hambar. “Haha ... kupikir pertemuan ini terlalu cepat, bukan begitu Yang Mulia Nikolai dan Puteri Primavera?" celetuk Valerin.“Untuk seukuran tikus kotor, dia cukup cerdas," hina Wanita dengan surai pirang itu menatap angkuh.“Apa yang adik kecil kami lihat darimu? Kau tak cantik
Valerin Grayii itu sudah cukup lama tak merasakan waktu senggang. Dia kini tengah bersantai di kebun halaman belakang manor Grayii karena nanti malam ia akan berangkat untuk menjalankan misi yang lain. Dia tak sendiri, ditemani secangkir teh seduhan Friday dan Sang Pembuat tentu saja. Valerin tak henti-henti tersenyum, seperti Gadis yang dilanda kasmaran. “Aku tak pernah membayangkan menjadi seorang remaja yang merasakan jatuh cinta haha." Valerin terkekeh pelan.Sementara itu, Friday yang berada dalam setelan pakaian resminya menatap keheranan. “Apakah teh yang kubuat membuat moodmu membaik Tuan Muda?” tanya Friday usai menuangkan teh dalam cangkir kosong yang telah diminum oleh Valerin.“Tidak-tidak, oh ... kau tentu saja alasannya. Bukan teh yang kau buat Pangeran," goda Valerin. Valerin memerhatikan Friday yang kala itu mengenakan jubah biru tua panjang, dalam pakaian kemeja hitam formal dan pedang yang tersarung ikat pinggangnya. Friday tak berpakaian seperti pelayannya meski i
“Val, apa yang sedang kau lakukan?” Friday baru tiba bersama dua anggota lain dari Paladin of Dustbones. William Rovana dan Leon Sirius. Atas permintaan Valerin, Friday dengan senang hatinya membawa kedua orang itu.Valerin menyeka keringatnya. Dia tengah berada di ruangan pabrik keluarga Grayii. Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu kini disulap seperti ruangan berteknologi muktahir. Setidaknya gadis bersurai pendek ini sudah mempermak pabrik itu menjadi markasnya.“Tidak ada, hanya memperbaharui beberapa alat yang ada disini,” jawab Valerin Grayii sambil memberikan ketiganya tiga buah chip berbentuk earphone. “Benda ini mampu melacak keberadaan, alat komunikasi, dan radar koordinat,” ucap Valerin sambil berjalan ke arah komputer yang ada ditengah-tengah ruangan itu dengan layar monitor tipis transparan. “Keluargaku, Ayah dan ibuku berserta kakakku itu membuat dan menitipkan semua peralatan ini bahkan tanpa Dustbones dan Crave Rose tahu.” Valerin Grayii berucap sambil tersenyum kec
“Valerin Grayii. Kaukah itu?” Valerin dan Alphonse kompak segera menoleh saat mendengar suara itu.Valerin Grayi memicingkan matanya, sepasang violet milik Valerin bias oleh cairan air matanya yang hendak keluar. Bibirnya gemetar usai menatap sosok proyektor yang tersenyum padanya. Valerin menundukkan kepalanya sejenak. “Val, kau kenapa?” tanya Alphonse cemas.Gadis berpakaian necis seperti lelaki itu menggeleng pelan. “Itu ... Hologram, Hologram ibuku.” Valerin Grayii menahan isak tangisannya dengan tegar.Hologram dengan siluet ibunya itu amat mirip dengan tampilan manusia, jika saja Valerin tak menyadari pantulan dari sensor alat hologram dari logo logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan “Aku Valyria,” ucap Valerin berusaha tersenyum pada Hologram canggih dengan kemampuan sistem AI-nya itu.“Oh, Aku mengerti.” Hologram ibunya tersenyum menatap Valerin. “Kau Valerin saat ini.” Kata ibunya lagi.Valerin Grayii mengangguk pelan “Itulah aku saat ini.” Valerin berucap sambil
“Aku tak mengerti masalahmu, sungguh.” “Kalau begitu kau bisa memikirkannya bukan, apa masalahmu denganku Frederitch?”Friday memandang Wanita itu dingin. “Sikapmu yang membebaskanku, menolongku, dan membantuku bukanlah cuma-cuma, bukan?" terka Friday pada Wanita yang duduk disebelahnya itu.Wanita dengan perangai yang elegan, duduk dengan menegak segelas cairan merah. “Kau cerdas, Fredericth. Tak diragukan dari tunanganku," ledek Wanita itu menatap Friday aka Frederitch Drew Raymond dengan kekehan kecilnya. “Rhea hentikan itu!” bentak Friday."Yang Mulia rendahkan nada bicaramu terhadap keponakan manisku, Yang Mulia Frederitch." Pria paruh baya itu berdiri tepat disebelah Friday, meremat pundak Pemuda itu dengan keras.Friday terdiam dengan tatapan dinginnya, diam-diam menahan amaranya. Ia mendeham setelah itu tersenyum, secepat itu memanipulasi lawan bicaranya. “Baik, Professor Dawn. Katakan apa yang keponakanmu ini inginkan?” tanya Friday."Bukannya sudah jelas Yang Mulia, setel
"Valerin Grayii." Alphonse menyebut nama Valerin dengan dingin. Ia sudah menerobos masuk ke ruang makan Manor ini. Valerin Grayii mengelap bibirnya dengan serbet putih. “Yang Mulia, Anda repot-repot kemari," ucap Valerin Grayii beranjak berdiri. “Anak-anak lanjutkan sarapannya.” Valerin tersenyum kepada anak-anak yang memasang raut takut itu, lantaran melihat sosok dibelakang Valerin yang berdiri dengan tegap.“Ah, Yang Mulia dan aku berteman. Jangan khawatir," ucap Valerin berdusta. “Ayo Yang Mulia, ruang kerjaku kosong. Kurasa Friday perlu ikut, kaki prostetikku sedikit bermasalah.” Diraih lengan kekar Friday, Valerin Grayii seraya tersenyum menarik Pria Vampir itu untuk ikut serta dengannya. “Waktuku sedikit, bergegas Valerin," celetuk Alphonse, menatap Valerin dengan sinis.Sebaliknya, Valerin Grayii tersenyum lebar. “Rileks Yang Mulia wajah tegangmu membuat takut anak-anak," sindir Valerin.Friday ingin tertawa mendengarnya namun ia segera menahan. “Kau diluar ekspektasi, Val,"







