Share

Chapter 04: Pecahan Misteri

last update Last Updated: 2025-09-14 19:43:31

  Tok...tok...tok

Suara ketukan pintu terdengar nyaris keseluruh rumah kontrakan sederhananya ini. “Engh, siapa?” sayup-sayup Gadis itu melenguh, meregangkan tubuhnya. Mengucek-ucek matanya yang masih kantuk, ketika sadar hari sudah malam. Tampak dari jendela yang lupa ditutupnya itu.

“Hoam~ aku ketiduran ya? tadi rasanya masih sore.” Gadis itu bermonolog sendiri. Melirik jam dinding bututnya yang menunjukkan pukul delapan malam. Dia mengaku masih lelah.

Tok … tok …

 Kembali suara ketukan itu terdengar, dengan langkah gontai. Dia pun berjalan untuk membukakan pintu. Didapatkan, seorang pria mengenakan setelan jas rapi tampak sudah berumur namun memiliki postur tubuh yang tegap.

            “Apakah Anda Nona Valyria Soga Kinaru?”

            Gadis itu, Valyria mengangguk. “Benar, Siapa Anda?”

            “Saya dari lembaga Asuransi, memberikan beberapa santunan asuransi kematian dari Tuan Kinaru, dan juga ... Tuan Kinaru pernah menitipkan kunci ini untuk diberikan kepada Nona.” Pria itu berucap sembari memberikan sebuah amplop cokelat beserta sebuah kunci.

            Valyria menatap heran sebuah kunci dengan motif bunga berkelopak putih berputik kuning. Dia bahkan tak mengetahui kunci itu, ketika Valyria hendak bertanya. Pria itu sudah sirna dari hadapannya “Eh?! Kemana perginya?” Valyria menegok kekanan dan kekiri. Celinga-celingu bingung, namun tak lama kedua bahunya menaik dengan acuh. “Sudahlah, mungkin hanya perasaanku,'' ucap Valyria sambil menutup kembali pintu rumah kontrakannya itu. Valyria menghela nafas, dia memengang secarik amplop yang berlogo lembaga asuransi. Dia menatap sekeliling rumah kontrakan kecil dan sederhana ini, sudah sejak lama terasa sepi. Senyuman nanar itu terukir dari bibir ranum kemerahannya.

            “Aku tak akan tidur, lebih baik menyelesaikan lukisanku.'' Gadis itu pun kembali berjalan kekamarnya, sambil meletakkan kunci itu diatas nakas meja.

            Kamar tak besar itu berserakan dengan kuas serta beberapa botol-botol cat acrylic. Dia mengambil sebuah canvas, lukisannya setengah jadi. Bahkan dengan penerangan lampu yang seadanya. Gadis itu tetap melanjutkan melukisnya, hanya itu hal yang dapat mengusir rasa gundahnya.

            Pikirannya saat itu berkecamuk, kedua tangannya menari-nari lihai diatas canvas putih. Semulanya putih, namun kini sudah penuh dengan warna demi warna.

            “Kakakku, Valerin Darly Kinaru ... Meninggal diusianya yang baru dua puluh empat tahun. Tiga tahun lalu pulang kerumah kami, dalam keadaan depresi berat. Demi itu ... kujual rumah peninggalan ayah dan ibu yang tak kuketahui keberadaannya pula. Demi pengobatan kakak. Lalu ... warna merah tampaknya akan bagus setelah membuat sketsa wajahnya.” Dia bergumam sendiri, tangan lentiknya menggengam kuas yang baru saja dicelupkan oleh warna merah.

            Kedua tangannya penuh akan cat-cat berwarna warni “Aku tahu gejala halusinasi kakakku baru tampak setelah masuk Rumah Sakit Jiwa tapi apakah seseorang halusinasi tak memiliki penyebabnya. Bahkan kak Darly terus mengatakan nama seseorang, ah ... seharusnya dibagian mata harus diberi garis yang tegas.”

            “Frederick Drew Raymond. Nama itu yang disebutkan kebetulan sama dengan surat-surat yang kubaca. Apakah itu temanmu? Kenapa kau tak menceritakan apapun soal masalah dikehidupanku, Kak Darly.''

            Pukul enam pagi, ketika suara kokok ayam tetangga terdengar. Matahari mulai tampak, namun udaranya terasa dingin. Gadis beriris violet itu menatap sebuah canvas dengan lukisan seorang wanita beriris merah yang berpose baru bangun dari tidurnya. Tatapan tajam sengaja dilukisnya, seolah mengatakan jika gadis yang dilukisnya itu bersiap menghadapi dunia ketika dia bangun dari tidur.

“Nah Kak Darly. Apakah adik kecilmu ini, begitu tak berguna sampai-sampai tak kau ikut sertakan dalam masalahmu?”

“Kuberikan namamu Briar Rose, Sang Puteri Tidur yang bangun menghadapi kenyataan.”

Kedua iris violet itu menatap kosong, akan lukisan indah yang baru saja diselesaikannya itu. Tangannya menggengam kuas itu terlalu erat, sampai kuas kayu itu pun patah. “Kak Darly ... Aku janji, pasti akan membalaskan dendammu!”Bibir bawahnya digigit, akan semua perasaan sesak yang sulit pudar disanubarinya. Kakaknya tercinta, kehilangannya adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dirasakan gadis beriris violet itu.

Membersihkan diri dengan air yang dingin, gadis itu mandi didalam kamar mandi kecil yang sempit. Bahkan airnya lumayan kotor, dia tak mampu membayar uang pengairan air kemudian menggantikan kebutuhan air hanya dengan menadah hujan pada sumur yang ada dibelakang halaman rumah kontrakan ini. Hidup yang kurang dari kata mampu, dia mengalami hal itu selama tiga tahun ini. Hidup sendiri dengan melarat.

Usai mandi, surai hitam panjang itu dia keringkan dengan handuk. Hari ini dia tetap memutuskan untuk pergi kuliah, setidaknya dia tak akan putus kuliah. Beasiswa masih menanggung biaya perkuliahannya sampai lulus. Jika hidup dengan ekonomi yang baik, gadis beriris violet ini mungkin akan menjadi gadis yang berbakat dan terawat. Dia jenius, berbakat dan periang. Dulunya, sebelum semua musibah yang menimpa kehidupan Valyria Soga Kinaru ini.

Menyeduh kopi hitam pagi ini dengan sarapan roti kemarin yang sengaja dia sisakan.   Dia membakar roti itu dengan mentega, setidaknya memakan roti kemarin dengan hangat akan menambah nafsu makannya.

“Ada berita apa pagi ini?” Valyria mengambil sebuah koran kemarin, yang sengaja ia ambil dari kantor polisi. Setidaknya dia tak ketinggalan isu-isu hangat seminggu ini, dia meneguk kopi hitam panasnya kemudian melahap roti bakarnya. “Hm? Membosankan,'' celetuk Valyria sambil melipat kembali koran itu. Dia beranjak membereskan peralatan makannya kedapur, mungkin dia akan mencucinya setelah pulang dari Universitas.

Tok ... tok ... tok ...

Suara ketukan pintu itu terdengar. Valyria pun meraih tas ransel bututnya, dia segera membuka pintu rumah kontrakan itu. Disana dia melihat seorang gadis manis dengan jilbab merah mudanya “Hai! Selamat pagi Valyria yang imut...”Gadis itu terkekeh, dia memang benar. Valyria memang cantik, manis dan imut. Terutama warna iris mata tak biasanya itu, begitu langkah dimiliki oleh orang-orang.

“Hentikan itu Tarra.” Valyria berkata datar. Dia keluar dari rumah kontrakan kemudian mengunci pintunya.

Tarra, nama gadis berkerudung pink itu. Teman baiknya sejak memasuki perkuliahan, berkat Tarra pula, Valyria menghemat biaya transportasi pulang dan pergi ke Universitas. Gadis berkerudung pink itu akan dengan senang hati menjemput Valyria.

“Bagaimana keadaanmu hari ini? Kukira kau akan izin tak masuk kuliah hari ini.” Tarra berbincang sambil menaiki motor maticnya, dia juga memberikan sebuah helm kepada Valyria.

Valyria tak langsung menjawab. Dia meraih helm itu dan memakainya. “Aku baik-baik saja.”

Tarra, menatap dengan prihatin. Namun dia langsung merubah raut wajahnya dengan tersenyum sambil menghidupkan motornya. “Ayo berangkat!” ajak Tarra.

Valyria Soga Kinaru, tergolong mahasiswi yang populer dikalangan pengajar namun tidak dikalangan mahasiswa lainnya. Dia tak perduli, mungkin karena kepribadiannya yang tampak tak ‘ramah’ pada teman-temannya. Valyria hanya tak suka berpura-pura, dia pun lelah bersikap baik dengan semua orang.

Brukhh. Tubuhnya sengaja disenggol, oleh beberapa gadis yang melintasi beserta sahut menyahut akan tatapan sinis yang mereka berikan. Valyria tahu, namun tak mengubris. Dia bahkan memengang pergelangan tangan Tarra yang saat itu malah naik pitam. “Sudahlah ... Tidak penting.” Valyria berucap dengan raut wajah malasnya, dia menghela nafas dan berjalan lebih dahulu menuju lorong koridor universitasnya.

Kelasnya ada diujung Universitas, Valyria dan Tarra berbeda jurusan namun masih berada pada satu gedung yang sama. “Nanti, aku jemput ya? Dadah Valyria,'' ucap Gadis berkerudung merah muda itu. Sembari melambaikan tangan, dia pun berlari pada sisi arah yang berbeda.

Valyria hanya menatap gadis seusianya itu, dia pun memasuki kelas. Meletakkan tas bututnya diatas meja dan menduduki tubuhnya. Tak berapa lama Sosok Pria Gendut itu masuk ke dalam kelas. Valyria buru-buru membuang pandangannya.

Good Morning class, oh ... Valyria! Nanti bantu Bapak mengoreksi uas kas minggu lalu,'' suruh Pria buncit itu tersenyum pada Valyria. Bagi teman-teman sekelasnya, mereka akan berdecak iri. Namun bagi Valyria, itu adalah hal yang menyebalkan.

Jenius dan pintar. Terkadang pula ceroboh, Valyria dulu sebenarnya gadis polos yang periang. Sehangat mentari dengan senyumannya yang senantiasa merekah manis, setidaknya sebelum berbagai masalah menghampirinya. Itulah yang membuat Valyria tak memiliki banyak teman, Tarra adalah satu-satunya gadis yang paling keras kepala untuk menjadi temannya. Walaupun berulang kali diacuhkan oleh Valyria. Kini, Tarra malah selalu ada untuk Valyria sebagai teman baiknya.

Menghela nafas sejenak sebelum Valyria mengetuk pintu yang terbuat dari akasia itu. “Permisi Pak Yudha. Saya datang untuk mengoreksinya.” Valyria termasuk yang sering dimintai bantuan oleh Para Pengajar, dia terbiasa dengan wilayah perkantoran Para Pengajar.

“Valyria, Kemari-kemari.” Pria paruh baya berperut buncit itu menepuk-nepuk pahanya.

Valyria menatap jijik reaksi Si Pria. Valyria mengabaikan setelah itu berjalan untuk duduk di kursi didepannya. “Jika Anda hanya ingin melecehkan saya, maka saya lebih baik segera keluar dari sini.'' Valyria berucap kasar.

''Padahal keadaanmu sulit, aku menawarkan tawaran bagus,'' ucap Pria itu terhela oleh Valyria yang langsung menyerobot tumpukan kertas diatas meja.

“Jadi, tidak ada tumpukan kertas yang perlu dikoreksi bukan? Kalau begitu saya permisi.” Valyria beranjak dari duduknya. Tanpa berbasa-basi lagi dia pun berjalan keluar dari ruang kantor itu. Valyria menutup kembali pintu ruangan. 

Pria itu memerhatikan Valyria yang keluar dengan gopoh. ''Subjek surgawi itu, benar-benar menggoda Haha, sebentar lagi kau akan sama binasa dengan Keturunan Kinaru yang lain,''

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 54 : Pesona Sang Ksatria Emas

    Jajaran petinggi Dust Bones serentak menunduk hormat kala Sang Raja bersama Ratu bersama Pangeran Kecil melangkah menuju ruang aula istana karena hari ini adalah ulang Tahun dari Sang Pangeran Kecil. Di antara keluarga Kerajaan itu sosok Ellis ikut berjalan dari belakang sampai mereka memasuki sebuah ruangan megah khusus. Ruangan berlantai keramik bundar yang luas dengan kubah kaca ditengahnya, sepasang mata emas Ellis menanggah menatap langit dengan taburan bintang yang terpukau sendiri. Ellis berdiri didekat singasana Sang Raja, tubuh kecil dan rampingnya itu dibalut pakaian formal Dust Bones dengan pernak pernik permata pada kerah lehernya. Ellis mengenakan setelan jas serba putih yang menawan, apalagi paras Ellis yang indah ditambah dengan perhiasan sepasang anting permata hitam ditelinganya Sangat berbeda dari Para ksatria yang berjaga lainnya. Ellis seperti permata yang berkilau dibelakang yang sengaja dipajang dekat Sang Raja saat itu.“Ellis, bersantailah kau bisa mencari te

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 53: Dituduh

    “Elli.”Biarpun suara itu kecil tapi Ellis bisa mendengarnya. Sang Pangeran kecil yang ada didalam gendongan Ellis berucap memanggil namanya dengan pelan. Ellis tersenyum dengan lebar. “Kenapa Yang Mulia?” tanya Ellis dengan lembut pula.“Uhm.” Bibir kecil bocah itu merapat, seperti mengulum sesuatu akibat menahan ucapannya sementara wajah bocah kecil itu sudah merah sempurna.“Katakan saja Yang Mulia.” Ellis berucap sambil berjalan pelan menyusuri halaman belakang istana, sesekali mengusap puncak kepala Sang Pangeran dengan lembut.Beberapa maid yang tengah membersihkan kandang kuda sempat memberi hormat keduanya. “T-Tuan Francieli... Yang Mulia Victorine," sapa Salah seorang Maid menyapanya dengan mengangkat ujung rok panjang seraya menunduk hormat.“Hay, maaf kami menganggu kerjaan kalian," sahut Ellis seraya tersenyum manis.Berbeda dengan bocah kecil yang ada didalam dekapan kedua tangan Ellis, dia meraih pipi Ellis dengan wajah masamnya. “Tidak boleh Elli!” omel Si Pangern kecil

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 52: Keseharian Pekerjaan Ellis

    Ellis membuka kedua matanya dengan berat, dia terbangun dari tidurnya. Tahu-tahu sudah berada di ranjang besar milik Sang Raja. Ellis langsung beranjak menduduki dirinya dengan was-was. Ia malah mendapati Sang Raja, Alphonse, sudah mengenakan kemeja putih dengan celana cokelatnya. Dia menatap jendela dengan secangkir kopi panas yang masih mengepul.“Ellis, katakan dengan jujur siapa yang kau temui tadi malam?” tanya Sang Raja kepada Ellis.“Y-yang Mulia, maafkan Ellis yang melalaikan tugas serta malah tidur disini.” Ellis berucap sambil menundukkan tatapannya. “A-aku bertemu seorang vampir,” jawab Ellis dengan pelan.Alphonse meletakkan cangkir kopi panas itu, dia beralih jalan mendekati Ellis. Kemudian duduk ditepian ranjang, melihat Ellis yang setengah duduk di ranjang kasur itu. “Ellis, apa kau merasa mengenali Pria itu?” tanya Sang Raja.Ellis langsung menjawab. “Tidak Yang Mulia.”“Ellis, tatap aku saat kita bicara,” suruh Sang Raja sambil meraih dagu kecil Ellis dengan tangan ka

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 51 : Siapa Penyusup itu?

    “Ellis?!”“Ellis, kenapa dia?”Lyn dan Remington berulang kali memanggil Ellis tapi Ellis langsung berjalan menuju lantai dua, dia menuju kamarnya tanpa mengubris panggilan Lyn dan Remington yang ada dilantai satu tepatnya di dapur.Ellis langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat, dia masih memengang knop pintu dengan wajah merah bersama degupan jantung yang kuat.“Kenapa hatiku terasa berantakan?” tanya Ellis dengan bibir yang bergetar.“Mungkin Yang Mulia hanya bercanda,” tungkas Ellis.Ellis berjalan menuju lemari, ia membuka seluruh pakaiannya dari sebagian zirah pelindung besi hingga kemeja putihnya. “Kurasa, mengenakan perban seharian terasa sesak,” ucap Ellis sambil membuka balutan perban pada dadanya.Ellis memang seorang wanita tapi Ellis sangat suka dengan pedang bahkan Ellis berkeinginan menjadi seorang ksatria yang melindungi Dust Bones. Sayangnya wanita tidak boleh mendapatkan posisi itu di istana, maka Remington dengan tulus mengajari Ellis bahkan mulai menganggapnya

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 50: Sosok Pengganti

    Taman yang berada tepat di hamparan lily putih. Ellis dapat menatap Sang Raja yang berbaring diatas bangku taman pada sebuah gazebo yang terletak ditengah-tengahnya.Napas Ellis jadi tersenggal akibat berlari, Ellis segera menghampiri Sang Raja yang berbaring itu. Awalnya Ellis takut membangunkannya, kemudian Ellis memilih diam berdiri. Menunggu Sang Raja membuka kelopak matanya.“Ellis, kau habis berlari bukan?” Sang Raja berucap dengan kedua kelopak mata yang tertutup.“B-benar Yang Mulia!” jawab Ellis.“Ellis ... tidak ada yang berani menyerangku, kau bisa berjalan dengan santai tanpa perlu berlari,” ucap Alphonse tenang.“Baik Yang Mulia.”Angin semilir bertiup dengan lembut, tidak ada Pelayan ataupun Para Prajurit disini. Hanya Ellis yang memperhatikan Alphonse, bagi Ellis pria dengan satu anak ini menawan dimatanya. Garis tegas wajahnya, jenggot tipis dan surai cokelat yang sedikit panjang.Ellis mendeham, risih dengan suasana hening ini/ “Yang Mulia, maaf, aku hanya ingin membe

  • Transmigrasi Tuan Muda Palsu yang Malang   Chapter 49: Ksatria yang Jenius

    Hari selanjutnya adalah Ellis akan memastikan semua perlengkapan Sang Raja yang akan dikenakan untuk pesta ulang tahun Pangeran Victorine lusa, maka dari itu keRajaan Brunia sebagai keRajaan tetangga diundang ke Dust Bones.Di dalam ruangan dengan seorang Pembuat Pakaian, Ellis memeriksa semua bahan pakaian agar terbebas dari bahaya untuk Sang Raja.“Ellis Francieli, berapa kali kau akan memeriksa jubah itu?” tanya Pria dengan pakaian busana necis yang nyentrik.“Ayolah Tuan Antoine, aku harus memastikan semua untuk Raja aman dan baik,” celetuk Ellis sambil terus mengamati jubah itu, terutama sebuah permata berwarna merah.“Tuan, kenapa Raja mengenakan batu ini?” tanya Ellis heran.“Apa? Batu yang cantik bukan? Brunia memberikan batu ini melalui suruhannya, tentu saja Yang Mulia Alphonse akan menyukai pakaian indah dengan permata merah ini,” ucap Pembuat Pakaian itu dengan bangga tapi tidak dengan Ellis.Ellis merasa jika permata berkilau merah itu justru tampak janggal. “Jangan pakai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status