Share

Chapter 02: Sebab Kegilaannya

Penulis: Arta Pradjinta
last update Tanggal publikasi: 2025-07-24 21:44:04

“Tuan, terimakasih atas makanannya!”

            “Hm~ tentu saja, nanti akan yang banyak dan tersenyumlah.”

            Pria muda itu baru membagikan roti-roti hangat yang baru ia beli, berdiri ditengah kerumunan tawa dan canda anak-anak yang terlantar disebuah wilayah kumuh pada ujung kota pusat disebuah negara kerajaan yang megah. Nasib yang tak berpihak kepada anak-anak kumuh itu membuatnya menghibur anak-anak ini.

“Ayo, aku punya sebuah permainan kalau kalian bisa menjawab kuis ini, aku akan memberi ini secara Cuma-Cuma,” ucap Pemuda itu mengeluarkan sekantung permen dari saku mantelnya.

            “Wah permen!” sorak anak-anak yang menginginkan permen yang dipegang Pria itu.

            Pria Bangsawan Muda itu. Ia tersenyum suka cita dan memulai permainannya. “Kalau begitu jika kalian memiliki tiga belas apel jika aku minta tiga apel dari kalian. Kira-kira kalian masih memiliki berapa apel ya?” tanya Pria itu.  

            “Tiga puluh, Tuan,” jawab asal seorang anak, dikala semua teman-temannya melongo kebingungan.

            Iris Violet itu menatap dengan lembut, dia mengusap-usap puncak kepala bocah laki-laki itu. “Jawabanmu tidak salah, hanya kurang tepat tapi jawaban yang lebih tepat itu sepuluh apel, bocah kecil.” Pria itu berucap sambil membagikan permen-permennya.

            “Disini kau rupanya. Apa kau tak lelah selalu mampir kemari, Earl Grayii?”

            “Hehe... hai  Frederitch! Tidak kok, kita harus membantu sesama bukan? L’Histoire se Répète membosankan jika kalimat itu terjadi kembali.”

            Pria yang mengenakan mantel cokelat marun itu menatap dengan bosan. “Seharusnya kau hentikan sikap sia-siamu ini.” Pria beriris raven blue itu berucap sambil menarik pergelangan tangan pria bermantel putih dengan dasi kupu-kupu yang ditengahnya dasi kupu-kupu itu ada batu ametis ungu kebetulan senada dengan sepasang warna matanya.

            “Oi, hei!  Frederitch hentikan, aku belum berpamitan dengan anak-anak itu,” elak Pria itu pada temannya ini.

            Pria beriris raven blue itu terus menyeret pria beriris violet itu untuk masuk kedalam kereta kuda yang sudah menanti dihadapan mereka. “Kau masih memiliki banyak pekerjaan, pahami itu Valerin,” ketus pria itu sambil mendorong tubuh Si Pria bermantel putih itu kedalam kereta kuda.

            “Baiklah, baiklah. Tapi aku tak salahkan, Pana?” tanya Pria itu mencari pembelaan terhadap seorang gadis yang tampak sudah lama duduk didalam kereta itu.

            Gadis berjubah hitam, menyilangkan kedua kakinya sementara kedua tangannya bersidekap. “Earl Grayii, sesekali seriuslah dengan kerjaan ini. Aku tak mau lembur,” sahut Si Gadis.  

            “Hehe ... maaf-maaf. Aku hanya sedang rindu dengan adik kecilku,” sahut Pria Bermantel Putih itu.

             “Primavera, bukan orang yang bisa negosiasi. Ingatkan posisimu ini, Earl Grayii.” Pria itu berucap sambil memijit dahinya yang terasa pening itu, dia tak habis pikir dengan orang yang rentan diincar keamanannya ini.

            “Benar, Yang Mulia Pangeran Frederitch mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kau abaikan Earl Grayii,” imbuh Si Gadis.

            Pria muda beriris violet itu mengulum senyumannya. “Yang Mulia, sampai dijaga olehmu merupakan suatu kehormatan tapi, tuan Puteri Primavera tak akan bisa menjangkau diriku dan Pana. Bukan begitu Pana?!” tanyanya dengan cengiran lebar, menampaki deretan gigi putih dengan raut wajah tak berdosa.

            Gadis itu menggeleng. “Kita memiliki tujuan yang sama-sama menguntungkan, selagi perjanjian kita belum tercapai. Earl Grayii masih menjadi mitraku tapi tetap saja, bersikap ceroboh itu membahayakan.” Gadis berjubah hitam itu masih menundukkan tatapannya. “Lagi pula, namaku Panacea. Bukan Pana saja.” Ralatnya dengan nada yang kesal. Sayang wajahnya tak tampak berkat tudung hitam dari jubah bernada sama yang digunakan gadis ini. Tak tahu saja raut wajahnya itu sama kesalnya dengan nada bicara Gadis ini.

            Kehidupan, tak seringkas dan sesederhana itu. Tumbuh besar mendewasa, bekerja dan berkeluarga. Sepasang iris violet itu menatap pemandangan hidup ibu kota sebuah kerajaan dari jendela kereta kuda yang ditumpanginya. “Vampir dan manusia berdampingan ya?” dia bergumam sendiri. Ia melihat hiruk pikuk perkotaan dari jendela kereta kuda yang mereka tumpangi.

            “Itulah dunia bayangan ini, keberadaanmu sendiri sebagai bagian dari duniamu,” sahut Pria bermata biru itu.

Kehidupan, yang tak disangka-sangka pun terjadi malah kepadanya. Dia merasa kehilangan jati diri aslinya saat tahu kebenaran hidup yang harus ia pertanggung jawabkan. Bergerak mundur pun percuma, kini dia hanya bisa melangkah maju pada ketidakmasukakalan lapis kehidupan ini.

            Beberapa hari sudah berlalu. Pria bermata violet terbaring tak berdaya di atas ranjang kasur besarnya. Baru dia tersentak oleh lamunan saat tangan lain membantu tangan kanannya menggengam gagang cangkir yang terasa hangat. “Yang Mulia Pangeran  Frederitch!” jerit terkejut. Tatapannya linglung melihat pria yang tampak sebayanya itu memberikan cangkir berisi teh hangat itu kepadanya. Aroma chamomile meruah diindera penciumannya.

            “Sudah begitu lama tak mendengarmu memanggilku secara formal, rekanku, Earl Grayii.” Pria bermata biru tua itu tertawa menampaki deretan gigi putihnya yang terdapat sepasang taring runcing yang tersembunyi disana.

            “Tertawamu itu kelihatan bodoh, lihat sepasang gigi vampir pun kelihatan,” celetuk Valerin namun lekas menegak teh hangat itu. “Tehnya sangat enak, ternyata kau terampil juga menjadi pelayan, Yang Mulia,” ledek Valerin.

            Frederitch sempat menggeleng jengkel, kemudian duduk dipinggiran kasur Si Violet itu. “Panacea, dia akan mengirimmu kembali ke duniamu, demi kebaikanmu karena kau sudah mencapai batas menggunakan kekuatanmu.” Pria itu berucap sambil menagahkan pandangan, menatap langit-langit bernuansa merah temaram. Lengkap dengan ukiran-ukiran bunga berkelopak transparan, diphylleia grayi. Hampir seluruh penjuru manor kediaman pria beriris violet ini dihiasi ornamen berukir diphylleia grayi, secara tak langsung melambangkan loyalitas kebanggaan keluarganya terhadap kerajaan secara turun temurun.

            “Kau salah,  Frederitch ... Yang Mulia Ratu Alexandria itu sudah mati,” sahut Valerin.

            Kedua mata biru tua pria itu membelalak. “Jadi, gossip di pusat kota Ethereal West itu benar?!”

            “Yang Mulia, hentikan rasa empatimu terhadap kaum manusia sepertiku ini, kami ada tak lebih dari untuk menyembuhkan wabah ini di dunia ini pula, bagi kaummu para Vampir seharusnya kita saling bermusuhan. Yang Mulia, aku harus membanting stir takdirku ini.” Tatapan iris violet itu memandang kosong Frederitch. “Lebih baik dari sekarang kita berkomunikasi melalui surat, demi keamananmu juga Yang Mulia dari kandidat pengganti Ratu DustBones yang lebih berbahaya ini.” Tatapannya serius, tindakan patriotisme antara dirinya dan rekannya itu sudah terlalu jauh sampai pada akhirnya dia lupa dengan tujuan utamanya kemari.

            Sang Raven Blue itu menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kau ingin lari? Apa kau sudah menyerah dengan ambisi kita? Vampire dan manusia bisa hidup berdampingan. Kita hanya perlu bersama untuk menghabisi wabah ini!” bentak Frederitch.

            “Ck. Kaummu bahkan kebal dengan wabah ini Yang Mulia  Frederitch ...,“

            “Hentikan itu Valerin!” bentak Pria bermata raven blue itu langsung menampaki jati diri aslinya, dengan kedua mata merah crimson yang berubah. Tatapannya menohok dengan tajam. “Kau! membuatku muak dengan pembatas diantara kita ini, kau yang membuatku kagum dengan duniamu tapi kau pula yang menghancurkannya, kalau begini, kau bukan rekanku lagi. Permisi Earl Grayii. Selamat pagi.” Dia meninggalkan kamar gelap ini dengan langkah yang amarah dan penuh perasaan yang kesal.

            Dilempar secangkir teh itu ke lantai, sampai cangkir itu pecah berkeping-keping. “Hentikan itu  Frederitch ... Duniaku, dunia ini ... tak layak lagi ditinggali,” ucap Valerin nelangsa. Tak bisa dibohongi suaranya terdengar bergetar samar. Kedua tangannya yang bergetar samar itu menutup sebagian wajahnya, menutup raut frustasi itu. “P-Pana ... Pana, kau kemarilah,” panggil Valerin.

            “Earl Grayii ... disini.” Gadis berjubah hitam itu tiba dengan cepat, melesat seperti bayangan. “Sesuatu hal terjadi Earl Grayii?” Dia bertanya sembari melihat pecahan kaca yang berserakan itu, membungkuklah Si Gadis untuk mengemasi kekacauan yang dibuat Earl-nya ini. Pecahan cangkir itu melukai ujung jemarinya hingga darah mengucur keluar. “Ah, pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi,” celetuk Si Gadis.

            “Kau ... berbicara sesuatu, Pana?”

            Gadis itu beranjak berdiri, meletakkan pecahan kaca yang dikemasinya itu diatas nampan kayu yang ada dinakas meja. “Bukan apa-apa, Earl.”

            “Panacea, bisakah kau? menuliskan semuanya yang sudah terjadi selama tiga tahun ini karena ... aku tak akan layak lagi berpijak pada bumi ini,” pinta Pria muda beriris violet itu membaringkan tubuhnya, memiringkan tubuh. Menatap taman bunga Hortensia ungu dari jendela melalui sepasang iris mata violet sendu itu.

            “Baik Earl Grayii, selama perjanjian kita masih ada beserta tujuanmu yang belum tercapai. Semuanya masih sama.”

            “Maafkan aku, Panacea.”

           

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 113 : Elarion Silene Raymond

    “Frederitch, aku berencana akan memberi nama anak kita Elarion Silene Raymond, bagaimana menurutmu?” tanya Valyria.“Bagus, aku setuju, itu nama yang indah.” Frederitch menyahut sembari menciumi puncak kepala Valyria. "Kenapa nama indah itu muncul dibenakmu?" Valyria terdiam sejenak karena teringat dengan mimpinya. "Seseorang bernama Tyche mengatakan Silene jadi kupikir itu nama yang bagus," ucap Valyria. Frederitch tersenyum kecil. "Kau tahu? jaman dahulu kala, Crave Rose sangat memuja Dewi Tyche sebagai dukungan dari kemenangan, perubahan nasib dan kebahagiaan kurasa aku senang jika kau menerima berkahnya," ucap Frederitch lembut. "Memilikimu dan Elarion saja sudah amat beruntung bagiku," celetuk Valyria. Frederitch mengangguk. “Kau memang keajaiban, sekarang kemari Ela, biarkan ibumu istirahat,” ucap Frederitch sembari mengambil alih bayi itu dari gendongan Valyria karena sudah kenyang meminum susu. “Panacea akan kemari untuk membantumu, Val, istirahatlah dengan baik.” Frederit

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 112: Sang Pemintal Emas

    "Bagaimana Valyria?" tanya Frederitch yang mendatangi kamar persalinan itu. Sudah sepuluh jam usai melahirkan bayi tampan bermata violet dan berambut pirang emas tapi Valyria belum sadarkan diri.Tabib menggeleng. "Yang mulia kehilangan banyak sekali darah, sekarang kita hanya bisa menanti kepulihannya saja yang mulia," jawab Tabib."Valyria," panggil Frederitch yang mendatangi ranjang Valyria. Dia menggengam tangan istrinya itu dengan erat. "Kumohon bangun, kau ingin berjumpa dengan Putra kita bukan?" Frederitch mencium punggung tangan Valyria.Dia takut jika Valyria meninggalkannya."Yang mulia, pangeran mahkota menangis terus menerus," ucap Panacea yang datang sembari menggendong bayi kecil yang indah itu.Bayi sehat bermata violet yang berkaca-kaca, hidungnya memerah dan pipi gempalnya turut memerah juga. Rambut Pirang Emas yang tumbuh lebat dan halus. "Huwaaaa..." Tangis bayi itu semakin menjadi. Dia hanya kelaparan menunggu susu dari Sang Ibu yang tak kunjung sadar itu.Frederit

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 111: Manis Stawberry

    Umur menjadi rahasia dari takdir itu sendiri. Sudah delapan bulan lamanya sejak Valyria dan Frederitch kembali ke Crave Rose untuk menata kembali Kerajaan yang dikenal tak pernah menatap mentari itu jadi kerajaan paling hangat dan makmur. Enam bulan lamanya Valyria gunakan untuk mendampingi kekasihnya, Raja Frederitch memperbaiki tatanan dunia. Valyria membuat Crave Rose dan Dust Bones jadi kedua kerajaan paling besar itu saling bersahabat serja menjalin kerja sama pembersihan wabah yang dikembangkan oleh pengobatan yang Valyria buat. Meski ada yang berbeda saat mereka kembali. Valyria pemilik Altarare kebal terhadap perjalanan waktu sehingga tubuhnya sama saja begitu pula dengan Frederitch yang baru menemukan tubuh manusianya, sementara Raja Alphonse sudah berusia 40 tahun sementara Viscount Rovana juga berusia tak beda jauh. Valyria menyesali hal ini namun mereka tidak sama sekali, Valyria pagi ini sedang menikmati jalan santainya di kebun mawar dibelakang halaman istana Crave Ros

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 110: Altarare dan Inersia

    Kini Valyria sedang kembali ke rumah lamanya pada dini hari. Rumah Megah itu dikelilingi bunga-bunga tulip, baru saja kemarin terjadi insiden mengerikan di Rumah Ini namun Valyria harus kembali untuk mengemasi beberapa hal. Ia beranjak masuk ke dalam rumah didampingi Sang Suami, Frederitch. "Kemarin aku baru saja menembak Paman dan Bibi, mereka menyerangku," ucap Valyria."Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Frederitch cemas. Ia lebih khawatir dengan kondisi Valyria. Valyria menggeleng pelan. "Aku langsung ditangkap oleh Liriel setelah bertarung dengan Lyn, sayangnya Lyn mengorbankan dirinya demi aku jadi seharusnya dihalaman belakang pun rusak oleh ledakan," ucap Valyria pilu, trauma dan sedih jadi satu. Frederitch mengangguk sembari memegang tangan Valyria, ia menelisik ke seluruh penjuru ruang tamu, Rumah Megah ini malah tampak baik-baik saja tanpa ada sisa pertikaian. "Kita mungkin harus ke halaman belakang rumah," ajak Frederitch memegang tangan Valyria. Rumah Keluarga Kinaru ini

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 109 : Kabut Pagi, Tak Perlu Abadi

    "Aku tak mungkin bisa membereskan semua masalah yang Liriel perbuat," ucap Valyria pada Albert yang sedang duduk termangun menemani Liriel yang masih belum siuman itu. Ruangan perawatan di Fasilitas ini seperti Rumah Sakit Private, semuanya tertata rapih, bau antiseptik yang menyengat dan warna putih jadi latarnya. Valyria sebenarnya hendak pergi usai memastikan semua orang di Fasilitas ini terbangun dari pengaruhnya. "Kupikir hanya kau yang bisa diajak kerja sama," ucap Valyria lagi sembari duduk disebuah bangku tepat disamping Albert. Pria itu hanya menghela napas berat dan panjang seolah mengeluarkan beban beratnya juga disana. Ia menoleh menatap Valyria kemudian mengangguk setuju. "Sulit untuk percaya hal ini tapi kau benar-benar mirip dengan Liriel tapi sikapmu terkadang mengingatkanku dengan diriku di masa muda Nona," ucap Albert. "Tentu saja, aku tahu ini aneh tapi kita memang terhubung dalam sebuah keluarga," sahut Valyria yang sudah tahu semuanya. Sebenarnya Albert dan Li

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 108 : Mimpi Buruk dalam Kegelapan

    “Lux Aeterna.” Valyria berucap sesuatu yang bahkan belum pernah ia ketahui namun hatinya langsung bergejolak dan sesaat kemudian sekujur tubuhnya bercahaya gemerlap. Ia dengan sengaja menunjukkan semua itu pada Liriel.Sinar cahaya menyilaukan itu mengurung seluruh fasilitas dalam zona tertidur, jadi semua orang tertidur kecuali mereka yang sengaja ‘diizinkan’ oleh Valyria untuk terjaga. Para Penjaga, Peneliti dan staff langsung terkapar terlelap sementara yang tetap terjaga hanya Liriel, Albert, David, Frederitch yang Bersama Valyria beserta Panacea, William dan Alphonse.Indah dan berbahaya itulah Valyria yang sebenarnya. Selama ini lingkungan membuatnya menderita membuat Valyria menciptakan berbagai versi dirinya. Valyria adalah salah satu bentuk dirinya yang lebih berbahaya dari Valerin Grayii maupun Ellis Francielli karena kemampuan Valyria disini berhubungan dengan ruang dan waktu.“Kau benar-benar Monster!” tuduh Liriel sembari memandangi Para Prajurit Militer yang terlelap.Va

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 63 : Wahai Pengembara, Apa yang kau cari?

    Pria bersurai pirang panjang yang diikat itu hanya tersenyum. “Karena aku sudah mengenalmu sejak lama, mau kau suka atau tidak," ujar Friday.“Eh-hm!” Ellis mendeham.Ellis memalingkan wajahnya, sebaliknya merasa bahaya, Ellis merasa aman bersama Friday ini. “Apa kau melihat Wanita berambut pirang?

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 62: Keberadaan Terdahulu

    "Ah, maafkan aku."Ellis mendadak murung, ia mulai bosan kerap kali disangka sebagai Valerin Grayii. “Aku tahu, pasti ujung-ujungnya begini.” Ellis berucap sambil beranjak berdiri, menatap seluruh rumah kosong ini sebagai pengalihannya.“Aku memang tak tahu ini dimana, tapi aku merasa tak asing den

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 62 : Ksatria yang Tersesat

    “Jangan ada yang menghidupkan pematik api! Apapun rencana kalian terhadap Sang Raja, Dust Bones tidak akan kalah!”Alphonse mendengar suara lantang Ellis, sontak Alphonse membulatkan kedua mata emeraldnya. “Kenapa kita keluar jalur? Ellis?” tanya Alphonse cemas pada jendela keretanya.Salah seorang

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 61 : Penyergapan Dadakan

    Wanita itu menghela napas. “Permaisuri jatuh sakit, karena mereka semua baru tahu mengenai kehamilan kedua permaisuri," ujar penasehat Louisa.Kedua lutut Ellis mendadak lemas, perasaan perihnya sampai menusuk dada. “B-baik penasehat Louisa.” Ellis berusaha tegar, pada kedua mata yang kapan saja bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status